![]() |
Ilustrasi: Filckr.com |
[Historiana] - Masih menelusuri sejarah mandala atau kerajan kuno bawahan Kerajaan Tarumanagara. Mandala Muarajati (Muara Jati) disebut dalam Naskah Kuno Sunda. Mandala Muara jati termasuk dalam daftar Kabuyutan atau Kemandalaan di Tatar Pasundan.
Keberadaan Mandala Muarajati berkaitan dengan kerajaan Cirebon Larang. Di Lokasi yang sama juga terdapat Mandala Cirebon Larang. Dengan demikian, Cirebon juga termasuk wilayah yang memiliki banyak Mandala selain pusat kerajaan Tarumanagara di Sundapura dan juga di wilah Bogor (Pajajaran kemudian).
Umumnya sebagai Mandala, Muara jati adalah daerah perdikan atau pusat pendidikan pra Islam di bawah Kerajaan Galuh Pakuan pajajaran. Sebelum Pajajaran berdiri di Bogor sekarang, daerah ini berada di bawah pemerintahan Kerajaan Galuh, Ciamis sekarang. Awal mula berdirinya Mandala Muara jati tidak diketahui secara persis. Keberadaannya bersamaan dengan tumbuhnya pemukiman atau pakuwuan Cirebonlarang.
Pada tahun 1302 AJ (Anno Jawa)/1389 M, dipantai Pulau Jawa yang sekarang disebut Cirebon, ada tiga daerah otonom bawahan kerajaan Pajajaran yang diketuai oleh Mangkubumi yaitu Singhapura, Pesambangan, dan Japura. Pasambangan ini yang dikenali sebagai Cirebonlarang (Sulendraningrat, 1978. Hal. 16).
Mandala Muara Jati dan Mandala Cirebon Larang adalah cikal bakal Kerajaan Cirebon Larang atau Kerajaan Pasambangan dan selanjutnya menjadi Kesultanan Cirebon. Lokasi Manadala Cirebon Larang ini berada di Muara Jati Cirebon. Pesisir utara Kota Cirebon sekarang.
Peran Pelabuhan Cirebon inilah yang menyebabkan Sejak abad ke-5 M Pelabuhan Cirebon sudah ramai oleh para pedagang lokal maupun internasional. Sebelum berdirinya kekuasaan politik Islam dibawah kepemimpinan Sunan Gunung Jati, wilayah Cirebon dapat dikelompokkan atas dua daerah yaitu daerah pesisir disebut dengan nama Cirebon Larang dan daerah pedalaman yang disebut Cirebon Girang (Bochari dan Wiwi Kuswiah, 2001, hlm. 16).
Referensi
- Sulendraningrat, P.S., Sejarah Cirebon. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978. Hal. 16.
- Bochari, M. Sanggupri dan Wiwi Kuswiah, Sejarah Kerajaan Tradisional Cirebon. (Jakarta: CV. Suko Rejo Bersinar, 2001), hlm. 5.
- Adeng, dkk, Kota Dagang Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra. Jakarta: CV. Eka Darma, 1998. Hal. 71
- Bochari, M. Sanggupri dan Wiwi Kuswiah, Sejarah Kerajaan Tradisional Cirebon. Jakarta: CV. Suko Rejo Bersinar, 2001. Hal. 5.
- Sulendraningrat, P. S., Sejarah Cirebon. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978. Hal. 16
- Sulendraningrat, P. S., Sejarah Cirebon. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978. Hal-17-18.
- Zuhdi, Susanto, Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra (Kumpulan Makalah Diskusi Ilmiah). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997. Hal 9.
- Aria Carbon, Purwaka Caruban Nagari, terj. P. S. Sulendraningrat, Jakarta: Bhratara, 1972, Hal. 14