Cari

Misteri Lambang Kerajaan Pajajaran dan Analisis Mendalam

Ilustrasi

Oleh Alam Wangsa Ungkara - Kerajaan Pajajaran, sebagai salah satu kerajaan besar di tanah Pasundan yang berdiri antara abad ke-10 hingga akhir abad ke-16, dikenal dengan warisan budayanya yang kaya. Berpusat di Pakuan (kini Bogor), kerajaan ini meninggalkan jejak sejarah yang hingga kini masih menyimpan misteri, terutama terkait lambang resminya. Dua opsi lambang yang sering dibahas adalah Harimau Putih dan Kujang Congkrang Papasangan. Artikel ini akan menelusuri sejarah kedua simbol tersebut, mengungkap misteri di baliknya, serta menyajikan analisis mendalam tentang makna dan relevansinya, dengan tambahan opsi Kujang Congkrang Papasangan sebagai alternatif lambang Kerajaan Pajajaran.

Asal-Usul Lambang Harimau Putih

Harimau Putih kerap diasosiasikan dengan Kerajaan Pajajaran melalui tradisi lisan dan naskah seperti Carita Parahyangan. Simbol ini erat kaitannya dengan Prabu Siliwangi, raja legendaris Pajajaran (1482–1521), yang konon memiliki kekuatan gaib dan mampu berwujud harimau putih. Warna putih dalam budaya Sunda melambangkan kesucian dan kebijaksanaan, menjadikan Harimau Putih sebagai simbol kekuasaan yang tidak hanya fisik, tetapi juga spiritual. Namun, ketiadaan bukti arkeologis seperti prasasti atau relief yang menggambarkan Harimau Putih sebagai lambang resmi menimbulkan pertanyaan tentang keabsahannya.

Opsi Alternatif: Kujang Congkrang Papasangan

Selain Harimau Putih, ada pandangan bahwa lambang Kerajaan Pajajaran sebenarnya adalah Kujang Congkrang Papasangan, sebuah senjata tradisional Sunda yang memiliki bentuk khas dengan dua bilah melengkung yang saling berpasangan. Kujang, yang dikenal sebagai senjata pusaka masyarakat Sunda, memiliki nilai simbolis yang mendalam. Dalam tradisi, kujang tidak hanya alat perang, tetapi juga representasi kekuatan, kebijaksanaan, dan identitas budaya.

Kujang Congkrang Papasangan secara spesifik merujuk pada desain kujang dengan dua bilah yang simetris, yang konon melambangkan dua kekuatan utama Pajajaran: Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda. Menurut beberapa sumber lisan, Prabu Siliwangi sendiri menciptakan kujang ini sebagai simbol persatuan setelah menyatukan kedua wilayah tersebut. Bentuknya yang elegan namun mematikan mencerminkan karakter Pajajaran: kuat, harmonis, dan penuh makna filosofis.

Berbeda dengan Harimau Putih yang lebih bersifat mitologis, Kujang Congkrang Papasangan memiliki jejak fisik yang lebih nyata. Banyak artefak kujang ditemukan di situs-situs arkeologi di Jawa Barat, meskipun belum ada yang secara pasti dikaitkan dengan masa Pajajaran. Namun, keberadaan kujang sebagai simbol budaya Sunda yang bertahan hingga kini—termasuk dalam lambang Provinsi Jawa Barat—memperkuat argumen bahwa senjata ini mungkin lebih dari sekadar alat, tetapi juga lambang resmi kerajaan.

Misteri di Balik Lambang

Misteri lambang Pajajaran terletak pada minimnya dokumentasi kontemporer. Harimau Putih, meskipun populer dalam cerita rakyat, tidak memiliki bukti material yang kuat, seperti ukiran atau prasasti dari masa Pakuan. Sebaliknya, Kujang Congkrang Papasangan menawarkan alternatif yang lebih tangible karena jejak kujang sebagai artefak budaya Sunda. Namun, pertanyaan tetap muncul: apakah kujang ini benar-benar lambang resmi, atau hanya senjata simbolis yang dikaitkan dengan kerajaan setelah runtuh pada 1579 akibat serangan Kesultanan Banten?

Kisah tentang Prabu Siliwangi yang menghilang bersama pasukan harimau putihnya ke Gunung Salak sering dikaitkan dengan Harimau Putih, sementara Kujang Congkrang Papasangan lebih banyak muncul dalam narasi tentang penciptaan dan persatuan. Keduanya mungkin saling melengkapi: Harimau Putih sebagai simbol spiritual dan Kujang sebagai lambang kekuasaan duniawi.


Analisis Mendalam: Makna Filosofis dan Konteks Historis

  1. Makna Filosofis
    • Harimau Putih: Melambangkan kekuatan transenden dan legitimasi ilahi seorang raja dalam tradisi Hindu-Buddha. Warna putih menegaskan hubungan dengan dunia spiritual, mencerminkan harmoni kosmologi Sunda antara manusia, alam, dan Tuhan.

    • Kujang Congkrang Papasangan: Menggambarkan dualitas dan keseimbangan, seperti yin-yang dalam filsafat Timur. Dua bilahnya bisa diartikan sebagai persatuan kekuatan laki-laki dan perempuan, atau Galuh dan Sunda, yang menjadi fondasi Pajajaran. Kujang juga diasosiasikan dengan "kujang ciung," burung mitologis yang melambangkan kebebasan dan kebijaksanaan.

  2. Konteks Historis
    Dalam persaingan politik dengan Majapahit, Demak, dan Banten, Pajajaran membutuhkan simbol yang kuat untuk menegaskan kedaulatannya. Harimau Putih mungkin dipilih untuk menonjolkan kekuatan gaib dan keunikan budaya Sunda, sementara Kujang Congkrang Papasangan bisa jadi lambang praktis yang digunakan dalam administrasi atau militer. Keruntuhan Pajajaran dan dominasi Islam di Banten mungkin menyebabkan Harimau Putih lebih dikenang sebagai mitos, sedangkan kujang bertahan sebagai simbol budaya yang lebih konkrit.

  3. Interpretasi Modern
    Harimau Putih hidup dalam folklor dan seni Sunda, sementara Kujang Congkrang Papasangan diabadikan dalam lambang resmi Jawa Barat dan monumen seperti Tugu Kujang di Bogor. Keduanya mencerminkan nostalgia akan kejayaan Pajajaran, tetapi kujang memiliki keunggulan sebagai simbol yang lebih terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Kritik terhadap Narasi Dominan

Narasi tentang Harimau Putih sering dianggap terlalu mitologis dan kurang didukung bukti arkeologis, mungkin sebagai konstruksi pasca-Pajajaran untuk mengagungkan Prabu Siliwangi. Sebaliknya, Kujang Congkrang Papasangan, meskipun lebih nyata sebagai artefak, belum terbukti secara pasti sebagai lambang resmi karena ketiadaan dokumen tertulis dari masa itu. Naskah seperti Sanghyang Siksakanda ng Karesian tidak menyebut keduanya secara eksplisit, meninggalkan ruang untuk spekulasi bahwa lambang Pajajaran mungkin lebih sederhana atau bahkan tidak terdokumentasi dengan baik.


Kesimpulan

Lambang Kerajaan Pajajaran—apakah Harimau Putih atau Kujang Congkrang Papasangan—menyimpan misteri yang mencerminkan kekayaan sejarah dan budaya Sunda. Harimau Putih menawarkan dimensi spiritual dan mitologis, sementara Kujang Congkrang Papasangan memberikan simbolisme praktis dan historis yang lebih terjangkau. Keduanya mungkin berfungsi dalam konteks berbeda: satu sebagai lambang gaib, lainnya sebagai representasi duniawi. Hingga bukti baru ditemukan, misteri ini tetap menjadi bagian dari pesona Pajajaran yang terus menginspirasi kajian dan imajinasi.


Daftar Referensi

  1. Ekadjati, Edi S. Sejarah Sunda: Dari Masa Pajajaran hingga Modern. Bandung: Pustaka Jaya, 2005.
  2. Lubis, Nina Herlina. Kerajaan Sunda dalam Konstelasi Politik. Bandung: Universitas Padjadjaran Press, 2021.
  3. Naskah Carita Parahyangan. Terjemahan dan analisis oleh Saleh Danasasmita, 1983.
  4. Pires, Tomé. The Suma Oriental of Tomé Pires: An Account of the East. Terjemahan oleh Armando Cortesão, 1944.
  5. Rouffaer, G.P. Encyclopedie van Niederlandsch Indie. Edisi Stibbe, 1919.
  6. Sumarlina, Elis Suryani Nani. "Raja-Raja Sunda Periode Kerajaan Pajajaran Berdasarkan Tradisi Tulis Sunda Kuno." Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora, Vol. 5, No. 2, 2023.
  7. Ten Dam, H. Verkenningen Rondom Padjadjaran. 1957.

Sponsor