Cari

Candi Lingga Yoni, Tempat Beribadat Era Hindu di Kota Tasikmalaya




[Historiana] - Siapa sangka di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat terdapat sebuah candi yang kalau dipugar akan menjadi ikon baru peradaban di Kota Tasikmalaya.

Candi yang dimaksud adalah Lingga Yoni. Menurut penelitian Balai Arkeologi Bandung (BAB), situs purbakala ini sudah ada sejak 2.500 tahun sebelum Masehi. Balai Arkeologi pun melakukan ekskavasi tahun 2012 untuk memastikan kapan tahun pembuatan dengan mengumpulkan puing bebatuan serta bekas abu pembakaran yang tertimbun pasir pegunungan.

Keberadaan bangunan suci di Jawa Barat erat kaitannya dengan perkembangan religi di daerah  tersebut. Pada awalnya religi yang berkembang adalah Hindu. Selanjutnya  berkembang pula agama Buddha. Dalam perkembangan selanjutnya agama  Hindu dan Buddha tersebut bercampur dengan unsur kepercayaan asli atau kepercayaan kepada nenek moyang (Hardiati, 2009, hal.409-410). Pada  masa akhir ini bangunan suci lebih dikenal dengan nama kabuyutan.
Ayeuna mah jadi wilayah kacamatan di Kota Tasik. Tapi ngaran Indihiang sabenerna geus dipiwanoh ti abad ka 7 keneh, nyokot tina ngaran kuil Hindu nu harita dingaranan Pura Wisnu Indi Hyang. Dina abad 7 masarakat di Tasikrnalaya harita ngagem Agama Hindu, nu di sembahna Dewa Wisnu jeung Dewa Gandi. Dewa Gandi diwujudkeun dina arca lalaki kasep dibarengan ku gajah.

Nu ngaragem Hindu teh dina taun 608 Masehi ngadegkeun pura nu dingaranan Wisnu Indi Hyang. Indi Hyang nga harti Sanghyang Tunggal atawa Dewa Batara Tunggal. Sakur anu rek asup ka eta wewengkon, kudu ngaliwalan lawang saketeng pura. Di dinya disucikeun heula ku pandita Hindu. Harita anu ngapalaanana katelahna Pandita Anuhir Divata. Bareto di hareupeun pura aya prasasti anu ngaberendel aksara palawa. ngagunakeun basa Sangsekerta. anu unina kieu: Sarawistaka sami asih, sumandipata Dewa Hyang Ku, Wisnu nan Dewa Hyang Ku Ghandhi.

Ngeunaan lingga-yoni di Situs Cikabuyutan tea, Duddy netelakeun cenah bisa jadi eta artevak teh aya hubunganana jeung Karajaan Galunggung nu ngagem agama Hindu. Hal ieu teh mun seug diloyogkeun kana ayana folklor nu hirup di masarakat Indihiangna sorangan.

Kapan lndihiang teh ceuk kolot baheula mah asal kecapna tina Hindu Ngahiang. nyae ta agama Hindu tilem, datang Islam. Tapi ieu ge ukur dongeng kolot, nu masih keneh perelu ditaliti bener henteuna.

- IndonesiaHeritage.org Majalah Sasakala Ujung Galuh
(VOL.10_2015) Edisi 11#2009 -
Nama Dewa Wisnu disebut oleh warga menjadi menarik. Adanya Lingga adalah lambah Dewa Siwa dan Yoni adalah sakti (istrinya) Siwa yaitu Dewi Parwati. Kemudian adanya Dewa Hyang Ghandi lebih menarik lagi. Istilah yang jarang kita dengan. Penulis telusuri, ada kata Ghandi dalam bahasa Jawa yang berasal dari bahasa Sansekerta artinya "Anak laki-laki yang berilmu" Gambaran warga pengurus situs Indihiang menyebutkan bahwa Dewa Gandi dalam wujud "arca anak laki-laki yang ganteng ditemani oleh gajah". Apakah Dewa Gandi sama dengan Dewa Ghana (Ganesha)?

Menurut Pengurus Situs Indihiang, Batu Lingga-Yoni sempat hilang di tahun 1975. Saat itu dari Dinas Kebudayaan Kecamatan Indihiang menelusuri keberadaannya. Ternyata sempat diambil oleh seorang guru SD dan muridnya. Alasannya ia mimpi bakal mendapat rizki besar dari Situs Lingga-Yoni Indihiang. Akhirnya pelaku datang dan menurunkan Lingga-Yoni dengan cara di gelutukin dari atas bukit itu ke bawah ke sungai Ciloseh. Kalau Yoni dipisahkan dan dibawa ke Leuwihieum. Baru setahun kemudian yakni 1976 Yoni ditemukan menjadi bagian tanggul sebuah kolam.

Setelah diketemukan kembali, Yoni diambil dan dikembalikan lagi ke posisi semulan. Tak ayal, setelah ditemukan kembali. Tulisan yang berada pada sisi Yoni tergerus dan rusak.

Suhendi menjelaskan bahwa di bagian selatan bukit candi Indihiang ada Cikahuripan. Hanya sekarang mata airnya sudah tidak terlihat karena tertutup pematang sawah.
---------------------------------------------------

Agus Aris Munandar, dosen sekaligus Guru Besar di Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia menuturkan, lingga Yoni merupakan perlambang pemujaan Hindu Saiwa di Tasikmalaya pada masa silam. "Lingga lambangnya Siwa Mahadewa dan Yoni lambang energinya (kesaktiannya) lalu dianggap isterinyan Dewi Parwati," kata Agus saat dihubungi. Bila keduanya dihubungkan, tuturnya, bakal melahirkan kesuburan.

Agus merekontruksi pula keberadaan situs Gunung Kabuyutan. Dia berpendapat, ada komunitas pemeluk Hindu Saiwa di kawasan Indihiang di masa silam. Konsep kepercayaan komunitas tersebut merupakan perpaduan dengan pemujaan arwah leluhur.

Lingga Yoni pun merupakan bentuk pemujaan atas kesuburan lahan di kawasan tersebut. Agus menduga, kawasan situs bisa jadi merupakan peninggalan sebuah kabuyutan. Kabuyutan adalah tempat yang disucikan dan menjadi pusaka masyarakat. Letak situs yang berada di puncak bukit  dan dekat tepi Sungai Ciloseh memperkuat dugaan itu. Dalam keyakinan masyarakat tempo dulu, tempat yang lebih tinggi dan aliran sungai merupakan tempat bersemayamnya dewa-dewa. Tak pelak, lokasi itu ideal menjadi tempat pemujaan.

Agus menilai, pemerintah harus segera turun tangan dengan melakukan inventarisasi, survey permukaan. Survey permukaan bisa dilakukan dengan menggandeng Balai Arkeologi Bandung atau Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Serang. Ia memperkirakan, masih ada tinggalan kepurbakalaan lain seperti seperti arca-arca dewa Hindu serta reruntuhan candi sederhana. Untuk jangka panjang, Pemkot Tasikmalaya perlu merekonstruksi dan memanfaatkan tinggalan budayanya menjadi lebih fungsional.

"Fungsional artinya dapat menjadi kebanggaan (terkait) riwayat daerah di masa silam. Tasik punya akar sejarah yang panjang, dapat menjadi tujuan wisata budaya," kata Agus.

Kabupaten Tasikmalaya tercatat memiliki banyak tinggalan arkeologis. Di Tasikmalaya tinggalan yang berasal dari masa prasejarah diantaranya terdapat di daerah Cineam dan Karangnunggal. Di Kawasan Cineam terdapat jejak aktivitas perbengkelan beliung persegi dari masa neolitik. Situs-situs neolitik di kawasan Cineam tersebut berada di aliran Ci Goang dan Ci Riri (Laili, 2015, hal. 106). Selain di Cineam tinggalan   yang berasal dari masa neolitik juga ditemukan di kawasan Karangnunggal. Situs-situs tersebut berada di aliran Ci Langla dengan anak-anak sungainya (Laili, 2016, hal.100). Tinggalan arkeologis juga ditemukan di  Situs Bumi Rongsok. Di situs tersebut terdapat lumpang batu, kubur batu, dan makam Islam (Prijono, 2015, hal.113-116). N.J. Krom dalam Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie 1914 Inventaris der Hindoe-oudheden telah mencatat adanya beberapa tinggalan arkeologis di Kabupaten Tasikmalaya yang berasal dari masa pengaruh Hindu-Buddha.

Tinggalan-tinggalan arkeologis yang berupa temuan lepas sekarang tersimpan di Museum Nasional. Tinggalan-tinggalan tersebut adalah beberapa benda dari emas dan logam lainnya berupa anting-anting emas berbentuk   sapi dan sebuah hulu berbentuk naga yang berasal dari daerah Legok; dua gelang kaki berbahan perunggu dari   Kampung Cimonyet, Tenjomaya, Ciawi; dua gelang kaki berbahan perunggu yang berasal dari Kampung Lengkong,  Cibahayu, Indihiang; dua cincin emas, peluru kaca, dua peluru batu, mata uang berbentuk bundar dan persegi yang ditemukan di dalam periuk kecil dari kaca berwarna hijau yang berasal dari Cipaku, Singaparna; arca Wisnu dalam posisi duduk yang ditemukan di Taraju; sebuah prasasti batu dan beberapa arca kecil yang berasal dari punggung gunung Geger Hanjuang daerah Linggawangi, Singaparna. Selain itu juga terdapat dua arca batu  polinesis dari Gunung Galunggung (Krom, 1915, hal.73-78).



Diambil kesimpulan bahwa situs Lingga Yoni berupa tempat penyucian diri dalam mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Bukit setinggi 20 meteran merupakan bebatuan berbentuk candi punden berundak yang sekarang menjadi bukit karena tertutup letusan Gunung Galunggung.

Situs Lingga Yoni ini terletak di atas bukit yang disebut 'Bukit Kabuyutan'. Untuk sampai ke sana tidaklah sulit karena berada di pinggir perkotaan daerah Indihiang atau dekat Terminal Bus Kota Tasikmalaya.

Dalam penelitian Balai Arkeologi Bandung itu menyaksikan penggalian sedalam satu meteran. Ditemukan berbagai benda peninggalan seperti lempengan candi dan gerabah bekas peribadatan. Di setiap sudut terdapat batu bersusun yang diduga ujung bangunan teratas dengan di bawah perbukitan terdapat bekas pemandian yang kini telah tertutup tanah dan sebagian tanah menjadi persawahan.

Ketua Tim Peneliti Endang Widyastuti mengatakan bahwa situs Lingga Yoni sangat berharga bagi warga Kota Tasikmalaya. Sebab, hanya terdata di Tasikmalaya yang berguna bagi peradaban sejarah Tasikmalaya. Lingga Yoni, kata Endang, dipastikan adalah situs peribadatan di era Hindu, bahkan sebelum Hindu masuk ke Nusantara.

Situs Indihiang berada di puncak Bukit Kabuyutan. Akses ke situs bera-da sekitar 500 m di sebelah selatan pintu gerbang perusahaan penambang pasir PT. Trimukti Pratama Putra. Vegetasi di seki-tar situs ditumbuhi pohon kelapa (Cocos nucifera), bambu (Bambusa sp.), kopi (coffea), nangka (Arthocarpus hetero-phylla), dan salak (salacca sp.). Tinggalan arkeologis yang terdapat di puncak bukit kabuyutan ini berada pada lahan datar ber-bentuk bujur sangkar dengan ukuran 7,30 x 7,20 m dengan ketinggian ± 420 m di atas permukaaan laut.  Sekarang di situs ini sudah dilakukan pemagaran oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten serta pemasangan  papan nama oleh Balai Pengelolaaan Kepurbakalaan, Kesejarahan, dan Nilai Tradisional Propinsi Jawa Barat. Di  lokasi situs terdapat batu datar, menhir, batu bulat serta lingga dan yoni (Widyastuti, 2005). Berdasarkan  analisis pertanggalan yang sudah dilakukan Situs Indihiang diketahui bahwa situs tersebut berasal dari sekitar abad 7 M.



Data yang digunakan dalam tulisan ini berasal dari hasil ekskavasi tahun 2012 dan 2013. Berdasarkan hasil  ekskavasi tahun 2012 telah diperoleh data mengenai ukuran bangunan. Dalam ekskavasi yang dilakukan di empat   titik bagian sudut lahan ditemukan keempat sudut bangunan. Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa ukuran bangunan adalah 7 m x 7,30 m.

Galunggung, Salah Satu Pusat Spiritual Sunda

Kawasan Tasikmalaya mempunyai sejarah budaya sejak masa prasejarah hingga masa kolonial. Salah satu sumber sejarah yang menyebut mengenai daerah Tasikmalaya adalah naskah Amanat Galunggung. Naskah ini menggunakan   bahasa Sunda kuna dengan aksara Sunda dan merupakan nasihat Rakeyan Darmasiksa (penguasa di Saunggalah) kepada puteranya yang bernama Sang Lumahing Taman beserta seluruh keturunannya.

Wilayah Saunggalah termasuk daerah Galunggung di selatan Tasikmalaya (Danasasmita, 1987, hal.8). Naskah Amanat Galunggung telah dikaji oleh Saleh Danasasmita (1987), yang dikompilasikan dalam “Sewaka Darma,  Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung”. Naskah “Amanat Galunggung” berisi ajaran moral, antara  lain disebutkan bahwa kabuyutan harus dipertahankan. Raja yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan di wilayah kekuasaannya lebih hina daripada kulit musang yang tercampak di tempat sampah (Danasasmita, 1987, hal.125-126).

Dengan demikian, dalam tata politik pada masa itu, pusat-pusat kegiatan intelektual dan keagamaan memiliki kedudukan yang sangat penting. Kabuyutan tampaknya menjadi salah satu pilar yang menopang integritas negara sehingga tempat itu dilindungi oleh raja, bahkan dianggap sakral.

Catatan sejarah wilayah Galunggung dimulai pada abad ke XII. Di kawasan ini terdapat suatu Rajyamandala (kerajaan bawahan) Galunggung yang berpusat di Rumantak, yang sekarang masuk dalam wilayah Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Galunggung merupakan salah satu pusat spiritual kerajaan Sunda pra Pajajaran, dengan tokoh pimpinannya Batari Hyang pada abad ke-XII. Saat pengaruh Islam menguat, pusat tersebut pindah ke daerah Pamijahan dengan Syeikh Abdul Muhyi (abad ke XVII) sebagai tokoh ulama panutan. Sumber prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di sana menyebutkan bahwa pada tahun 1033 Saka atau 1111 Masehi, Batari Hyang membuat susuk/ parit pertahanan. Peristiwa nyusuk atau pembuatan parit ini berarti menandai adanya penobatan kekuasaan baru di sana (di wilayah Galunggung). Sementara naskah Sunda kuno lain adalah Amanat Galunggung yang merupakan kumpulan naskah yang ditemukan di kabuyutan Ciburuy, Garut Selatan berisi petuah–petuah yang disampaikan oleh Rakyan Darmasiksa, penguasa Galunggung pada masa itu kepada anaknya.

Sementara Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik, seorang resi Hindu dari Kerajaan Sunda, Pakuan Pajajaran yang telah  melakukan dua kali perjalanan dari Pakuan Pajajaran ke Jawa sempat menuliskan Galunggung dalam catatan perjalanannya. Namun demikian tak banyak informasi mengenai Galunggung yang didapat dari naskah ini.
Sadatang ka Saung Galah, sadiri aing ti inya, Saung Galah kaleu(m)pangan, kapungkur Gunung Galunggung, katukang na Panggarangan,ngalalar na Pada Beunghar, katukang na Pamipiran.
(Sesampai di Saung Galah berangkatlah aku dari sana ditelusuri Saung Galah, Gunung Galunggung di belakang saya, melewati Panggarangan, melalui Pada Beunghar, Pamipiran ada di belakangku.)


Latusan Dahsyat Galunggung

Menurut catatan sejarah Gunung Galunggung telah meletus sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1822, 1894, 1918 dan dalam kurun waktu tahun 1982-1983. Johannes Olivier Jz dalam bukunya menyebutkankan bahwa sebelum tahun 1822,  tidak ditemukan data tertulis ataupun sumber lisan tentang letusan Gunung Galunggung di masa lampau, baik yang berasal dari sumber asing maupun sumber lokal masyarakat setempat. Naskah-naskah Sunda kuno pun tidak ada yang secara explisit menceritakan mengenai letusan Galunggung di masa silam.

Letusan pertama Gunung Galunggung terjadi pada tanggal 8 Oktober 1822 antara jam 13.00 hingga 16.00 WIB, dan disertai beberapa aktivitas vulkanik dan letusan yang tercatat berlangsung hingga tanggal 12 Oktober 1822. Menurut buku Johannes Olivier Jz, “Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indie” terbit tahun 1836, sebelum letusan terjadi, sekitar bulan Juli 1822, warga yang berada di sekitar aliran sungai Cikunir, yang berhulu pada Gunung Galunggung, merasakan keanehan yang terjadi pada air sungai. Air Sungai berubah menjadi keruh, tercium bau belerang dan air terasa sedikit pahit. Selain itu warga yang menyeberangi sungai menemukan bekas buih putih pada kaki mereka. Tak lama kemudian kepala Distrik Singaparna segera melakukan penyelidikan. Utusan kepala distrik memeriksa dan mengikuti aliran sungai menuju hulu pada kolam air terjun Bamboelan, di sana mereka menemukan air di kolam tersebut sangat keruh dan hangat. Beberapa waktu kemudian air sungai menjadi kembali jernih namun bau belerang masih tetap ada. Berselang tiga bulan kemudian pada 8 oktober 1822 tanpa ada tanda-tanda di langit, meletuslah sang Galunggung dengan dahsyatnya. Bumi bergetar. Langit bergemuruh. Tanpa peringatan apa-apa Galunggung langsung memuntahkan abu, pasir dan material vulkanik lainnya membumbung tinggi ke angkasa.

Letusan Galunggung pada tahun 1822 ini tercatat sebagai salah satu letusan gunung api yang paling mematikan di dunia karena memakan banyak korban jiwa. Olivier menjabarkan, Di Distrikt Radjapolla (Rajapolah) terdapat 9 kampung yang musnah akibat lumpur panas namun hanya 9 orang tewas, sementara Distrikt Indihiang merupakan kawasan terparah, sekitar 45 kampung tertimbun lumpur, 1100 orang tewas. Di Tassik-malayoe (Tasikmalaya) 14 kampung musnah, 900 orang tewas, sementara di distrikt Singaparna 35 kampung musnah dan 1500 orang menjadi korban. Sementara dalam buku Franz Wilhelm Junghuhn (“Java; Deszelfs Gedaante, Bekleeding en Inwendige Structuur”, Amsterdam, 1853, hlm 143) menyebutkan setelah penelitian resmi yang dilakukan pemerintah (Hindia Belanda) tahun ditetapkan jumlah korban sebanyak 4011 jiwa dan 114 desa musnah. Resident der Pranger Regentschap pada masa itu, Baron R. Van Der Capellen, segera turun tangan setelah mendengar kabar meletusnya Galunggung. Bersama seorang dokter yang bernama Bruininga menolong para pengungsi dan korban letusan Galunggung. Karena besarnya letusan maka Olivier menyebutnya sebagai “Letusan gunung terbesar yang akan terus ada dalam ingatan orang-orang di Pulau Jawa”

Catatan terakhir letusan Gunung Galunggung terjadi pada tanggal 5 April 1982. Letusan disertai dengan suara dentuman dan gemuruh, pijaran api, dan kilatan petir halilintar. Kegiatan letusan terakhir ini berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983. Letusan terakhirnya bertipe vulcanian vertical (seperti letusan cendawan bom atom), yang semburannya mencapai 20 kilometer ke angkasa. Letusan tersebut juga diikuti dengan semburan piroclastic (debu halus) yang menghujani Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Bandung, dan kota-kota lain yang berada dalam radius sekitar 100 kilometer dari Gunung Galunggung, termasuk juga hingga ke Jakarta.

Letusan Galunggung yang hebat, sanggup melontarkan debu vulkaniknya hingga membumbung tinggi ke angkasa. Pada 24 Juni 1982 sekitar pukul 20:40, sebuah pesawat boeing 747-236B dengan kode penerbangan G-BDXH milik maskapai penerbangan British Airways Flight 9 dengan 263 penumpang mengalami kerusakan pada ke-empat mesinnya saat melintas di atas samudera hindia sekitar sebelah selatan Pulau Jawa. Pesawat berangkat dari Bandara Heatrow London menuju Auckland Selandia Baru, dengan rute transit Bombay, Madras, Kuala Lumpur, Perth, Melbourne dan Auckland.

Pesawat bertolak dari bandara Sultan Abdul Aziz Shah, Kuala Lumpur, menuju Perth Australia, terbang melintasi Samudera Hindia dengan ketinggian sekitar 37000 kaki (sekitar 11 km) tanpa disadari pesawat terbang masuk ke dalam awan debu vulkanik yang dilontarkan oleh letusan Gunung Galunggung. Debu vulkanik tersebut menyebabkan keempat mesin pesawat mati hingga akhirnya pesawat mengalihkan rutenya menuju Jakarta, namun dapat mendarat darurat dengan aman.

Kedahsyatan letusan Galunggung di masa lalu telah banyak memakan korban harta dan jiwa. Namun demikian selang beberapa waktu setelah letusan, Galunggung memberikan kehidupan kembali bagi tumbuhan dan orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Letusan Galunggung memuntahkan jutaan meter kubik lumpur dan pasir vulkanik ke kawasan Tasikmalaya dan sekitarnya, menjadikan kawasan ini subur. Muntahan lahar dingin mengalir mengikuti alur sungai. Aliran sungai dan saluran irigasi yang tertutup lumpur. Sehingga dibangun sebuah check dam (kantong lahar dingin) di daerah Sinagar sebagai tanggul pengaman limpahan banjir lahar dingin ke kawasan Kota Tasikmalaya. Tumpahan material lahar dingin berupa pasir vulkanik dimanfaatkan menjadi tambang pasir selain untuk meminimalkan bahaya banjir lahar dingin. Pasir Galunggung memiliki kualitas yang baik untuk digunakan sebagai bahan material bangunan maupun konstruksi jalan raya. Seiring dengan perkembangan usaha tambang pasir Galunggung, dahulu sempat dibangun jalur khusus jaringan rel Kereta Api menuju ke Stasiun Pirusa sukaratu check dam sinagar sebagai untuk mengangkut pasir dari Gunung Galungung ke Jakarta. Jalur ini ditutup pada tahun 1995.


Referensi

  1. Hardiati, E. S. (2009). Zaman Kuno. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.
  2. Iskandar, Y. (1997). Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa). Bandung: Geger Sunten.
  3. Krom, N. (1915). Rapporten van de Oudheidkundigen Dienst In Nederlandsch-Indie (ROD) 1914 Inventaris  der  Hindoe-oudheden.  Uitgegeven  door  het  Bataviasch  Genootschap  van  Kunsten en Wetenschappen. Batavia: Albrech & Co. 
  4. Laili, N.(2015). Pola Keletakan Situs-Situs Neolitik di Kawasan Cineam, Tasikmalaya. Purbawidya 4(2), 97-108.
  5. Laili, N.(2016). Penempatan Situs-Situs Neolitik di Kawasan Karangnunggal, Tasikmalaya, Jawa Barat. Purbawidya 5 (2), 89-100.
  6. Munandar, A. A. (1993/1994). Bangunan Suci Pada Masa Kerajaan Sunda: Data Arkeologi dan Sumber Tertulis. Pertemuan Ilmiah Arkeologi VI (hal. 135-178). Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
  7. Noorduyn, J., & Teeuw, A. (2009). Tiga Pesona Sunda Kuna. Jakarta: Pustaka Jaya.
  8. Penelitian, T. (2012). Potensi Tinggalan Arkeologi di Kota Tasikmalaya. Bandung: Balai Arkeologi Bandung. 
  9. Portal Resmi Kota  Tasikmalaya. (2013, September 03). Retrieved Maret 11, 2017, from  www.tasikmalayakota.go.id: Diakses 13 Maret 2020.
  10. Prijono, S. (2015). Aspek Adaptasi dan Akulturasi Budaya di Situs Bumi Rongsok, Tasikmalaya. Purbawidya 4 (2), 109 - 123.
  11. Saptono, N. (2003). Rekontemplasi Arkeologi Klasik Jawa Barat. Dalam E. S. Hardiati, Nuansa Arkeologi 2 Analisis Data dan Kebijakan (hal. 29 - 39). Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.
  12. Saptono, N. (2012). Penelitian Puncak-Puncak Peradaban di Pantai Utara Jawa Barat dan Proses Perjalanan Masyarakat Hindu. Kalpataru 21 (1), 30 - 38.
  13. Widyastuti, E. (2005). Ikonografi Masa Hindu-Budha di Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya, Jawa Barat. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.
  14. Widyastuti, E.(2012). Bangunan Suci di Situs Indihiang, Tasikmalaya, Jawa Barat. Dalam H. O. Untoro, Arkeologi Ruang: Lintas Waktu Sejak Prasejarah Hingga Kolonial di Situs-situs Jawa Barat dan Lampung (hal. 31-42). Bandung: Alqaprint.
  15. Widyastuti, E. (2013). Bangunan Suci dan Lingkungannya di Situs Indihiang Kota Tasikmalaya.Bandung: Balai Arkeologi Bandung.
  16. "Menyelisik Situs Lingga Yoni, Serpihan Sejarah Panjang Tasikmalaya" pikiran rakyat.com oleh Bambang Arifianto - 7 Januari 2019. Diakses 13 Maret 2020. 
  17. "Situs Sajarah di Tengah Kota Tasikmalaya" IndonesiaHeritage.org Majalah Sasakala Ujung Galuh (VOL.10_2015) Edisi 11#2009 - Diakses 13 Maret 2020
Baca Juga

Sponsor