Cari

Asal Usul Sungai Cipamali Brebes | Sasakala Cipamali



[Historiana] - Sasakala adalah dongeng yang dikaitkan dengan asal usul nama suatu tempat (toponimi). Uniknya, dalam sasakala sering menyebutkan nama-nama tokoh yang secara historis memang ada di zaman tertentu. Selain itu, kita dapat mengambil suatu kesimpulan alur cerita yang dimaksudkan dalam sasakala adalah kisah sejarah dalam bentuk dongeng rakyat (folklore). Dapat dimaklumi bahwa para penutur dongeng merasa segan jika mengisahkan suatu peristiwa terkait dengan para bangsawan. Oleh karena itu kisah beruba "siloka".

Sebuah dongeng  sasakala yang menceritakan terjadinya nama Sungai Cipamali (pamali 'pantang') yang berada di Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Dongeng mi merupakan sinopsis sebuah cerita babad, yang di dalamnya terdapat episode tentang terjadinya pemberian nama sungai itu. Sasakala Cipamali dikumpulkan oleh Satjadibrata (1946) dalam sebuah bunga rampai dongeng,

Ringkasan Cerita

Sang Permana di Kusuma adalah raja Galih Pakuan yang terkenal sangat adil dan bijaksana. Ia belum juga berputra, baik dari istri pertama yang bernama Naganingrum maupun dari istri kedua yang bernama Dewi Pangrenyep.

Pada suatu waktu, Sang Permana pergi bertapa. Kerajaan beserta isinya diserahkan kepada Arya Kebonan. Sebelum pergi, ia memberikan pesan kepada penggantinya agar berbuat adil dan jangan mengganggu kedua istrinya. Arya Kebonan menyanggupi. Selanjutnya, Sang Permana pergi ke Gunung Padang untuk bertapa. la mengganti namanya menjadi Ajar Sukaresi.

Ternyata Arya Kebonan, yang sekarang sudah berganti nama menjadi Raden Barma Wijaya Kusuma, tidak menepati janjinya. Suatu hari Naganingrum dan Dewi Pangrenyep mendapat firasat akan mendapat putra. Firasat tersebut ternyata tepat, sebab sembilan bulan kemudian Dewi Pangrenyep melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Aria Banga.

Meskipun sudah sepuluh bulan, Naganingrum belum juga melahirkan. Tiba-tiba sang raja mendapat firasat bahwa bayi yang belum lahir tersebut akan menimbulkan malapetaka bagi dirinya. Ia menyuruh Dewi Pangrenyep agar nanti bilamana Naganingrum melahirkan, bayinya harus segera dibuang.

Bayi yang lahir ternyata laki-laki. Kemudian, ía dimasukkan ke dalam kandaga 'sejenis kotak' bersama sebutir telur. Dewi Naganingrum selanjutnya diusir dari keraton.

Bayi yang dihanyutkan ke sungai Citanduy tersebut akhirnya ditemukan oleh Aki dan Nini Balangantrang, sampai menjadi seorang pemuda. Ia bernama Ciung Wanara. Telur yang menemaninya ketika hanyut menetas menjadi ayam jantan setelah dierami ular yang bernama Nagawiru.

Ciung Wanara bermaksud menyabung ayam dengan raja. Setelah sampai di kerajaan, raja menerima tantangan Ciung Wanara untuk menyabung ayam. Bila ayam raja kalah, Ciung Wanara berhak mendapatkan setengah dari luas daerah kerajaan beserta isinya. Bila ayamnya sendiri kalah, Ciung Wanara harus menyerahkan jiwa kepada raja. Ternyata ayam milik Ciung Wanara menang sehingga ia berhak atas setengah dari wilayah kerajaan. la menjadi raja di wilayahnya.

Setelah menjadi raja, Ciung Wanara bermaksud membalas dendam kepada Raden Galih Barma. Dengan suatu tipu muslihat, ia berhasil memenjarakan Raden Galuh Barma dan Dewi Pangrenyep yang dianggap telah menyengsarakan dirinya berikut ibu kandungnya.

Aria Banga tidak tinggal diam. Terjadilah perkelahian antara Ciung Wanara dengan Aria Banga. Perkelahian mereka berlangsung sangat seru dan cukup lama. Pada suatu kesempatan Ciung Wanara berhasil melemparkan Aria Banga ke seberang sungai.

Pada saat itulah mereka sadar bahwa perkelahian di antara dua bersaudara tersebut tidak akan berguna. Mereka berhenti berkelahi. Sungai yang memisahkan mereka selanjutnya diberi nama Cipamali sebagai tanda peringatan yang bermakna: pertikaian dengan saudara harus dihindarkan sebab termasuk pamali 'pantang'. Aria Banga terus pergi ke sebelah timur, sedangkan Ciung Wanara terus pergi ke barat. Ibu kota negara Galih Pakuan oleh Ciung Wanara dipindahkan ke sebelah barat, kemudian diberi nama Pakuan Pajajaran.

Catatan

Nama-nama tokoh dalam Sasakala Cipamali menyebutkan para raja penguasa Kerajaan Galuh. Nama tersebut yaitu: Ciung Wanara (gelar raja), Arya Banga, Dewi Pangrenyep, Dewi Naganingrum (dalam sejarah keduanya istri Permana Dikusumah penguasa Kerajaan Saunggalah). Raden Galih Barma atau Raden Barma Wijaya Kusumah adalah Tamperan Barmawijaya atau disebut juga Raja Bondan. Ia putera Rahyang Sanjaya Harisdarma, Raja ke-2 Kerajaan Sunda dan Pendiri kerajaan Mataram Kuno (Kerajaan Kalingga, Jawa tengah). Sementara itu, Aki Balangantrang adalah Bimaraksa (patih kerajaan Galuh) yang menyingkir pasca-penyerangan Rahyang Sanjaya ke istana Kerajaan Galuh, sehingga menewaskan Prabu Purbasora.

Dalam sisi alur, kisah berupa siloka dan ada bagian yang terbalik menurut catatatan sejarah. Sisi siloka dalah sabung ayam jago. Kisah sebenarnya adalah peperangan yang terjadi antar raja dalam sebuah perang besar 3 kerajaan (Sunda-Galuh-Kalingga) yang disebut "Gotrayudha". Aktos yang diposisikan terbalik adalah Ciung Wanara dan Arya banga. Ciung Wanara dalam sejarah adalah Raja Galuh dan Arya Banga adalah Raja Sunda. Ini hasil kesepatan 3 raja (Ciung Wanara, Arya Banga, Sanjaya) dibawah arah Resi Demunawan dari Galunggung.

Pesan Moral: Bahwa pertikaian antara saudara itu tidak baik dan tidak ada gunanya.
Baca Juga

Sponsor