Cari

Rekonstruksi Kerajaan Galuh | Gambaran Kehidupan dan Pemerintahan Kerajaan Galuh

[Historiana] - Oleh Alam Wangsa Ungkara. Di Tatar Sunda terdapat dua kerajaan besar yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh yang sanggup mempertahankan eksistensinya dari abad ke-8 hingga abad ke-16 di kawasan Tatar Sunda. Kerajaan Galuh berlokasi di kawasan Galuh, dan salah satu keratonnya terletak di Kawali, Kabupaten Ciamis sekarang  sedangkan Kerajaan Sunda, berlokasi di kawasan Bogor sekarang, dan  beribukota Pakuan Pajajaran. Ke dua  kerajaan ini pernah dipersatukan dengan perkawinan, dan dari akhir abad ke-15 dipusatkan di Pakuan Pajajaran hingga runtuh tahun 1579. Wilayah kekuasaannya membentang dari Provinsi Banten, DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat hingga sebagian Provinsi Jawa Tengah sekarang. Akan tetapi, keberadaan kerajaan ini belum banyak terungkap terutama jika pertanyaan difokuskan pada lokalitas tempat berdirinya bangunan kerajaan. Informasi mengenai masa lalu kerajaan ini sebenarnya cukup tersedia dalam berbagai media, seperti prasasti, naskah kuna, berita asing, dan benda-benda arkeologis lainnya. Selain  itu, fakta sosial dan fakta mental pun cukup banyak.

Dalam hasil penelitian Nina Lubis, Rekonstruksi Galuh Raya mengungkap lokasi dari bentuk modal dan istana Kerajaan Galuh.Pendekatan yang dilakukan terdiri dari empat langkah, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.

Keberadaan Kerajaan Galuh adalah sejarah, bukan mitos. Sumber-sumber sejarah yang mendukung banyak argumen keberadaannya termasuk prasasti, berita asing, naskah kuno, fakta sosial dan fakta mental. Selain itu, kehidupan keberadaannya selama delapan abad menunjukkan bahwa Kerajaan Galuh tidak hanya ada tapi juga kuat karena didukung oleh berbagai sistem yang solid dan koheren. Mengenai tentang lokasi ibukota dan bentuk Kerajaan, masih perlu untuk menjelajahi lebih lanjut.

Penelitian yang dilakukan Nina Lubis ini lebih difokuskan pada upaya pencarian letak ibu kota dan bangunan bekas Kerajaan Galuh yang berlokasi di situs Astana Gede, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis sekarang karena lokasi bekas Kerajaan Sunda di sekitar Batutulis Bogor kecil kemungkinan untuk diteliti mengingat di sana sudah menjadi tempat pemukiman penduduk dan pertokoan. Aspek yang menjadi masalah adalah luasan lokasi Situs Astana Gede itu cukup besar, sekitar 5 hektar dan hampir seluruh jejak fisik masa lalu ibu kota dan bekas kerajaan itu terkubur tanah. Untuk mengungkapnya diperlukan kinerja yang maksimal dengan biaya yang sangat besar. Selain itu, diperlukan juga keterlibatan berbagai disiplin keilmuan dan berbagai instansi. Berbagai disiplin keilmuan yang diperlukan adalah sejarah, arkeologi, filologi, antropologi, dan geologi.

Untuk kepentingan penelitian itu pun dilakukan Focus Discusion Group yang menghadirkan pembicara Dr. Hendrik E. Niemeijer, sejarawan dari Belanda; Dr. Shakila Parween binti Yacob, sejarawan dari Malaysia; para arkeolog antara lain terdiri atas Dr. Hasan Djafar, Dr. Richadiana Kartakusuma, Dr. Titi Surti Nastiti, Sudarti Priyono, M.Hum, Lutfi Yondri M.Hum, Etty Saringendiyanti, M.Hum, dan Drs. Wan Irama, serta Budimansyah S.T.yang membantu dalam pemotretan dan pemetaan.


Fungsi Kompleks Astana Gede 

Kompleks Astana Gedé di Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis, pada mulanya kemungkinan dibangun sebagai kabuyutan yang berfungsi sebagai Padépokan Kabataraan di bawah otoritas golongan ke-rama-an atau bisa pula berupa Padépokan Kawikuan di bawah otoritas golongan ke-resi-an, yakni tempat Niskala Wastu Kancana mengasingkan dirinya. Peristiwa tragis yang menimpa ayahanda, yaitu Prabu Maharaja beserta kaum keluarganya di Bubat pada tahun 1357 Masehi pastilah sangat menimbulkan kepiluan yang teramat mendalam. Namun, berkat asuhan Rahyang Bunisora (Maharaja Suradipati, paman sekaligus mertuanya), ia berdaya upaya agar Galuh mampu menghadapi setiap serangan dari luar. Demi menanamkan gagasannya pula, ia terlebih dahulu menempa dirinya pribadi dengan menjalani hidup sebagai pertapa (ilmuwan), seperti diberitakan dalam Carita Parahiyangan: brata siya puja tanpa lum ia berpuasa dan bertapa tidak mengenal batas. Niskala Wastu tidak pernah meninggalkan pedoman kenegaraan yang pernah dijalankan para pendahulunya, yaitu purbatisti purbajati serta diharapkannya agar para penerusnya tetap berpegang kepada pedoman yang diamanatkannya dalam prasasti Kawali II, sebagai berikut:
aya ma ( Semoga ada) 
nu ngeusi bha- (yang mengisi) 
gya kawali ba- (Kawali dengan kebahagiaan) 
ri pakéna kere- (agar tercapai kesejahteraan) 
ta bener (yang sesungguhnya) 
pakeun na(n)jeur (demi keunggulan) 
na juritan. (di medan juang)
Prasasti (I) yang lebih panjang bunyinya sebagai berikut:
## nihan tapa ka-
li nu siya mulia tapa bh-
agya parebu raja was-
tu mangadeg di kuta kawa-
li nu mahayu na kadatuan 
surawisésa nu marigi sa-
kulili(ng) dayeuh nu najur sagala 
désa aya ma nu pa(n)deuri pakéna 
gawé rahayu pakeun heubeul jaya 
di na buana ## 
Inilah (tanda peringatan pertama) Kawali, ialah yang mendapat kebahagiaan dari bertapa, Prebu Raja Wastu yang berkuasa di Kota Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang memperkokoh pertahanan sekeliling ibu kota dengan parit, yang memakmurkan segenap daerah, semoga yang (berkuasa) kemudian mengikuti kebajikan supaya lama berdaulat di dunia. 

Para peneliti hingga kini masih berpendapat bahwa Prebu Wastu yang tercatat pada prasasti tadi adalah tokoh yang sama dengan Prabu Niskala Wastu Kancana dalam naskah Carita Parahiyangan (CP). Ia menjadi raja selama 104 tahun. Perabu Raja Wastu yang bertahta kota Kawali, yang memperindah kedaton Surawisesa, yang membuat saluran (parit) di sekeliling ibukota.

Berdasarkan kutipan tersebut kita dapat mengetahui bahwa dia memindahkan ibukota kerajaan ke Kawali (Ciamis Utara), dari situs yang sekarang dikenal dengan sebutan Karangkamulyan. Keraton sudah ada, jadi tidak membangun yang baru, melainkan di dalam prasasti itu jelas-jelas dikatakan mahayu, yakni memperindah (Sunda sekarang: ngoméan, ngahadéan) keraton bernama Surawisesa. Fungsi pembuatan saluran di sekeliling ibukota sudah pasti di samping untuk kepentingan pertahanan, juga untuk mencegah bencana alam.

Sampai kini orang sepakat bahwa, Prabu Raja Wastu adalah tokoh yang sama dengan sebutan Prabu Niskala Wastu Kancana dalam CP, piagam Kebantenan Bekasi, dan prasasti Batutulis Bogor. Niskala Wastu Kancana mempunyai dua orang isteri, dan dari setiap isteri lahir anak laki-laki. Akibatnya, ia terpaksa membagi kerajaanya menjadi dua, Pakwan Pajajaran dan Galuh Pakwan. Pengganti Niskala Wastu, menurut Carita Parahiyangan pada lempir verso 22 ialah Tohaan di Galuh, inya nu surup di gunung tiga, sedangkan menurut Piagam Kebantenan lempeng E 42a-b penggantinya ialah Rahiyang Ningrat Kancana, dalam pasasti Batutulis Bogor: Rahiyang Déwaniskala sang sida mokta di guna tiga. Berdasarkan kutipan tersebut dapat diketahui bahwa Tohaan di Galuh, bernama Rahiyang Ningrat Kancana atau Rahiyang Dewaniskala yang memerintah selama 7 tahun (1475-1482 M). Dalam pada itu, di Kerajaan Sunda berkuasa Prabu Susuktunggal (1475-1482 M). Dalam CP (30ab) dinyatakan, Sang Susuktunggal ialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana untuk penobatan Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran, yang bertahta di keraton Sri-Bima Punta Narayana Madura Suradipati, yaitu keraton Sanghiyang Sri Ratudewata. Peninggalan Sang Susuktunggal adalah warisan negeri yang indah dan makmur, sebagai bukti raja utama. Ia pun digantikan oleh Sang Ratu Jayadewata.

Kemudian Sang Ratu Jayadewata alias Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran, dikenal sebagai sang mwakta ring Rancamaya yang dipusarakan di Rancamaya. Sang Ratu Jayadewata mewarisi singgasana Pakwan Pajajaran karena pernikahannya dengan seorang puteri Sang Susuktunggal.


Gambaran Konstruksi Keraton di Galuh

Salah satu naskah Sunda yang memberi gambaran tentang struktur serta konstruksi kompleks keraton Galuh adalah naskah berbahan lontar yang ditulis olek Kai Raga di Kamandalaan Gunung Kumbang, yang berjudul Carita Ratu Pakuan. Berikut ini kutipan dari naskah tersebut:
Dicarita Ambetkasih, (Tersebutlah Ambetkasih,)
kadeungeun sakamaruan, (diiring para madunya,)
bur payung agung ngawah tugu, (mengembanglah payung kebesaran ngawah tugu,)
nu saur manuk sabda tunggal, (mereka yang sepakat pada merestui,)
nu dék mulih ka Pakuan. (yang hendak kembali ke Pakuan.)
Saundur ti dalem timur, (Sekepergiannya dari istana timur,)
kadaton wétan buruan, (pelataran keraton timur,)
Si Mahut Putih Gedémanik, (Si Mahut Putih Gedemanik)
Mayadatar ngarana. (Mayadatar namanya.)
Sunialaya ngarana, (Sunialaya namanya,)
dalem Sri Kancana Manik, (istana Sri Kancana Manik,)
bumi ringgit cipta ririyak, (rumah berukir dibuat gemerlapan,)
di Sanghiyang Pandan Larang, (di Sanghiyang Pandan Larang,)
dalem Si Pawindu Hurip. (istana si Pawindu Hurip.)
Bumi hiji beunang ngukir, (Rumah pertama yang penuh ukiran,)
Kadua beunang ngaréka, (yang kedua rumah penuh ukiran),
Katiluna bumi bubut, (yang ketiga rumah penuh bubutan halus,)
Kaopatna limas kumureb, (yang keempat berbentuk limas kumureb,)
Kalimana badawang sarat, (yang kelima tembus pandang sejagat,)
Kagenepna bumi tepep, (yang keenam rumah beratap tumpul,)
Katujuhna hanjung méru, (yang ketujuh anjungan pagoda,)
Kadalapan tumpang sanga, (yang kedelapan berumpak sembilan,)
Kasalapan pagencayan. (yang kesembilan rumah gemerlap.) 
Pendopo Mayadatar Purwakarta. Mungkinkah istana mayadatar kerajaan Galuh seperti ini juga?
Bangunan Meru di Besakih Bali. mungkinkah Isytna Hanjung Méru dan Tumpang Sanga Galuh seperti ini?
Istana kayu dengan pintu gebyog berukir seperti di Pakuan Pajajaran?


Pemerintahan Kerajaan Galuh

Pemerintahan Kerajaan Galuh memiliki kekhasannya sendiri, yaitu terbagi dalam tiga kekuasaan. Prebu- Rama-Resi. Tiga kekuasaan itu disebut Tri Tangtu di Buana. Dalam naskah kuno Sanghyang Siksakandang Ng Karesian (ditulis 1518) disebutkan:
Ini ujar sang sadu basana mahayu drebyana. Ini tri-tangtu di bumi. Bayu kita pina/h/ ka prebu, sabda kita pina/h/ ka rama, h(e)dap kita pina/h/ka resi. Ya tritangtu di bumi, ya kangken pineguh ning bwana ngara(n)na. Ini triwangsa di lamba, Wisnu kangken prabu, Brahma kangken rama, Isora kangken resi. Nya mana tritan(g)tu pineguh ning bwana, triwarga hurip ning jagat. Ya sinangguh t ritan(g)t u d i nu reya ngaranya (Danasasmita dkk,1987: 90)
Terjemahan kurang lebih adalah sebagai berikut:
Ini ujar sang budiman waktu menyentosakan pribadinya. Inilah tiga ketentuan di dunia. Kesentosaan kita ibarat raja, ucap kita ibarat rama, budi kita ibarat resi. Itulah tritangtu di dunia, yang disebut peneguh dunia. Ini triwarga dalam kehidupan. Wisnu ibarat prabu, Brahma ibarat rama, Isora ibarat resi. Karena itulah tritangtu menjadi peneguh dunia, triwarga menjadi kehidupan di dunia. Ya disebut tritangtu pada orang banyak namanya (Danasasmita dkk, 1987:114-115)

Prebu adalah pemegang tampuk pemerintahan yang utama. Prebu menjalankan fungsi eksekutif atau pemerintahan. Prebu inilah yang disebut Raja Galuh dan tinggal menetap di keraton yang terletak di ibukota kerajaan sebagai pusat pemerintahan. Lalu yang kedua adalah Rama. Rama kurang lebihnya berfungsi sebagai penasehat atau badan legislatif yang berfungsi juga sebagai penasehat dan pembimbing. Tempat tinggal Rama ini adalah Keramaan atau Kebataraan. Letaknya di luar ibu kota kerajaan. Kemudian yang ketiga adalah Resi. Resi berfungsi sebagai pengadilan atau badan yudikatif. Resi tinggal di Karesian. Letaknya juga di luar ibukota negara seperti halnya Kebataraan (Lubis dkk, 2013:207). Ketiga kekuasaan tersebut yang membentuk suatu segitiga pemerintahan dalam Kerajaan Galuh yang disebut Tri Tangtu di Buana.

Ketika Karangkamulyan menjadi pusat pemerintahan kerajaan atau tempat bertahtanya Prebu maka yang diduga menjadi tempat Keramaan adalah Galunggung, dan yang diduga tempat Karesiannya adalah di daerah yang bernama Denuh di Ciamis sedangkan Astana Gede sebelum menjadi tempat bertahtanya Wastu Kencana diduga menjadi Kabuyutan suatu tempat pemujaan atau Balay Pamujan (Kartakusuma, 2015). Begitu pula ketika Astana Gede Kawali menjadi pusat pemerintahan Wastu Kencana maka Rama diduga tetap bertempat di Galunggung dan Denuh diduga menjadi tempat Resi sehingga Tri Tangtu di Buana Kerajaan Galuh itu adalah Prebu bertahta di Karangkamulyan dan Astana Gede, Resi berada di Denuh dan Rama berada Galunggung.


Birokrasi dalam Kerajaan Galuh 

Birokrasi dalam Kerajaan Galuh tidaklah banyak diketahui. Raja adalah penguasa tertinggi dalam kerajaan. Seperti telah disebutkan diatas bahwa dalam pola pemerintahan Sunda Tri Tangtu di Buana, raja disebut Prebu. Dia bertahta di keraton yang menjadi tempat tinggalnya dan sekaligus menjadi pusat pemerintahannya. Selain raja di keraton biasanya terdapat Putra Mahkota. Putra Mahkota adalah seorang yang dididik dan dipersiapkan untuk menjadi pengganti raja jika raja meninggal atau mengundurkan di ri. Sebagai perbandingan, pada Kerajaan Sunda seorang Putra Mahkota tidak selalu berasal dari anak raja yang tengah bertahta, bisa juga berasal dari raja-raja bawahan yang berkuasa di daerah dalam kekuasaan Kerajaan Sunda. Selanjutnya, Prebu atau seorang Raja Kerajaan Sunda, dalam pemerintahannya dibantu oleh seorang Mangkubumi dalam melaksanakan tugas sehari-hari pada pusat pemerintahan kerajaannya. Mangkubumi dibantu oleh beberapa orang yang jabatannya disebut Nu Nangganan. Seorang Nu Nangganan akan dibantu oleh beberapa pejabat yang disebut Mantri. Kemudian seorang Mantri akan dibantu oleh beberapa Wado. Para Wado itu kemudian yang akan berhubungan langsung dengan rakyat di kerajaan tersebut. Hal tersebut tertulis dalam Sanghyang Siksakanda Ng Karesian sebagai berikut:
Nihan sinangguh dasa prebakti ngaranya. Anak bakti di bapa, ewe bakti di laki, hulun bakti di pacandaan, sisya bakti di guru, wang tani bakti di wado, wado bakti di mantra, mantra bakti di nu nangganan, nu nangganan bakti di mangkubumi, mangkubumi bakti di ratu, ratu bakti di dewata, dewata bakti di hyang. Ya ta sinangguh dasa prebakti ngara(n)na (Danasasmita dkk, 1987:74) 

Terjemahannya kurang lebih adalah sebagai berikut:
Ini yang disebut dasa prebakti. Anak tunduk kepada bapak, istri tunduk kepada suami, hamba tunduk kepada majikan, siswa tunduk kepada guru, petani tunduk kepada wado, wado tunduk kepada mantri, mantri tunduk kepada nu nangganan, nu nangganan tunduk kepada mangkubumi, mangkubumi tunduk kepada raja, raja tunduk dewata, dewata tunduk kepada hyang. Ya itulah yang disebut dasa prebakti (Danasasmita, 1987: 96) 
Selain itu Sanghyang Siksakanda Ng Karesian juga menyebutkan:
Ini na pamanggihkeuneun dina sakala, tangtu batara di bwana pakeun pageuh jadi manik sakurungan, pakeuneun teja sabumi. Hulun bakti di tohaan, ewe bakti di laki, anak bakti di bapa, sisya bakti di guru, mantra bakti di mangkubumi, mangkubumi bakti ka ratu, ratu bakti di dewata. (Danasasmita, 1987:86) 

Terjemahannya kurang lebih adalah demikian:
Ini yang harus ditemukan dalam sabda, ketentuan batara di dunia agar teguh menjadi permata di dalam sangkar untuk cahaya seluruh dunia. Hamba tunduk kepada majikan, istri tunduk kepada suami, anak tunduk kepada bapak, siswa tunduk kepada guru, mantri tunduk kepada mangkubumi, mangkubumi tunduk kepada raja, raja tunduk kepada dewata (Danasasmita, 1987: 110) 
Dalam pemerintahan daerah, Prebu atau raja akan dibantu oleh raja-raja daerah. Raja-raja daerah ini jabatannya disebut Tumenggung Adipati. Dalam tugas sehari-hari para raja daerah ini berlaku layaknya raja merdeka walaupun masih mengakui raja di pusat pemerintahan kerajaan sebagai tuan yang utama mereka. Di pelabuhan terdapat pejabat yang bergelar Syahbandar yang tugasnya mewakili raja dalam mengurus masalah perdagangan di pelabuhan (Nastiti, 2012: 254). Selain itu, ada pejabat lain yang tugasnya memungut pajak. Gelar jabatan itu biasanya disamakan dengan nama pajak yang mereka pungut dari rakyat. Para penarik pajak itu disebutkan dalam Sanghyang Siksakanda Ng Karesian dengan nama-nama pangurang, dasa, calagara, upeti panggeres reuma (Danasasmita dkk, 1987: 78).

Pada umumnya disebut Pangurang. Akan tetapi, biasanya disebut dengan nama yang sama dengan nama pajak yang dipungutnya. Misalnya Dasa yang merupakan pajak dalam bentuk tenaga perseorangan. Calagara adalah pajak dalam bentuk tenaga kolektif. Kapas Timbang sering disebut juga upeti yang berupa pajak kapas sebanyak 10 pikul yang harus diberikan kepada penguasa daerah atau penguasa pusat. Lalu Pare Dongdang atau Panggeres Reuma adalah pajak berupa sisa-sisa hasil panen dari ladang yang harus diberikan pada penguasa daerah atau penguasa pusat. Selain itu, masih ada Beya yaitu semacam retribusi yang dipungut oleh seorang petugas di pelabuhan, muara sungai, tempat penyeberangan dan tempat tempat tertentu lainnya. Pemungutnya sering disebut dengan Beya (Nastiti, 2012: 255). Jadi, birokrasi yang berlaku di Kerajaan Sunda, kemungkinan berlaku pula di Galuh mengingat hubungan yang erat di antara kedua kerajaan tersebut.

Agama dan Budaya 

Agama merupakan salah satu unsur kehidupan yang terdapat sepanjang sejarah masyarakat. Menurut Norbeck (1974:3), pada masyarakat manusia, agama bersifat universal. Walaupun individu-individu yang non-religius makin umum di kalangan masyarakat modern, tetapi kepercayaan keagamaan tetap saja dipegang oleh semua masyarakat dari sejak jaman dahulu sampai sekarang. Keuniversalan agama menurut sejumlah ahli disebabkan karena fungsinya di dalam kehidupan manusia. Salah satunya adalah Weber (1954:5), menyatakan bahwa bagi strata sosial yang mempunyai hak-hak istimewa, agama terutama berfungsi sebagai suatu alat untuk melegitimasi atau membenarkan posisi sosial mereka yang berkuasa dan memiliki hak-hak istimewa. Sedangkan bagi mereka yang tidak mempunyai hak-hak istimewa, fungsi agama dilihat sebagai media untuk memperoleh keselamatan dan lepas dari penderitaan.

Agama yang dianut Raja-raja Sunda adalah agama Hindu terutama Hindu Saiwa. Namun toleransi Raja-raja Sunda cukup besar sehingga ada juga masyarakat yang beragama Hindu Waisnawa dan kerajaan bawahan, yaitu Kerajaan Talaga yang beragama Budha. Hal ini dibuktikan dalam prasasti Sanghyang Tapak (1030 M), prasasti Kawali, naskah Carita Parahiyangan naskah Sewaka Darma (abad ke-16), atau Serat Dewa Budha (1435 M), Serat Catur Bumi, naskah Sanghyang Raga Dewata, Kawih Paningkes, naskah Jati Niskala, serta naskah Sanghiyang Siksakandang Karesian (1518 Masehi).

Namun perlu dijelaskan bahwa sejak akhir abad ke-15, muncul ajaran agama yang menekankan pemujaan terhadap hiyang, yang ditunjukkan oleh adanya penurunan derajat dewata berada di bawah hiyang. Hal ini secara implisit dapat dibaca pada naskah Sanghiyang Siksakandang Karesian, yaitu: ratu bakti di dewata, dewata bakti di hiyang raja tunduk kepada dewata, dewata tunduk kepada hiyang... (Danasasmita, 1987:74). Tome Pires dalam bukunya Summa Oriental (1513-1515), menulis demikian: Raja Sunda memuja berhala, demikian pula semua pembesar kerajaannya (Heuken, 1999:7).

Lebih rendahnya kedudukan dewa-dewa mengakibatkan ajaran Hindu yang dianut tidaklah sepenuhnya dijalankan sesuai dengan ajaran dari tempat aslinya, terbukti bahwa Raja-raja Sunda tidak terlalu menekankan pada pembangunan candi-candi atau pembuatan arca-arca dewa yang monumental seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jadi, tidak mengherankan juga bahwa di Tatar Sunda, tidak banyak ditemukan candi karena kedudukan leluhur tertinggi yang diwujudkan dalam hyang lebih diutamakan daripada para dewa Hindu/Buddha.

Hal itu sejalan dengan kelanjutan isi naskah itu ketika mengisahkan penguasa alam selesai menciptakan dunia (Danasasmita, 1987:86)
/......Sakala batara jagat ngretakeun bumi niskala. Basana: Brahma, Wisnu, Isora, Mahadewa, Siwah, bakti ka Batara! Basana: Kusika, Garga, Mestri, Purusa, Pata (n)jala, bakti ka Batara! Sing para dewata kabeh pada bakti ka Batara Seda Niskala. Pahi manggihkeun si tuhu lawan pretyasa. 
Terjemahannya sebagai berikut.
Suara penguasa alam ketika menyempurnakan dunia abadi. Ujarnya: Brahma, Wisnu, isora, Mahadewa, Siwa, baktilah kepada Batara! Ujarnya: Kusika, Garga, Mestri, Purusa, Patanjala, baktilah kepada Batara! Maka para dewata semua berbakti kepada Batara Seda Niskala. Semua menemukan yang Hak dan yang Wujud.
Dari kutipan di atas jelas bahwa hiyang adalah Batara Seda Niskala Tuhan yang maha gaib yaitu tokoh tertinggi yang dipercaya sebagai tujuan akhir perjalanan bakti manusia. Juga dibedakan antara tempat kedudukan hiyang di kahyangan dan tempat dewa di surga. Orang dapat masuk ke surga dengan cara munggah, dan dapat masuk ke kahiyangan dengan cara mokta. Sementara itu, dalam naskah Sewaka Darma disebutkan bahwa seseorang yang telah mencapai kelepasan jiwa akan datang di kahiyangan. (Danasasmita, 1987:53)

Kepercayaan tentang alam semesta atau kosmologi pada masa Kerajaan Sunda tergambar dalam naskah yang berupa bundel nipah berjudul Sang Hyang Hyu Tuntunan Kebajikan. Isinya, antara lain, menggambarkan halhal yang berkaitan dengan sistem kosmologi Sunda yang berdasarkan konsep triumvirate tiga serangkai, tritunggal yang terbagi ke dalam (1) susunan dunia bawah, saptapatala tujuh neraka, (2) buhloka adalah bumi tempat kita saat ini yang disebut madyapada; dan (3) susunan dunia atas, saptabuana atau buanapitu tujuh sorga hingga alam mahagaib yang tak bisa ditembus oleh makhluk halus apa pun karena tempat itu adalah persemayaman Dzat Tunggal Maha Kuasa, Hyang Manon. Jadi, di antara saptapatala dan saptabuana disebut madyapada, yakni pratiwi dunia tempat manusia. Dijelaskan pula dalam teks naskah ini mengenai adanya hubungan antara jagat raya makrokosmos dengan jagat kecil mikrokosmos dalam raga manusia.

Ini menggambarkan bahwa, konsep tata ruang masyarakat Sunda secara kosmologis selalu bersifat triumvirate. Dalam tatanan ini, mereka berupaya mencari makna dunia menurut eksistensinya, yakni menyangkut keluasan atau lingkupnya yang mengandung segala macam dunia dengan seluruh bagian dan aspeknya sehingga tidak ada sesuatu pun yang dikecualikan. Ini artinya masyarakat Sunda memiliki pandangan tentang kesejajaran antara makrokosmos dan mikrokosmos, antara jagat raya dan dunia manusia. Saptapatala itu susunan bentuknya bagaikan kerucut tengadah, yang terdiri atas patala, nitala, sutala, talantala, talaningtala, mahatala, dan atyanta artapatala neraka terdalam yang sangat mengerikan. Sedangkan susunan Saptabuana atau Buanapitu menyerupai keadaan sarang lebah berbentuk labu, terdiri atas buwahloka, suwahloka, janahloka, tapwaloka, satyaloka, mahaloka, dan atyanta artaloka sorga tertinggi.

Setelah saptabuana masih ada tempat tujuh susun yang bersuasana sunyi -hampa, yaitu sunya, atisunya, paramasunya, atyantasunya, nirmalasunya, suksmasunya, dan acintyasunya. Di atasnya lagi adalah tujuh susun yang berupa tempat kesirnaan-lenyap, yaitu taya, atitaya, paramataya, atyantataya, nirmalataya, suksmataya, dan acintyataya.

Kemudian, di atas tempat tersebut masih ada tempat yang dinamakan abyantarataya bagian terdalam kesirnaan. Abyantarataya artinya tidak dapat terjangkau oleh cahaya bintang, bulan, matahari, pelangi, bianglala, kabut, asap, awan, hujan, petir, halilintar, guruh, guntur, meteor, paramanuh partikel-partikel kecil, atom, dan berbagai suara mahluk hidup. Semua itu tidak akan pernah sampai ke sana.

Setelah abyantarataya adalah pancatanmantra lima unsur halus yang terdiri atas buddi bijak, guna pandai, pradana saleh. Di atas itu terdapat sunyataya nirmala kesunyisenyapan suci abadi; dan berakhir pada kanirasrayan kemahakuasaan/kebebasan tertinggi, yakni takdir.

Hal tersebut adalah salah satu tugas para mahaguru untuk menjelaskannya, di samping terus berlomba dalam belajar serta beribadah demi mencapai kesempurnaan hidup, baik di sakala dunia kini maupun di niskala akhirat kelak. Pada bagian berikutnya ditegaskan bahwa tidak ada lagi tempat selain yang telah disebutkan tadi.

Alam semesta ini kenyataannya tanpa batas. Yang namanya arah penjuru angin (utara-timur laut-timurtenggara-selatan-barat daya-barat-barat laut), atas maupun bawah itu hakikatnya hanya ada dalam angan-angan. Di dalam angan-angan itu pulalah bahwa sorga itu adanya di atas, tempat para ruh halus, seperti ruh para mahluk suci, ruh para leluhur, dan ruh para pemimpin yang saleh. Para pandita kaum cendikia menyerukan kepada semua manusia untuk senantiasa memperhatikan Sang Hyang Darma Kitab Suci Petunjuk Keadilan.

Setiap manusia harus dapat melepaskan diri dari kebodohan. Lihatlah ahli bangunan, pelukis, pemahat, perangkai bunga, dan pekerja lainnya, termasuk pula bermacam ajian berupa ayat-ayat suci dan doa-doa. Semua itu adalah kepandaian yang harus dianggap sebagai pangkal ilmu pengetahuan. Inilah yang dinamakan Sang Hyang Ajnyana Ilmu Pengetahuan yang harus dicari para siswa, yang pada hakikatnya sudah ada di dalam setiap diri manusia, hewan, dan tumbuhan.

Buana adalah bumi dan angkasa, sedangkan sarira adalah semua yang ada di bumi dan di angkasa serta di antara keduanya. Sarira di angkasa adalah benda-benda langit, seperti bulan, bintang, matahari, dan planet-planet lainnya pengisi jagat raya. Sarira di bumi adalah benda-benda bumi, seperti air, gunung, samudra, manusia, binatang, tumbuhan, dan sebagainya. Semua itu ialah Sang Hyang Ajnyana sumber ilmu pengetahuan

Dinyatakan bahwa tanpa bayu, sabda, dan hedap manusia seolah-olah hanyalah bangkai-bangkai yang lama kelamaan busuk dan hancur. Segala mahluk beserta alam semesta ini hakikatnya ialah jelmaan tigarahasya dari unsur bayu sabda hedap yang bisa melenyapkan kebingunan dan kebodohan, dapat menyingkirkan sifat-sifat tamak, dendam, dan iri. Bayu sabda hedap harus digunakan untuk mempelajari kitab suci dan melaksanakan syariat peribadatan sehingga akan tercapai suatu kekuatan dan kemuliaan.

Kasar dan lembutnya bayu sabda hedap dapat diketahui. Kasarnya bayu karena bisa dimasukkan, dikeluarkan, dan ditahan di hidung; lembutnya bayu tak terpegang. Kasarnya sabda adalah apa saja yang bisa terdengar, terucapkan, dan tertahan; lembutnya sabda karena tak terlihat. Kasarnya hedap dapat digunakan untuk melihat, mendengar, mencium, meraba, dan merasa; lembutnya hedap karena tak pernah kesulitan ke mana pun pergi serta begitu cepat sampai ke tujuan, tak berbekas, dan tak bersisa.

Bagi para mahaguru, Sunyataya Paramarta Wisesa Keagungan Keheningan Alam Sirna Abadi adalah tempat pengobar bayu guna melenyapkan kebingungan, kenikmatan tidur, dan nafsu birahi. Sedangkan Ajimantra Barali Petunjuk Puja Illahi adalah alat pengobar sabda tatkala melantunkan ayatayat kitab suci. Kemudian, Yogasamadi Kekhusukan merupakan upaya pengobar hedap untuk mengagungkan Sang Khalik. Seseorang dinyatakan sebagai pandita cendikia jika memiliki: (1) Seruan berupa ilmu pengetahuan; (2) Kasih sayang berupa bayu sabda hedap; (3) Kesibukan untuk memberi petunjuk, memutuskan, menemukan, berwibawa, berkuasan, dan teguh.

Dijelaskan pula mengenai Astaguna delapan kearifan sebagai pedoman yang harus diketahui dan dijiwai serta dilaksanakan oleh Sang Sewaka Darma Para Pengabdi Hukum, terutama bagi mereka yang memiliki jabatan sebagai pemimpin. Hal yang dimaksud masing-masing ialah (1) animan berbudi halus/ramah, (2) ahiman tegas, (3) mahiman berwawasan luas, (4) lagiman gesit-terampil, (5) prapti tepat sasaran, (6) prakamya ulet-tekun, (7) isitwa jujur, dan (8) wasitwa terbuka bagi kritik. Mengenai budaya waktu itu dapat dijejaki dari tinggalan yang ada. Namun, tidak banyak tinggalan budaya Sunda dari masa kuna yang bertahan hingga kini, kecuali tinggalan budaya yang terbuat dari bahan yang tahan lama, misalnya prasasti, bangunan suci, dan sebagian naskah yang terbuat dari lontar atau daun nipah. Mengenai arsitektur zaman Kerajaan Sunda, seperti yang diamati Tome Pires, telah dikemukakan. Hanya karena bahan bangunan kebanyakan dari kayu, tak ada bangunan yang tertinggal karena lapuk dan hancur dimakan waktu.

Dari naskah Sanghyang Siksakandang Karesian, diketahui adanya para ahli sastra, lukis, ukir, gamelan, dan bahasa. Di antara para ahli itu, misalnya memen dalang. Ia mengetahui sejumlah cerita, antara lain Boma, Damarjati, Sanghyang Hayu, Jayasena, Sedamana, Pu Jayakarna, Ramayana, Adiparwa, Korawasarma, Bimasorga, Sumana, Tantri, Ranggalawe, Kalapurbaka, dan Jarini. Mengherankan juga jika pada masa itu prepantun ahli pantun, baru mengetahui empat buah cerita pantun, cerita-cerita yang pada umumnya dianggap asli Sunda, yaitu Langgalarang, Banyakcatra, Haturwangi, dan Siliwangi.

Berbagai jenis kawih seperti kawih pengpeledan, kawih bwatuha, kawih panjang, kawih lalanguan, kawih panyaraman, kawih sisindiran, kawih babaha-nan, kawih bangbarongan, kawih sasambatan, kawih tangtung, bongbong kaso, parerane, dan porod orih dapat diperoleh penjelasannya dari paraguna.

Dalam pada itu, kepada hempul dapat ditanyakan beraneka permainan (pamacoh), dari ceta macoh, ceta nirus, noroy panca, tatapukan, bangbarongan, babakutrakan, ubang-ubangan, munikon, lembur, ngadu lesung, asup kana lantar, sampai ngadu nini. Dalam kedua jenis kesenian itu ada petunjuk yang menarik. Ke dalam kelompok kawih disebutkan ada kawih bangbarongan, sedangkan ke dalam kelompok pamacoh ada yang disebut bangbarongan. Hal itu menunjukkan bahwa pada masa itu, sangat mungkin sudah ada jenis permainan yang peragaannya harus diiringi nyanyian, yaitu bangbarongan.

Menurut Tome Pires (1513-1515), orang Sunda sudah mengenal berbagai jenis kain impor, sementara itu menurut naskah lokal, di dalam negeri juga dikenal kain-kain lokal, yaitu jenis-jenis batik (tulis), dengan ahlinya disebut lukis, antara lain pupunjengan, hihinggulan, kekembangan, alas-alasan, urangurangan, memetahan, sisiringan, taruk hata, kembang tarate, sedangkan macam-macam ukiran seperti dinanagakon, dibarongkon, ditirupaksi, ditiruwere, dan ditirusingha dapat ditanyakan kepada marangguy yang ahli di bidang itu.

Jika ingin tahu bahasa-bahasa yang dikenal di Nusantara oleh penduduk negara Sunda, dapat ditanyakan kepada jurubasa darmamurcaya. Bahasa asing pada waktu itu disebut carek paranusa, antara lain terdiri atas bahasa-bahasa Cina, Keling, Parsi, Mesir, Samudra, Benggala, Makasar, Pahang, Palembang, Siem, Kalaten, Bangka, Buwun, Beten, Tulangbawang, Sela, Tego, Pasay, Parayaman, Dinah, Nagaradekan, Andeles, Moloko, Badan, Pego, Malangkabo, Mekah, Lawe, Saksak, Bali, Sebawa, Jenggi, Sabini, Ngogan, Kanagen, Kumering, Simpangtiga, Gumantung, Bubu, Manumbi, Nyiri, Sapari, Patukangan, Lampung, Surabaya, Jambudipa, Seran, Gedah, Solot, Sologong, Cempa, Indragiri, Tanjungpura, Samapung, Baluk, dan Jawa. Disebutkannya nama-nama bahasa dan tempat itu sekaligus menjadi petunjuk, dengan daerah mana saja negara Sunda ketika itu bersentuh budaya, dan dalam kegiatan itu nampaknya peranan jurubasa darmamurcaya tidak dapat diabaikan. Tome Pires, memberikan kesaksian, bahwa bahasa Sunda jelas sekali berbeda dengan bahasa Jawa, meskipun berada dalam satu pulau (Ayatrohaedi dkk, 1987: 77; Danasasmita, 1987: 83-84; Heuken, 1999: 38)

Menurut naskah Sanghyang Siksakandang Karesian, masyarakat telah mengenal berbagai macam keahlian pekerjaan atau mata pencaharian hidup seperti pandai besi, pandai emas, penangkap ikan, peternak, dan petani. Pertanian (terutama di ladang) merupakan mata pencaharian utama masyarakat Sunda, sehingga hasil pertanian disebutnya permata yang keluar dari bumi.

Bukti atau petunjuk mengenai masyarakat ladang itu terdapat bukan saja terdapat dalam sumber sastra tulis, tetapi juga dalam sastra lisan. Dalam naskah Carita Parahiyangan misalnya, hanya satu kali disebutkan sawah, itupun dalam hubungannya dengan nama tempat yang disebut sawah tampian dalem, tempat dipusarakannya Ratu Dewata. Petunjuk selebihnya mengarah kepada masyarakat ladang, dimulai dengan informasi tentang kelima orang titisan pancakusika, tiga orang di antaranya menjadi pahuma (peladang), panggerek (pemburu), dan panyadap (penyadap) yang ketiganya merupakan jenis pekerjaan di ladang. Di dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian, menyebutkan sejumlah perkakas yang umumnya merupakan alat untuk bekerja di ladang seperti: kujang, patik, baliung, kored, dan sadap.

Kehidupan di ladang akan membentuk manusia yang berwatak ladang. Ciri yang paling menonjol dari masyarakat ladang itu adalah selalu berpindah tempat. Keadaan ini secara langsung turut mempengaruhi bentuk bangunan tempat mereka tinggal yang terkesan sederhana. Demikian juga dengan hasil budaya lainnya seperti sarana peribadatan, tradisi tulis, baik bentuk tulisan maupun sarana penulisan, hasil sastra dan seni lainnya. Dengan memperhatikan pola hidup seperti itu, dapatlah dimengerti keunikan budaya masyarakat Sunda yang sisa-sisanya ditemukan pada masa kini.

Dalam kehidupan yang berkaitan dengan kehidupan pertanian, dan aktivitas lainnya dalam kehidupan seharihari, masyarakat Sunda masa lampau telah mengenal alat yang disebut kolenjer untuk menghitung hari yang dianggap baik untuk melakukan suatu aktivitas. Bentuknya berupa titik-titik dan garis-garis yang membentuk kotak-kotak tertentu. Jumlah titik-titik dalam satu kotak mempunyai arti tertentu dan tafsiran tersendiri. Demikian juga dengan semua tanda yang digoreskan dalam kolenjer itu mempunyai arti yang tertentu pula.


Kesenian 

Mengenai kesenian di Kerajaan Galuh, dapat diperbandingkan dengan kesenian yang ada di Kerajaan Sunda sebagaimana tercantum dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian Kropak 630 teks XVI. Beberapa cabang seni yang dituliskan dalam naskah tersebut adalah seni suara (kawih), seni lukis, seni ukir dan wayang. Sementara untuk seni tari tidak ditemukan catatan dalam naskah ini.

Mengenai seni kawih dijelaskan beberapa macam jenis kawih seperti bwatuha, panjang, lalanguan, panyaraman, sisindiran, pengpeledan, bongbongkaso, pererane, babahanan, bangbarongan, tangtung, sasambatan, dan igel-igelan. Selain menyebutkan jenisjenis kawih, disebutkan pula mengenai adanya sebutan khusus mengenai ahli karawitan yang disebutnya dengan paraguna.

Catatan mengenai bunyi-bunyian alat musik sudah dicantumkan dalam naskah Sewaka Dharma Kropak 408. Dalam naskah yang merupakan kidung nasehat tersebut pada teks 45 disebutkan adanya bunyi-bunyian sebagai berikut.

Terdengar bunyi-bunyian, Suara canang, Suara gamelan tumpang kembang, Suara kumbang dan tarawangsa menyayat, Suara peninggalan bumi, Suara gamelan Jawa, Suara baling-baling ditingkahi calintuh di dangau, Suara deru kecapi penuh khawatir, Suara sedih semua

Dari teks di atas tampak bahwa alat-alat musik yang sudah ada adalah canang, gamelan tumpang kembang dan gamelan Jawa, tarawangsa, calintuh (buluh bambu berlubang) serta kecapi.

Mengenai seni lukis disebutkan berbagai jenis lukisan seperti pupunjengan, hihinggulan, kekembangan, alas-alasan, urang-urangan, memetahan, sisirangan, taruk hata dan kembang terate. Sementara mengenai seni ukir dijelaskan berbagai jenis ukiran seperti naga, barong, burung, kera, dan singa. Tampak bahwa dalam ukiran yang dijadikan model adalah jenis-jenis binatang yang secara nyata ada di wilayah Priangan seperti kera, burung dan singa. Sementara binatang yang bersifat imajinasi adalah naga dan barong. Bagi seseorang yang mempunyai keahlian khusus dalam bidang ukiran di dalam naskah ini disebut sebagai maranggi.

Apabila dibandingkan antara model yang digunakan dalam seni lukis dan ukiran tampak perbedaan spesifik bahwa dalam lukisan tidak digunakan binatang sebagai modelnya, sementara dalam bidang ukiran tidak digunakan tumbuhan sebagai modelnya.

Dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian Kropak 630 teks XI dikatakan bahwa wayang selain kesenian juga merupakan sumber pelajaran. Seperti halnya berbagai unsur kehidupan yang mendapat nama-nama tersendiri sebagai sumber pelajaran atau disebut guru. Sebagai contoh adalah apabila seseorang mendapat pelajaran dari kedua orang tuanya disebut guru kamulan, kemudian bagi seseorang yang mendapat pelajaran dengan mengamati pekerjaan orang lain maka orang tersebut mendapatkan pelajaran dari yang disebut sebagai guru wreti. Dalam hal wayang sebagai sumber pelajaran dikatakan sebagai guru panggung. Posisi sebagai guru ini sangat penting, karena masih dalam teks yang sama diingatkan bahwa baik dan buruknya, bahagia dan sengsaranya seseorang tergantung kepada guru. Hal itu diperkuat dengan teks XVI yang menyebutkan bahwa dalang adalah tempat bertanya segala cerita. Adapun cerita-cerita yang disebutkan dalam teks tersebut adalah cerita Damarjati, Sanghyang Bayu, Jayasena, Sedamana, Pu Jayakarma, Ramayana, Adiparwa, Korasawawarma, Bimasorga, Rangga Lawe, Boma, Sumana, Kala Purbaka, Jarini dan Tantri.


Eksistensi Kerajaan Galuh tidak diragukan secara historis. Dukungan sumber yang banyak, baik yang berupa tinggalan arkeologis, berita asing, naskah kuna, serta fakta sosial dan fakta mental, makin menguatkan akan keberadaannya. Lamanya berdiri sekitar tujuh abad menunjukkan bahwa Kerajaan Galuh bukan sekedar pernah ada tapi juga menunjukkan kekuatan yang didukung oleh sistem sosial, ekonomi, politik, budaya, kepercayaa yang juga kuat.

Adapun mengenai bukti fisik berupa bangunan kerajaan dan letak persis ibu kotanya tinggal menunggu waktu. Ekskavasi yang telah dilakukan beberapa kali, hingga yang terakhir ini, September-Oktober 2015 makin menunjukkan isyarat yang optimistis dengan ditemukannya makin banyak petunjuk. Tentu saja, kegiatan ekskavasi mutlak harus terus dilanjutkan.



Referensi lebih lanjut

  1. Abdullah, Taufik dan A.B. Lapian (Editor) Indonesia dalam Arus Sejarah II. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. 
  2. Ayatrohaedi Pajajaran dan Sunda, dalam Majalah Arkeologi No. 4 Th. 1 Maret. Jakarta: Jurusan Arkeologim- Fakultas Sastra Universitas Indonesia. 
  3. Danasasmita, Saleh dkk Sewaka Darma, Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung;Transkripsi dan Terjemahan. Bandung: Bagian Proyek Penelitia n dan Pengkajia n Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 
  4. Heuken, S.J : 3 Sumber-Sumber Asli Sejarah Jakarta. Jilid I. Jakarta: Ciptaloka Caraka. 
  5. Kartakusuma, Richadiana Situs Kawali (Astana Gede), Desa Indrayasa, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis (Jawa Barat); Salah satu Balay Pamujan/ Kabuyutan Kerajaan Galuh-Priangan Timur. Makalah FGD 29 September 2015 Bandung. 
  6. Lubis, Nina Herlina dkk Sejarah Tatar Sunda jilid 1. Bandung: Lembaga Penelitian Unpad 
  7. Lubis,Nina Herlina (dkk.) Sejarah Kerajaan Sunda. Bandung:YMSI Cabang Jawa Barat Bekerja Sama dengan MGMP IPS SMP Kabupaten Purwakarta. 
  8. Norbeck, Edward Religion in Human Life. New York: Holt, Rinehart and Winston Inc. 
  9. Prijono, Sudarti. 1994/1995. Laporan Hasil Penelitian Arkeologi tentang Identitas Data untuk Memperoleh Gambaran Transformasi Budaya di Situs Astana Gede, Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Propinsi Jawa Barat. Bandung: Balai Arkeologi Bandung (Tidak diterbitkan). 
  10. Saptono, Nanang Situs Astana Gede Kawali dalam Konteks Perubahan Budaya, dalam Dimensi Arkeologi Kawasan Ciamis. Bandung: Balai Arkeologi Bandung. 
  11. Sukendar, Haris (dkk) Metode Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan ArkeologiNasional. 
  12. Tim Peneliti Laporan Hasil Penelitian Arkeologi Klasik di Situs Astana Gede, Kecamatan Kawali, Kabupa ten Ciamis, Propinsi Jawa Barat. Bandung: Balai Arkeologi Bandung (Tidak diterbitkan). 
  13. Weber, Max The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism. New York: Charles s Scribner s Sons.

Sumber:

Pembahasan tentang Rekonstruksi Kerajaan Galuh diadaptasi dari karya Sejarawan Prof. Dr. Hj. Nina Herlina Lubis, M.S. dalam Jurnal Paramita Vol. 26, No. 1 - Tahun 2016.
Baca Juga

Sponsor