Cari

Kesultanan Utsmani (1300-1517): Jalan Panjang Menuju Kekhalifahan

Ilustrasi

 

[Historiana] - Artikel ini karya Muhammad Affan dari UIN Sunan Gunung Djati yang dipublikasikan pada Jurnal Tamaddun Vol. 6 , No. 2, Juli - Desember 2018 yang dapat diakses didownload dari risetdikti.go.id. Kami sampaikan secara utuh agar mudah diakses dan mudah dipahami. 

Pendahuluan

Ketika Kesultanan Utsmani runtuh dan kekhalifahan berakhir, ide-ide ataupun diskusi mengenai kekhalifahan tidak pernah berakhir. Bahkan usaha-usaha bagi berdirinya sebuah kekhalifahan yang baru terus berjalan. Deklarasi kekhalifahan oleh ISIS adalah buktinya.[1]

Kemunculan ISIS dan deklarasi mereka pada terbentuknya kekhalifahan telah memunculkan minat yang lebih besar pada diskusi mengenai khalifah dan kekhalifahan. Bagaimanapun juga, tidak semua Muslim mengetahui apa dan bagaimana kekhalifahan itu. Sehingga, deklarasi kekhalifahan oleh ISIS telah menghangatkan kembali diskusi-diskusi mengenai kekhalifahan.

Didalam Al Quran sendiri, kata khalifah yang bermakna pemimpin disebutkan dua kali. Kata khilafah di dalam Al Quran adalah pembahasan mengenai salah satu kedudukan manusia di bumi. Sebuah konsep yang menunjuk hubungan manusia dengan Allah dan dengan lingkungannya. [2]

Menurut As Suyuti, khalifah adalah kepala pemerintahan umat Islam. Pandangan ini dikemukakan oleh As Suyuti berdasarkan pada pendapat Mu‟awiyah dan Salman Al Farisi. [3]

Definisi mengenai khalifah sendiri pada dasarnya memiliki penafsiran yang jamak. Multitafsir ini dipengaruhi oleh fakta sejarah bahwa para penguasa Muslim pasca Nabi Muhammad SAW dan Khulafa ar Rasyidin pada dasarnya adalah raja yang absolut. Sementara bagi beberapa pihak, hal tersebut bertentangan dengan prinsip keadilan dan egalitarianisme dalam Islam. [4]
Beberapa pendapat mengenai khalifah dikemukakan salah satunya oleh kelompok Ahmadiyah yang menganggap bahwa khalifah adalah bagian dari tugas ketuhanan yang datang dari Allah dalam rangka meneruskan perjuangan Nabi Muhammad SAW. Namun khalifah berbeda dengan Nabi yang diangkat oleh Tuhan; khalifah justru hanya diangkat oleh jemaah yang bersifat rahasia. [5]

Dalam sejarah Muslim sendiri, gelar khalifah pertamakali disematkan pada Abu Bakar yang mengambil gelar Khalifah Rasulullah dalam jabatannya. Abu Bakar tidak menggunakan gelar Khalifah Allah, begitu juga Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. [6] Pada perkembangan berikutnya, gelar Khalifah Allah baru dipergunakan oleh para penguasa Abbasiyah. Jika hanya mengacu pada penggunaan kata khalifahnya saja, secara umum gelar khalifah dipergunakan oleh para pemimpin Khalifah ar Rasyidin, Umayyah, Abbasiyah dan sultan-sultan Utsmani sebagai simbol kekuasaan menggantikan Nabi dalam memimpin pemerintahan. [7] Keempat institusi pemerintahan tersebut, kemudian dikenal dalam sejarah sebagai kekhalifahan.

Kekhalifahan sendiri dapat berdiri karena adanya tiga unsur yang saling berhubungan yaitu manusia sebagai khalifah, kedua bumi sebagai tempat kekhalifahan, dan ketiga adalah mustakhlif yaitu Allah dan rakyat. [8] Dalam konteks modern, kekhalifahan dimaknai sebagai sebuah pemerintahan yang dibangun diatas konsep kewarganegaraan tanpa memandang etnis, jender atau kepercayaan serta sepenuhnya menentang perlakuan represif terhadap kelompok religius atau etnis. Sistem kekhalifahan diyakini bertujuan untuk mengatasi situasi yang memburuk serta mengakhiri penjajahan asing pada teritorial muslim. [9] Oleh sebab itu, berdirinya kekhalifahan dipandang beberapa pihak sebagai sebuah kewajiban. Salah satu pendukung pandangan ini adalah organisasi Hizbut Tahrir yang berpendapat bahwa dalil mendirikan khilafah ada pada Q.S Annur: 55. [10]

Meski demikian, pertanyaan utama yang sebenarnya menjadi problem bagi umat Islam adalah bagaimana kekhalifahan itu bisa berdiri? Pertanyaan ini menjadi relevan ketika deklarasi kekhalifahan oleh ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) menimbulkan dilema tersendiri bagi umat Islam dalam persoalan legitimasinya. ISIS dianggap mendeklarasikan kekhalifahan secara sepihak dan prematur mengingat mereka mendeklarasikan kekhalifahan tanpa berkuasa atas sebagian besar wilayah yang dihuni oleh Muslim. Selain itu, metode perang teror yang diadopsi ISIS sebagai jalan mendirikan kekhalifahan telah menodai makna khalifah dan kekhalifahan itu sendiri.

Ketika diskusi mengenai kekhalifahan lebih banyak membahas mengenai definisi kekhalifahan dan bentuk dari kekhalifahan itu sendiri, persoalan bagaimana mendirikan kekhalifahan seringkali luput dari perhatian. Berangkat dari persoalan tersebut, artikel berikut akan membahas mengenai jalan panjang Kesultanan Utsmani sampai kepada kekhalifahan Dunia Muslim. Meski otoritas Utsmani yang didasarkan pada kohesi sosial dan kekuasaan temporal tidak dianggap sebagai kekhalifahan yang ideal oleh Rashid Rida, namun kehadiran Utsmani sebagai sebuah kekhalifahan selalu penting dalam sejarah Muslim. [11]

Artikel ini sendiri bertujuan untuk memberi gambaran bagaimana jalan sejarah ataupun cara Utsmani dapat menduduki jabatan khalifah dalam Dunia Muslim yang luas dan majemuk. Sebagai sebuah artikel sejarah, metode yang digunakan disini adalah metode sejarah dengan kajian pustaka. Hasil pembahasannya diharapkan dapat memberi sumbangan informasi dan referensi dalam diskursus kekhalifahan yang selalu penting dalam Dunia Muslim.

Berdirinya Kekuasaan Utsmani

Pada paruh kedua abad 6 Masehi, bangsa Turki yang berasal dari Turkestan melakukan migrasi besar ke wilayah Asia Kecil. [12] Migrasi ini, membawa mereka tinggal disepanjang sungai Amu Darya, Tabaristan dan Gorgan. [13] Kontak pertama antara orang-orang Turki dengan Kaum Muslimin diperkirakan mulai terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. At Thabari menginformasikan bahwa Shahrbaraz, salah seorang pemimpin orang-orang Turki, telah membuat perjanjian damai dengan Kaum Muslimin pada masa Umar bin Khattab. Setelah perjanjian damai tersebut, Shahrbaraz beserta para pengikutnya bergabung dalam pasukan Muslim menuju Armenia. [14] Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, konversi orang-orang Turki kedalam Islam menjadi lebih besar. Setelah pembebasan wilayah Tabaristan dan Transoxiana oleh pasukan Muslim, orang-orang Turki yang memeluk agama Islam dan bergabung dengan pasukan Muslim menjadi lebih banyak dari sebelumnya.

Pada perkembangan selanjutnya, orang-orang Turki mulai mengambil peranan yang lebih besar dalam Dunia Muslim pada masa Abbasiyah. Khalifah Al Mu‟thasim yang melihat potensi orang-orang Turki, mulai membuka pintu lebih lebar kepada orang-orang Turki untuk masuk kedalam struktur pemerintahan Abbasiyah. Kebijakan Al Mu‟thasim menimbulkan kecemburuan umum dikalangan militer Abbasiyah non Turki. Akibat dari kecemburuan tersebut, Khalifah Al Mu‟thasim harus memindahkan ibukota Abbasiyah dari Baghdad ke Samara. Meski demikian, kecemburuan itu tidak menghalangi orang-orang Turki untuk tetap mengambil peran yang lebih besar dalam struktur pemerintahan Abbasiyah.

Pada sekitar abad 11 M/5 H, orang-orang Turki mendirikan sebuah pemerintahan yang lebih besar dari yang sebelumnya. Sejarah mengenali kerajaan Turki itu sebagai Kesultanan Seljuk. Sebagai sebuah kesultanan, Seljuk memiliki keunikan dimana mereka memiliki banyak kesultanan kecil lainnya yang tersebar di Transoxiana, Khurasan, Suriah, dan Asia Kecil. Semua kesultanan kecil tersebut tunduk pada Kesultanan Seljuk yang di Iraq.

Mengingat bahwa sejak awal orang-orang Turki dekat dengan Abbasiyah, maka Seljuk sendiri secara politik mendukung Kekhalifahan Abbasiyah yang berfaham Sunni. Sebagai akibatnya, Seljuk bermusuhan dengan Kerajaan Fathimiyah di Mesir yang berhaluan Syiah. Seljuk juga bermusuhan dengan kerajaan Buwaih yang juga berhaluan Syiah. Kesultanan Seljuk sendiri berakhir pada masa sultan Ghiyatsuddin Abu Syuja‟ Muhammad. Serangan pasukan Kerajaan Khawarizmi pada Seljuk di tahun 1128 M/511 H mengakhiri Dinasti Seljuk yang besar. Turki Seljuk pun terpecah atas kerajaan kecil yang otonom dan saling berperang satu sama lain.

Disisi lain, menjelang berakhirnya Kesultanan Seljuk, sekelompok orang-orang Turki yang berprofesi sebagai penggembala, telah melakukan migrasi dari Kurdistan menuju Anatolia. Suku Turki itu dipimpin oleh Sulaiman. Mereka melakukan migrasi untuk menghindari serangan bangsa Mongol yang mulai merembes ke wilayah Asia Kecil dan Iraq. Ketika kepemimpinan suku itu beralih kepada Ertugrul -anak Sulaiman- pada sekitar tahun 1230 M/628 H, posisi orang-orang Turki tersebut masih dalam pelarian dari kejaran bangsa Mongol.

Dalam pelarian tersebut, Ertugrul dan anggota sukunya menyempatkan diri membantu sepasukan orang-orang Seljuk yang sedang terdesak menghadapi pasukan Byzantium. Akibat bantuan Ertugrul, pasukan Seljuk tersebut terhindar dari kekalahan. Sebagai balas budi, Ertugrul dan sukunya diberi sebidang tanah di barat Anatolia yang berbatasan dengan wilayah Byzantium. Pada 1299 M/699 H, Ertugrul wafat. Kepemimpinan suku Turki itupun diserahkan kepada putranya Utsman. [15]

Sebagai pemimpin suku yang wilayahnya merupakan hasil pemberian Bani Seljuk, Utsman mengambil kebijakan politik yang sama dengan ayahnya, Ertugrul. Ia bersahabat dengan Seljuk yang sebangsa dan seagama. Sebagai konsekwensinya, Utsman bersikap bermusuhan dengan Byzantium.

Pada dasarnya, wilayah kekuasaan Utsman adalah sebuah buffer zone antara Seljuk dan Byzantium yang saling bermusuhan. Kondisi ini menjadikan Utsman dan anggota sukunya selalu dalam keadaan siaga dari serangan Byzantium yang sebenarnya ditujukan pada Bani Seljuk. Kondisi ini juga yang mendorong Utsman untuk melakukan ekspansi ke wilayah Byzantium dengan tujuan untuk membendung ekspansi Byzantium ke wilayah Utsman maupun Bani Seljuk sendiri. Sepertinya bagi Utsman, cara bertahan terbaik dari ancaman Byzantium adalah dengan merangsek masuk ke wilayah Byzantium dan menjadikannya sebagai wilayah kekuasaannya.

Dimasa kepemimpinannya, wilayah Utsmani yang kecil menjadi bertambah luas. Kekuasaan itu yang mulanya hanya difungsikan sebagai penyangga perbatasan antara Byzantium dan Bani Seljuk, telah menjadi cukup menggentarkan. Pertambahan luas wilayah dan kemenangan-kemenangan dalam pertempuran melawan Byzantium telah menimbulkan daya tarik bagi suku-suku Turki lainnya untuk datang dan bergabung bersama Utsman. [16] Apalagi, setelah kejatuhan Kesultanan Seljuk, Utsman menjadi harapan baru bagi bangsa Turki untuk menaikkan derajat mereka kembali. Meski demikian, ketika Utsman wafat pada 1320 M, Nicea, Bursa, Izmit, dan Pegai masih belum berada dalam genggaman Utsman.

Sepeninggal Utsman, kesultanan ini dipimpin oleh Orhan anak Utsman. Orhan meneruskan kebijakan politik para pendahulunya. Pada masa kepemimpinan Orhan, Kesultanan Utsmani menguasai kota Bursa dan menjadikannya sebagai ibukota kesultanan. Sampai sejauh ini, Bursa adalah ibukota permanen pertama bagi kesultanan. Setelah keberhasilan menguasai Bursa, kota-kota Byzantium lainnya jatuh ketangan Kesultanan Utsmani. Nikea jatuh pada sekitar tahun 1331 M, sementara Izmit jatuh pada sekitar tahun 1337. [17]

Di Izmit, Orhan mendirikan institusi pendidikan tinggi pertama dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Utsmani. Pada masa Orhan pula, pasukan Jannisary dibentuk. [18] Ketika Orhan wafat pada tahun 1362 M, ia digantikan oleh putranya yang dikenal sebagai Murad I.

Ibukota Kesultanan Utsmani dipindahkan dari Bursa ke Edirne oleh Murad I pada sekitar Tahun 1365. [19] Setahun setelah pemindahan ibukota tersebut, Paus menyerukan perang salib untuk mengusir Utsmani dari Balkan. Namun sayangnya, seruan Paus tersebut hanya ditanggapi oleh Duke Armadeo VI of Savoy, sepupu kaisar Byzantium, yang membawa armadanya dari Aegean menuju Dardanella. [20] Perang Salib yang diserukan Paus untuk memerangi Utsmani tidak membawa kekalahan apapun bagi Utsmani.

Ketika Murad I memindahkan ibukota Utsmani dari Bursa ke Edirne, pada dasarnya ia sedang memusatkan perhatiannya kepada Eropa. Hasilnya, pada sekitar tahun 1385, Murad I berhasil menguasai kota Sofia. Dalam pertempuran di Kosovo pada sekitar 1389 M, Murad I gugur dan kepemimpinan Utsmani kemudian diwariskan kepada putranya Beyezid I. [21]

Gugurnya Murad I dimanfaatkan beberapa penguasa untuk menggerogoti wilayah kekuasaan Utsmani. Beberapa penguasa yang telah tunduk kepada Utsmani berusaha mendapatkan otonominya kembali. Beyezid I mampu meredam usaha separatis tersebut. Namun ancaman bagi Beyezid I juga datang dari bawahannya Sulaiman Pasha, yang beralih memihak kepada penguasa Anatolia Tengah, Burhaneddi. Beyezid I berhasil menghentikan Sulaiman Pasha dan mengeksekusinya pada tahun 1391 M.

Beyezid I melanjutkan ekspansi militernya. Pasukannya juga bertambah kuat dan besar dengan bergabungnya orang-orang dari Serbia, Bulgaria, dan Albania bahkan beberapa pasukan Byzantium. Sesuatu yang tidak akan ditemukan dalam barisan pasukan Utsman, Orhan maupun Murad. Dengan kekuatan seperti itu, pada sekitar 1392 M, Beyezid I sebenarnya mengarahkan pasukannya untuk menaklukkan Serbia. Namun Serbia yang dalam posisi terancam invasi oleh Raja Sigismund dari Hongaria, memilih untuk menjadi pengikut Beyezid I secara damai. Kesepakatan perdamaian antara Utsmani dan Serbia dan janji perlindungan Utsmani pada Serbia ditandai dengan pernikahan antara Beyezid I dengan Olivera yang merupakan adik dari bangsawan Kosovo, Stephen Lazarevic.

Aliansi Utsmani dengan Kosovo, serta ekspansi Beyezid I ke Wallachia ditafsirkan sebagai ancaman oleh Hungaria. Mengingat reputasi militer Utsmani yang battle proven, Hungaria merasa membutuhkan sekutu dalam menghadapi Utsmani. Raja Sigismund berhasil mengumpulkan sekutu dalam sebuah liga anti Utsmani, dimana Venesia dan Byzantium bergabung didalamnya. Beyezid I bereaksi dengan melabrak Konstantinopel pada 1394. Namun bagaimanapun kerasnya usaha Beyezid I menaklukkan Konstantinopel, kota itu masih cukup bisa bertahan meski dengan bantuan dari luar.

Pada tahun 1396 M, Hungaria, Venesia dan Byzantium berkoalisi menyerang Utsmani. Koalisi itu masih ditambah dengan bergabungnya pasukan Prancis dan Burgundi. Utsmani dikeroyok oleh Eropa. Beyezid I berhasil bertahan dan memenangkan pertempuran. Bahkan Bulgaria berhasil dikuasai oleh Beyezid I. Penguasa Bulgaria yang otonom, Stratsimir dari Vidin diturunkan dari kekuasaannya. Namun, setelah kemenangan itu, Beyezid I tidak meneruskan gerak maju pasukannya ke arah Hungaria, biang kerok liga anti Utsmani.

Selepas menaklukkan Bulgaria, Beyezid I membawa pasukannya kembali ke daratan Asia. Ketika sedang sibuk menghadapi pasukan gabungan Hungaria, Venesia, Byzantium, Prancis dan Burgundi, Beyezid I diberi kabar bahwa seorang Emir Karaman bernama Alaeddin telah berbuat makar pada Utsmani. Alaeddin telah menduduki Anatolia dan menahan gubernur jenderal Utsmani untuk wilayah itu. Tindakan Alaeddin memaksa Beyezid I membawa pasukannya ke Anatolia. Alaeddin berhasil dieksekusi dan Karaman beserta kota utamanya, Konya, berhasil dikuasai Beyezid I pada tahun 1397 M. [22]

Keberhasilan mengatasi Alaeddin, membuka gerbang ekspansi ke arah timur Anatolia. Karaman cukup strategis sebagai basis pasukan untuk ekspansi ke arah timur laut, sehingga Beyezid I pun enggan untuk kembali ke Eropa. Ia bersama pasukannya berkonsentrasi pada Anatolia bagian timur. Namun disaat yang hampir bersamaan, Timur Lenk sedang naik daun. Timur Lenk telah menguasai Asia Tengah, Rusia bagian selatan, Iran dan Azebaijan.

Pada 1401 M, Timur Lenk berhasil menaklukkan Damaskus, Baabek, Homs, Hama, dan Aleppo. Arah ekspansi Timur Lenk menuju barat bertabrakan dengan arah ekspansi Beyezid I yang menuju ke arah timur. Timur Lenk dan Beyezid I kemudian berselisih. Perselisihan antara Beyezid I dan Timur Lenk membawa keduanya ke medan perang antara tahun 1401-1402 M. Perang tersebut diakhiri dengan kemenangan Timur Lenk. Sementara Beyezid I sendiri ditawan oleh Timur Lenk. Beyezid I menghembuskan nafas terakhirnya setahun setelah kekalahannya. Pemimpin Utsmani tersebut wafat pada Bulan Maret Tahun 1403 M dalam kondisi masih sebagai tawanan Timurlenk. [23]

Bentrokan antara Timurlenk dan Beyezid adalah sebuah dampak lain dari berakhirnya Kekhalifahan Abbasiyah. Ketika Abbasiyah jatuh pada 1258 M, paman Al Mu‟tashim, Al Muntashir Billah menjadi khalifah yang ditunjuk oleh Mamluk. Kekhalifahan Abbasiyah sepertinya berlanjut di Kairo namun tanpa kekuasaan politik apapun. [24] Kondisi ini membuka celah kompetisi jabatan khalifah. Timurlenk adalah salah satu penguasa Muslim yang ikut ambil bagian dalam kompetisi tersebut. Kampanye militernya memang bertujuan untuk menjadikannya pemimpin tertinggi bukan hanya bagi Dunia Muslim melainkan juga bagi dunia.

Utsmani yang sedang berkembang dibawah kepemimpinan Beyezid I menjadi salah satu korban Timurlenk. Bagi Utsmani, kekalahan Beyezid I dari Timurlenk berdampak sangat besar. Kekalahan tersebut menjadi sebuah kemunduran pertama dalam sejarah Utsmani setelah periode-periode penuh kemenangan dan kemajuan dalam penguasaan wilayah. Meski tidak sampai runtuh, setelah kekalahan Beyezid I, wilayah kekuasaan Utsmani menciut drastis. Masalah Utsmani tidak cukup sampai disitu. Kepemimpinan Utsmani pun dalam rebutan. Utsmani berada dalam kekacauan dan peperangan sesama mereka.

Sampai tahun 1403 M, Sulaiman, putra tertua Beyezid I menjadi kandidat paling kuat diantara saudaranya yang lain. Sulaiman menguasai wilayah Utsmani di Eropa. Pada tahun 1404 M, ia menyeberangi Selat Anatolia untuk mengusir adiknya, Mehmed I dari Bursa. Mehmed I, yang terdesak, melepaskan saudaranya yang lain, Musa, untuk lepas dari tawanannya sendiri. Mehmed I berharap, dilepaskannya Musa dapat membantunya melawan dominasi Sulaiman atas Utsmani. Setelah terusir dari Bursa, Sulaiman berkuasa atas wilayah Utsmani di Balkan dan Anatolia. Sementara Mehmed I menyingkir ke Amasya.

Musa kemudian berhasil membangun kekuatan setelah menikahi putri panglima perang Mircea. Dengan kekuatan tersebut, Musa menguasai Thrace, Bulgaria Timur dan Gallipoli. Sulaiman berhasil memukul balik Musa pada sekitar tahun 1410 M. Namun pada 1411 M, Musa beserta pasukannya berhasil menduduki Edirne dan mengeksekusi Sulaiman. Dengan berakhirnya riwayat Sulaiman, Musa menjadi pemimpin Utsmani.

Meski demikian, konflik kekuasaan Utsmani belum berakhir sama sekali. Mehmed I masih berkuasa di wilayah Utsmani di Anatolia dan mengambil sikap bermusuhan dengan Musa. Musuh Musa bukan hanya kakaknya Mehmed I, melainkan juga Serbia dan Byzantium. Musa menyerang Konstantinopel pada 1411 M. Namun serang itu gagal menaklukkan Konstantinopel. Kegagalan itu juga menyebabkan Musa kehilangan banyak pengikut yang beralih memihak Mehmed I.

Meski ditinggalkan banyak pengikut, Musa masih berhasil mengalahkan Mehmed I pada 1411 M. Pada 1412 M, Musa menyerang Serbia. Namun riwayatnya segera berakhir hanya setahun setelah penyerbuan ke Serbia. Pada 1413 M, Mehmed I mengalahkan dan mengeksekusi Musa. [25]

Keberhasilan mengalahkan Musa, menjadikan Mehmed I sebagai penguasa tunggal Utsmani. Namun Mehmed I masih mendapatkan ancaman-ancaman bagi stabilitas kekuasaannya. Pemimpin Karaman menjadi yang pertama memberi gangguan. Mehmed I baru berhasil mengatasi pemimpin Karaman ini pada tahun 1415 M.

Pada 1418 M, Venesia berhasil menghancurkan armada Utsmani diluar Dardanella. Mehmed I juga masih disibukkan dengan pemberontakan Bedredin dan Borkluje. Namun Mehmed I berhasil memadamkan pemberontakan itu serta menjaga Utsmani dalam kepemimpinan tunggal. Pada 1421 M, Mehmed I wafat dan digantikan oleh putranya Murad II.

Pada masa Murad II, pertempuran antara Utsmani dengan tetangga-tetangganya masih terjadi. Meski demikian, dalam rentang lebih kurang 20 tahun, Murad II berhasil mengembalikan wilayah-wilayah Utsmani yang lepas setelah kekalahan Beyezid I dari Timur Lenk. Namun, wilayah Karaman dan Eufrat bagian atas masih belum berada dalam genggaman Murad II.

Di bawah kepemimpinan Murad II, Utsmani sepertinya akan kembali ke jalur awal kejayaan mereka setelah instabilitas pasca takluknya Beyezid I dari Timur Lenk. Tapi, sejarah mencatat sebuah peristiwa yang mengejutkan didalam pemerintahan Utsmani. Pada sekitar tahun 1444 M, Murad II menyerahkan kepemimpinan Utsmani kepada putranya, Mehmed. Pada saat suksesi itu terjadi, Pangeran Mehmed diperkirakan masih berusia sekitar 12 tahun. Sebab-sebab suksesi adalah keinginan Murad II untuk mengasingkan diri setelah kesedihan mendalam atas gugurnya putra kesayangannya, Alaeddin, pada sebuah operasi militer di musim gugur.

Suksesi tiba-tiba dari Murad II kepada Pangeran Mehmed, segera menyebar sampai ketelinga Paus di Roma. Dengan asumsi bahwa Pangeran Mehmed masih belum cukup berpengalaman dalam memimpin Utsmani, Paus berusaha memanfaatkan situasi tersebut dengan melancarkan kembali gerakan perang Salib. Atas izin Paus, Vladislav, Raja Hungaria dan John Hunyadi, penguasa Transylvania, bergerak bersama pasukan mereka menuju Laut Hitam. Tujuan Vladislav dan John Hunyadi adalah menghancurkan Varna.

Krisis segera berkembang didalam Utsmani. Para vizier yang belum sepenuhnya percaya pada Pangeran Mehmed, membujuk Murad II untuk kembali memimpin Utsmani menghadapi ancaman Vladislav dan John Hunyadi. Dari pengasingannya di Manisa, Murad II kembali ke medan tempur. Murad II berhasil memenangkan pertempuran di Varna pada 1444 M. Vladislav sendiri tewas dalam pertempuran itu.

Murad II kembali ke pengasingannya di Manisa. Namun, Murad II tidak akan cukup tenang dalam pengasingan. Krisis datang lagi bagi Utsmani. Kali ini, Byzantium yang berulah dengan menganeksasi wilayah Utsmani di selatan Yunani. Namun yang paling mengkhawatirkan Grand Vizier Halil Chandarli adalah pemberontakan Janissari pada sekitar tahun 1446 M. Pangeran Mehmed, belum cukup siap mengendalikan situasi tersebut, sehingga Grand Vizier terpaksa membujuk Murad II kembali dari pengasingannya.

Kembalinya Murad II dari pengasingannya kali ini tidak akan membawanya mengasingkan diri lagi. Murad II kembali memimpin Utsmani secara penuh. Ia memadamkan pemberontakan Janisssari. Mengalahkan Byzantium sekaligus menurunkan rajanya, Konstantine, dari tahta. Murad II juga menyerang Scandeberg di Albania, sebelum kemudian berhadapan lagi dengan John Hunyadi. Murad II berhasil mengatasi krisis sebelum wafat pada 1451 M. [26] Dengan wafatnya Murad II, kepemimpinan Utsmani kembali kepada Pangeran Mehmed secara utuh.

Musuh-musuh Utsmani mungkin berpikir akan lebih mudah menghadapi Utsmani pasca wafatnya Murad II. Bagaimanapun juga, kegagalan Pangeran Mehmed mengatasi krisis selama ayahnya Murad II masih hidup menjadi dasar asumsi musuh-musuh Utsmani. Tapi sang pangeran belajar banyak dari kegagalannya mengendalikan situasi. Byzantium sendiri mungkin tidak akan membayangkan pemimpin baru ini akan mengakhiri riwayat mereka hanya dalam dua tahun setelah kembalinya ia dipuncak kepemimpinan Utsmani.

Penaklukkan Konstantinopel

Dalam sejarah Kesultanan Utsmani, penaklukkan Konstantinopel adalah kisah sejarah mereka yang paling masyhur. Pemimpin Utsmani dalam penaklukkan ini, Pangeran Mehmed, akan dikenal dalam sejarah Muslim sebagai Al Fatih. Sementara dunia barat mengenalnya sebagai Mehmed II. Meski Sultan Sulaiman Al Qanuni dianggap sebagai pemimpin Utsmani terbesar dalam sejarah, namun popularitas Mehmed II jauh melampaui Sulaiman. Kisah kemenangan Mehmed II atas Byzantium di Konstantinopel ditulis dan didiskusikan berulang kali, bahkan sampai Utsmani runtuh sekalipun.

Penaklukkan Konstantinopel menjadi penting berkat kata-kata Nabi Muhammad SAW yang menyebut bahwa kota itu akan dibebaskan dan dikuasai orang-orang Islam. Konstantinopel sendiri menjadi simbol dari Byzantium yang memusuhi Islam dan Muslim sejak masa Nabi Muhammad SAW. Pembunuhan salah seorang utusan Nabi SAW, Al Harits bin Umair Al Azdi oleh Syuhrabil bin Amr Al Ghassani adalah pemicu bentrokan fisik pertama antara Byzantium dan Kaum Muslimin di Mu‟tah. [27] Al Harits bin Umair ditangkap oleh Syuhrabil dan dibawa kehadapan Heraclius, Kaisar Byzantium. Dihadapan Heraclius, Al Harits bin Umair kemudian dieksekusi mati oleh Syuhrabil. [28] Tindakan Syuhrabil melengkapi provokasi Arab Ghassan pada kaum Muslimin sekaligus menyalakan api permusuhan antara Byzantium dan kaum Muslimin. [29]

Pembunuhan ini adalah pelanggaran berat dan menjadi sebab Nabi SAW mengirim pasukan untuk menghukum pelanggaran tersebut. Syuhrabil dan kaumnya meminta bantuan Byzantium, sehingga pertempuran pecah antara pasukan Zaid bin Haritshah melawan pasukan koalisi Ghassan-Byzantium. [30] Pertempuran ini dikenal sebagai Pertempuran Mu‟tah dan merupakan ronde pembuka perang panjang antara Kaum Muslimin dengan Byzantium. [31] Sejak itu, pertempuran demi pertempuran antara Muslim dengan Byzantium tidak berakhir sampai Konstantinopel dikuasai oleh Mehmed II.

Konstantinopel pertama kali merasakan serangan dari Muslim pada masa Umayyah. Delapan tahun setelah berdirinya Ummayah, Mu‟awiyah memerintahkan pasukan Muslim menyerbu Konstantinopel. Pasukan itu dikomandoi oleh Abu Ayyub Al Anshari. Pada ekspedisi militer ini, Konstantinopel belum berhasil ditaklukkan meski kota itu sudah dikepung oleh pasukan Muslim. Abu Ayyub Al Anshari sendiri wafat dan dimakamkan didekat tembok luar Kota Konstantinopel.

Kegagalan pasukan Muslim menaklukkan Konstantinopel pada ekspedisi militer pertama mereka, memacu semangat untuk melakukan serbuan kedua. Ekspedisi militer kedua ke Konstantinopel dilaksanakan pada tahun 54 kalender Hijriyah. Pada ekspedisi kedua ini, Konstantinopel dikepung selama tujuh tahun. Kontak senjata antara pasukan Muslim dan pasukan Byzantium berlangsung didarat dan laut. Namun pertempuran tidak berlangsung sepanjang tahun. Setiap tahunnya, pertempuran hanya berlangsung pada musim gugur dan musim panas saja. [32]

Pengepungan yang dilakukan pasukan Muslim Ummayah selama tujuh tahun pada Konstantinopel masih belum mampu menaklukkan kota itu. Selain rintangan alam dan kokohnya tembok kota Konstantinopel, senjata api Yunani yang digunakan oleh pasukan Byzantium menyulitkan proses penaklukkan kota itu. [33] Senjata api Yunani sendiri adalah persenyawaan kimia yang unik. Saat ia terbakar, api yang dihasilkannya justru akan semakin membesar ketika disiram air. Senjata itulah yang ditembakkan pada kapal-kapal pasukan Muslim hingga menimbulkan kerusakan besar pada armada laut Ummayah. [34]

Pada akhirnya pengepungan selama tujuh tahun tersebut diakhiri dengan perjanjian antara kedua belah pihak pada tahun 60 kalender Hijriyah. Pada perjanjian itu, pihak Ummayah dan Byzantium sepakat melakukan gencatan senjata selama tiga puluh tahun. Mu‟awiyah kemudian memerintahkan penarikan mundur pasukan Muslim. Sebagian besar pasukan Muslim kembali ke ibukota Ummayah di Damaskus.

Sementara bagi Utsmani sendiri, serangan ke jantung kekuasaan Byzantium telah dilaksanakan setidaknya oleh Beyezid I pada tahun 1394 M, dan Musa pada tahun 1411 M, serta Murad II pada sekitar tahun 1422 M. [35] Namun Konstantinopel masih cukup kuat dan perkasa untuk ditaklukkan. Sebagai sebuah kota yang telah berdiri lama dengan berbagai ancaman dan serbuan dari banyak penguasa, Konstantinopel termasuk panjang umur dalam kekuasaan Byzantium.

Rahasia panjang umur kota kebanggaan Byzantium itu adalah sebuah tembok yang diberi nama Theodosian. Nama itu diambil dari nama penguasa Byzantium dari abad kelima Masehi yang memerintahkan pembangunan tembok untuk melindungi Konstantinopel. Tembok Theodosian terbuat dari granit dan bata. Dibangun memanjang dari Tanduk Emas di Bosphorus sampai ke pedalaman laut Marmara. Tembok itu berdiri kokoh setinggi dua belas meter dengan ketebalan lima meter. [36] Selama ratusan tahun, tembok Theodosian menjadi dinding pelindung Konstantinopel dari serangan musuh-musuh Byzantium.

Rencana untuk menyerang Konstantinopel bagi Mehmed II, muncul setidaknya pada sekitar tahun 1445 M, ketika ayahandanya, Murad II masih hidup. [37] Rencana itu kemudian menjadi lebih realistis untuk dilaksanakan setelah sang ayahanda wafat. Suksesi yang telah diberikan Murad II pada Mehmed II pada 1444 M, tidak cukup memberi ruang gerak yang leluasa bagi usaha nyata untuk menaklukkan Konstantinopel.

Apalagi, suksesi tersebut telah menimbulkan krisis bagi Utsmani sehingga memaksa sang ayahanda keluar dari pengasingannya untuk mengatasi situasi. Ketika Murad II wafat, kepemimpinan Utsmani menjadi sepenuhnya dibawah kendali Mehmed II. Pengalamannya selama beberapa tahun menjadi pemimpin Utsmani dalam bimbingan dan perlindungan ayahnya, menjadi pelajaran berharga untuk tidak mengulangi kesalahan dalam menangani situasi krisis yang hampir selalu terjadi dalam kepemimpinan Utsmani.

Murad II sendiri mewariskan nasehat pada Mehmed II bahwa Utsmani tidak akan cukup aman selama Konstantinopel berada dibawah kekuasaan Byzantium. Memukul mundur Byzantium dari Konstantinopel adalah juga melaksanakan perintah agama dalam rangka melindungi umat Islam. Murad II tidak berlebihan dalam nasehatnya, mengingat selama ratusan tahun, Byzantium memusuhi Islam dan berperang melawan Muslim.

Byzantium sendiri saat itu sudah tidak seperti Byzantium pada masa Nabi Muhammad SAW. Byzantium bukan lagi satu dari dua superpower dunia. Permusuhan dengan umat Islam telah menjadikan wilayah dan kekuasaannya menyusut drastis dari tahun ketahun. Di penghujung kekuasaan Murad II, apa yang masih bersisa dari Byzantium hanya sebuah nama besar dan Konstantinopel saja. Kaisar Byzantium relatif hanya menguasai sebuah kota.

Namun, kota yang dikuasai Byzantium tersebut adalah titik tumpu geopolitik yang strategis tidak hanya untuk mengontrol perdagangan antara Laut Hitam dan Laut Mediterania, melainkan juga antara Asia Minor dan Balkan. Posisi strategis Konstantinopel juga berpotensi mengontrol jalur suplai yang membentang luas dari Semenanjung Crimea ke Mesir dan sekitarnya. Penaklukkan Konstantinopel tidak hanya akan memenuhi hadits Nabi Muhammad SAW, tetapi juga membebaskan wilayah-wilayah yang telah disebutkan diatas dari ancaman kontrol Byzantium. [38]

Murad II bukannya tidak mengetahui kondisi Byzantium yang sekarat. Namun, setelah gugurnya putra kesayangannya Alaeddin, semangat ekspansi Murad II sesungguhnya juga telah gugur. Jikapun Murad II turun ke medan tempur, itu dalam rangka mengatasi situasi krisis yang dihadapi Utsmani pasca suksesi kepada Mehmed II yang masih belia. Menjadi wajar jika semangat untuk penaklukkan Konstantinopel diwariskan kepada Mehmed II yang masih muda dan enerjik.

Pada saat menjelang serangan Mehmed II ke Konstantinopel, Byzantium sudah tidak memiliki armada laut. Mereka juga hanya memiliki sedikit tentara. Harapan besar bagi Byzantium untuk mempertahankan Konstantinopel mungkin hanya pada tembok Theodosian. Tembok itu telah menunjukkan status battle proven dalam perang mempertahankan Konstantinopel. Sebentar lagi, tembok itu akan diuji ketangguhannya oleh Mehmed II.

Dalam strateginya menaklukkan Konstantinopel, Mehmed berusaha mengisolasi Byzantium. Dalam rangka isolasi, Mehmed II membangun Rumelia Hisar yang pembangunannya selesai pada Tahun 1452 M. Rumelia Hisar dibangun sebagai benteng yang dilengkapi artileri dengan tujuan untuk mengawasi pergerakan kapal-kapal di Laut Hitam. [39]

Mehmed II mengetahui bahwa sisi terlemah dari tembok Theodosian berada disisi bagian dalam Tanduk Emas. Mehmed II berniat mengeksploitasi titik lemah ini dengan cara memasukkan armada kapalnya kedalam Tanduk Emas. Namun Byzantium sejak lama telah merentangkan sebuah rantai yang kuat untuk menutup Tanduk Emas agar tidak dapat dimasuki oleh armada laut penyerang. [40] Dengan kondisi ini, armada Utsmani tidak akan bisa masuk ke area Tanduk Emas. Mehmed II tidak kehabisan akal. Untuk menghindari rintangan yang menutup Tanduk Emas, Mehmed II memindahkan armada lautnya dari Selat Bhosporus menuju Tanduk Emas melalui jalur darat. Pemindahan itu berjalan dalam satu malam dengan jarak sekitar tiga mil. Kapal yang berhasil dipindahkan lewat darat itu berjumlah lebih kurang 70 kapal. [41] Dengan keberhasilan pemindahan tersebut, armada Utsmani telah berada di dalam Tanduk Emas dan menyerang sisi terlemah tembok Theodosian. Pada akhirnya, setelah melalui tujuh minggu pengepungan, Konstantinopel jatuh ke tangan Mehmed II pada Mei 1453 M. [42] Jatuhnya Konstantinopel ketangan Utsmani sekaligus mengakhiri riwayat Kekaisaran Byzantium yang perkasa.

Jatuhnya Konstantinopel dan berakhirnya Kekaisaran Byzantium melambungkan nama Mehmed II dan Kesultanan Utsmani. Ibukota Utsmani-pun segera dipindahkan ke Konstantinopel. Namun sampai saat Konstantinoepl ditaklukkan, Kesultanan Utsmani belum menjadi sebuah kekhalifahan bagi Dunia Muslim. Dengan demikian, Mehmed II yang masyhur dan menjadi penguasa paling terkenal dari Utsmani belum menjadi khalifah. Bahkan sampai Mehmed II wafat, gelar khalifah belum menjadi milik para penguasa Utsmani. Jabatan khalifah saat Konstantinopel takluk, masih berada dalam genggaman keturunan khalifah Abbasiyah yang tinggal di Kairo dibawah patronase Mamluq.



Utsmani Menggapai Kekhalifahan 

Ketika Umayyah II di Andalusia dibubarkan pada sekitar tahun 1031 M, Muslim di kawasan Andalusia Spanyol telah kehilangan pelindung yang kuat dan besar. Kekuasaan Muslim diwilayah tersebut kemudian terpecah kepada emirat-emirat kecil. Bubarnya Umayyah II adalah sebuah pintu gerbang kemunduran besar yang sayangnya terlambat disadari oleh Muslim di seluruh dunia.

Pasca bubarnya Umayyah II di Andalusia, Muslim dunia masih dapat menggantungkan perlindungan kepada Abbasiyah. Meski Abbasiyah sendiri tidak sepenuhnya menjadi pelindung bagi seluruh Muslim dunia, namun paling tidak kehadirannya dapat menjadi sebuah simbol yang memberi deterrence effect bagi kekuasaan-kekuasaan yang memusuhi Muslim dan Islam. Namun, Abbasiyah sendiri adalah superpower yang telah gamang menjelang kehancurannya. Sehingga, ketika Hulagu Khan melabrak Baghdad, kekuasaan itu menjadi porak poranda tanpa cukup memperlihatkan kegagahannya sebagai superpower.

Ketika Abbasiyah benar-benar luluh lantak pada 1258 M, tidak seorangpun yang berani meneruskan jabatan kekhalifahan yang mereka genggam. Meski terdapat anggota keluarga dari Khalifah Abbasiyah terakhir yang diangkat oleh Mamluq sebagai khalifah baru, klaim tersebut tidak berarti banyak didalam Dunia Muslim sendiri. Muslim di dunia sendiri sudah memahami bahwa tidak seorangpun atau satu institusi kekuasaan manapun saat itu yang cukup kuat untuk menyandang beban sebagai khalifah dan kehalifahan. Bagaimanapun juga, sebuah kekhalifahan bagi Muslim dunia harus mampu melindungi sebagian besar Muslim yang bernaung dibawah kekuasaannya.

Mamluq sendiri yang bertahan mati-matian melindungi sisa-sisa wilayah kekuasaan Abbasiyah dari serangan Mongol, tidak cukup percaya diri mengklaim jabatan khalifah. Hal ini pada dasarnya mencerminkan sebuah krisis didalam Dunia Muslim sendiri. Lembaran sejarah kemudian mencatat bahwa sejak runtuhnya Abbasiyah pada 1258 M, kekhalifahan didalam dunia Muslim secara praktis tidak ada.

Ketika pada 1453 M, Mehmed II menaklukkan Konstantinopel, peristiwa tersebut memberi dampak besar bagi Utsmani. Meskipun Byzantium saat penaklukkan itu sudah dalam kondisi yang sekarat, namun keberhasilan Mehmed II telah menaikkan reputasi Utsmani dimata Muslim dunia. Dengan keruntuhan Byzantium, Dunia Muslim seperti mendapat momentum untuk memperoleh kepercayaan diri kembali setelah beberapa abad kehilangan superpower.

Ketika Utsmani meruntuhkan Byzantium, kekuatan utama dalam Dunia Muslim selain Utsmani adalah Mamluq. Mekah, Madinah, dan Jerusalem berada dibawah kekuasaan Mamluq. Hal yang menjadikan mereka lebih terlihat berwibawa ketimbang Utsmani. [43] Sementara itu, di Andalusia Spanyol, reconquista sudah mendesak emirat-emirat kecil diwilayah tersebut menuju kepunahan total pada 1492 Masehi kelak. [44] Praktis, dua kekuatan besar dalam Dunia Muslim di masa itu adalah milik Utsmani dan Mamluq.

Keinginan untuk menghidupkan kembali kekhalifahan bukanlah hal baru bagi para penguasa di Dunia Muslim pasca runtuhnya Abbasiyah. Mamluq sendiri yang mengangkat khalifah dari sisa-sisa keluarga Khalifah Abbasiyah, sebenarnya menghendaki jabatan itu. Khalifah yang mereka angkat adalah salah satu strategi Mamluq untuk mengklaim posisi khalifah meski tidak secara langsung. Namun, permainan seperti ini tidak cukup bisa diakui didalam Dunia Muslim sendiri. Sehingga, Mamluq tidak pernah benar-benar menjadi khalifah bagi Dunia Muslim meski jasa-jasa mereka melindungi beberapa wilayah sisa Kekhalifahan Abbasiyah cukup besar.

Ketika kemudian Byzantium runtuh oleh kekuatan Utsmani, ide menghidupkan kekhalifahan menjadi lebih realistis. Dorongan-dorongan bagi hadirnya sebuah kekhalifahan baru yang melanjutkan Abbasiyah lebih nyaring terdengar. Utsmani adalah kandidat utama. Keruntuhan Byzantium menjadi sebuah kampanye yang menaikkan popularitas dan reputasi mereka secara langsung maupun tidak langsung.

Meski demikian, Mamluq masih ada sebagai sebuah kekuatan lain di Dunia Muslim yang cukup kuat dan besar. Hal ini menjadikan Dunia Muslim seperti memiliki „dua matahari‟. Sementara dorongan-dorongan untuk kehadiran kembali kekhalifahan semakin kuat, kondisi ini akan mengakibatkan "kedua matahari" ini beradu untuk saling menjatuhkan sebelum kekhalifahan benar-benar hidup kembali.

Clash antara Mamluq dan Utsmani menjadi kenyataan. Pasca wafatnya Mehmed II, Beyezid II memimpin bentrok antara Utsmani melawan Mamluq pada sekitar tahun 1485 M. Penyebabnya adalah aneksasi Karaman oleh Utsmani yang memicu kemarahan Mamluq. [45] Namun, sebuah sebab lain dari pecahnya clash antara Utsmani dan Mamluq adalah tindakan Qait Bay, Sultan Mamluq, yang menyembunyikan salah seorang buronan paling dicari oleh Utsmani. Buronan itu sendiri adalah Jem, saudara laki-laki Beyezid II. [46]

Jem menjadi buronan karena tindakannya yang berusaha mengambil tahta Utsmani dari tangan Beyezid II. Oleh sebab-sebab inilah kedua kekuatan utama dalam Dunia Muslim ini berperang. Sepeninggal Beyezid II, Utsmani masih terus berperang dengan Mamluq dibawah kepemimpinan Selim I. Dukungan Qansuh Al Ghawri, Sultan Mamluq, pada Syah Ismail, Sultan Safawi, dipandang Selim I sebagai sebuah aliansi antara Mamluq dengan Safawi. [47] Syah Ismail yang beraliran Syiah adalah ancaman bagi Utsmani yang Sunni. Safawi sendiri juga secara terbuka memusuhi Utsmani.

Pasca penaklukkan Konstantinopel, Utsmani sendiri mulai mengambil peranan yang lebih luas dalam usaha melindungi Muslim khususnya Sunni. Sehingga ketika kemudian Syah Ismail mendirikan Dinasti Safawi yang beraliran Syiah, kehadiran kekuasaan itu menjadi bukti kekhawatiran Selim I. Aliansi antara Mamluq dan Safawi menjadikan keduanya musuh yang harus dikalahkan oleh Utsmani.

Selim I berhasil mengatasi Safawi meski kekuasaan yang baru berdiri itu masih bisa bertahan dari kehancuran total. Selim I juga berhasil mengalahkan Mamluq pada 1517 M, dan menguasai Kairo serta menjadikan Mesir sebagai provinsi Utsmani. [48] Dengan takluknya Mamluq, Hijaz secara otomatis berada dibawah kontrol Utsmani. Penjaga kota suci Mekah dan Madinah, Barakat II Bin Muhammad, kemudian menyatakan tunduk pada Utsmani. [49]

Kekalahan Mamluq memberikan Utsmani kekuasaan atas Suriah dan Hijaz. Dengan demikian, tiga kota suci utama bagi Muslim diseluruh dunia telah berada didalam kekuasaan Utsmani. Kemenangan ini melengkapi penaklukkan Konstantinopel yang telah menjadikan Utsmani masyhur didalam Dunia Muslim. Didalam Dunia Muslim sendiri, pasca kekalahan Mamluq, tidak ada satu kekuasaan pun yang lebih kuat dan besar dari Utsmani. Dengan fakta ini, tidak berlebihan jika kemudian Utsmani mengklaim jabatan kekhalifahan setelah kosong pasca keruntuhan Abbasiyah.

Sejarah kemudian mencatat bahwa Selim I mengambil gelar kekhalifahan dari Al Mutawakkil saat Utsmani mengalahkan Mamluq dan menguasai Mesir. [50] Menurut sejarawan Utsmani abad ke 17 Masehi, Sultan Selim I menerima jubah kekhalifahan dari keturunan terakhir Abbasiyah pada tahun 1517 M, ketika Selim I menaklukkan Kairo. [51] Namun, pendapat lain menyebut bahwa Al Mutawakkil, Khalifah Abbasiyah terakhir, mempertahankan gelar khalifah sampai wafatnya pada 1543. [52]

Terlepas mana yang lebih tepat, Sultan Selim I disebut mulai menggunakan gelar khalifah setelah Safawi dan Mamluq takluk kemudian Mekah dan Medinah jatuh ke tangan Utsmani.53 Dengan kondisi tersebut, penguasa Utsmani disamping menggunakan gelar khalifah juga memakai gelar sultan.54 Tahun 1517 M sendiri, dapat dianggap sebagai angka tahun Utsmani mencapai kekhalifahan dalam Dunia Muslim.

Footnote/Catatan Kaki

[1] Islamic State of Iraq and Syria,“Khilafah Declared,”Dabiq, Issue 1, (July, 2014), hlm. 6 
[2]
Abd. Rahim,“Khalifah dan Khilafah Menurut Al Qur'an,” Hunafa Vol. 9, No. 1 (Juni, 2012), hlm. 22-25

[3] Abdul Rahman Jalaluddin Al Suyuti, Al Durar Al Mansur fi Al Tafsir Al Mansur, Jilid VII, (Beirut: Dar al Fikr, 1983), hlm. 169.
[4] Henni Yusalia,“Dinamika Penerapan Khilafah: Sebuah Tinjauan Sosio-Historis,” Wardah: Vol. 17 No. 2 (Juli/Desember, 2016), hlm. 148
[5] Muhammad Muhtador, “Khilafah Islamiyah Perspektif Ahmadiyah (Sebuah Gerakan Spiritual Keagamaan),” Esoterik: Jurnal Akhlak Dan Tasawuf Vol. 2 No. 1 (2016), hlm. 84
[6] Salih Pay,“The Journey of Caliphate from 632 to 1924,” International Journal of Business and Social Science. Vol. 6, No. 4 (April, 2015), hlm. 107-108
[7] Ibid, hlm. 115
[8] Abd. Rahim, Khalifah dan Khilafah, hlm. 39-40
[9] Idil Akbar,“Khilafah Islamiyah: Antara Konsep dan Realitas Kenegaraan (Republik Islam Iran dan Kerajaan Islam Arab Saudi),” Journal of Government and Civil Society Vol. 1 No. 1 (April, 2017), hlm.  107
[10] Nilda Hayati,“Konsep Khilafah Islamiyyah Hizbut Tahrir Indonesia Kajian Living Al Quran Perspektif Komunikasi,” Episteme Vol. 12. No. 1 (Juni, 2017), hlm. 179
[11] Mahmoud Haddad,“Arab Religious Nationalism in the Colonial Era: Rereading Rashid Rida's Ideas on the Caliphate,” Journal of the American Oriental Society Vol. 117, No. 2 (Apr-Jun, 1997), hlm. 256
[12] Ali Muhammad Ash Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, terj. Imam Fauzi, (Jakarta: Ummul Qura, 2017), hlm. 41
[13] Ibid, hlm. 42.
[14] Muhammad bin Jarir Ath Thabari, Shahih Tarikh Ath Thabari Jilid 3, terj. Beni Hamzah, Solihin, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2011), hlm. 256-257
[15] Ali Muhammad Ash Shallabi, Sejarah Daulah, hlm. 74
[16] Colin Imber, Kerajaan Ottoman: Struktur Kekuasaan Sebuah Kerajaan Islam Terkuat Dalam Sejarah, terj. Irianto Kurniawan, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2012), hlm. 11
[17] Ibid, hlm. 12 
[18] Ali Muhammad Ash Shallabi, Sejarah Daulah, hlm. 122-126
[19]Stephen Turnbull, Essential History: The Ottoman Empire 1326-1699, (Osprey Publishing, 2003), hlm. 16 
[20] Ibid, hlm. 22
[21] Colin Imber, Kerajaan Ottoman, hlm. 17 
[22] Ibid, hlm. 20-21
[23] Stephen Turnbull, The Ottoman, hlm. 29
[24] Salih Pay, The Journey, hlm. 112
[25] Colin Imber, Kerajaan Ottoman, hlm. 25-26
[26] Ibid,  hlm. 36-37
[27] Al Waqidi, Al Maghazi, terj. Rudi G. Aswan, (Jakarta: Ufuk Publishing, 2012), hlm. 774-787
[28] Shaffiyurahman Al Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Terj. Kathur Suhardi, (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2015), hlm. 469. Bandingkan dengan Mahdi Rizqullah Ahmad. Biografi Rasulullah: Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-Sumber Yang Otentik. Terj. Yessi H. M. Basyaruddin, (Jakarta: Qisthi Press, 2006), hlm. 694. Mahdi menyebut bahwa Syuhrabil membawa Al Harits bin Umair kehadapan penguasa Basrah lalu membunuhnya.
[29] Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Peperangan Rasulullah SAW. Terj. Arbi, Nila Noer Fajariyah, (Jakarta: Ummul Qura), 2017. hlm. 541-544
[30] Lings, Martin. Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik. Terj. Qamaruddin SF. (Jakarta: Serambi, 2015), hlm. 542-545. Bandingkan dengan pendapat Kennedy yang secara keliru menyebut pasukan yang dikirim Nabi SAW bertujuan untuk mencari barang rampasan, Hugh Kennedy, Penaklukkan Muslim Yang Mengubah Dunia, terj. Ratih Ramelan, (Ciputat: Pustaka Alvabet, 2015), hlm. 87-88.
[31] Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah Jilid 2, terj. Fadhli Bahri, (Jakarta: Darul Falah, 2014), hlm. 348 
[32] Muhammad Abdul Latif Abdussyafi,  Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Ummayah, (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2014), hlm. 310.
[33] David Levering Lewis,  The Greatness of Al Andalus, terj. Yuliani Liputo, (Jakarta: Serambi. 2012), hlm. 157
[34] Muhammad Abdul Latif Abdussyafi, Bangkit dan Runtuhnya, hlm. 310.
[35] Colin Imber, Kerajaan Ottoman, hlm. 19, 26. Lihat juga Roger Crowley, 1453: Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim, terj. Ridwan Muzir, (Tangerang: Pustaka Alvabet, 2016), hlm. 60. Crowley menyebut bahwa Murad mengepung Konstantinopel pada tahun 1422 M.
[36] David Levering Lewis, The Greatness, hlm. 113
[37] Roger Crowley, 1453, hlm. 52
[38] Daniel Goffman, The Ottoman Empire and Early Modern Europe, (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), hlm. 13
[39] Stephen Turnbull, The Ottoman, hlm. 37
[40] Roger Crowley, 1453,  hlm. 102
[41] Ali Muhammad Ash Shallabi, Muhammad Al Fatih, terj. Imam Fauzi, (Solo: Aqwam, 2017), hlm. 220-222
[42] Erik Ringmar,“The Muslim Caliphates,” History of International Relations. Open Book Publishers, (2016), hlm. 22 
[43] Colin Imber, Kerajaan Ottoman, hlm. 37
[44] Granada yang menjadi kekuasaan terakhir Muslim di Spanyol, jatuh pada 1492 M, lihat Phillip K. Hitti, History of The Arabs, terj. Cecep Lukman Yasin, Dedi Slamet Riyadi, (Jakarta: Serambi. 2008), hlm. 705
[45] Colin Imber, Kerajaan Ottoman, hlm. 52
[46] Phillip K. Hitti, History, hlm. 899
[47] Tati Rohayati,”Kebijakan Politik Turki Utsmani di Hijaz 1512-1566M,” Al Turas Vol. XXI, No. 2 (Juli, 2015), hlm. 368
[48] Abdullah Nur,”Dinasti Mamalik Di Mesir,” Jurnal Hunafa Vol 2. No.2 (Agustus, 2005),  hlm. 156
[49] Tati Rohayati, Kebijakan, hlm. 369 
[50] Ibid, hlm. 367. Lihat juga Ali Mufrodi, Kerajaan Utsmani, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), hlm. 238 
[51] Gabor Agoston and Bruce Masters,  Encyclopedy of The Ottoman Empire, (New York: Infobase Publishing, 2009), hlm. 114
[52] Salih Pay, The Journey, hlm. 113
[53] Erik Ringmar, The Muslim, hlm. 23 

 ===================================== **** ================================

Dalam artikel saduran dari Karya Muhammad Affan ini, Admin tidak menyertakan bagian Abstrak pada awal tulisan dan Kesilmpulan pada akhir tulisan. Namun berikut menyertakan bahan referensi yang digunakan penulisnya sebagai bahan bacaan lebih lanjut sekaligus kroscek.

Referensi

  1. Abdussyafi, Muhammad Abdul Latif. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Ummayah. Jakarta: Pustaka Al Kautsar. 2014. 
  2. Agoston, Gabor and Bruce Masters. Encyclopedy of The Ottoman Empire. New York: Infobase Publishing. 2009
  3. Ahmad, Mahdi Rizqullah. Biografi Rasulullah: Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-Sumber Yang Otentik. Translated by Yessi H. M. Basyaruddin. Jakarta: Qisthi Press, 2006. 
  4. Akbar, Idil.“Khilafah Islamiyah: Antara Konsep dan Realitas Kenegaraan (Republik Islam Iran dan Kerajaan Islam Arab Saudi),” Journal of Government and Civil Society Vol. 1 No. 1 April 2017 
  5. Al Waqidi, Al Maghazi, terj. Rudi G. Aswan, Jakarta: Ufuk Publishing, 2012 
  6. Ash Shallabi, Ali Muhammad. Muhammad Al Fatih, terj. Imam Fauzi. Solo: Aqwam. 2017
  7. ________________________. Sejarah Daulah Utsmaniyah, terj. Imam Fauzi. Jakarta: Ummul Qura. 2017 
  8. ________________________. Peperangan Rasulullah SAW. Translated by Arbi, Nila Noer Fajariyah. Jakarta: Ummul Qura, 2017 
  9. Ash Suyuti, Abdul Rahman Jalaluddin. Al Durar Al Mansur fi Al Tafsir Al Mansur. Jilid VII. Beirut: Dar al Fikr. 1983
  10. Ath Thabari, Abu Ja‟far Muhammad Bin Jarir. Shahih Tarikh Ath Thabari Jilid 3, terj.Beni Hamzah, Solihin. Jakarta: Pustaka Azzam. 2011 
  11. Crowley, Roger . 1453: The Holy War for Constantinople and The Clash of Islam and The West., terj. Ridwan Muzir. Tangerang: Alvabet. 2016 
  12. Goffman, Daniel. The Ottoman Empire and Early Modern Europe. Cambridge: Cambridge University Press. 2002 
  13. Haddad, Mahmoud.”Arab Religious Nationalism in the Colonial Era: Rereading Rashid Rida‟s Ideas on the Caliphate,” Journal of the American Oriental Society Vol. 117, No. 2 Apr-Jun, 1997 
  14. Hayati, Nilda.”Konsep Khilafah Islamiyyah Hizbut Tahrir Indonesia Kajian Living Al Quran Perspektif Komunikasi,” Episteme, Vol. 12. No. 1, Juni 2017 
  15. Hisyam, Ibnu. Sirah Nabawiyah Jilid 2, terj. Fadhli Bahri. Jakarta: Darul Falah. 2014
    Hitti, Phillip K. History Of The Arabs, terj. Cecep Lukman Yasin, Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Serambi. 2008. 
  16. Imber. Colin. Kerajaan Ottoman: Struktur Kekuasaan Sebuah Kerajaan Islam Terkuat Dalam Sejarah, terj. Irianto Kurniawan. Jakarta: Elex Media Komputindo. 2012 
  17. Islamic State of Iraq and Syria.“Khilafah Declared,” Dabiq Issue 1, July 2014/Ramadhan 1435 Hijriyah. Raqqa: Al Hayat Media Center. 2014 
  18. Kennedy, Hugh, Penaklukkan Muslim Yang Mengubah Dunia, terj. Ratih Ramelan, Ciputat: Pustaka Alvabet, 2015 
  19. Lewis. David Levering. The Greatness of Al Andalus, terj. Yuliani Liputo. Jakarta: Serambi. 2012 
  20. Lings, Martin. Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik. Translated by Qamaruddin SF. Jakarta: Serambi, 2015 
  21. Mufrodi, Ali. Kerajaan Utsmani. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve. 2002
  22. Muhtador, Muhammad.“Khilafah Islamiyah Perspektif Ahmadiyah (Sebuah Gerakan Spiritual Keagamaan),” Esoterik: Jurnal Akhlak Dan Tasawuf Vol. 2 No. 1, 2016 
  23. Nur, Abdullah.”Dinasti Mamalik Di Mesir,” Jurnal Hunafa Vol 2. No.2 Agustus 2005 
  24. Pay, Salih. “The Journey of Caliphate from 632 to 1924,” International Journal of Business and Social Science. Vol. 6, No. 4 April 2015 
  25. Pulungan, J. Suyuti. Fiqh Siyasah: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa. 2002 
  26. Rahim. Abd.“Khalifah dan Khilafah Menurut Al Qur‟an”, Hunafa Vol. 9, No. 1. Juni 2012
    R, Abd. Rahman.“Turki Dalam Pencarian Bentuk Pemerintahan (Sebuah Catatan Sejarah),” Jurnal Rihlah Vol. II No. 1. 2014 
  27. Ringmar, Erik.“The Muslim Caliphates,” History of International Relations. Open book Publishers. 2016 
  28. Rohayati, Tati.”Kebijakan Politik Turki Utsmani di Hijaz 1512-1566 M,” Al Turas Vol. XXI, No. 2 Juli 2015. 
  29. Turnbull, Stephen. Essential History: The Ottoman Empire 1326-1699. Osprey Publishing. 2003 
  30. Yusalia, Henni.“Dinamika Penerapan Khilafah: Sebuah Tinjauan Sosio-Historis,” Wardah Vol. 17 No. 2 Juli/Desember 2016
Baca Juga

Sponsor