Cari

Negeri Champa adalah Samudera Pasal, bukan Kamboja/Vietnam?

Foto. Makam "Putri Campa", seorang putri dari masa Majapahit/Dr. med. F. (Franz) Kronecker (Fotograaf/photographer)

[Historiana] - Banyak sejarah kerajaan Nusantara yang berkaitan dengan nama kerajaan Campa. Campa. Nama itu begitu akrab di telinga kita. Bila mendengar nama itu akan selalu menyambung dengan istilah Harimau Campo di ranah Minang, Bungong Jeumpa di Aceh, makam Islam di Leran, Gresik, Jawa Timur, dan para Wali Sanga penyebar Islam di tanah Jawa. Begitulah yang sering didapat dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah. Kerajaan Campa ini diasosiasikan dengan nama Kamboja atau negara Kamboja sekarang. benarkah?


Mari kita cermati beberapa nukilan Sejarah berkaitan dengan Champa atau Cepa/Cempo berikut ini...
Di wilayah Kamboja selatan, dulu terdapat Kerajaan kecil yang masuk dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Kerajaan Champa namanya. (Sekarang hanya menjadi perkampungan Champa). Kerajaan ini berubah menjadi Kerajaan Islam semenjak Raja Champa memeluk agama baru itu. Keputusan ini diambil setelah seorang ulama Islam datang dari Samarqand, Bukhara. (Sekarang didaerah Rusia Selatan). Ulama ini bernama Syeh Ibrahim As-Samarqand. Selain berpindah agama, Raja Champa bahkan mengambil Syeh Ibrahim As-Samarqand sebagai menantu.
Diceriiakan bahwa Raja Majapahit Prabu Braijaya (Bhre Wijaya) menikahi Putri Cempo (Champa) bernama Anarawati (Amarawati/Amaravati) atau Daravati/Darawati.

Nukilan kisah putera Maharaja Pajajaran, Siliwangi (Sri Baduga Maharaja) yang berkaitan dengan kerajaan Campa/San po/Cempa
... setelah hampir tiga bulan lamanya tinggal di Mekah, Haji Abdullah Iman (Walangsungsang) kembali ke Jawa. Dalam perjalanan pulang, ia singgah di Cempa (Champa) dan berguru syariat islam kepada Maolana Ibrahim Akbar atau Syekh Maulana Jatiswara. Haji Abdullah Iman dikawinkan dengan putrinya yang bernama Nyai Retna Rasajati dan mempunyai tujuh orang putri: Nyai Laraskonda, Nyai Lara Sajati, Nyai Jatimerta, Nyai Jamaras, Nyai Mertasinga, Nyai Cempa, dan Nyai Rasamalasih (Cerita Purwaka Caruban Nagari).
dan banyak lagi kisah sejarah kerajaan di Nusantara yang berkaitan dengan kerajaan Champa.

Benarkah Champa adalah di Kamboja?
Beberapa sejarah menyebutkan bahwa Champa sekarang menjadi wilayah Kamboja yang disebut Kampung Champa. Menarik memang. Tapi bila kita membaca Wikipedia, di Kamboja hanya ada Kapong Cham, bukan Champa. Sekarang menjadi Propinsi Kampong Cham di sebelah timur negara Kamboja. Lokasinya di lembah dekat dengan sungai Mekong.

Perlu diingat juga bahwa Kampong dalam bahasa Kamboja (Khmer) bukan berarti Kampung dalam bahasa Indonesia sebagai daerah kecil di desa. Kampong Cham dapat kita terjemahkan sebagai "Port or harbour of Cham" atau pelabuhan Cham. Ini menunjukkan pelabuhan sungai mekong di Cham, Kamboja.
Peta Propinsi Kampong Cham, Kamboja
Diwilayh Kampong Cham Kamboja tidak tercatat adanya sebuah kerajaan.

Champa berdasarkan beberapa rujukan TIDAK menunjukkan nama negeri Kamboja. Mari kita lihat Dalam naskah berjudul Zhufan Zhi (諸蕃志) karya Zhao Rugua tahun 1225 disebutkan bahwa negeri San-fo-tsi (Sriwijaya?) memiliki 15 daerah bawahan, yaitu
  1. Che-lan (Kamboja), 
  2. Kia-lo-hi (Grahi, Ch'ai-ya atau Chaiya selatan Thailand sekarang), 
  3. Tan-ma-ling (Tambralingga, selatan Thailand), 
  4. Ling-ya-si-kia (Langkasuka, selatan Thailand), 
  5. Ki-lan-tan (Kelantan), 
  6. Ji-lo-t'ing (Cherating, pantai timur semenanjung malaya), 
  7. Tong-ya-nong (Terengganu), 
  8. Fo-lo-an (muara sungai Dungun, daerah Terengganu sekarang), 
  9. Tsien-mai (Semawe, pantai timur semenanjung malaya), 
  10. Pa-t'a (Sungai Paka, pantai timur semenanjung malaya),
  11. Pong-fong (Pahang), 
  12. Lan-mu-li (Lamuri, daerah Aceh sekarang), 
  13. Kien-pi (Jambi), 
  14. Pa-lin-fong (Palembang), 
  15. Sin-to (Sunda), 
Dengan demikian, wilayah kekuasaan San-fo-tsi membentang dari Kamboja, Semenanjung Malaya, Sumatera, sampai Jawa bagian barat. Nama Kamboja, menurut Naskah tersebut bernama Che-Lan, bukan Cam-Pa. Jadi Cam-pa negeri mana?

Catatan: untuk nama San-fo-tsi yang diterjemahkan sebagai Sriwijaya masih memerlukan kajian. Ada dua kerajaan (Sriwijaya dan Malayu) yang disebut San-fo-tsi. Patut diingat, kronik Cina sering menyebut suatu negeri atau kerajaan dengan nama pulaunya. Sebelum abad ke-15 Pulau Sumatera bernama Suwarnadwipa atau Suwarnabhumi, artinya ‘pulau emas’. Wajar jika berita tentang San-fo-tsi ada yang cocok untuk Sriwijaya-Palembang dan ada yang cocok untuk Malayu-Jambi. Kedua kerajaan ini sama-sama disebut San-fo-tsi karena memang terletak di Sumatera. Seperti halnya kerajaan-kerajaan di Jawa disebut She-po (transliterasi dari nama Jawa). Kita bahas secara khusus untuk kerajaan Sriwijaya.

Benarkah Champa di Vietnam?

Menurut Wikipedia, Kerajaan Champa (bahasa Vietnam: Chiêm Thành) adalah kerajaan yang pernah menguasai daerah yang sekarang termasuk Vietnam tengah dan selatan, diperkirakan antara abad ke-7 sampai dengan 1832. Sebelum Champa, terdapat kerajaan yang dinamakan Lin-yi (Lam Ap), yang didirikan sejak 192, namun hubungan antara Lin-yi dan Campa masih belum jelas. Komunitas masyarakat Champa, saat ini masih terdapat di Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia dan Pulau Hainan (Tiongkok). Bahasa Champa termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia.

Pada awalnya Champa memiliki hubungan budaya dan agama yang erat dengan Tiongkok, namun peperangan dan penaklukan terhadap wilayah tetangganya yaitu Kerajaan Funan pada abad ke-4, telah menyebabkan masuknya budaya India. Setelah abad ke-10 dan seterusnya, perdagangan laut dari Arab (Masa kekhalifahan Abasia Bagdad) ke wilayah ini akhirnya membawa pula pengaruh budaya dan agama Islam ke dalam masyarakat Champa.

Sebelum penaklukan Champa oleh Lê Thánh Tông, agama dominan di Champa adalah Syiwaisme dan budaya Champa sangat dipengaruhi India. 

Islam mulai memasuki Champa setelah abad ke-10, namun hanya setelah invasi Vietnam tahun 1471 pengaruh agama ini menjadi semakin cepat. Pada abad ke-17 keluarga bangsawan para bangsawan Champa juga mulai memeluk agama Islam, dan ini pada akhirnya memicu orientasi keagamaan orang-orang Cham. Pada saat aneksasi mereka oleh Vietnam mayoritas orang Cham telah memeluk agama Islam.

Pemimpin Muslim Cham, Katip Suma dididik di Kelantan dan kembali ke Champa untuk menyatakan Jihad melawan Vietnam setelah aneksasi Kaisar Minh Mang  ke Champa. Orang-orang Vietnam memaksa orang-orang Cham makan kadal dan babi daging untuk Muslim Cham dan daging sapi untuk Cham Hindu menjadi pantangan bagi mereka (haram atau pantang/tabu) untuk menghukum mereka dan mengasimilasi mereka dengan budaya Vietnam.

Champa memiliki hubungan perdagangan dan budaya yang erat dengan kerajaan maritim Sriwijaya, serta kemudian dengan Majapahit di kepulauan Melayu. 

Champa adalah peradaban India yang berkembang di sepanjang pantai yang sekarang tengah dan selatan Vietnam untuk kira-kira periode seribu tahun antara 500 dan 1500 Masesi. Campa asli yang mungkin koloni dari pulau-pulau Indonesia, yang diadopsi sebagai sebutan untuk orang-orang dalam perdagangan, pelayaran, dan pembajakan. pada rute perdagangan penting yang menghubungkan India, Cina dan pulau-pulau Indonesia. 

Sejarah Champa diwarnai konflik intermiten dan kerja sama dengan orang Jawa -Majapahit, Khmer Angkor di Kamboja dan Dai Viet (Vietnam utara). Setelah Champa masuk ke wilayah ke Dai Viet (Vietnam) Champa akhirnya kehilangan kemerdekaannya.

Meskipun sejarah Champa di Vietnam erat kaitannya dengan kerajaan Majapahit dan Sriwijaya tidak ada bukti bahwa Champa tunduk dan bayr pajak ke Kerajaan Majapahit. Dalam sistem Politik "Mandala" tidak berarti hubungan antar kerajaan adalah penunjuk bahwa wilayah kerajaan tersebut tunduk. Mandala yang diterapkan hampir di seluruh kerajaan di Asia Selatan - Asia tengah yang menganut adama Syiwa (Hindu), termasuk Champa, Sriwijaya dan Majapahit. Kita akan bahas pada kesempatan lain Sistem Mandala dalam perpolitikan Majapahit.

Bukti-bukti tentang agama Islam yang dianut Bangsawan Kerajaan Champa Vietnam ini masih dipertanyakan para Ahli sejarah.

Ada beberapa konsentrasi kajian tentang Champa

Mari kita simak sejarah pada abad ke 13, tentang sejarah Aceh. Dalam catatan sejarah Aceh disebutkan bahwa sebagian besar penduduk dan raja kerajaan Melayu Islam Campa di Vietnam migrasi ke Aceh karena diserang oleh kerajaan China. Raja dan rakyat Campa diterima dengan baik di Kerajaan Pasai yang kemudian diperkenankan mendirikan Kerajaan Jeumpa yang beribukota di Blang  Seupeung, Kecamatan Jeumpa, Bireun, NAD. Hingga kini bekas bekas kerajaan Jeumpa masih dapat dijumpai di daerah tersebut.

Tahun 2011 lalu Sejararawan Aceh, M. Adli Abdullah bersama Stasiun TV Al-Hijrah dari Malaysia menelurusuri Jejak Keraan Campa di tanah Aceh untuk kemudian di di dokumentasikan dalam rangkaian film dokumenter.

Berdasarkan studi linguistik di sekitar Aceh ditemukan bahwa budaya Campa memiliki pengaruh yang sangat kuat dengan budaya setempat begitupun sebaliknya. Ditemukan indikasi penggunaan bahasa Campa Aceh sebagai bahasa utama di sepanjang pantai Aceh Besar, Pidie, Bireun, Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Aceh Timur, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, dan Aceh Jaya.

Di abad ke 15 ketika majapahit dibawah kekuasaan Prabu Brawijaya V atau Bhre Kertabhumi, beliau menikah dengan seorang putri muslimah dari kerajaan Campa dan menjadikannya sebagai permaisuri, Putri Darawati namanya. Prabu Brawijaya V adalah penguasa terahir kerajaan Majapahit, seiring dengan berdirinya kerajaan Islam Demak Bintoro oleh Raden Fatah yang tak lain adalah putra Prabu Brawijaya V sendiri dari istrinya yang berasal dari China. Makam Putri Dawawati atau lebih dikenal dengan nama Putri Campa berada di situs kerajaan Majapahit di Trowulan, Propinsi Jawa Timur.

Lokasi Kerajaan Champa di Kamboja/Vietnam

Jadi.. Benarkah Champa di Aceh/Samudera Pasai bukan di Kamboja-Vietnam?
Mari kita telisik tentang lahirnya Sunan Ampel di Champa. Sunan Ampel adalah salah seorang wali di antara Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Ia lahir 1401 di Champa. 

Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja. Pendapat lain, Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa. 

Menurut beberapa riwayat, orang tua Raden Rahmat, nama lain Sunan Ampel, adalah Maulana Malik Ibrahim (?) (menantu Sultan Champa dan ipar Dwarawati). Dalam catatan Kronik Cina dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng - seorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam mazhab Hanafi) yang ditugaskan sebagai Pimpinan Komunitas Cina di Champa oleh Sam Po Bo. Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fu - menantu Haji Bong Tak Keng ditempatkan sebagai duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En Cu juga telah ditugaskan sebagai kapten Cina di Tuban. Haji Gan En Cu kemudian menempatkan menantunya Bong Swi Hoo sebagai kapten Cina di Jiaotung (Bangil).

Jadi....?
Negeri Champa yang sering berkaitan dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Champa Kamboja/Vietnam atau Jeumpa di Aceh?

Kapan berdirinya Kesultanan Samudera Pasai belum bisa dipastikan dengan tepat dan masih menjadi perdebatan para ahli sejarah. Namun, terdapat keyakinan bahwa Kesultanan Samudera Pasai berdiri lebih awal dibanding Dinasti Usmani di Turki yang pernah menjadi salah satu peradaban adikuasa di dunia. Jika Dinasti Ottoman mulai menancapkan kekuasaannya pada sekitar tahun 1385 Masehi, maka Kesultanan Samudera Pasai sudah menebarkan pengaruhnya di wilayah Asia Tenggara sejak tahun 1297 Masehi.

Sejumlah ahli sejarah dan peneliti dari Eropa pada masa pendudukan kolonial Hindia Belanda telah beberapa kali melakukan penyelidikan untuk menguak asal-usul keberadaan salah satu kerajaan terbesar di bumi Aceh ini. Beberapa sarjana dan peneliti dari Belanda, termasuk Snouck Hurgronje, J.P. Moquette, J.L. Moens, J. Hushoff Poll, G.P. Rouffaer, H.K.J. Cowan, dan lainnya, menyepakati perkiraan bahwa Kesultanan Samudera Pasai baru berdiri pada pertengahan abad ke-13 serta menempatkan nama Sultan Malik Al Salih sebagai pendirinya (Rusdi Sufi & Agus Budi Wibowo, 2006:50). Nama Malik Al Salih sendiri dikenal dengan sebutan dan penulisan yang berbeda, antara lain Malik Ul Salih, Malik Al Saleh, Malikussaleh, Malik Al Salih, atau Malik Ul Saleh.

Sebelum memeluk agama Islam, nama asli Malik Al Salih adalah Marah Silu atau Meurah Silo. “Meurah” adalah panggilan kehormatan untuk orang yang ditinggikan derajatnya, sementara “Silo” dapat dimaknai sebagai silau atau gemerlap. Marah Silu adalah keturunan dari Suku Imam Empat atau yang sering disebut dengan Sukee Imuem Peuet, yakni sebutan untuk keturunan empat Maharaja/Meurah bersaudara yang berasal dari Mon Khmer (Champa) yang merupakan pendiri pertama kerajaan-kerajaan di Aceh sebelum masuk dan berkembangnya agama Islam.

Leluhur yang mendirikan kerajaan-kerajaan Hindu/Buddha di Aceh tersebut di antaranya adalah Maharaja Syahir Po-He-La yang membangun Kerajaan Peureulak (Po-He-La) di Aceh Timur, Syahir Tanwi yang mengibarkan bendera Kerajaan Jeumpa (Champa) di Peusangan (Bireuen), Syahir Poli (Pau-Ling) yang menegakkan panji-panji Kerajaan Sama Indra di Pidie, serta Syahir Nuwi sebagai pencetus berdirinya Kerajaan Indra Purba di Banda Aceh dan Aceh Besar.

Dalam Hikayat Raja Pasai diceritakan bahwa Marah Silu berayahkan Marah Gadjah dan ibunya adalah Putri Betung. Marah Silu memiliki seorang saudara laki-laki bernama Marah Sum. Sepeninggal orang tuanya, dua bersaudara ini meninggalkan kediamannya dan mulai hidup mengembara. Marah Sum kemudian menjadi penguasa di wilayah Bieruen, sedangkan Marah Silu membuka tanah di hulu Sungai Peusangan yang terletak tidak jauh dari muara Sungai Pasai hingga akhirnya ia menjadi pemegang tahta Kerajaan Samudera.

Kembali ke catatan Raffles, bahwa Sunan Ampel dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng - seorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam mazhab Hanafi) yang ditugaskan oleh Cheng Ho (San Po Bo) sebagai Pimpinan Komunitas Cina di Champa

Champa di bawah kerajaan Majapahit?
Kerajaan Champa masih dibawah kekuasaan Kerajaan Besar Majapahit yang berpusat di Jawa. Pada waktu itu Majapahit diperintah oleh Bre Kertabhumi atau Prabhu Brawijaya V  (raja ke-11 Majapahit) semenjak tahun 1453 Masehi.

Dengan demikian, pernikahan Brawijaya dengan Putri Champa menjadi sangat mungkin.

Diceritakan, begitu Prabhu Brawijaya V naik tahta, Kekaisaran Tiongkok mengirimkan seorang putri China yang sangat cantik sebagai persembahan kepada Prabhu Brawijaya V untuk dinikahi. Hal ini dimaksudkan sebagai tali penyambung kekerabatan antara Kerajaan Majapahit dengan Kekaisaran Tiongkok.

Kesimpulan
Tidak ada yang menyadari bahwa sejarawan yang mempelajari kejatuhan Majapahit di sekitar 1400 tahun Saka (1478 Masehi) telah melakukan suatu kesalahan besar paralel. Masalahnya berasal dari kegagalan pada identifikasi Putri Champa, disebut Anarawati atau Dwarawati (Darawati), istri muslim dari Brawijaya V, Majapahit Raja memerintah di 1474-1478 M. Makam Islam Putri Champa dapat ditemukan di Trowulan, Mojokerto dekat, lokasi ibukota Kerajaan Majapahit.

Dalam bahasa Jawa, Putri Champa dieja sebagai Putri "Cempa". Kebanyakan orang, termasuk sejarawan terkemuka Belanda seperti Snouck Hurgronje, salah ketika mengidentifikasi sang putri berasal dari Champa, bagian dari apa yang sekarang Kamboja-Vietnam. Dan sejarawan Indonesia telah mengambil begitu saja.

Pada periode waktu, sebagian besar orang Champ yang Budha dan Islam hidup berdampingan di sana, tidak disebutkan Raja dan bangsawan muslim. Seorang wanita yang memenuhi syarat untuk menjadi pengantin dari Raja perkasa seperti yang dari Majapahit harus berasal dari keluarga bangsawan atau berkedudukan tinggi di masyarakat, yang pada kenyataannya tidak pernah ada sampai abad ke-17. Namun, jika itu terjadi, tidak ada bahkan satu catatan baik di Champa atau Majapahit pada seperti pernikahan dinasti lintas batas penting mengikat keluarga kerajaan dari dua negara berdaulat yang berbeda.

Ejaan Jawa "Cempa" lebih erat dengan Jeumpa daripada Champa. Jeumpa adalah wilayah pesisir di dekat Samudra Pasai (sekarang Bireun), salah satu kota Islam pertama di Aceh berkembang dari abad ke sekitar 7. Ini interpretasi geografi Cempa didukung oleh Stamford Raffles tapi mengejutkan tidak ada dari sejarawan Indonesia yang mendukung ini.

Jeumpa karena situs yang sangat strategis terletak di ujung utara pulau Sumatera, telah lama menjadi perdagangan penting dan pelabuhan transit kapal yang akan berlayar ke laut terbuka dari Cina ke India, Persia atau Semenanjung Arab dan visa-versa.

Bersama dengan Barus, Fansur dan Lamuri, Jeumpa memiliki komoditas unggulan seperti Kafur (kapur barus) yang populer disebut Kafur [dari] Barus, identik dengan kemewahan yang dinikmati oleh para bangsawan orang dari negara-negara beradab seperti Arab, Persia, India dan China, melambungkan wilayah sebagai bagian integral dari kemajuan peradaban.

Banyak orang Aceh adalah keturunan dari perkawinan antara orang-orang asing "imigran" dan penduduk setempat. Selama kejayaan Pasai, keindahan dan kecerdasan perempuan Jeumpa menjadi legenda di kalangan masyarakat Perlak, Pasai, Malaka, bahkan di Jawa.

Dan Putri Cempa, yaitu sebagai Darawati, adalah salah satu wanita Jeumpa yang dinikahi Brawijaya V. Ketika Raja bertemu dengan putri yang datang bersama dengan rombongannya yang terdiri dari Maulana Malik Ibrahim dan para bangsawan dari Pasai, ia terpesona karena kecantikannya.

Hal itu diceritakan dalam Hikayat (Chronicle) Banjar Dan Kotawaringin bahwa Raja Majapahit memerintahkan menterinya untuk melamar Putri Pasai (Jeumpa) dengan membawa 10 kapal ke Pasai sebagai mahar [dan tentu saja disertai para pengawal]. Sebagai pemimpin Kesultanan Islam, Sultan Pasai awalnya enggan menerima lamaran Raja mempertimbangkan risiko dan bahaya jika ia menolak usulan tersebut.

a. Snouck Hurgronje, menjadi seorang Islamolog yang mempelajari Aceh pasti tahu tentang Jeumpa, dekat dengan Samudra [Pasai] sebagai asal mula kemungkinan Putri Cempa bukan Champa (Kamboja-Vietnam). Atau.. memang bukan?

b. Champa (Kamboja-Vietnam) selama periode waktu (1360-1390) diperintah oleh Che Bong Nga, yang dikenal sebagai Raja Merah (Red King), yang terakhir dan paling kuat di Champa. Tidak ada catatan bahwa dia muslim atau terkait dirinya atau keluarga kerajaan apapun dengan Islam. Memang benar bahwa Islam mulai membuat kemajuan di antara orang-orang Cham sejak abad ke-10, yang intensif setelah 1471 M. Namun, abad ke-17 bahwa keluarga bangsawan di Kerajaan Cham mulai beralih ke Islam. Pada saat aneksasi akhir mereka dengan Vietnam, mayoritas orang-orang Cham telah masuk Islam.

c. Raffles tahu dengan baik tentang Jeumpa dan Samudra Pasai, lama berkembang perdagangan dan transit pelabuhan di Aceh Utara, yang bertujuan untuk mengganti dengan Singapura (Singapore).

d. Di bawah pemerintahan Ratu Tribuwanatunggadewi, Majapahit memperluas wilayahnya di seluruh Nusantara (Nusantara). Adityawarman, sepupunya, memiliki darah Melayu dikirim untuk menaklukkan sisa Sriwijaya dan Melayu kerajaan. Kemudian ia ditempatkan sebagai "uparaja" (wakil Raja) dari Majapahit di Sumatera. Ekspansi teritorial dilanjutkan di bawah pemerintahan Hayam Wuruk untuk menyertakan Lamury di ujung Barat dan Wanin di Timur. Negarakertagama jelas menyatakan bahwa Samudra (Jeumpa), Lamuri dan Barus berada di bawah yurisdiksi Majapahit.

e. Naskah yang juga dikenal sebagai Naskah Lambung Mangkurat, bagian akhir yang ditulis pada tahun 1663. Detail dari cerita yang berhubungan dengan Majapahit tidak begitu akurat, tapi setidaknya cerita itu sejalan dengan versi Raffles 'Putri Champa adalah dari Pasai (Jeumpa), bukan dari daerah yang yang sekarang Kamboja-Vietnam. Salah satu yang mungkin dipercaya keaslian cerita sebagai penulis Banjar yang pasti lebih objektif daripada penulis Jawa (Babad Tanah Jawi, serat Kandha dan serat Darmogandul) yang masih memiliki keterikatan emosional dengan Kejawyaan Majapahit.

Dari uraian di atas, Saya sebagai pemerhati sejarah lebih sepakat bahwa Putri Champa yang dinikahi oleh Prabu Brawijaya adalah Putri (baca: perempuan) dari Champa. Dan Campa sendiri mengacu pada Kerajaan yang berpengaruh di bagian Utara Asia tenggara yaitu Champa yang kini bagian dari Vietnam. Pernikahan ini maksudnya memperkuat federasi (persekutuan) kerajaan di Utara dan Selatan (Majapahit).

Putri dari Champa ini jangan kita artikan sebagai Princess is a doughter of the king, anak dari seorang raja, tetapi seorang wanita bangsawan terhormat, mungkin kita mengenalnya sebagai Lady. Saat itu Raja Champa Jaya Simhavarman III dengan permaisurinya Putri Huyen. Kalangan bangsawan Champa telah banyak yang muslin dan melakukan hubungan baik dan mempereratnya dengan pernikahan antar bangsawan Champa dengan bangsawan atau raja-raja di Jawa. Lihat literatur Transnationalism in Ancient and Medieval Societies: The Role of Cross-Border Trade and Travel (2012) Oleh Michael C. Howard di bawah ini:



Pernikahan bangsawan Muslim Champa dan Raja Jawa


Rujukan:

  1. Friedrich Hirth & W.W.Rockhill, 1911, Chao Ju-kua, His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteen centuries, entitled Chu-fan-chi, St Petersburg.
  2. Wikipedia, Kerajaan Champa. Data diakses 29 Februari 2016
  3. Arcengel's, The Hystory of Indonesia. Data diakses 29 Februari 2016
  4. atjehcyber.net, Kesultanan Samudera Pasai. Data diakses 29 Februari 2016
  5. Muljana, Slamet (2005). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. PT LKiS Pelangi Aksara. p. 63. ISBN 9798451163.ISBN 9789798451164
  6. Bong (Wong) marga Tionghoa muslim bermazhab Hanafi dari Yunnan
Baca Juga

Sponsor