Cari

Pemulasaraan Jenazah Penganut Sunda Wiwitan: Menjaga Kesucian Perjalanan Roh menuju Sang Hyang Tunggal


[Historiana]
Oleh Alam Wangsa Ungkara - Apakah jenaza penganut Agama Sunda Wiwitan di Kremasi?

Dalam sejarah Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran, tradisi pemakaman yang dominan adalah penguburan, bukan kremasi (pembakaran jenazah). Meskipun kerajaan ini bercorak Hindu, corak Hindunya sangat terpengaruh oleh kepercayaan lokal Sunda Wiwitan yang lebih menekankan pengembalian raga ke bumi (tanah).
 

Berikut adalah beberapa fakta sejarah mengenai hal ini:

  • Penyebutan "Sang Lumahing": Dalam naskah kuno dan prasasti, raja-raja Sunda yang wafat sering diberi gelar anumerta Sang Lumahing (yang dimakamkan di...). Contohnya, Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) disebut sebagai Sang Lumahing Rancamaya karena ia dimakamkan di wilayah Rancamaya, Bogor.
  • Prasasti Batu Tulis: Prasasti ini dibuat oleh Prabu Surawisesa untuk memperingati hari kematian ayahnya (Sri Baduga Maharaja). Jika tradisi saat itu adalah kremasi total, biasanya tidak akan ada situs pemakaman spesifik yang dihormati sebagai tempat persemayaman fisik.
  • Pengaruh Sunda Wiwitan: Agama asli masyarakat Sunda saat itu menganggap tanah sebagai unsur suci tempat asal dan kembalinya manusia. Oleh karena itu, penguburan dianggap sebagai cara yang paling alami untuk mengembalikan raga ke alam.
  • Perbedaan dengan Majapahit: Tidak seperti Kerajaan Majapahit di Jawa Timur yang sangat kental dengan tradisi kremasi (karena pengaruh Hindu-Buddha yang kuat), masyarakat Sunda Pajajaran cenderung menjaga tradisi penguburan yang lebih sederhana dan berakar pada tradisi megalitikum (batu besar). 

Meskipun pengaruh Hindu masuk, masyarakat Sunda Pajajaran tetap mempertahankan identitas lokal mereka, sehingga ritual kematiannya pun berbeda dengan tradisi Hindu di India atau Bali yang mewajibkan kremasi.

Sunda Wiwitan adalah kepercayaan asli masyarakat Sunda yang hingga kini masih dianut dan dilestarikan, terutama di komunitas adat seperti Cigugur, Kuningan, serta Kanekes (Baduy) di Banten. Bagi penganutnya, kematian bukanlah akhir, melainkan sebuah "perjalanan pulang" (mulih ka jati) atau penyatuan roh dengan Sang Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa). Upacara pemulasaraan jenazah dalam Sunda Wiwitan sarat dengan makna filosofis, doa, dan simbol-simbol yang merepresentasikan siklus kehidupan serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan alam.

Artikel ini menyajikan tata cara pemulasaraan jenazah penganut Sunda Wiwitan berdasarkan tradisi yang berkembang di komunitas adat, khususnya di Cigugur, Kuningan, sebagaimana tercatat dalam sejumlah liputan prosesi pemakaman tokoh adat.
 

A. Menjelang Kematian
 

1. Persiapan Spiritual
Dalam ajaran Sunda Wiwitan, hidup adalah tentang menjaga keseimbangan dengan alam dan leluhur. Menjelang ajal, keluarga biasanya akan senantiasa mendampingi dengan doa-doa pantun atau kidung. Meskipun tidak ada ritual sakramen terakhir seperti dalam agama formal, suasana dijaga agar tetap tenang agar roh (nyawa, urip, cahya) dapat meninggalkan jasad dengan damai.
 

2. Penentuan Waktu
Masyarakat Sunda Wiwitan di Cigugur, Kuningan juga mengenal penanggalan tradisional. Saat seorang sesepuh meninggal, masyarakat akan mencatat kematian tersebut tidak hanya dalam kalender Masehi tetapi juga dalam Tahun Saka Sunda. Contohnya, wafatnya Pangeran Djatikusumah dicatat terjadi pada Jumat, 16 Mei 2025, bertepatan dengan tanggal 18 Hapit 1958 Saka Sunda.
 

B. Prosesi Pemakaman
Puncak dari rangkaian pemulasaraan adalah upacara Ngebralkeun (pelepasan). Prosesi ini biasanya berlangsung di Paseban (balai pertemuan adat) atau rumah duka. Berikut tahapan detailnya:
1. Memandikan dan Memakaikan Busana Adat

Jenazah dimandikan dengan tata cara yang sederhana namun khidmat. Mereka mengenakan busana adat kebesaran Sunda. Untuk seorang pemimpin atau sesepuh, pakaian yang dikenakan lengkap dengan bendo (ikat kepala/topi khas) serta kain kebesaran, mencerminkan status terhormat almarhum selama hidup.


2. Rangkaian Doa dan Tembang
Sebelum jenazah dimasukkan ke peti, keluarga dan warga adat menggelar ritual yang dipimpin oleh Puragabaya atau sesepuh adat. Rangkaian ini terdiri dari:

  • Bubuka: Pembukaan.
  • Pangapungan: Doa permohonan.
  • Pangjajap: Doa penghantar, yang secara spesifik dibacakan untuk mengantarkan perginya "urip, cahya, nyawa, sukma, jiwa dan raga" agar utuh kembali kepada Sang Hyang Tunggal. Ceurik Panglayuan (Tangisan Mayat): Salah satu bentuk doa yang diungkapkan dalam nada sedih (seperti ratapan) saat jenazah diberangkatkan dari rumah duka sebagai bentuk penghormatan terakhir.

Ceurik Panglayon (atau Ceurik Panglayuan) bukanlah sebuah lagu yang memiliki lirik tetap seperti lagu populer, melainkan sebuah ratapan ritual berupa ungkapan kesedihan yang dilantunkan dengan nada menyayat hati. Karena masyarakat Baduy menjaga kerahasiaan adatnya, teks aslinya jarang dipublikasikan, namun secara umum isinya mengandung unsur berikut:
 

Karakteristik Kalimat Ceurik Panglayon
Lantunan ini biasanya diucapkan oleh kaum perempuan (istri, ibu, atau kerabat dekat) saat jenazah akan diberangkatkan ke pemakaman. Kalimatnya berupa doa sekaligus perpisahan yang puitis dalam bahasa Sunda Kuno atau Sunda Dialek Baduy:

  1. Pernyataan Perpisahan: Kalimat yang menyatakan bahwa si mati sedang menempuh perjalanan menuju "pulang" ke asal-usulnya.
  2. Permintaan Maaf: Ungkapan agar segala kesalahan almarhum/almarhumah dimaafkan oleh alam dan sesama.
  3. Pelepasan Ikatan: Kalimat yang menegaskan bahwa hubungan duniawi telah putus, agar arwah tidak merasa terbebani dan lancar menuju Sasaka Domas.
  4. Pujian kepada Leluhur: Menyebutkan bahwa si mati akan segera berkumpul kembali dengan para karuhun (leluhur).

Contoh Gambaran Kalimat (Ilustrasi)
Secara lisan, nadanya mirip dengan "ngalun" atau meratap. Kurang lebih seperti ini maknanya dalam bahasa Indonesia:

    "Selamat jalan menuju tempat yang sepi, kembali ke tanah asal, kembali ke pangkuan leluhur. Janganlah menoleh lagi ke belakang, lepaskan segala ikatan di dunia ini agar langkahmu ringan menuju tempat yang suci..."

Mengapa Disebut "Ceurik"?
Dalam bahasa Sunda, ceurik berarti menangis. Namun, dalam konteks ini, menangis bukan sekadar ekspresi emosi, melainkan kewajiban adat untuk menghantarkan arwah.

  1. Baduy Dalam: Ratapan ini dilakukan dengan sangat khidmat dan tertutup.
  2. Baduy Luar: Terkadang lebih terbuka, namun tetap menjaga nilai kesakralan bahwa ini adalah komunikasi terakhir antara yang hidup dan yang mati.

Setelah ritual "Ceurik" ini selesai dan jenazah dikuburkan, masyarakat Baduy dilarang untuk terus-menerus meratapi kematian tersebut agar tidak menghalangi perjalanan arwah. 

  • Ngalisahan: Prosesi membasuh atau pembersihan akhir (simbolis).
  • Nutup Peti: Penutupan peti mati yang dilakukan secara khidmat. Peti biasanya diletakkan di tengah ruang Paseban sebagai pusat perhatian.

3. Ritual "Ngolong" dan Pemotongan Benang
    Ini adalah ritual paling ikonik yang tidak ditemukan dalam budaya urban pada umumnya.
    Ngolong: Istri dan anak-anak dari jenazah berjalan merunduk di bawah peti jenazah. Ini adalah simbol penghormatan terakhir, sekaligus makna bahwa meskipun raga telah tiada, almarhum tetap memberikan naungan batin dari alam roh ("swarga maniloka").

  • Motong Benang Kanteh: Istri almarhum memotong benang yang melambangkan ikatan perkawinan. Tindakan ini menandakan bahwa ikatan duniawi antara suami istri telah selesai karena roh suami telah kembali ke pangkuan Tuhan.
  • Memecah Kendi jeung Endog: Memecahkan kendi dan telur. Ini adalah lambang keikhlasan total bahwa almarhum telah "manunggal" dengan Tuhan dan kehidupan duniawinya telah usai.

4. Iringan Menuju Tempat Peristirahatan Terakhir
Masyarakat Sunda Wiwitan meyakini bahwa tempat pemakaman (pasarean) memiliki nilai sakral. Pemakaman biasanya terletak di kawasan yang sepi, dekat dengan alam, seperti di Batu Satangtung atau Curug Go'ong, Cisantana.

  • Pengawalan: Jenazah diiringi oleh keluarga dan pasukan pengawal adat (Puragabaya Gebang).
  • Perjalanan: Iring-iringan dilakukan dengan berjalan kaki, melewati medan yang seringkali terjal dan berlumpur, sebagai bentuk penghormatan terakhir demi mengantarkan sang sesepuh ke peristirahatan terakhirnya.

5. Penghormatan Lintas Iman
Salah satu ciri khas Sunda Wiwitan di Cigugur adalah sikap toleransinya yang tinggi. Dalam prosesi pemakaman tokoh adat seperti Pangeran Djatikusumah, para rohaniawan dari berbagai agama (Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Konghucu) turut hadir memanjatkan doa bersama sebagai bentuk penghormatan dan simbol keberagaman.
 

C. Pasca Pemakaman
 

1. Tradisi di Makam
Setelah jenazah dimakamkan dan ditimbun tanah, tradisi Sunda Wiwitan secara tegas melarang doa-doa khusus atau ritual pemujaan di makam. Makam hanya dianggap sebagai tempat persemayaman jasad, bukan tempat untuk memuja roh. Masyarakat adat menganggap bahwa roh telah kembali kepada Tuhan, sehingga tidak perlu ada ritual ziarah yang rumit yang dikhawatirkan menyimpang menjadi tindakan "memuja" makam.

Pemakaman masyarakat Suku Baduy yang menganut ajaran Sunda Wiwitan memiliki tata cara unik yang sangat berbeda dengan pemakaman Islam di Arab maupun masyarakat umum di Indonesia. Prinsip utamanya adalah keselarasan total dengan alam. Berikut adalah detail tata cara pemakaman mereka:
 

Arah Mata Angin dan Posisi Jenazah
Berbeda dengan umat Islam, posisi jenazah masyarakat Baduy diatur sebagai berikut:

  • Arah Lubang: Lubang kuburan digali memanjang dari Barat ke Timur.
  • Posisi Kepala: Kepala jenazah diletakkan di sisi Barat, sementara kaki di sisi Timur.
  • Arah Wajah: Tubuh jenazah dimiringkan agar wajah menghadap ke Selatan, yang dianggap sebagai "kiblat adat" atau arah Arca Domas yang dikeramatkan. 
  • Penggunaan Papan dan Perlengkapan
  • Masyarakat Baduy sangat meminimalisir penggunaan benda yang tidak berasal dari alam sekitar:
  • Tanpa Papan Kayu (Padung): Mereka umumnya tidak menggunakan papan kayu atau batu beton untuk menutup jenazah.
  • Bahan Alami: Jenazah dibungkus kain kafan putih dan dibawa menggunakan keranda bambu yang dibuat mendadak saat ada kematian.
  • Cendana: Jenazah ditaburi bubuk kayu cendana sebagai pengharum alami dan simbol kesucian. 

Karakteristik Makam (Tanpa Jejak)
Salah satu keunikan utama adalah makam mereka "menghilang" setelah pemakaman selesai:

  • Tanpa Nisan dan Gundukan: Makam tidak diberi nisan permanen atau gundukan tanah (kijing).
  • Diratakan Kembali: Setelah tanah diurug, permukaan makam akan diratakan kembali sehingga menyatu dengan tanah di sekitarnya.
  • Kembali Jadi Ladang: Dalam waktu sekitar 7 hari atau setelah makam tertutup rumput/tanaman, lahan tersebut boleh digunakan kembali oleh warga untuk berladang atau kebutuhan lain.
  • Penanda Sementara: Kadang hanya diberi tanaman hanjuang atau potongan bambu berisi air sebagai simbol sementara saat prosesi. 

Hal ini dilakukan karena bagi warga Baduy, orang yang sudah meninggal telah kembali ke alam, sehingga tidak perlu ada pengkultusan atau tanda khusus yang bersifat permanen di atas tanah. 


2. Peringatan Sederhana
Penganut Sunda Wiwitan tidak mengenal hitung hari kematian seperti 7 hari, 40 hari, atau 1000 hari yang lazim dalam tradisi Islam Jawa. Kembalinya seseorang kepada Tuhan dianggap sebagai proses alamiah. Keluarga mungkin mengadakan selamatan atau kenduri sederhana sebagai bentuk syukur dan pengingat akan kesatuan dengan Sang Pencipta, namun tidak terikat pada hitungan waktu yang baku.

Selama masa berkabung atau masa Kaparupuhan (7 hari pertama), keluarga yang ditinggalkan di Baduy harus mematuhi beberapa pantangan ketat sebagai bentuk penghormatan dan menjaga kesucian.
Berikut adalah beberapa larangan utamanya:

  • Dilarang Menghibur Diri: Selama 7 hari, keluarga dilarang mengadakan atau menghadiri hiburan, mendengarkan musik (seperti kecapi atau angklung), atau melakukan aktivitas yang menunjukkan kegembiraan berlebih.
  • Pantangan Bekerja Berat: Anggota keluarga inti biasanya dilarang pergi ke ladang (huma) untuk bekerja berat. Mereka diharapkan fokus berada di rumah duka atau lingkungan sekitar untuk menerima pelayat dan mempersiapkan ritual hari ketujuh.
  • Tidak Boleh Menumbuk Padi: Suara lesung (alat tumbuk padi) dianggap terlalu bising dan bisa mengganggu kekhidmatan masa berkabung. Biasanya, kebutuhan beras untuk selamatan disiapkan oleh tetangga atau saudara jauh.
  • Menghindari Pertengkaran: Keluarga harus menjaga lisan dan emosi. Tidak boleh ada perselisihan atau suara keras di dalam rumah duka agar perjalanan arwah tetap tenang.
  • Batasan Berhias: Keluarga yang berduka tidak diperbolehkan mengenakan pakaian yang terlalu baru atau berhias diri secara mencolok. Kesederhanaan total sangat ditekankan.

Setelah ritual Nyatus (hari ke-7) selesai dan makam telah diratakan, semua pantangan ini dicabut. Keluarga dianggap sudah kembali "bersih" dan diperbolehkan beraktivitas normal kembali di ladang.
 

3. Pengurusan Administrasi
Dalam konteks modern, meskipun Sunda Wiwitan adalah kepercayaan lokal, penganutnya tetap mengurus administrasi kematian secara hukum negara. Hal ini terkadang menjadi polemik administrasi terkait pengakuan negara atas "penghayat kepercayaan". Namun, secara umum, masyarakat adat saat ini terus berjuang agar pelayanan administrasi (seperti akta kematian) dapat diakses dengan setara, tanpa harus mengaku sebagai pemeluk agama resmi tertentu.
Kesimpulan

Prosesi pemulasaraan jenazah dalam ajaran Sunda Wiwitan adalah cerminan dari filosofi "Hirup mah kudu sing hadé jeung bener ka alam, ka manusa, ka nu Maha Suci" (Hidup harus baik dan benar kepada alam, manusia, dan Yang Maha Suci). Mulai dari Pangjajap hingga Ngolong, seluruh rangkaian ini bukan hanya sekadar mengurus mayat, melainkan sebuah perjalanan sakral mengembalikan titipan Sang Pencipta. Tradisi ini mengajarkan tentang keikhlasan, kesederhanaan, serta harmoni spiritual yang mendalam.
 

Daftar Referensi

  1. Ayo Cirebon. (2025, 17 Mei). Perjalanan Terakhir Sesepuh Sunda Wiwitan Pangeran Djatikusumah ke Batu Satangtung, Ratusan Warga Mengiringi.
  2. Ayo Cirebon. (2025, 18 Mei). Makna Prosesi Pemakaman Pangeran Djatikusumah dalam Kepercayaan Sunda Wiwitan Cigugur.
  3. Cirebon Raya. (2025, 17 Mei). Memakai Busana Adat Pemimpin Sunda Wiwitan, Jenazah Rama Pangeran Djatikusumah Disemayamkan di Dalam Peti di Paseban Panca Tri Tunggal.
  4. Liputan6. (2020, 17 Juli). Polemik Pembangunan Makam Tokoh Adat Sunda Wiwitan Cigugur.
  5. Tribun Kaltim. (2025, 17 Mei). Profil Pangeran Djatikusumah, Tokoh Sunda Wiwitan Asal Cigugur, Kuningan Meninggal, Jadwal Pemakaman.
  6. Yayasan Fahmina. (2025, 15 Januari). SAK Sunda Wiwitan: Perlindungan Konstitusional Bagi Semua Keyakinan.
  7. Wikipedia. (n.d.). Sunda Wiwitan.
  8. UIN Sunan Gunung Djati. (2024). Cosmology of Native Indonesian Religions in Facing Contemporary Times: A Study of Sundanese Javanese Religion.
Baca Juga

Sponsor