Cari

Penggambaran Fisik Orang Sunda Menurut Kolonialis Belanda Tahun 1881

[Historiana] - Penggambaran orang Sunda secara fisik terdapat dalam buku berbahasa Belanda tahun 1881 dengan judul "West-Java : het land, de bewoners en de arbeid der Nederlandsche Zendingsvereeniging, 1881"  Monografie | Staatsbibliothek zu Berlin - Preußischer Kulturbesitz yang ditulis oleh Coolsma, Sierk.  Anda dapat mengaksesnya DI SINI

Deskripsi orang Sunda,

Coolsma menjelaskan gambaran fisik tentang Jawa Barat dan produk-produknya, kemudian tentang sejarah penduduknya. Dilengkapi dengan data statistik komposisi penduduk di Pulau Jawa. Selain itu, Coolsma berbicara tentang penampilan dan sifat orang Sunda.
 

Wilayh yang dihuni oleh orang Sunda yaitu di Bantam, Batavia, Krawang, Preanger dan Cheribon. (Bantën, Batawi, Karawang, Prijangan dan Tjirëbon. 

Menurut Laporan Kolonial tahun 1876, pada akhir tahun 1874 terdapat 5 komposisi penduduk di Jawa yakni: 7,788 orang Eropa, 90,419 Cina, 2.173 orang Arab, 1.128 orang Timur lainnya, dan penduduk asli 4.198.038

Seluruh Jawa dan Madura pada waktu itu memiliki populasi asli 17.882.396 jiwa. Laporan yang sama mengatakan bahwa pada tahun 1874 di wilayah Sunda terdapat 809 orang Kristen dari kalangan penduduk asli dan orang Cina. Jika kita menambahkan angka ini ke 7788 orang Eropa, kita mendapatkan angka-angka berikut: 8597 orang Kristen, sekitar 4.200.000 Muslim, dan sekitar 90.000 orang Cina non-Muslim.

Catatan unik tentang nama Cirebon dan juga pengertiannya disaat itu. Dengan ejaan bahasa Inggris disebut Cheribon. Kemudian ditulis dengan ejaan baru, (tetapi juga salah) ditulis Tjeribon. Namanya terdiri dari tji, artinya sungai, dan rebon, artinya udang sungai kecil.

Selanjutnya Coolsma mencoba memberikan deskripsi tentang kondisi eksternal dan internal orang Sunda seakurat dan setepat yang ia bisa. .

Tampilan luar 

Penampilan orang Sunda pada umumnya menarik perhatian, karena kemiripan dengan suku Melayu. Warna kulit agak kecokelatan, sedikit kurang gelap dibandingkan dengan orang Jawa. 

 

Perbedaan yang cukup besar adalah pada perbedaan warna kulit antara mereka yang mempunyai status sosial yang lebih tinggi dan yang lebih rendah. Tentunya sebagian karena fakta bahwa posisi yang lebih rendah, karena harus bekerja di luar ruangan dan lebih banyak terpapar sinar matahari. 

 

Gadis-gadis muda dan wanita umumnya, terutama dari kalangan atas, memiliki warna hampir putih bersih (kuning langsat) yang hanya sedikit di bawah ras orang kulit putih. Warna mata coklat atau hitam. Rambut kepala berwarna hitam dan panjang, agak kasar, dan umumnya dengan beberapa gelombang. Gaal atau keriting di pelipis dianggap sebagai tanda keindahan. 

 

Rambut keriting jarang terlihat, dan tampaknya disebabkan oleh pengaruh darah asing. Pengecualian untuk penampilan tidak seperti albino, yang disebutkan penulis buku ini beberapa orang ditemukan albino. Ini ditandai dengan warna kulit putih, rambut terang dan mata kemerahan.


Wajah orang Sunda umumnya berjanggut.

Orang Sunda mengembangkan janggut yang tipis. Bukan berati jumlah janggutnya jarang-jarang. Mereka biasanya menghilangkan sebagian bulu janggut itu dengan catut/pinset (tangetje). Kebanyakan pria, memeliharanya dengan sangat hati-hati.

 

Tinggi tubuh mereka di bawah orang Eropa. Orang Sunda jarang mencapai tinggi lima kaki. Para wanita umumnya lebih pendek dan lebih ramping daripada pria.

Orang Jawa biasanya lebih tinggi dari orang Sunda, dan lebih ramping. Terlepas dari warna kulit, orang dapat dengan mudah membedakan orang Jawa dari orang Sunda dengan bentuknya yang lurus.

Perkawinan awal tentu tidak akan mendorong banyak penurunan penampilan fisik suku. Namun, orang yang kuat, berotot, dan bertubuh kuat tidak pernah hilang, bahkan di antaranya wanita. Secara umum dapat dikatakan bahwa sementara keindahan, pembentukan tubuh yang baik adalah ciri khas posisi yang lebih tinggi, konstruksi tubuh yang kuat dan berotot ditemukan pada posisi yang lebih rendah.

Ciri-ciri wajah orang Sunda lainnya adalah dahi biasanya cukup tinggi (lebar). Mata, yang ekspresinya sering sayu, ditutupi alis tipis. Celah mata posisi miring yang jelas terlihat, kurang lebih seperti orang Ghana; lebih lebar daripada mata orang Cina, lebih sipit daripada orang Eropa. 

 

Hidung orang Sunda kecil, biasanya rata di bagian atas, dengan titik bulat. Hidungnya cukup lebar dan lubang hidung juga lebar. Namun, hidung yang berbentuk bagus juga tidak jarang ditemui. Mulut biasanya besar (tetapi tidak menonjol), dan dengan bibir tebal. Mulut kecil yang halus dengan bibir tipis juga sering didapati. Mereka suka mengunyah sirih. Giginya pada dasarnya indah, teratur, dan putih, tetapi kebiasaan mengikir gigi dan menghitamkannya dengan menyirih, akan menghilangkan semuanya. Yang tidak dapat dipahami adalah umumnya, seseorang ingin memperhatikan bahwa gigi putih yang indah dianggap sebagai keindahan. Ini kebalikannya.


Tulang pipinya juga sangat menonjol pada orang-orang ini, seperti halnya dengan seluruh suku Melayu. Dengan wajah yang kusam dan tidak banyak bicara seperti yang biasa ditemukan di antara orang Sunda, tidak mengherankan bahwa mereka memiliki konsep yang berbeda tentang kecantikan daripada kita.

Berbicara tentang keindahan tubuhm untuk pria disebut kasep dan wanita disebut geulis. Orang Sunda tidak berpikir tentang wajah, tetapi tentang bentuk tubuh dan anggota tubuh dan warna kulit tubuh. Tubuh kurus, pinggang ramping, jari-jari halus, tumit sempit, sendi lentur, berpasangan dengan warna tubuh kuning keemasan (koneng), adalah karakteristik utama kecantikan. 

 

Cara mereka melakukan ini tentu paling tepat untuk penampilan mereka, dan menunjukkan bahwa itu jauh lebih menguntungkan daripada yang dilakukan dengan pakaian Eropa, yang tidak menyenangkan dan merusak mereka. Ketenangan dan kesederhanaan adalah karakteristiknya


Mode belum sampai pada mereka. Mereka tidak tahu apa-apa tentang kemewahan pakaian di Eropa.


Para lelaki berrambut panjang seperti wanita, dan mengikatnya sebatas bagian tengkuk, dengan 'sisir' (semacam konde untuk laki-laki) menempel di rambut yang diikat itu. Kepala ditutupi dengan iket atau penutup kain, sehingga tidak ada atau hanya sedikit yang terlihat dari rambut mereka. Cara pemakaian iket berbeda. Pakaian resmi disebut bëndo, cara yang biasa digunakan sebagai kain penutup di kalangan orang Jawa. 

 

Selain itu, pakaian pria terdiri dari baju dari katun dengan bunga-bunga atau putih, dan pada acara resmi menggunakan kain katun atau satin berlengan panjang. Baju katun putih tanpa lengan (maksudnya seperti kaos dalam) dikenakan di bawah baju itu. Selain itu, mereka mengenakan samping atau sarung. Coolsma menyebutnya sebagai rok warna-warni yang terkenal dan sebagian besar pembuatannya di pedalaman, yang dililitkan secara longgar di sekeliling tubuh dan melekat di pinggang, tanpa ikat pinggang atau sabuk. Sabuk itu adalah pakaian untuk kalangan berkelas atas, dan juga digunakan untuk membawa keris di bagian belakang. Celana dikenakannya hanya mencapai lutut, tetapi di kota-kota banyak diantara orang Sunda mengenal celana Eropa dan menjadi populer diantara mereka, tetapi selalu pada bagian atas ditutupi setengah sarung (songket).

Para pengrajin di kota-kota sering mengenakan sarung dalam pekerjaan mereka di pinggang. Orang-orang miskin sering memakai hanya sarung atau kain saja yang melilit pinggul mereka.

Didalam  perjalanan, lelaki sering mempersenjatai diri dengan bedog atau pisau, dikenakan dengan sarungpisau (warangka) pada sabuk di pinggang. Pada kesempatan yang lebih penting membawa keris dalam sarung yang sering dibuat dengan elegan.
 

Orang miskin tidak mengenakan alas kaki, hanya mengenakan sarung sebatas pinggang saat bepergian. Semakin tinggi kedudukan sosial mereka dapat dibedakan jika bertemu di jalan dengan tanda bahwa ia memakai taroempah, sendal dari kulit tebal. Jika dia adalah orang yang terhormat /priayi dan berkuasa, maka ia menggunakan sepatu. 

 

Doedoekoej/dudukuy atau topi asli Belanda, bulat dan datar, lancip ke atas, dan dicat indah atau kadang-kadang diwarnai adalah penutup kepala terhadap panas matahari dan hujan. Untuk melindungi diri terhadap hujan, orang Sunda juga menggunakan dudukuy yang lebar, lebih dari seukuran payung, dan terpal. Mereka yang berkedudukan tinggi, memilih lebih baik menggunakan payung, sebagai pelindung dari sinar matahari yang terbuat dari kertas yang diminyaki.

Pakaian wanita, jauh lebih sederhana daripada pria. Rambut panjang, disisir ke belakang dan diikat di dalam gelung atau dibulatkan, yang berada pada posisi di atas tengkuk. Untuk wanita yang punya kedudukan tinggi (berkelas) akan lebih mencolok dengan mengenakan gelung yang berukuran besar dengan posisi gelung rendah hingga menyentuh tengkuk. 

 

Dengan berpakaian penuh gaya, orang-orang juga mengatur rambutnya dengan melipatnya mulai dari leher hingga bagian belakang kepala (digulung-gulung). Jepit rambut yang mahal sering kali menempel di rambut. Riasan rambut memberikan kesan wanita Sunda seperti Eropa, alasan untuk kesombongan. Ada juga mengatur rambut hanya dengan "kepang rambut" dan tidak menggunakan gelung (sanggul); hanya beberapa wanita yang mampu membayar kemewahan tjamara atau alat pengeriting rambut. Perilaku menata rambut bagi wanita Sunda itu disebut luwas luwis, yang terus-menerus mengatur, dan mengikat rambut.

Wanita Sunda hanya mengenakan tutup kepala jika dia melakukan perjalanan panjang atau bekerja di lapangan. Ada juga topi seperti topi pria. Pakaian luar wanita itu adalah baju kabaya merah terbuat dari kapas berwarna, atau berpakaian bagus dari sutra merah atau hijau. Pada bagian dalam mereka dikenakannya hingga dekat dengan lutut; para wanita di kota-kota pesisir biasanya memakainya lebih lama. Wanita Jawa di seberang Cimanuk (Saat itu, di timur Cimanuk dianggap Jawa) lebih banyak menggunakan warna biru.

Pakaian lain untuk wanita adalah sarung, yang panjangnya mencapai pergelangan kakinya. Karenanya, Kabaya dan sarung adalah satu-satunya pakaian wanita. Di dalam rumah, mereka biasanya melepas kebayanya kecuali ada tamu.


Dalam perjalananan, wanita Sunda mengenakan potongan kain lain yaitu karembong atau salendang, yang panjang terbuat dari kain katun berwarna atau terbuat dari sutra, sebenarnya dimaksudkan untuk menggendong anak. Jika tidak sedang tidak dugunakan untuk menggendong, dia merentangkan kain karembong di atas bahu menjuntai hingga di bawah lengannya, seperti memakai selempang. Ketika matahari bersinar terik, salah satu ujung karembong ditutupkan di atas kepala. Wanita tidak pernah memakai sepatu. Untuk wanita, ornamen biasanya terbatas pada giwang kecil, jepit rambut dan satu atau lebih cincin pada jari-jemarinya; dibandingkan pria selain menggunakan keris, para pria memakai kancing yang bagus di baju serta satu atau lebih cincin pada jarinya, kadang-kadang dengan batu seukuran telur merpati. Anak-anak memakai gelang sederhana; tetapi tidak jarang yang terbuat dari logam mulia.

Gadis-gadis muda sering mengenakan oto (? mungkin kemben) atau penutup dada. Tetapi tidak menggunakannya ketika mandi hanya menggunakan sarung. Sebaliknya anak-anak kecil sering berjalan tanpa pakaian, yang dapat dilakukan dalam iklim yang hangat tanpa membahayakan kesehatan, dan jauh lebih mudah dan lebih menyenangkan untuk anak-anak daripada memakai pakaian. Usia 7 tahun atau 8 tahun, mereka perlahan mulai terbiasa dengan pakaian.

Sementara itu, digambarkan bahwa setidaknya di kota-kota penggunaan pakaian pada anak-anak meningkat. Tentunya lebih mudah untuk menggambarkan bagian luar penduduk asli daripada melukiskan gambaran sejati manusia secara batiniahnya, sifat dan kualitasnya. Pendapat ini menurut cara pandang penduduk asli mungkin sangat berbeda, banyak dari penilai kekurangan data orang Belanda untuk melakukan penilaian menyeluruh.

Interaksi jangka panjang, pengamatan yang cermat dan pengetahuan tentang bahasa nasional. Demikian Coolsma menjelaskan.

Seorang pegawai sipil muda (Belanda) yang menghabiskan beberapa tahun di Priangan (Preanger), saya baru-baru ini mendengar orang Sunda menyebut "malaikat dunia." Yang lain akan menyebut mereka lawan dari malaikat. Mereka sedikit mendapat informasi dari pengalaman yang mereka miliki bersama mereka. Fakta bahwa penduduk Jawa membuat kesan yang tidak menyenangkan pada orang Eropa yang mengenal mereka di masa lalu, dapat dilihat dari beberapa kutipan, yang saya pinjam dari Prof. dr. Veth berjudul "Java", sebuah karya yang paling penting, yang ingin saya akui bahwa ia memiliki bagian kecil dalam substansi dan komposisi bacaan-bacaan ini. Mr. Veth memberi tahu kami di dalamnya: Warga Venesia Nicolo de Conti, yang mengunjungi kepulauan itu sekitar tahun 1430, berkata tentang penduduk Jawa: "Penduduk Jawa dan Sumatra melampaui semua bangsa dalam kekejaman. Mereka menganggap membunuh seseorang sebagai kebaikan hati. "Portugis Barbosa, yang mengenal orang Jawa di Malaka pada tahun 1511, menyatakan bahwa mereka adalah "bangsa yang hebat dan pintar, sangat licik dalam semua tindakan mereka, sangat kejam, sangat curang, jarang mengatakan yang sebenarnya, selalu siap untuk melakukan semua jenis kemarahan, dan selalu siap untuk mengorbankan hidup mereka". Pengkhotbah Valentine mengatakan tentang mereka: "Orang-orang itu (Sunda) biasanya seorang yang suka membunuh, tidak beriman dan kejam, yang sangat sedikit dapat dibuat, dan siapa yang akan membunuh seseorang untuk dua atau tiga sen uang (shill), karena kalau tidak itu akan menjadi tipu daya paling berdarah dan paling pengecut yang ada di bumi. Mereka tahu dan sangat mahir bagaimana berpura-pura, di mana mereka tidak harus mengalah kepada siapa pun. Saya telah mengetahui lebih banyak tentang mereka, yang berperilaku sangat setia pada kesempatan-kesempatan tertentu, meskipun mereka tidak melakukannya untuk kepastian dan minatnya sendiri."

(1) P.J. Veth, Jawa, Geographiscli, Etnologi, Historis. Haarlem 1875, dll.

Deskripsi ini 'berwarna' terlalu gelap. Untuk sampai pada penilaian yang lebih adil, saya mulai dengan mendengar dari Anda terutama penilaian Wallace atas ras Melayu, seperti yang dikatakan Mr. Veth dalam karyanya yang baru saja disebutkan, karena fitur utama uraiannya juga berlaku untuk penduduk Jawa. Dia mengatakan: "orang Melayu itu tertutup, tidak terkesan hidup. Dia menunjukkan perhatian, kurangnya kepercayaan diri, rasa takut. Sebenarnya ini sesuatu yang menarik, dan memaksa pengamat untuk percaya bahwa karakter biadab dan haus darah yang pernah dinilainya dan sangat dilebih-lebihkan. Sedikit yang diperhatikan tentang apa yang terjadi dalam dirinya; perasaan heran, terkejut, atau takut tidak pernah memanifestasikan dirinya secara lahiriah, juga tidak mungkin menjadi sangat kuat. Anak-anak dan wanita takut. Jika orang Melayu itu sendirian, ia tidak akan membiarkan dirinya didengar; dia tidak berbicara pada dirinya sendiri dan tidak berkoar tentang siapa dan bagaimana dirinya. Dia hati-hati menunggu untuk tidak menyinggung rekan-rekannya. Dia tidak mempermasalahkan masalah keuangan, memiliki keengganan untuk meminta pembayaran terlalu sering, bahkan yang secara sah adalah haknya karena dia telah meminjamkan uang kepada orang lain, dan dia lebih memilih untuk menahan diri dalam menagih daripada terjadi perselisihan dengan peminjamnya. Membodohi atau menggoda seseorang sama sekali bertentangan dengan sifatnya, karena ia peka dalam hal bentuk kesopanan.

Orang-orang Melayu dari tingkat yang lebih tinggi sangat sopan, dan memiliki semua kemudahan pergaulan dan semua pengendalian diri yang tenang dari orang-orang Eropa yang terpelajar; tetapi kualitas-kualitas ini ada bersama mereka dengan kekejaman dan penghinaan yang tiada henti terhadap kehidupan manusia, yang membentuk sisi gelap dari karakter mereka."

Profesor Veth mengamati bahwa orang seperti ini, yang dibebani dengan penindasan selama berabad-abad, harus menerima kenyataan karakter orang Jawa. "Kelemahan dalam karakternya," katanya, adalah konsekuensi alami dari situasi di mana kepastian hukum tidak diketahui, di mana kerumunan harus membayar kepala mereka tanpa imbalan tenaga kerja, atau di mana dia bekerja untuk dirinya sendiri, tidak pernah yakin bahwa dia juga akan menikmati hasil kerja kerasnya.

Jarak yang tak terukur antara aristokrasi dan orang kecil pada penyerahan diri yang terakhir, rasa malu, kecurigaan, kurangnya keterbukaan, seni menyembunyikan perasaannya di bawah topeng ketidakpedulian yang tak terbatas, dan kelicikan serta kepalsuan, sebagai senjata sebenarnya dari orang-orang lemah, tumbuh atau sangat ditonjolkan oleh Veth. Ketidakpastian kepemilikan telah membuat orang Jawa acuh tak acuh pada hasil kerja kerasnya, dan kemalasan baginya untuk mempertimbangkan kondisi yang paling diinginkan. Dan semua ini telah berubah sedikit di mana ia telah dihapus dari pemerintahan raja-rajanya, antara lain di bawah pemerintahan Eropa; karena setelah ragu-ragu sesaat, para penguasanya menghormati kembali sistem untuk meninggalkannya di bawah wewenang langsung dari kepalanya; untuk menundukkannya, melalui intervensi mereka, untuk pajak tenaga kerja dalam skala besar, dengan menegakkan paksaan; untuk menolaknya hak istimewa untuk meningkatkan independensi dan kemerdekaan dengan memiliki bidangnya sendiri (atau pilihannya sendiri). Selebihnya, tidak dapat disangkal bahwa seorang budak akan merangkak tunduk kepada orang Jawa dengan kelas atas adalah hal biasa. " Itu dari penduduk Jawa pada umumnya. Dibandingkan dengan orang Sunda pada khususnya, de Wilde, mantan pemilik tanah di Sukabumi, menyatakan dalam bukunya tentang Preanger (J):
 

"Seperti halnya di seluruh pulau Jawa, penduduk pribumi memiliki perilaku moral yang baik, demikian pula orang Sunda juga baik, sangat toleran satu sama lain, terikat pada agama dan adat istiadat lama, tunduk pada atasan mereka, dan paling toleran. Karena perasaan rendah yang dimiliki manusia rendahan terhadap dirinya sendiri, dan rasa hormat yang menurut Quran harus dimiliki oleh atasannya, ia terkadang membiarkan dirinya 'dicubit' oleh mereka. Dia lebih suka pindah dengan seluruh keluarganya daripada menuntut atasannya. Keutamaan utama dari orang-orang ini adalah kejujuran mereka. Secara umum, mereka tidak dapat dibebaskan dari kelambatan dan ketidakpedulian tentang nasib mereka, tetapi cacat ini harus lebih dalam keadaan penindasan.

(J) A. de Wilde, Preanger Regentschappen. 1830

Kemampuan kerja tidak bisa dipuji, walaupun saya juga tidak percaya bahwa orang bisa disebut orang malas. Orang Sunda tidak suka melakukan sesuatu di mana mereka berada di rumah. Mereka jarang berlatih hal-hal baru, seperti kerajinan, dll. Mereka tahu bagaimana cara mengatur rumah mereka dengan baik, mengolah sawah, menanam kopi, memelihara kebun, membuat senjata dan peralatan, menenun sarung, dan sebagainya, tetapi untuk kerajinan, bagi mereka nampaknya dibutuhkan dorongan yang diperlukan.
****

Baca Juga

Sponsor