Cari

Candi Kesuben Tegal, Bukti Peradaban Hindu-Buddha di Pantai Utara Jawa Tengah

[Historiana] - Berikut kita bahas hasil penelitian Sukawati Susetyo dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional tahun 2015. Hasil penelitian Susetyo ini dipublikasikan pada KALPATARU, Majalah Arkeologi Vol. 24 No. 2, November 2015 (89-102).

Sejarah  kuno  Indonesia  mencatat  bahwa  masa  sejarah  tertua  di  Jawa  Tengah  adalah  Kerajaan Matarām Kuno (abad ke-8-10). Pada waktu yang sama di pantai timur Sumatera terdapat Kerajaan Sriwijaya. Di lain pihak, berita Cina menginformasikan bahwa kerajaan di Jawa sudah ada pada abad ke-5, yaitu Ho-ling (She-po).

Penelitian mutakhir di pesisir pantai utara Jawa Barat dan timur Sumatera memberikan bukti adanya hubungan antara Indonesia dengan bangsa asing berupa artefak-artefak dari luar negeri, meskipun tidak didukung oleh data prasasti. Hal tersebut memberikan petunjuk untuk mencari bukti awal hubungan dengan bangsa lain di daerah pesisir pantai.

Penelitian di pesisir pantai utara Jawa Tengah ini dilakukan dengan survei, ekskavasi, dan wawancara mendalam, metode penulisan menggunakan metode deskriptif komparatif. Penelitian ini berhasil menambahkan data baru berupa temuan candi di Desa Kesuben, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten  Tegal,  Jawa  Tengah.Temuan  yang  dihasilkan  berupa  struktur  bangunan  candi  dari  bata, antefiks-antefiks, dan arca batu. Hingga saat ini dari penelitian ini belum diketahui latar keagamaan Candi Kesuben karena belum ditemukan artefak yang mendukung.

Sumber tertulis berupa prasasti yang selalu digunakan sebagai acuan mengenai munculnya Kerajaan Matarām Kuno di Jawa Tengah ialah Prasasti Tuk Mas dari Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang dan Prasasti Canggal  yang  berangka tahun 732 yang ditemukan di areal Candi Gunung Wukir, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang.  Kerajaan Matarām Kuno mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-8-10, sebelum akhirnya pindah ke Jawa Timur Poesponegoro dan Notosusanto 1993:98). Tidak banyak diketahui tentang keadaan masyarakat Jawa kuno sebelum   munculnya kerajaan Matarām Kuno.

Sumber-sumber Cina menyebutkan bahwa Jawa yang mereka sebut She-po ada pada sekitar abad ke-5 dan Ho-ling pada tahun 640 yang kemudian berubah lagi menjadi She-po pada tahun 820. Utusan dari Kerajaan Ho-ling tercatat pernah mengunjungi Cina sebelum tahun 649, 666, 767, 768 dan terakhir tahun 813 (Meulen 1988:59). Menurut berita Cina, Ho-ling berada pada 6° 8’ LS maka seharusnya Ho-ling berada di daerah pantai utara Jawa (Poesponegoro dan Notosusanto 1993:95).

Jika Ho-ling merupakan sebuah kerajaan sebelum Matarām Kuno, maka kerajaan ini merupakan dampak dari terjadinya kontak budaya antara masyarakat Jawa kuno di pantai utara Jawa dengan para pendatang dari India.  Kapankah terjadi kontak budaya dan bagaimana keadaan masyarakat Jawa kuno pada masa kontak budaya tersebut sebelum munculnya Kerajaan Ho-ling dan Matarām Kuno? Hal tersebut harus ditelusuri di daerah pantai utara Jawa, seperti yang terjadi di Bali dan Jawa Barat, yang memiliki awal kontak budaya dengan India di daerah  pantai utara sebagai pintu masuk menuju daerah pedalaman.

Reruntuhan Candi Kesuben Tegal


Penelitian mengenai perkembangan agama Hindu-Buddha di pantai utara Jawa Tengah pernah dilakukan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit   Arkenas) pada tahun 1973 di Kabupaten Pekalongan, Batang, dan Kendal. Dari penelitian tersebut, sejumlah fragmen arca, sisa  bangunan, dan beberapa inskripsi berhasil  ditemukan, yang semuanya menunjukkan karakteristik agama Hindu aliran Śiwa (Satari 1973:27-36). Penelitian epigrafi oleh Sukarto Kartoatmojo pada tahun 1978 di Kabupaten Brebes dengan melakukan pembacaan lontar. Dalam kegiatan ini dikunjungi beberapa bangunan dari zaman megalitik seperti menhir, dan terdapat pula tinggalan berupa unsur bangunan berlatarkan agama Hindu aliran Śiwa (Kartoatmojo 1978:25-31).

Salah satu prasasti yang berasal dari abad ke-7 adalah Prasasti Sojomerto yang ditemukan di Desa Sojomerto,   Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno,  isinya mengenai Yang Mulia Dapunta Śailendra penguasa masa Matarām Kuno yang menyebutkan nama ayah (Santanu), ibu (Badhrawati) dan istri (Sampura).Prasasti Sojomerto tersebut dihubungkan dengan penguasa Mataram Kuno dari Dinasti Śailendra. Kabupaten Batang tempat Prasasti Sojomerto ditemukan, terletak di pesisir pantai utara Jawa Tengah juga, seperti halnya Tegal tempat Situs Kesuben berada. Jarak Kabupaten Batang dengan Tegal sekitar 70 km.

Sementara itu, pada tahun 2007 di Dukuh Kejaksan, Desa Pedagangan, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal ditemukan bangunan candi yang diberi nama Candi Bulus. Secara astronomis Candi  Bulus berada pada 06°58’22,0” LS dan 109° 07’ 03,0” BT. Jarak Candi Bulus dengan Situs Kesuben sekitar 5 km.  Candi terbuat dari bata dengan beberapa unsur bangunan yang bersifat Śiwaistik berupa lingga, yoni, dan fragmen arca Agastya (Tjahyono dan Widianto 2007:27). Tidak jauh dari Tegal, penduduk warga Desa Jolotigo, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah menemukan fragmen arca Ganeśa, Śiwa, Wisnu, dan Brahma  pada saat menggali kuburan.

Seiring waktu berjalan, penelitian di pantai utara Jawa Tengah satu persatu menunjukkan intensitas tinggalan  budaya dari masa Hindu-Buddha yang cukup tinggi. Di Kabupaten Batang, ditemukan arca Wisnu yang  mengenakan   mahkota pendeta mirip dengan arca  Wisnu dari Kota Kapur dan Cibuaya, sehingga secara relatif dimasukkan pada abad ke-6 atau 7 (Tim Penelitian 2014:3-4). Pada Situs Bale Kambang, Batang, yang letaknya satu kilometer dari pantai utara Jawa Tengah,  ditemukan  tinggalan  arkeologi  yang  saat  ini  disimpan di Museum Ronggowarsito, yaitu: Prasasti Balekambang (abad ke-6 hingga 7 M); batu-batu candi, makara,jaladwara, antefiks, dan arca-arca yang menunjukkan situs berlatar Hindu. Di situs Kesongo, terdapat temuan arkeologi berupa Prasasti Tungtang (abad ke-8), struktur bangunan bata, dan mata uang dari abad ke-8 hingga 10 M.

Penelitian para ahli di Situs Kesuben menemukan struktur bangunan candi, antefiks antefiks, fragmen kepala kala dan fragmen arca batu. Ditemukan dua struktur bangunan. Temuan struktur bangunan 1 terbuat dari bata dengan orientasi Utara-Selatan.

Bahan yang digunakan untuk membuat struktur bangunan Situs Kesuben adalah bata berukuran rata-rata panjang 30 cm, lebar 22 cm, dan tebal 10 cm. Namun, terdapat juga bata dengan ukuran berbeda yang panjangnya berkisar 27-32 cm, lebar 20-22 cm, dan tebal 6-9 cm.

Ditemukan pula fragmen Kepala Kāla.Kotak ekskavasi tersebut berada di sebelah timur. Kāla adalah binatang mitologi yang digambarkan sangat seram, bermata bulat, mulut  menganga  sehingga  terlihat  taringnya  yang  besar.  Kāla  umumnya  ditempatkan  di atas  ambang  pintu  candi,  atau  di  atas  relung  candi. Penggambaran kāla biasanya dilengkapi dengan makara. Adanya penempatan kāla di atas ambang pintu candi menimbulkan dugaan bahwa  pintu  masuk  candi  berada  tidak  jauh  dari temuan kāla tersebut atau berada di sisi timur candi.

Di Candi Kesuben juga ditemukan sejumlah fragmen unsur bangunan yang terbuat dari terakota (tanah liat bakar) berhias. Fragmen unsur bangunan tersebut diidentifikasi sebagai fragmen kepala kāla dan antefiks.

Beberapa fragmen arca batu juga ditemukan berada di antara tumpukan bata-bata candi yang sengaja  diletakkan  bercampur dengan tumpukan bata candi yang difungsikan sebagai pagar pembatas pekarangan.

Bangunan candi tidak akan begitu saja ditempatkan pada sembarang tempat, namun penempatannya pasti mempunyai maksud tertentu. Dalam kitab Manasara, dijelaskan bahwa pendirian bangunan suci mempunyai syarat yaitu sebaiknya  didirikan  di dekat air (tirtha), seperti sungai, terutama di dekat pertemuan dua atau lebih  sungai, danau, dan laut. Jika tidak ada sungai, maka harus dibuat kolam buatan di halaman kuil, atau diletakkan suatu jambangan berisi air di dekat pintu masuk bangunan  suci  tersebut. Selain dekat dengan air, tempat yang baik untuk mendirikan kuil menurut Tantra Samuccaya adalah di puncak bukit, lereng gunung, hutan, dan lembah (Kramrich 1946:3-7; Santiko 1996: 141).

Fragmen Kepala Kāla

Kāla memiliki kedudukan yang penting pada suatu bangunan candi. Selain sebagai hiasan, kāla mempunyai fungsi sebagai penguat konstruksi dalam menyangga atap terutama yang terdapat di atas ambang pintu candi. Oleh sebab itu, kepala kāla dikategorikan dalam ragam hias arsitektural. Kāla, menurut Zoetmulder, adalah dewa maut dan penghancur, tetapi juga merupakan bentuk lain Dewa Rudra yaitu dewa perusak dalam bentuknya yang dahsyat; atau nama lain Dewa Śiwa dan kadang-kadang sebagai abdi Dewa Yama (Zoetmulder 1995:958). Kāla diciptakan oleh Dewa Śiwa. Menurut legenda Hindu, kepala kāla menggambarkan kepala raksasa bernama Rahu yang pada waktu memperebutkan air amŗta atau air kehidupan, Rahu sempat meminum amŗta tersebut, namun belum sempat tertelan, kepala Rahu ditebas dengan senjata oleh Dewa Indra. Akan tetapi karena amŗta tersebut telah menyentuh bagian mulutnya, maka kepala Rahu tetap hidup sepanjang masa, meskipun tanpa dagu bagian bawah. Selanjutnya dikatakan bahwa kāla juga merupakan lambang keabadian dan dilukiskan dari bentuk mutiara yang tergantung dari mulut bagian atas (Miksic 1996; Susanto 1998: 18). Kepala kāla pada candi-candi di Indonesia pada umumnya dipakai sebagai penghias ambang pintu, penghias relung candi bagian atas, pada pangkal pipi tangga, bahkan ada juga jaladwara dengan bentuk kepala kāla.



Kāla biasanya berpasangan dengan makara (hewan mitos gabungan antara gajah dan ikan [gajamina]. Kāla digambarkan tanpa rahang bawah (tidak berdagu) maupun dengan rahang, tergantung penempatannya. Kala digambarkan tidak mempunyai cakar atau mempunyai sepasang cakar dan mengesankan wajah seekor singa sebagai simbol wajah kemenangan (kirthttimukha).

Ada dua fragmen kepala kāla yang ditemukan di Candi Kesuben. Kāla 1 merupakan temuan permukaan di Candi Kesuben. Saat ini disimpan oleh Slamet Heryanto penduduk Desa Kesuben. Kāla tersebut memiliki mata yang digambarkan melotot, mulut tertutup distilir pada bibir bawah dan tidak memiliki taring, serta kedua pipi terkesan penuh. Selain itu terdapat urna di antara kedua mata, telinga yang distilir dan hiasan suluran di sekeliling kepala kāla yang memberi kesan raya. Fragmen kāla terbuat dari tanah liat dan belum dibakar.

Kāla 2 ditemukan di bagian tenggara Candi Kesuben dalam kotak ekskavasi di tengah runtuhan bata. Kāla tersebut ditemukan tidak utuh dan tampak sebagian mata sebelah kanan sampai tangan kanan sudah hilang, namun dari bagian yang tersisa tampak kāla digambarkan dalam bentuk demonis (menakutkan), mata melotot, mulut terbuka, dan gigi serta taring yang besar. Kāla memiliki rahang bawah dan sepasang tangan yang tersisa, yaitu hanya tangan kiri dengan 4 jari terbuka namun tanpa kuku yang tajam, selebihnya diberi hiasan sulur-suluran pada bagian bidang yang kosong sehingga tampak sangat  raya. Kāla 1 berukuran lebih kecil bila dibandingkan dengan kāla 2

Fragmen kepala kāla juga ditemukan di sebelah tenggara struktur bangunan 1 sisi timur yang ditemukan di antara puing-puing batu-bata. Kepala kāla terbuat dari batu-bata dalam kondisi sudah patah menjadi tiga bagian. Patahan tampak pada muka bagian kanan ke atas dan ke bawah mengikuti garis bagian kanan hidung dan membelok hingga ke tengah bagian mulut, terpisah dengan muka bagian kiri.Ciri fisik temuan kepala kāla yang tampak menonjol adalah mata melotot, hidung besar membulat, gigi bagian taring atas maupun bawah tampak runcing. Bibir tebal dilengkapi rahang atas dan bawah. Di samping bibir sisi kiri, terdapat tangan kiri yang sedang melambai.

Berdasarkan temuan fragmen kepala kāla yang berada di struktur 1 bagian timur, diduga arah hadap Candi Kesuben adalah ke timur. Mungkin masih terlalu dini untuk menduga bahwa berdasarkan temuan kāla tersebut pintu masuk berada di timur. Arah hadap ke timur merupakan arah hadap yang lazim dijumpai pada candi-candi yang berasal dari masa Matarām Kuno. Dugaan ini juga didasarkan oleh adanya aliran Sungai Gung yang berada pada 28,2 meter di sebelah timur situs Kesuben. Seperti diketahui, candi-candi pada umumnya didirikan di dekat sungai. Mungkinkah Situs Kesuben juga berlatarkan agama Hindu Śiwa juga, mengingat temuan di sepanjang pantai utara Jawa yaitu di Kabupaten Brebes, Batang, Kendal dan Pekalongan semuanya menunjukkan latar agama Hindu Śiwa? Asumsi ini memerlukan penelitian lebih mendalam terhadap Situs Kesuben.


Antefiks (Simbar)

Candi merupakan replika gunung suci Mahameru dihiasi dengan berbagai macam hiasan yang pola-polanya disesuaikan dengan alam pegunungan, misalnya bunga-bunga teratai, pohon-pohon kehidupan, binatang-binatang ajaib, bidadari-bidadari, dewa-dewi, dan sebagainya. Antefiks adalah bentuk hiasan candi yang terutama ditemukan pada bagian atap dan disebut juga simbar(Ayatrohaedi 1978:17). Selain di bagian atap, antefiks  juga ditemukan pada pelipit batur candi, bagian atas candi dan pada tingkatan-tingkatan atap candi. Pola hias antefiks cukup bervariasi, namun pada dasarnya merupakan kombinasi sulur, bunga, dan kumbha (bejana, guci).   Kadang-kadang bentuk kumbha diganti dengan bentuk segitiga, bulatan, atau lengkungan (Hardiati 2010:758). Keletakan antefiks menandai pergantian bagian kaki, tubuh, dan atap candi. Pola seni hias tumbuh-tumbuhan yang terdapat pada antefiks sering disamakan dengan daun simbar, dan pengertiannya banyak dihubungkan dengan dunia tumbuh-tumbuhan. Antefiks-antefiks tersebut   memperkuat asumsi bahwa candi adalah simbol Gunung Mahameru.




Ditinjau dari segi arsitektur, antefiks memiliki pola dasar segi tiga dan dihiasi pahatan dengan motif tumbuh-tumbuhan yang distilir. Motif tersebut mengurangi kesan kaku dan memperindah bangunan. Pola  seni  hias tumbuh-tumbuhan yang terdapat pada antefiks sering disamakan dengan daun simbar, dan dihubungkan dengan dunia tumbuh-tumbuhan (Soekmono 1978:50). Antefiks-antefiks tersebut memperkuat asumsi bahwa candi adalah simbol Gunung Mahameru (Kempers 1959:50). Berdasarkan bentuknya, antefiks di Candi Kesuben dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
  1. Berbentuk segitiga dengan satu lancipan – berupa antefiks sudut (antefiks 1).
  2. Tiga lancipan, dua lancipan di pinggir kecil-kecil, sedangkan lancipan di tengah besar (antefiks 2, 3, 4, 5).
  3. Lima lancipan, dua di pinggir kiri dan kanan berupa lancipan kecil-kecil dan satu lancipan di tengah besar (antefiks 6).
  4. Berbentuk 4 lengkungan – berupa antefiks sudut (antefiks 7).
Adapun ragam hias antefiks Kesuben adalah:
  1. Bagian tengah berhias empat lengkungan yang membentuk semacam buah pir, di sekelilingnya berupa sulur-suluran (antefiks1).
  2. Lengkungan dengan bagian atas membentuk angkolade, sedangkan bagian kiri dan kanan bawah menjuntai ke luar. Ragam hias ini biasa disebut kudu (antefiks 2).
  3. Umbi dan kumbha yaitu bentuk bulatan besar dan terdapat anak umbi yang berbentuk bulatan kecil di bagian bawah (antefiks 3).
  4. Hiasan bingkai cermin dikelilingi sulur-suluran (antefiks 4).
  5. Hiasan setangkai bunga dengan beberapa kuncup bunga di bagian atas (antefiks 5).
Teknik pembuatan unsur bangunan berupa bata berelief penghias candi yang ditemukan di Candi Kesuben, baik yang berbentuk antefiks maupun panel-panel berelief, tampaknya dibuat (dibentuk) dahulu sebelum dibakar. Hal ini dapat dilihat pada beberapa fragmen, baik antefiks maupun fragmen kāla, tampak goresan tajam yang mengeras akibat pembakaran.



Berdasarkan bentuknya antefiks-antefiks yang ditemukan di Candi Kesuben diduga merupakan antefiks yang dipasang di bagian tengah dan antefiks yang dipasang di sudut bangunan (antefiks sudut). Contoh antefiks sudut berhias suluran yaitu di tengahnya berbentuk umbi yang dibentuk oleh 4 lengkungan. Bentuk antefiks ini sangat mirip dengan antefiks sudut yang terdapat pada Candi Kimpulan Yogyakarta. Berdasarkan perbandingan dengan antefiks yang sama-sama terbuat dari terakota dari Candi Retno, Magelang, tampak keduanya mempunyai kemiripan terutama dalam hal ragam hias. Ragam hias antefiks dari Candi Retno berupa umbi, kudu, dan timang. Dilihat dari segi bentuknya, maka antefiks Candi Retno terlihat lebih indah jika dibandingkan dengan antefiks Candi Kesuben. Hal itu disebabkan oleh bentuknya yang lebih raya dan masih relatif utuh. Antefiks dari Candi Kesuben hiasannya sangat sederhana dan banyak yang sudah aus.



Melihat kesamaan motif ragam hias antefiks yang ditemukan di Candi Kesuben dengan antefiks pada candi-candi masa Matarām Kuno dapat diduga bahwa Candi Kesuben termasuk dalam kelompok candi masa Matarām Kuno (abad ke-8-10). Namun dugaan tersebut masih terburu-buru, karena beberapa ragam hias pada Candi  Batujaya (abad ke-6) juga mempunyai kemiripan dengan hiasan candi-candi dari masa Matarām Kuno. Oleh sebab itu, pertanggalan Candi Kesuben belum dapat ditentukan secara pasti.

Arca

Di samping antefiks-antefiks, di Situs Kesuben juga ditemukan fragmen arca yang terbuat dari batu pasir berupa fragmen telapak kaki kiri dan lengan atas yang memakai kelat bahu (keyūra). Sayangnya arca tersebut tidak dapat memberi informasi tentang tokoh yang diarcakan. Tidak jelas pula kedua fragmen arca tersebut berasal dari satu arca tokoh atau bukan meskipun keduanya terbuat dari bahan yang sama dan secara proporsional keduanya bisa saja berasal dari satu tokoh yang diarcakan. Dilihat dari ukuran telapak kaki arca yang memiliki lebar 7 cm, diduga arca  dari Candi Kesuben memiliki tinggi sekitar 50 cm. Dengan ukuran setinggi itu dan jika dibandingkan dengan besarnya bangunan maka diduga fragmen arca tersebut bukan   merupakan arca dewa utama, tetapi hanya arca pendukung saja.


Referensi

  1. Ayatrohaedi,     dkk.     1978.     Kamus     Istilah     Arkeologi.   Jakarta:   Proyek   Penelitian   Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah.
  2. Hardiati,    Endang    Sri.    2010.    “Sisa-sisa    Keindahan     Pola     Hias     Percandian     Bumiayu,   Sumatera   Selatan”,   dalam   Pentas Ilmu di Ranah Budaya Sembilan Windu     Prof. Dr. Edi  Sedyawati.Denpasar:  Pustaka  Larasan  dan  Tembi  Rumah Budaya, hlm. 753-770.
  3. Harkantiningsih,  Naniek  dkk,  1999. Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
  4. Kartoatmodjo, M.M. Soekarto. 1978. Laporan Penelitian Kabupaten Brebes. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
  5. Kempers, A.J. Bernet. 1959. Ancient Indonesian Art. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.
  6. Kramrisch, Stella. 1946. The Hindu Temple I. Calcutta: University of Calcutta.
  7. Meulen  SJ,  W.J.  van der  1988. Indonesia  di  Ambang Sejarah. Dalam Sutarjo Adisusilo JR (ed.). Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
  8. Munandar, Agus Aris. 1989. “Berbagai Bentuk Ragam Hias Pada Bangunan Hindu Buddha dan Awal Masuknya  Islam  di  Jawa”,  dalam Wacana. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, hlm. 49-69
  9. .----------. 2005. Istana Dewa Pulau Dewata Makna Puri Bali Abad ke-14-19. Depok: Komunitas Bambu.
  10. Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.
  11. Samingoen, Sampurno. 1983. “Tinjauan Seni Bangunan Purbakala”, dalam  Seminar Arkeologi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, hlm. 11-34.
  12. Santiko, Hariani. 1996. “Seni Bangunan Sakral Masa Hindu-Buddha  di Indonesia (Abad VIII-XV  M) Analisis  Arsitektur dan Makna Simbolik”, dalam Jurnal Arkeologi Indonesia No.2. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, hlm.136-156.
  13. ----------. 2014. “Candi Borobudur Ditemukan Kembali”. Dalam Marsis Sutopo (ed.), 200 Tahun Penemuan Candi Borobudur.Magelang: Balai Konservasi Borobudur, hlm.18-23.
  14. Satari, Sri Soejatmi. 1973. Laporan Penelitian Pantai Utara Jawa Tengah.Laporan Hasil Penelitian. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
  15. Soekmono, R. 1973. Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid 2.Yogyakarta: Kanisius
  16. ----------. 1978. Candi Borobudur Pusaka Budaya Umat Manusia. Jakarta: Pustaka Jaya.
  17. Susanto, R.M.  1998/1999. “Beberapa Bentuk Penjaga Candi”, dalam Berkala Arkeologi Sangkhakala No III. Medan: Balai Arkeologi Medan, hlm. 15–28.
  18. Susetyo, Sukawati, dkk. 2010. Awal Peradaban Hindu-Buddha di Jawa Tengah: Penelitian Arkeologi di Situs Pedagangan dan Sekitarnya, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa tengah. Laporan Peneltian. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.
  19. Susetyo, Sukawati, dkk. 2011. Pola Hias Pada Arsitektur Candi Prambanan dan Sekitarnya. Laporan Peneltian. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.
  20. Tim Penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. 2005. Perkembangan Hindu-Buddha di Jawa Tengah Abad ke-8-9 M: Studi Kasus Candi Kedulan. Laporan Penelitian. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.
  21. Tim Penelitian  Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. 2012. Penelitian Pengaruh Kebudayaan India di Daerah Sekitar Borobudur, Kabupaten Magelang. Laporan Penelitan.Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.
  22. Tim Penelitian Pusat Arkeologi Nasional. 2014. Penelitian Awal Sejarah di Pantai Utara Jawa  Tengah  di  Kabupaten  Semarang  dan  Kabupaten  Batang,  Provinsi  Jawa  Tengah.   Laporan Penelitian. Jakarta: Pusat Arkeologi Nasional.
  23. Tjahjono, Baskoro Daru dan Harry Widianto. 2007. Pemanfaatan dan Evaluasi Pelaksanaan Program Pengembangan Budaya (Situs Semedo dan Candi Bulus). Laporan Penelitian. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal.
  24. Yusuf, Yusirozi. 1994. Bentuk-Bentuk Antefiks dan Sistem Penempatannya pada Kaki Candi Gugusan Prambanan.  Skripsi. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
  25. Zoetmulder, P.J. dan S.O. Robson. 1995. Kamus Jawa Kuno Indonesia I (A-O). Penerjemah  Darusuprapto dan Sumarti Suprayitna. Jakarta: Gramedia.


Baca Juga

Sponsor