Cari

Menjejak Lokasi Kerajaan Pajajaran di Muka Bumi, Kyai Tanujiwa dan Analisis pantun-lagu Ayang-Ayang-Gung

Lukisan Pasar di Bogor, sumber : Geschiedenis van NI - Buddingh 1859.
Buitenzorg sudah mulai ramai setelah berusia 150 tahunan
 
[Historiana] - Kali ini penulis memuat tulisan tentang Menjeak Lokasi Kerajaan Pajajaran berdasarkan kisah Kyai Tanujiwa dan Pantun Lagu: Ayang-ayang gung". Penulis berharap adanya kesadaran kita semua dari Urang Sunda untuk meneliti lebih seirus tentang kesundaan dan jejak masa lalu Sunda.


Afdeling paling Selatan residensi Batavia, kira2 dibekas ibu-kota Pakuan keradjaan Padjadjaran (1433-1527), tjantik alamnja, bagus letaknja dan njaman hawanja (72˚F /22˚C). Gupernur-Djenderal Maetsuyker (1653-1678) telah tertawan hatinja oleh daerah itu sedemikian rupa, hingga ialah orang pertama, jang berhasrat mendirikan sebuah istana disana. Hutan2 dibabat (1677). Ketika itu pekerdja2 Sunda menemui banjak pohon-aren jang sudah mati rusak terbakar, hingga tidak mengeluarkan nira lagi (bogor), maka sedjak ketika itulah pula dinamakan Bogor

Kutipan ini tercantum dalam bagian awal tulisan berjudul “Bogor 1853-1873; Bazaar di Bogor” karya Lie Kim Hok.

leunginteun...kuring leungiteun..., dikamanakeun...ieuh...dikamanakeun, kenclang herang cikahuripan ti leuwi sipatahunan, direkana papantunan kiwari ngan kari ngaran, leungiteun ...kuring leungiteun....ieuh...dikamanakeun  
(kehilangan....aku kehilangan... dibawa kemana (Pajajaran)....dibawa kemana? air bening Cikahuripan dari Leuwi Sipatahunan, dibuatnya lagu...saat ini hanya tinggal nama, kehilangan aku kehilangan....dibawa kemana)
Lirik ini adalah exspresi kesedihan masyarakat Sunda atas hilangnya Kerajaan Pajajaran di muka bumi (Pajajaran/Bogor Ngahyang/Menghilang)

Dari 2 kutipan tenatang lokasi Kerajaan Pajajaran dan Lirik kesedihan orang Sunda ini kita memulai untuk menjejaki lokasi Kerajaan Pajajaran sebenarnya. Menurut tulisan "Bazaar di bogor" dari Lie Kim Hok, ada titik teang bahwa lokasi Pajajaran memang di Bogor. Seperti diyakini oleh kita hingga hari ini.

Namun, dari sisi lirik masyarakat Sunda mengenai kesedihan hilangnya Pajajaran ini yang unik. Mengapa urang Sunda sampai tidak mengetahui dimana Pajajaran? banyak kemungkinan yang diyakni oleh orang Sunda bahwa hilangnya Pjajaran secara ghaib. Sementara para sejarawan dan arkeolog tetap meyakini bahwa Pajajaran belum diketemukan.


Catatan Belanda Ekspedisi Scipio
Pada tahun 1667 Mataram menyerahkan sebagian wilayahnya kepada VOC termasuk wilayah Pakuan sebagai hutang kekalahan pada tahun 1629. Selang waktu 20 tahun kemudian pada tahun 1687 Johannes Camphuys, Gubernur Jenderal VOC, memerintahkan Luitenant Tanujiwa beserta saudaranya dengan opsir VOC Sersan Scipio untuk melakukan exspedisi yang berturut-turut ke wilayah selatan Batavia. Apa yang menjadi alasan utama VOC melakukan expedisi ke selatan Batavia? 

Lagu Sunda, pantun-lagu "Ayang-Ayang-Gung"

"Ayang-ayang Gung
Gung goongna raME
Menak ti wasaNU[L] 
NU jadi WadaNA
NAha maneh kiTU
TUkang olo-oLO
LOba anu miLU
LUket jeung kumpeNI
NIat jadi pangKAT

KATon kagoreNGAN
NGANtos kanjeng daLEM
LEMpa lempi lempong... 
ADU PIPI JEUNG NU OMPONG"
Terjemahan bebasnya
Ayang-Ayang Gung
Gung Googna rame (ibarat suara gong yang rame, tentang gosip yang beredar)
Bangsawan (menak) dari masa lalu (wasanu[l] dibaca dari belakang [nu lawas -pen])
Yang menjadi Wedana
Mengapa Kau begitu
Tukang kolokan
Banyak yang ikut
Ikut dengan Kumpeni
Niat dapat pangkat
Malah dapat keburukan
Menunggu Kanjeng Dalem
Lempa lempi lempon
Adu pipi sama yang ompong (sindiran kepada Kyai Permatasai gunung Salak yang membantu Kyai Tanujiwa melawan Kumpeni Belanda. Kyai Permatasari, yang juga keturunan Raja Pajajaran dianggap sebagai "sudah ompong")

Lagi pantun Sunda  di atas merupakan sindiran kepada Kyai Tanujiwa atau Ki Mastanu atau Raden Kyai Tanujiwa beserta saudaranya dan hal-hal yang melatar-belakangi aktivitasnya terutama pada saat dia dan saudaranya menjadi opsir Voc, kemudian menjadi perwira, dan bahkan akhirnya menjadi Regent/ Adipati / Bupati sehingga melahirkan sindiran dalam bentuk pantun-lagu "Ayang-Ayang-Gung".

Dalam catatan Bangsa barat yang pernah berkunjung ke Pakuan ibu kota kerajaan Pajajaran adalah Portugis (lihat catatan Tome Pires dalam "Suma Oriental", informasi dari Portugis mengenai Catatan perjalanan Tome Pires pada saat itu belum terungkap. Beratus-ratus tahun kemudian, Prasasti Padrau ditemukan pada tahun 1918 dan orang mulai mendirikan sebuah gudang di sudut Prinsen Straat dan Groene Straat di Jakarta Kota. Konon, bahwa ekspedisi VOC Belanda ke sisa-sisa Kerajaan Pajajaran, tidak mungkin dilakukan oleh VOC Belanda sebelum mendapatkan informasi yang lengkap mengenai wilayah selatan Batavia selain dari Kyai Tanujiwa bersaudara. Mereka adalah turunan dari Kerajaan Pajajran

Pada saat itu wilayah Jawa Barat yang dikuasai VOC Belanda hanya Batavia, dengan sumber daya alamnya yang semakin menipis hal ini tidak menguntungkan bagi mereka, akhirnya VOC Belanda harus mengembangkan wilayah untuk menambah komoditas yang lebih banyak lagi.

Siapakah Kyai Tanujiwa?
KYAI TANUJIWA bersaudara adalah generasi ke 3 dari Raja Pajajaran terakhir yaitu PRABU SURYAKENCANA/RAGAMULYA, silsilahnya adalah : TANUJIWA bin SANTOWAN KADANG SERANG bin RADEN AJIMANTRI bin PRABU SURYAKENCANA. Kalau Pajajaran tetap berdiri, tidak mustahil dia sebagai nominator penerus tahta berikutnya.

Ilustrasi Kyai Tanujiwa Sang Explore
sumber :anikartick.blogspot.com
Dalam sebuah artikel ia dari Trah Keturunan Sumedang Larang dinyatakan bahwa dalam silsilah keluarga besar keturunan Kerajaan Sumedang Larang tidak ditemukan sosok Tanujiwa, akan tetapi nama yang diawali "Tanu" memang ada dan popular pada masanya seperti : Tumenggung Tanumadja (1706 – 1709) dan Adipati Tanubaya (1773-1775). Dalam hal ini menguatkan analisa bahwa Kyai Tanujiwa bukan orang Sumedang melainkan orang Pakuan/Pajajaran yang diberi nama oleh orang tuanya mengikuti nama-nama yang popular di Sumedang pada jaman itu, akan tetapi dia pada dasarkan orang Pakuan-Pajajaran yang tinggal sementara di Sumedang;

Pada masa Prabu Suryakencana Ragamulya Raja Pajajaran terakhir yang memerintah (1567-1569 M), Kerajaan Sumedang Larang adalah salah satu kerajaan dibawah penguasaan Pajajaran yang diistimewakan, karena banyak Raja-raja Pajajaran dan Kerajaan Galoeh-Pakuan berasal dari keturunan Kerajaan Talaga sebagai asal mula kerajaan Sumedang Larang. Pada saat Kesultanan Banten dbawah Kepemimpinan Sultan Maulana Yusuf (putra Sultan Hasanuddin) menyerang Pajajaran, Prabu Suryakencana Ragamulya memerintah tidak di Ibukota Pajajaran di Pakuan (Bogor) tetapi di daerah Pulasari (daerah antara Gunung Halimun-Salak), oleh karenanya kehancuran Pajajaran tidak langsung pada tahun 1579 M, akan tetapi dari tahun 1578 Prabu Suryakencana sudah menyerah kepada Sultan Banten.

Pada saat yang sama, di tahun 1578 M Prabu Suryakencana memerintahkan para Senopatinya untuk menyelamatkan Putra Mahkotanya yang bernama Raden Ajimantri dengan cara mengungsi ke Kerajaan bawahannya yang masih merupakan kerabat dekatnya, yaitu Kerajaan Sumedang Larang. Dalam pengungsian tersebut juga rombongan dari Pakuan membawa Mahkota Raja yang bernama Makuta Binokasih Sanghyang Pake beserta pustaka-pustaka kerajaan lainnya selain Singgasana Raja atau Palangka Sriman Sriwacana yang diboyong pasukan Banten dan diserahkan ke Sultan Maulana Yusuf di Banten.

Pangeran Santri atau Pangeran Kusumadinata I merupakan penguasa Sumedang pertama yang menganut agama Islam dan berkedudukan di Kutamaya Padasuka sebagai Ibukota Sumedang Larang yang baru, sampai sekarang di sekitar situs Kutamaya dapat dilihat batu bekas fondasi tajug keraton Kutamaya. Pada tanggal 3 bagian terang bulan srawana tahun 1480 saka (+ 19 Juli 1558 M) lahirlah Pangeran Angkawijaya yang kelak bergelar Prabu Geusan Ulun putera dari Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umum

Pada masa pemerintahan Pangeran Santri kekuasaan Pajajaran sudah menurun di beberapa daerah termasuk Sumedang dan pada tanggal 11 Suklapaksa bulan Wesaka 1501 Sakakala atau tanggal 8 Mei 1579 M Pajajaran “Sirna ing bumi” Ibukota Padjajaran jatuh ke tangan pasukan Kesultanan Surasowan Banten . 

Pada tahun 1578 tepatnya pada hari Jumat legi tanggal 22 April 1578 atau bulan syawal bertepatan dengan Idul Fitri di Keraton Kutamaya Sumedang Larang Pangeran Santri menerima empat Kandaga Lante yang dipimpin oleh Sanghiang Hawu atau Jaya Perkosa, Batara Dipati Wiradidjaya (Nganganan), Sangiang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana Terong Peot membawa pusaka Pajajaran dan alas parabon untuk di serahkan kepada penguasa Sumedang Larang dan pada masa itu pula Pangeran Angkawijaya/ Pangeran Kusumadinata II dinobatkan sebagai raja Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun (1578 – 1610) sebagai nalendra penerus kerajaan Sunda dan mewarisi daerah bekas wilayah Pajajaran.

Dimulai pada masa Pajajaran burak (1579 M) sampai akhir masa kolonialisme 1940, Sumedang menjadi wilayah Regentschap yang dipimpin oleh setingkat Regent/ Bupati, dimana Bupati yang memerintah lebih dominan berasal dari keturunan langsung Kerajaan Sumedng Larang, sedangkan keturunan dari Prabu Ragamulya yang notabene sudah memberikan sebagian Pusaka Kerajaan Pajajaran, dan para Senopatinya sudah membantu berjuang melawan musuh-musuhnya, relative ditiadakan. Sumber: rodovid.org

Layaknya keturunan Raja, Tanujiwa memiliki pendidikan, keahlian dan pengetahuan yang cukup untuk ukuran rakyat biasa. Dia mengetahui secara pasti sejarah leluhurnya, nalar dengan kondisi terkini bahwa Kerajaannya sudah burak, sadar keadaan bahwa sekarang Kerajaan leluhurnya yang digdaya sudah beralih kepada Kerajaan-kerajaan bawahan Pajajaran, termasuk Kerajaan Sumedang Larang dimana dia dan keluarganya sekarang tinggal. Dia juga mengetahui dan menguasai medan wilayah Pajajaran termasuk Pakuan dan Batavia, mengerti tata pemerintahan dan politik kerajaan, ahli dalam beladiri dan kemiliteran.

Sebagai keturunan langsung Raja Pajajaran, Kyai Tanujiwa berserta kakak-kakanya pasti memiliki obsesi dan ambisi ingin menghidupkan kembali kerajaan leluhurnya yang sudah 50 tahun ditinggal oleh pasukan Banten setelah menghancurkan Pajajaran tahun 1579 M, disisi lain wilayah Batavia yg dulunya sebagai andalan Pajajaran yang sekarang dikuasai Banten, akhirnya pada tahun 1619 dapat dikuasai VOC, semakin memperkuat keinginannya untuk memainkan peran politiknya pada jaman yang tidak menentu.

Ekspedisi Belanda Mencari Kerajaan Pajajaran
Pada tahun 1667 Mataram menyerahkan sebagian wilayahnya kepada VOC Belanda termasuk wilayah Pakuan sebagai hutang kekalahan pada tahun 1629, 20 tahun kemudian pada tahun 1687 Johannes Camphuys Gubernur Jenderal VOC, memerintahkan Luitenant Tanujiwa beserta saudaranya dengan opsir VOC Sersan Scipio untuk melakukan exspedisi yang berturut-turut ke wilayah selatan Batavia. Apa yang menjadi alasan utama VOC melakukan expedisi ke selatan Batavia? Analisa saya sebagai berikut :

Padrau Foto: wikipedia
Kyai Tanujiwa bersaudara sudah bekerja di VOC selama 38 tahun (1629-1687), dengan masa kerja selama itu kemungkinan besar rencana membuka wilayah selatan Batavia datang dari Kyai Tanuwijaya bersaudara, karena mereka adalah ahli waris Kerajaan Pajajaran, dengan sendirinya dalam usianya yang tidak muda lagi mereka menginginkan kerajaannya hidup lagi walaupun harus bekerja-sama dengan VOC;

Bangsa barat yang pernah berkunjung ke Pakuan ibu kota kerajaan Pajajaran adalah Portugis (lihat catatan Tome Pires dalam "Suma Oriental", dimana informasi dari Portugis mengenai Catatan perjalanan Tome Pires pada saat itu belum terungkap (Parasasti Batu atau Padrau ditemukan ketika pada tahun 1918 orang mulai mendirikan sebuah gudang di sudut Prinsen Straat dan Groene Straat di Jakarta Kota), sehingga tidak mungkin mereka mendapatkan informasi yang lengkap mengenai wilayah selatan Batavia selain dari Kyai Tanujiwa bersaudara;

Pada saat itu wilayah Jawa Barat yang dikuasai VOC hanya Batavia, dengan sumber daya alamnya yang semakin menipis hal ini tidak menguntungkan bagi mereka, akhirnya VOC harus mengembangkan wilayah untuk menambah komoditas yang lebih banyak lagi;

Atas dasar analisis diataslah yang pada akhirnya Luitenan Tanujiwa berhasil membuka perkampungan baru di bekas wilayah Kerajaan Pajajaran. Usia Tanujiwa dan saudaranya pada saat itu sudah agak lanjut (Tanujiwa 73 tahun, Kyai Singa Manggala 75 Tahun dan Kyai Tanduran Sawita 77 tahun dan menghilang di hutan Ciluar pada exspedisi pertama).

Kyai Tanujiwa Membuka Kota Bogor
Setelah sekian lama hilang dari percaturan historis yang berarti kurang lebih selama satu abad sejak 1579, kota yang pernah berpenghuni 50.000 jiwa itu menggeliat kembali menunjukkan ciri-ciri kehidupan. Reruntuhan kehidupannya mulai tumbuh kembali berkat ekspedisi yang berturut-turut dilakukan oleh Scipio pada tahun 1687, Adolf Winkler tahun 1690 dan Abraham van Riebeeck tahun 1703, 1704 dan 1709. Dalam memanfaatkan wilayah yang dikuasainya, VOC perlu mengenal suatu wilayah tersebut terlebih dahulu. Untuk meneliti wilayah dimaksud, dilakukan ekspedisi pada tahun 1687 yang dipimpin Sersan Scipio dibantu oleh Letnan Patinggi dan Letnan Tanujiwa, seorang Sunda terah Sumedang.

Dari ekspedisi tersebut serta ekspedisi lainnya, tidak ditemukannya pemukiman di bekas ibukota kerajaan, kecuali di beberapa tempat, seperti Cikeas, Citeureup, Kedung Halang dan Parung Angsana. Pada tahun 1687 juga, Tanujiwa yang mendapat perintah dari Camphuijs untuk membuka hutan Pajajaran, akhirnya berhasil mendirikan sebuah perkampungan di Parung Angsana yang kemudian diberi nama Kampung Baru. Tempat inilah yang selanjutnya menjadi cikal bakal tempat kelahiran Kabupaten Bogor yang didirikan kemudian. Kampung-kampung lain yang didirikan oleh Tanujiwa bersama anggota pasukannya adalah: Parakan Panjang, Parung Kujang, Panaragan, Bantar Jati, Sempur, Baranang Siang, Parung Banteng dan Cimahpar. Dengan adanya Kampung Baru menjadi semacam Pusat Pemerintahan bagi kampung-kampung lainnya.

Dokumen tanggal 7 November 1701 menyebut Tanujiwa sebagai Kepala Kampung Baru dan kampung-kampung lain yang terletak di sebelah hulu Ciliwung, De Haan memulai daftar bupati-bupati Kampung Baru atau Buitenzorg dari tokoh Tanujiwa (1689-1705), walaupun secara resmi penggabungan distrik-distrik baru terjadi pada tahun 1745.

Kisah penemuan bekas-bekas kerajaan oleh Scipio kemudian berlanjut dalam catatan Adolf Winkler (1681) dan Abraham van Riebeeck (1703, 1704, 1709) yang masing-masing membuat lebih banyak catatan penting tentang bekas-bekas Kerajaan Pajajaran.

Sementara itu, temuan-temuan bekas Kerajaan Pajajaran dalam ekspedisi Scipio membuat Tanujiwa tertarik dan memutuskan untuk pindah serta menetap di Parung Angsana yang lalu dijadikannya Kampung Baru. Bersama pasukannya Tanujiwa kemudian juga mendirikan beberapa kampung lain, yaitu Parakan Panjang, Parung Kujang, Baranang Siang, Panaragan, Bantar Jati, Sempur, Parung Banteng, dan Cimahpar. Pada 1912 F. De Haan dalam bukunya memulai daftar bupati Bogor (Kampung Baru) dengan Tanujiwa sebagai bupati pertama (1689-1705). Versi yang berbeda terdapat dalam Babad Bogor (1925) yang tidak mencantumkan Tanujiwa melainkan Mentengkara atau Mertakara (Kepala Kampung Baru ketiga, 1706-1718) sebagai “bupati pertama” Bogor.

Nama Bogor dan Butitenzorg
Dokumen tertua yang mencantumkan nama Bogor barasal dari tanggal 7 April 1752. Dokumen tersebut tertulis nama Ngabei Raksacandra sebagai hoofd van de Negorij Bogor (kepala Kampung Bogor). Saat itu Kampung Bogor terletak di lokasi tanaman kaktus dalam Kebun Raya Bogor sekarang. Sedangkan pasar yang didirikan di dekat kampung dinamakan Pasar Bogor dan masih berdiri dengan nama dan lokasi yang sama hingga sekarang.

Pada tahun 1745 mulai muncul Regentschap Kampung Baru atau Regentschap Buitenzorg yang merupakan gabungan 9 buah distrik, yaitu Cisarua, Pondok Gede, Ciawi, Ciomas, Cijeruk, Sindang Barang, Balubur, Darmaga, dan Kampung Baru. Regentschap ini dikepalai oleh seorang Demang. Tentang nama Buitenzorg yang lalu menjadi nama lama wilayah Bogor, tentu ada kisahnya sendiri. Pada tahun 1744 Gubernur Jenderal Baron van Imhoff mendirikan sebuah istana-villa di Cipanas. Di antara benteng Batavia dengan Cipanas dibangun pula sebuah rumah sederhana sebagai tempat peristirahatan dalam perjalanan. Rumah istirahat sederhana (di lokasi Istana Bogor sekarang) ini biasa disebut sans-souci, dari bahasa Perancis yang berarti tanpa kesibukan. Saat itu di Eropa Barat memang sedang trend paham romantisme yang menganjurkan agar manusia kembali ke alam. Sans souci padan dengan buitenzorg dalam bahasa Belanda dan karena itulah nama buitenzorg kemudian melekat pada rumah istirahat Van Imhoff.

Ketika Jakarta ditaklukkan oleh Yan Pieter Zoon Coen pada tahun 1619, daerah hulu atas dan sekitarnya, yang dahulunya dimusnahkan Sultan Maulana Hasanudin, ditemukan masih sangat liar dan tidak berpenghuni. Hanya bekas-bekas daerah yang pernah dihuni oleh Sultan masih dapat dijumpai sisa-sisanya di beberapa perkebunan penduduk Jacarta. Sebelum Jacarta ditaklukkan, Pangeran diturunkan dari tahta oleh Sultan Banten, sehingga Pangeran beserta keluarganya menyingkir ke pegunungan (tidak diceritakan sejarah kelanjutannya). Ketika Jacarta ditaklukkan, seluruh penduduk pribumi dibawa oleh Sultan Baten ke Bantam. Pada akhir abad 16 dan awal abad 17, daerah hulu atas Jakarta yaitu sepanjang tepi sungai Citarum mulai dihuni beberapa golongan penduduk. Di sebelah timur tepi sungai dihuni oleh keluarga suku Jawa, sedang di sebelah barat sungai dihuni oleh keluarga Sunda asal Preanger dan Bantam. Menurut catatan harian, tanggal 24 Agustus sampai 15 Oktober 1689 diceritakan kejadian pengejaran pendudukan yang dianggap pengacau dan telah menyebabkan terbunuhnya kaki tangan Kompeni Belanda yaitu Kapten Yonker yang berdarah Ambon.

Selanjutnya terjadi pengembangan perkampungan di sepanjang hulu atas Jakarta yang dihuni oleh orang-orang Sunda diantaranya :
  1. Tjitrap (Citeurep) dipimpin regent (Kepala Daerah) Aria Soeta.
  2. Bambo, tidak diketahui siapa yang menjadi Kepala Daerah.
  3. Tjilingsi (Cileungsi) dan Jimapack (Cimapak) dipimpin oleh 2 regent yaitu Kyai Mas Harya Wangsa dan Kyai Wangsa Koesoemo.
  4. Tjikias (Cikeas) dipimpin oleh regent Anggaber Wangsa dan lurah Angajaya.
  5. Tjikalong (Cikalong) dipimpin oleh Aria Nata Menggala.

Kedua daerah yang disebut terakhir yaitu Cikeas dan Cikalong akhirnya menjadi daerah Tjiandjoer (Cianjur). Daerah tersebut oleh kerajaan Mataram telah diserahkan kepada Kompeni Belanda pada tahun 1677. Pada mulanya para Kepala Daerah di atas tidak mengakui Pemerintahan Kompeni Belanda. Baru setelah ditandatangani perjanjian pada tahun 1705 antara Kompeni Belanda dengan Mataram, maka barulah mereka mengakui Kompeni Belanda dan menghadap ke Batavia . Pertengahan abad 17, Cianjur dihuni oleh Kyai Wira Tanoe dari Telaga, Cirebon, dengan penduduk kurang lebih 3000 orang. 

Keluarga regent Cianjur berpindah-pindah dari satu keluarga ke keluarga yang lain. Usaha pertama untuk menghuni kembali daerah hulu atas Jacarta adalah atas prakarsa Kompeni, yaitu Gubernur Jenderal Camphuis, dan dilaksanakan oleh Sultan Tanujiwa dengan sekelompok pekerja dari Sumedang. Mereka bergerak ke daerah ebkas Kerajaan Pajajaran yang masih luas. Letnan Tanujiwa dan pengikutnya membangun daerah baru dengan nama Kampung Baru, dengan Letnan Tanujiwa sebagai regent, yang diwajibkan melapor pada Kapten Winkier. Tahun 1690, Gubernur Jenderal Camphius meneluarkan perintah untuk membuat peta Kampung Baru.

Kampung Baru yang didirikan oleh Tanujiwa terletak di Cipingang (Jatinegara) dan di Bogor. Yang di Bogor mula-mula bernama Parung Angsana, sekarang tempat itu bernama Tanah Baru. Parung Angsana sebagai tempat kedudukannya sudah merupakan semacam “pusat pemerintahan” bagi kampung-kampung yang didirikan oleh Tanujiwa beserta pasukannya yaitu Parakan Panjang. Parung, Kujang, Panaragan, Bantarjati, Sempur, Baranang Siang, Parung Banten dan Cimahpar. 

Dokumen yang dikutip oleh Den Haan (1912) menyebut Tanujiwa beserta anak buahnya berada di Kampung Baru, Pajajaran dan daerah sebelah hulunya. Dengan demikian Tanujiwa telah ditunjuk sebagai pemimpin koloni di sebelah Selatan Cikeas. Den Haan mengawali daftar bupati-bupati Bogor (Kampung Baru) dengan tokoh Tanu­jiwa ini (1689-1705), walaupun secara resmi peng­gabungan "distrik-distrik" Kabupaten Kampung Baru ter­jadi tahun 1745. Kedekatan batin Tanujiwa dengan Pajajaran telah melonggarkan ketaatannya terhadap Kompeni. la merasakan kepahitan bahwa seorang letnan pribumi tetap harus tunduk kepada seorang sersan hanya karena ser­san itu seorang 8elanda. Akhirnya Tanujiwa menjadi sekutu dan pelindung Haji Perwatasari yang bangkit mengangkat senjata terhadap perluasan daerah kekua­saan VOC. Mereka kalah dan dibuang ke Tanjung Harapan di Afrika.

Orang saling menyindirnya bahwa ia mengejar harapan kosong dan "bermesraan" dengan orang ompong (Per­matasari). Yang jelas, penyusun babad Bogor (1925), tidak berani mencantumkan Tanujiwa sebagai "Bupati Pertama". Sebaliknya para penulis Belanda menyebut Tanu­jiwa sebagai Bupati Kampung Baru pertama dan peletak dasar Kabupaten Bogor. Saleh Danasasmita (1983) juga menyebutkan bahwa malam hari tanggal 4 & 5 Januari 1699 Gunung Salak meletus dengan iringan gempa yang sangat kuat. Sebuah catalan dari tahun 1702 melaporkan akibat-akibat yang ditimbulkannya:

  • Dataran tinggi antara Batavia dengan Cisadane di belakang bekas keraton raja-raja Jakarta (Pakuan) yang tadinya berupa hutan besar berubah menjadi lapangan luas terbuka tanpa pohon-pohon sama sekali.
  • Permukaan tanah tertutup tanah liat merah halus. Di beberapa tempat tanah telah mengeras hingga me­nyulitkan orang berjalan di atasnya.
  • Aliran Ciliwung dekat muaranya tersumbat sepanjang beberapa ratus meter akibat lumpur yang dibawanya. Tidak terdapat berita mengenai keadaan penduduk sepanjang aliran sungai itu.
Abraham Van Reebeck-lah yang kemudian mcmber­sihkan sumbatan tersebut, tetapi ia juga mengajukan usul agar tanah BDiong Manggis dan BDiong Gede diberikan kepadanya sebagai imbalan. Pada tahun 1703 ia tidak mencatat tentang sisa-sisa letusan itu. Setahun kemudian ia mendirikan pondok peristirahatan di daerah Batutulis, karena Gunung Salak tidak dianggap menakutkan lagi.

Pada tahun 1709, Van Reebeck menyuruh mcmbangun jalan ke arah pantai selatan. Disini Pada tahun 1711 atas biaya Wali Negeri didirikan 4 daerah yaitu Gunung Guru, Citarik, Pondok ope dan Cidurian. Daerah-daerah ini men­jadi tempat pelarian beberapa orang asal Banten yang kurang puas terhadap kewajiban mengumpulkan indigo, benang katun dan penanaman kapi. Dalam rapat antar Kepala Daerah hari Senin tanggal 18 Februari 1724, regent Cianjur, Kyai Aria Wira Tanoe diangkat menjadi regent keempat daerah tersebut. Sehingga penduduk mempunyai kewajiban sepertr pen­duduk daerah kekuasaan Kampeni lainnya. Pada tahun 1744 yaitu dari tanggal 20 Agustus sampai September, Gubernur Baron Van Imhoff mengadakan peninjauan. Ia menaruh perhatian Pada Kampung Baru (kelak menjadi Buitenzorg) yang dapat dikembangkan menjadi daerah pertanian dan tempat perislirahatan Gubernur Jenderal. Selanjutnya Pada tahun 1745, Baron mengajukan petisi kepada Dewan Perwakilan Resmi Pcmerinlahan Hindia Belanda yang isinya :
  1. Daerah Kampung Baru diubah menjadi suatu tempat peristirahatan gubernur Jenderal dan Staf VOC.
  2. Menjadikan derah ini daerah pertanian dan perkebunan sebagai contoh daerah lain.
  3. Merencanakan perubahan perilaku masyarakat yang dianggap malas (pada waktu itu), menjadi masyarakat yang mempunyai kemampuan atau keahlian misalnya ambtenar (pegawai negeri), ahli pertanian, ahli perkebunan dan sebagainya.
Pada tahun yang sama pula, 9 buah distrik, yaitu: Cisarua, Pondok Gede, Ciawi, Ciomas, Cijeruk, Sindang Barang, Balubur, Darmaga dan Kampung Baru digabung menjadi “satu pemerintahan” di bawah kepala Kampung Baru yang bergelar Demang. Gabungan 9 distrik ini disebut Regentschap Kampung Baru Buitenzoregg. Dalam lambang Kabupaten Bogor, sungai Cisadane dan Ciliwung masing-masing digambarkan dengan 9 garis gelombang. Ini mengungkapkan gabungan 9 distrik tersebut, jadi benar, pendapat ahli Belanda Riesz, yang mengatakan bahwa Kampung Baru adalah “de Bakermat” (tempat kelahiran) Kabupaten Bogor. 

Banyak orang mengatakan bahwa Istana Bogor di kawasan Kebun Raya itu merupakan gagasan Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff. Dugaan tersebut dianggap kurang tepat, sebenarnya ia tidak pernah merencanakan sebuah istana. Sebaliknya ia mendirikan sebuah rumah sakit militer di cipanas. Pada lokasi Istana Bogor sekarang, didirikannya sebuah bangunan sederhana sebagai tempat persinggahan dalam perjalan dari benteng Batavia ke Cipanas. 

Van Imhoff cenderung pada liberalisme Perancis. Ia pun penganut setia faham romantisme ajaran Rosseau, yang menganjurkan manusia kembali kepada alam. Pada waktu itu mode para pencari kewajaran alami ialah dengan membangun villa sederhana, mungil, dan serasi dengan alam sekitar. Vila ini disebut Sans Souci (bahwa Perancis) atau istilah Belanda “Buitenzorg” yang berarti: tanpa rasa gundah. Demikian pula bangunan sederhana yang ia bangun pada lokasi Istana Bogor ia beri nama Buitenzorg

Buitenzorg meliputi Puncak – Telaga Warna – Mega Mendung – Ciliwung – Muara Cihideung – Puncak Gunung Salak dan Puncak Gunung Gede. Dan Baron Van Imhoff diresmikan menjadi tuan tanah dari kawasan itu. Van Imhoff merupakan pimpinan VOC pertama yang melaksanakan politik teritorial melalui sistcm percetakan sawah. Politik ini berguna untuk mcmpertinggi hasil padi dan mengikat penduduk pada pemukiman yang tetap. Perkebunan kopi, lada dan tarum juga berkcmbang pesat di daerah Buitenzorg. 

Pada tanggal 1 januari 1800 VOC atau Kompeni Hindia Belanda menerima persetujuan untuk memperluas ke selatan (hulu atas) Kampung Baru. Pada waktu itu, Batavia yang menjadi pusat pemerintahan Belanda VOC dirasakan padat dan jika musim hujan tiba, banjir meluap dan melanda kota . Akibatnya sering berjangkit penyakit menular yang berkepanjangan, sehingga VOC memilih daerah selatan dengan tujuan atau pertimbangan antara lain:
  1. Daerah selatan subur dan baik tanahnya, merupakan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Pajajaran.
  2. Tidak terlalu jauh dari pusat Pemerintahan VOC, yaitu Batavia.
  3. Letak, keadaan tanah dan iklimnya dinilai sesuai dengan keinginan Belanda, sehingga sangat cocok untuk tempat peristirahatan pejabat-pejabat Belanda.
Secara bertahap lembaga pemerintaha melakukan mutasi, seperti dilakukan terhadap Sekretaris Gubernur Jenderal Belanda pada tahun 1928. kemudian disusul pcmbentukan departcmen kerajinan tangan, departcmen pertanian dan pendidikan.

Demikian pula penyebaran penduduk. Sesuai dengan politik pemerintahan jajahan pada waktu itu, penyebaran penduduk didasarkan perbedaan kelas masyarakat, menurut warna kulit, diskriminasi rasial. Bangsa berkulit kuning atau Cina mendiami daerah Pecinan atau Lawang Seketeng dan daerah tersebut dijadikan pusat per­dagangan dan jalur ekonomi. Sisa-sisa kejayaannya masih terlihat sekarang di daerah sekitar Pasar Bogor dan Suryakencana. Bangsa Arab mendiami daerah sekitar Empang. Sedangkan bangsa pribumi sebagai penduduk asli yang menurut klasifikasi masyarakat adalah warga kelas empat (IV) hanya mendiami pelosok-pelosok desa, yaitu sekarang daerah sekitar Bondongan. Bangsa Eropa atau yang berkulit putih sebagai warga utama dan terhormat saat itu, mendapat daerah kelas satu (I) yang memiliki Pemandangan bagus yaitu daerah sekitar Kedung Halang, serta jalan raya pusat kota yang disebut Preanger Lijn (saat ini Jalan Ir. H. Juanda) yang diresmikan tahun 1872.

Perkembangan selanjutnya, Pada tahun 1941, Buiten­zorg secara resmi lepas dari Batavia dan mendapat otonominya sendiri. Keputusan dari Gubernur Jenderal Belanda di Hindia Belanda No. 11 tahun 1866, No. 208 tahun 1905 dan No. 289 tahun 1924 menyebutkan bahwa wilayah Bogor pada waktu itu seluas 22 km persegi, ter­diri dari 2 sub-distrik dan 7 desa. Pemandangan alam dan keadaan topografi Buitenzorg yang indah menyebabkan pemerintahan Hindia Belanda menjadikannya sebagai tempat rekreasi dan pemukiman yang ideal, dengan rumah Gubernur Jenderal yang berada di jantung kota yang kemudian berkembang men­jadi Istana Bogor.

Analisis Umum
Turunan Pajajaran, Kyai Tanujiwa bersama VOC Belanda pada tahun 1687 menelusuri Pajajaran yang runtuh pada tahun 1579 yang ditandai dibawanya Sriman Sriwacana ke Banten. Waktu terpaut  108 tahun penelitian lokasi Pajajaran dar sejak runtuhnya Pajajaran tahun 1579.

Hilangnya jejak Kerajaan Pajajaran mungkin disengaja dihilangkan oleh pihak-pihak yang menginginkannya, terutama oleh penakluknya yakni Kerajaan Banten. Kita ingat Sejarah selalu ditulis oleh pihak yang menang. Selanjutnya bukti-butki yang ada sedapat mungkin dihilangkan. Ini konsekuensi umum dalam politik.

Rakyat Sunda sebagai warga Kerajaan Pajajaran pun tak dapat berbuat banyak, ketika para menak (bangsawan) memutuskan sesuatu. Tak ada pilihan bagi rakyat, selain menuruti titah para menak. namun demikian, kesedihan rakyat ada dalam pantun atau kawih sunda yang berisi ratapan atas hilangnya Pajajaran.

Baca juga gambaran rakyat sunda di: Inilah Khidupan Urang Sunda Pajajaran - Berdasarkan Sanghyang siksakanda ng karesian

Secara ilmiah, mestinya tidak mungkin lokasi sebuah kerajaan tidak diketahui, kecuali karena faktor politik. Adapun faktor bencana alam bisa saja terjadi, meskipun ada kemungkinan mereka yang selamat dari bencana akan kembali ke lokasi awal ketika dirasa aman atau stidaknya mereka akan menyampaikan kisah tersebut kepada anak-cucunya dengan gamblang. Faktanya kisah Kerajaan Pajajaran disampaikan secara lisan dan turun temurun penuh dengan seloka dan sindiran. Ini menunjukkan ketidakberanian karena ada "sesuatu" atau kekuatan politik yang melarangnya.

Gambaran Lokasi Kerajaan Pajajaran tidak jelas hingga hari ini.

Mungkinkah Lokasi Kerajaan Pajajaran Ditemukan?
Menganalisis kisah perebutan kekuasaan antara sesama Urang Sunda, rasanya tidak mungkin. Kerajaan Cirebon, banten dan Sumedang Larang yang menjadi aktor utama dalam masa akhir kekuasaan Pajajaran adalah kuncinya.

Terlepas dari adanya kisah supranatural bahwa Istana Kerajaan Pajajaran Sirna ing Bumi, alias menghilang secara ghaib, ngahyang. Inipun masih bisa dilakukan oleh para pemangku kepentingan Sunda Pajajaran, yaitu para keturunan Trah Pajajaran, cendikiawan, sejarawan, agamawan dan masayarakat umum yang peduli dengan Budaya Sunda.

Dalam buku "Mencari Gerbang Pakuan dan Menelusuri Situs Prasasti Batutulis" oleh Saleh Danasasmita diceritakan tentang pencarian keraton Pajajaran.

Kota Pakuan dikelilingi oleh benteng alam berupa tebing-tebing sungai yang terjal di ketiga sisinya. Hanya bagian tenggara batas kota tersebut berlahan datar. Pada bagian ini pula ditemukan sisa benteng kota yang paling besar. Penduduk Lawanggintung sisa benteng Kuta Maneuh.

Prasasti Batutulis sudah mulai diteliti sejak tahun 1806 dengan pembuatan "cetakan tangan" untuk Universitas Leiden (Belanda). Upaya pembacaan pertama dilakukan oleh Friederich tahun 1853. Sampai tahun 1921 telah ada empat orang ahli yang meneliti isinya. Akan tetapi, hanya Cornelis Marinus Pleyte yang mencurahkan pada lokasi Pakuan, sementara yang lain hanya mendalami isi prasasti itu.

Hasil penelitian Pleyte dipublikasikan tahun 1911 (penelitiannya sendiri berlangsung tahun 1903). Dalam tulisannya, Het Jaartal op en Batoe-Toelis nabij Buitenzorg atau "Angka tahun pada Batutulis di dekat Bogor," Pleyte menjelaskan, "Waar alle legenden, zoowel als de meer geloofwaardige historische berichten, het huidige dorpje Batoe-Toelis, als plaats waar eenmal Padjadjaran's koningsburcht stond, aanwijzen, kwam het er aleen nog op aan. Naar eenige preciseering in deze te trachten".

“Dalam hal legenda-legenda dan berita-berita sejarah yang lebih terpercaya, kampung Batutulis yang sekarang terarah sebagai tempat puri kerajaan Pajajaran; masalah yang timbul tinggallah menelusuri letaknya yang tepat.”

Pleyte mengidentikkan puri dengan kota kerajaan dan kadatuan Sri Bima Narayana Madura Suradipati dengan Pakuan sebagai kota. Babad Pajajaran melukiskan bahwa Pakuan terbagi atas "Dalem Kitha" (Jero kuta) dan "Jawi Kitha" (Luar kuta). Pengertian yang tepat adalah "kota dalam" dan "kota luar."

Pleyte masih menemukan benteng tanah di daerah Jero Kuta, sekarang membentang ke arah Sukasari pada pertemuan Jalan Siliwangi dengan Jalan Batutulis. Letak keraton diduga kuat di sekitar Batutulis.

Laporan Adolf Winkler (1690) menyebutkan, di Batutulis Winkler menemukan lantai atau jalan berbatu yang sangat rapi. Menurut penjelasan para pengantarnya, di situlah letak istana kerajaan ("het conincklijke huijs soude daerontrent gestaen hebben"). Setelah diukur, lantai itu membentang ke arah paseban tua. Di sana ditemukan tujuh (7) batang pohon beringin. Namun posisi persisnya sampai sekarang masih menjadi misteri.

Perlu Rekonsiliasi Semua Kekuatan Sunda
Keluarga Kerajaan Cirebon, Banten dan Sumedang Larang, saya kira perlu urun rembug dan rekonsiliasi secara damai tanpa mengedepankan ego sektoral atau kewilayahan. Pun demikian dengan keturunan dari Kerajaan Sunda dan galuh, seperti para inohong dari Bandung, Sumedang, Majalengka, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, dan daerah bekas Tarumanegara: Karawang, Bekasi, Jakarta, Subang.

Barangkali di masa lalu, perseteruan dipicu oleh perbedaan agama, seperti dalam sejarah dikatakan bahwa berantakannya dan runtuhnya (runtag) Kerajaan di tatar Sunda akibat penyebaran agama Islam, perlu kita merendahkan hati dan melembutkan hati dengan sangat terbuka. Pengenalan kembali budaya Sunda, harus dimaksudkan untuk menelusuri sejarah kejayaan Sunda demi membangkitkan kesadaran generasi penerusnya dalam membangun kesejahteraan negeri dan masyarakat Sunda serta Indonesia secara keseluruhan.

Saya kira tidak perlu khawatir bahwa, bila kita menelusuri kejayaan Sunda masa lalu akan mengembalikan aqidah orang Sunda ke keyakinan lama. Terbukti banyaknya stigma negatif dan bahkan penyerangan terhadap pihak yang mengetengahkan budaya ke-Sunda-an. Semenakutkan itukah?

Kita harus hati-hati. Jika semakin menekan mereka yang ingin menelusuri budayanya sendiri, tentang kesundaan, semakin terbalik hasilnya. Ingat teori "psikologi terbalik". Semakin dilarang, orang semakin ingin melanggar, makin disuruh makin diam tak melakukan apa-apa. Semakin memaksakan agama, semakin tinggi penentangannya. Ini sudah terjadi di Andalusia (Spanyol), dimana memaksakan kehendak, akhirnya Islam ditinggalkan. baru-baru ini, di Irak Utara (Kurdi), mereka kecewa dengan Khilafah Islam, akhirnya mereka kembali memeluk agama Zoroaster, kita menyebutnya agama Majusi.

Baca juga: Islam Bergejolak, Membangkitkan Ajaran lama Zoroaster di Iraq

Kita bandingkan dengan penemuan-penemuan kejayaan kerajaan mataram dan majapahit, Candi Borobudur, Prambanan, Siwo, Sukuh, Ratu boko, Sisa kota Majapahit di trowulan dan banyak lagi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Coba perhatikan, apakah orang-orang Jawa kembali ke agama semula? kembali ke agama Hindu/Siwo/Syiwa? Faktanya tidak. Justru membangkitkan semangat tinggi bahwa orang Jawa kekinian yang memiliki sejarah masa lalu yang adiluhung, luarbiasa.

Sebelum ditemukan oleh Rafles, Borobudur sudah ditinggalkan oleh orang Jawa eks kerajaan Mataram. Tetapi mereka masih mempunyai kebiasaan menceritakan lokasi itu, meskipun dari sisi yang berbeda sebagai tempat wingit (angker). Ada juga yang menakut-nakutinya sebagai tempat genderwo, karena di sana banyak berhala. Kita salut, kepada orang Jawa yang masih memiliki keberanian menyampaikan kisah, meskipun dalam tekanan kerajaan Demak. Baca juga: DI BALIK RUNTUHNYA KERAJAAN MAJAPAHIT (HIDDEN STORY)

Berbeda dengan orang Sunda. Tekanan begitu kuat, atau rakyat yang begitu lemah? Terbukti bahwa sebagian makam-makam raja memang disengaja disamarkan oleh rakyat Sunda sendiri. Mengurangi risiko penghancuran dari mereka yang menentang Kerajaan Sunda Pajajaran. Tempat-tempat kramat seperti kabuyutan pun tak lepas dari pengrusakan pihak-pihak tertentu. Terbukti dari berita terakhir pembongkaran makam-makam kramat palsu di wilayah Sukabumi. Anggapan pihak kepolisian adalah hasil tindakan orang tak bertanggung jawab. namun ada juga pihak menuduh adanya upaya mengajak dan mempengaruhi masyarakat ke dalam perbuatan Syirik.

Analisis saya, bahwa kita telah memasuki zaman modern dan reformasi, ada kebebasan yang meningkat dibandingkan masa rejim orde baru. Sebagian budaya Sunda sudah terlihat menggeliat. Namun, untuk membuka "rahasia besar" jejak Pajajaran, sepertinya para pemangku adat atau inohong Sunda kelihatan ragu. banyak situs kerajaan dan makam-makam raja sengaja disembunyikan atau disamarkan dengan nama orang lain atau nama Wali.. Barangkali, adanya situs kramat palsu merupakan "uji coba" terhadap kemungkinan reaksi yang ada.. Ternyata benar. Memang, adanya situs kramat, selalu saja ada orang yang mengunjunginya dengan sesajen dan bakar kemenyan atau dupa. Inilah alasan adanya kemungkinan pemusyrikan, demikian kira-kira alasan pembongkaran makam karmat palsu.

Tetapi hal ini tidak terjadi di Jawa Tengah dan jawa Timur.

Semoga dengan kelembutan kita masih bisa mempertahankan tanah Pasundan tetap berpegang teguh pada Aqidah Islam dengan membangun budaya Sunda yang adiluhung, "Agama jeung Daligama".

Baca Juga: Kerajaan Sunda, Pajajaran, Galuh dan Agama Sunda

Saya (penulis), orang Majalengka yang berbahasa Sunda. Namun saya ditolak masuk paguyuban Sunda karena tempat lahir saya di majalengka dan dianggap sebagai "bukan Sunda". Bagi saya tidak masalah. Meskipun demikian, saya akan sangat bangga jika kebangkitan orang Sunda segera terwujud. Semoga kesadaran kita di Sunda pun terbangkitkan.
 
Cag
Baca Juga

Sponsor