Cari

Kian Santang Harusnya Seorang Raja


[Historiana] - oleh Alam Wangsa Ungkara - Kian Santang atau Raja Sengara, berdasarkan informasi bersumber dari tradisi lisan yang berkembang di kalangan penduduk secara turun temurun di wilayah pedalaman, seperti Garut, disebut-sebut sebagai salah seorang penyebar agama Islam di daerah ini (Kusnadi, 1996;9-15; Suwanda, 2010:57-58). Di daerah Garut, Kian Santang atau Raja Sengara lebih dikenal dengan nama Syekh Rohmat Suci, Sunan Godog, Gagak Lumayung, Galantang Setra, Pangeran Gagak Lumiring, Sunan Bidayah dan Pangeran Kudratullah. Syekh Sunan Rohmat Suci, melalui pesantrennya yang berbasis di daerah Godog, Garut. Ia Banyak berperan dalam penyebaran agama Islam di daerah Garut, Bogor dan Sukabumi (Wibisana, 2001:4; Suwanda, 2010:58-61).

Dalam usaha penyebaran agama Islam tersebut, khususnya di daerah pedalaman Parahiyangan, Syekh Rohmat Suci dibantu oleh Sahareupeun Nagele, Sembah Dora, Sembu Kuwu Kandang Sakti (Sapi), Penghulu Gusti, Raden Halipah Kandang Haur, Prabu Kasiringanwati atau Raden Sinom, atay Dalem Lebaksiuh, Sahareupeun Agung, Panengah, Santuwan Suci, Santuwan Suci Maraja dan Dalem Pangerjaya.

Kian Santang mulai menyebarkan agama Islam diperkirakan pertengah abad ke-15 sampai dekade kedua abad ke-16. itu berarti, perjuangan dakwahnya sezaman dengan Kkakaknya Raden Walngsungsang. Kian Santang sempat menetap di Cirebon untuk beberapa waktu lamanya. Ia kemudian menikah dengan Nyai Halimah atau Nyai gedeng Kalisapu.

Dengan muncul Sunan Rohmat Suci di daerah Godog, menurut Ayip Rosidi (2000:75-76) ini mengindikasikan bahwa daerah Godog pada waktu itu merupakan salah satu wilayah penditing di masa awal penyebaran Islam di Tatar Sunda. Selain itu mengukuhkan bahwa keturunan Prabu Siliwangi jugalah yang berperan dalam penyebaran agama Islam.

Dalam usaha menyebabrkan agama Islam, Kian Snatang berhasil meng-Islam-kan raja-raja lokal seperti yang terletak di Limbangan bernama Sunan Pancer (Cipancar) atau Prabu Wijayakusumah (1525-1575), Santowan Suci Mareja (sahabat Kian Santang yang makamnya dekat makan Kian Santang), Sunan Sirapuji (Raja Panembong, Bayongbong), Sunan Batuwangi yang sekarang terletak di Kecamatan Singajaya.

Tentang Prabu Wijayakusumah. Ia merupakan putra Sunan Hande Limansenjaya dan Cucu Prabu Layangkusumah. Prabu layangkusumah sendiri adalah Putra Prabu Siliwangi. Dengan demikian, Sunan Pancer merupakan buyut Prabu Siliwangi dan "Cucu" -incu gigir, pen- dari Kian Santang sendiri. Jadi Prabu Layangkusumah dan Kian Santang masih saudara sepupu dari Prabu Siliwangi, walaupun berbeda ibu. Kian Santang menghadiahkan kepada Sunan Pancer sebuak sekin (pisau Arab) yang bertuliskan Lafadz al-Quran 'La Ikroha fiddin' (Hidayat, 2008:7).

Menurut Edi S Ekadjati, disaat posisi Kesultanan Islam Cirebon semakin kokoh di masa Syarif Hidayatullah, ia menempatkan keluarga dan pengikutnya sebagai pemimpin daerah, yaitu: Pangeran Sebakingkin (Hasanudin) di Banten, Raja Laut di Jakarta, Haji Dzuliman (Cakrabuana, Ki Samadullah atau Abdullah Iman) di Pajajaran dan Raja Sengara di Tegal Luar (Ekadjati, 2005:103).

Mencermati kutipan dari di atas. Seharusnya Kian Santang memimpin sebuah kerajaan. Hal ini terkait dengan gelarnya yang kerap disematkan pada dirinya yaitu "Prabu kian Santang". Pertanyaannya: dimanakah Kian Santang menjadi raja? karena dalam susunan nama raja-raja Pajajaran tidak ada nama Prabu kian Santang. Apa mungkin Kian Santang menjadi Raja di Tegal Luar? informasi mengenai wilayah Tegal Luar masih gelap. Justru nama Kian Santang beredar di wilayah Selatan yaitu di Godog Garut.

Timbanganten merupakan bagian dari sejarah Jawa Barat, dan termasuk wilayah dari Tatar Ukur. Tatar Ukur, menurut naskah Sadjarah Bandung, adalah daerah Kerajaan Timbanganten dengan ibukota di Tegal luar. Kerajaan itu berada di bawah dominasi Kerajaan Sunda-Pajajaran. Bisa jadi, Kian Santang memimpin Kerajaan Timbanganten dan beribukota Tegal Luar.

Keluarga bangsawan Timbanganten muncul sejak Dalam Pasehan menjadi Ratu di Kadaleman Timbanganten. Wilayah Kadaleman Timbanganten sekarang mencakup wilayah Kecamatan Tarogong Kaler dan Kidul, Samarang, Leles dan Kadungora (Cikembulan). Dalem Pasehan adalah keturunan dari Ciung Manarah yang lahir di Mandala Puntang. Ia pernah menjadi mertua Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi menikahi anaknya bernama Nyimas Ratna Inten Dewata. Sewaktu menjadi Raja, Dalem Pasehan menyandang gelar Sunan Permana di Puntang. Di akhir hayatnya, ia kemudian menjadi pertapa dan “menghilang” (tilem) di Gunung Satria.

Terdapat perbedaan mengenai Dalem Pasehan. Dalam sejarah Kerajaan Mandala di Puntang, tokoh ini merupakan penguasa kerajaan tersebut hingga akhirnya, berdasarkan keputusan Prabu Siliwangi di Pajajaran, kepemimpinan diserahkan kepada isterinya yang merupakan anak Dalem Pasehan sendir, yaitu Ratu Maraja Inten Dewata menjadi Nalendra di Kadaleman Mandala di Puntang. Perpindahan kekuasaan dari Kerajaan Mandala di Puntang menjadi Kadaleman Timbanganten terjadi pada masa pemerintahan Derma Kingkin.

Di Limbangan Garut, tersebutlah nama Kerajaan Galeuh Pakuan. Kerajaan tersebut cikal bakal dari Kerajaan Timbanganten, Limbangan. Limbangan menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Garut. Konon nama Limbangan diberikan oleh Sunan Gunung Djati melalui Sunan Cipancar atau Adipati Limansenjaya Kusumah pada tahun 1525 M. Nama Limbangan berarti seimbang dalam menyebarkan dakwah Islam. Nama Limbangan diusulkan Sunan Gunung Djati untuk mengganti nama kerajaan Galeuh Pakuan. Sunan Cipancar merupakan adipati di kerajaan tersebut. Ia merupakan pengikut setia dari Raja Santang alias Kian Santang, paman dari Sunan Gunung Djati.

Sunan Cipancar merupakan raja pertama Galeuh Pakuan. Sunan Cipancar berbeda keyakinan dengan ayahnya yakni Prabu Hande Limansenjaya yang menganut agama Hindu. Ia memilih agama Islam setelah belajar dari Kian Santang.

Berdasarkan Sejarah Limbangan, bahwa Sejarah Keluarga Besar Limbangan (Garut) dimulai sejak keberadaan Kerajaan Rumenggong atau Keprabuan Kerta Rahayu, yang rajanya bernama Prabu Rakean Layaran Wangi atau Prabu Jayakusumah. Bila dikaitkan dengan nama Limbangan, Sejarah Keluarga Besar Limbangan (Garut) dimulai sejak Keprabuan Galeuh Pakuan (pecahan dari Kerajaan/ Keprabuan Rumenggong) yang dirubah namanya, menjadi Kabupaten Limbangan oleh Adipati Limansenjaya atau Prabu Wjayakusumah atas perintah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati di Cirebon.

Istilah “Prabu" menunjukan bahwa Sunan Rumenggong adalah seorang Kepala Rakyat dalam pengertian menguasai jumlah rakyat. Jika demikian, ia mungkin seorang raja (raja bawahan, raja daerah) Pakuan Pajajaran. Pun demikian dengan "Prabu" Kian Santang. Seharusnya ia memimpin suatu wilayah. Namun masih belum juga kita temukan rujukan tegas, dimanakah Kian Santang menjadi raja dan menggantikan siapa?

Ada beberapa tingkat Kepala Rakyat tergantung daripada banyaknya rakyat atau “cacah” yang dikuasai. Tingkat-tingkat Kepala Rakyat adalah Raja/Prabu/Ratu/Natha, Bupati/Adipati, Kandaga atau Kandaga Lante, Cutak dan Kuwu atau Lurah.

Setelah Sunan Rumenggong wafat, keprabuan dibagi dua.Sebagian diwariskan kepada putera sulung Sunan Rumenggong bernama Prabu Mundingiwangi yang melanjutkan keprabuan.Sebagian lainnya diwariskan kepada NyaiPuteri Buniwangi, yang mewariskannya lebih lanjut kepada Prabu hande Limansenjaya yang memiliki  saudara kembar. Demikiannlah lahir dua keprabuan setelah wafat Sunan Rumenggong,yaitu:
  1. Keprabuan  Dayeuhmanggung, yang letaknya di Kecamatan Selaawi, kabupaten Garut, di bawah Prabu Mundingwangi.
  2. Keprabuan Galeuh Pakuan di Bawah Prabu Hande Limansenjaya.

Makam Syekh Sunan Rohmat Suci terletak di desa Lebak Agung, Kecamatan Karang Pawitan Kabupaten Garut.


Referensi
  1. Abdullah, dkk. 2012." Indonesia dalam arus sejarah: jilid 3 kedatangan dan peradaban Islam". Jakarta: PT. Ichtiar Baroe van Hoeve
  2. Abdullah, T (Penyunting). 1983. "Agama dan perubahan sosial". Jakarta: Rajawali
  3. Azra, Azyumardi. 1994. "Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan  Nusantara Abad ke-17 sampai 18". Bandung: Mizan.
  4. Ekadjati, Edi S. 2005. "Kebudayaan Sunda: Zaman Pajajaran". Cetakan 1. Jakarta : Pustaka Jaya.
  5. Ekadjati, Edi S. 2005. "Sunan Gunung Jati Penyebar dan Penegak Islam di Tatar Sunda". Jakarta: Pustaka Jaya.
  6. Kusdiana, Ading, Dr., MAg. 2014. "Sejarah Pesantren: Jejak, Penyebaran, dan Jaringannya di Wilayah Priangan (1800-1945)". Disertasi. Bandung: Univesitas Padjadjaran.
  7. "Sengkarut Garut Babad Limbangan". oleh Asep Salahudin. ed. Egidius Patnistik. Kompas.com Diakses 9 Juni 2020.
  8. Anggapradja, R. Sulaeman. "Naskah babad Limbangan"
  9. Lubis, Nina H. et al. 2003. "Sejarah Tatar Sunda". Jilid I dan II. Bandung: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lemlit Unpad.
  10. Lubis, Nina, Prof. Dr. Hj., MS dkk. "Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat". Bandungacademia.edu Diakses 9 Juni 2020
  11. Rosidi, Ajip. 2000. "Ensiklopedia Sunda, Alam, Manusia, dan Budaya". Jakarta: Pustaka Jaya
  12. Salmun, M.A. 1963. "Kandaga Kasusastraan Sunda". Bandung-Djakarta: Ganaco N.V.
  13. Surianingrat, Bayu. 1985. "Pustaka Kabupatian i Bhumi Limbangan Dong Garut". Bandung
  14. "Kerajaan-kerajaan di tatar Garut: Kerajaan Timbanganten". Oleh Asep Harsono HS. S.Sos, M.Si. gemasundagarut.wordpress.com Diakses 9 Juni 2020.
  15. "Cerita Rakyat - Babad Limbangan" garutkab.go.id Diakses 9 Juni 2020.
  16. Wahid, Abdurahman. 2010. "Menggerakan tradisi (esai-esai pesantren)". Yogyakarta: LKiS

Sponsor