Cari

Situs Kumitir dan Nasib Tinggalan Arkeologi Sejarah Kerajaan Sunda

Ekskavasi Situs Kumitir, Mojokerto Jawa timur
 

[Historiana] - Dalam beberapa hari ini, penulis mengikuti update harian ekskavasi Situs Kumitir melalui Youtube channel: AkeoVlog. Ekskavasi pada bulan Agustus 2020 ini merupakan ekaskavasi besar-besaran akan dilakukan di Situs Kumitir, Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. 

 

Temuan talut (dinding tanggul) dan struktur bata di area seluas sekitar enam hektare di Desa Kumitir, Mojokerto, Jawa Timur, diduga berasal dari abad ke-14. Berdasarkan nama desa itu, ahli arkeologi menghubungkan situs Kumitir dengan kisah-kisah yang ada dalam sejumlah naskah kuno yang berasal dari masa Kerajaan Singasari dan Majapahit.



Wicaksono Dwi Nugroho, arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur yang memimpin tim ekskavasi Situs Kumitir menerangkan bahwa nama Kumitir ada dalam Kidung Wargasari, Kitab Negarakrtagama dan juga Pararaton. "Apakah Kumitir di Wargasari adalah Kumeper di Pararaton? Kami duga begitu, Kumeper adalah Kumitir yang namanya masih dikenali hingga sekarang," katanya, Minggu 9 Agustus 2020.


Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, Wicaksono Dwi Nugroho menjelaskan proses ekskavasi dipercepat untuk menampakkan dinding Talud dikelilingi Situs Kumitir sebelum kawasan tersebut berubah dan dipenuhi  permukiman warga.


Penulis pribadi saya mengucapkan selamat dan semangat bekerja kepada para arkeolog dan berbagai pihak yang terlibat dalam ekskavasi Situs Kumitir Mojokerto. Ekskavadi Situ ini akan menjadi kebangaan bangsa Indonesia.


Bagaimana dengan Nasib Arkeologi di Tatar Pasundan?

"Ah... kan di Sunda mah tidak ada candi!" inilah pernyataan yang sering kita dengar selama ini ini. Benarkah tidak ada atau... ah sudahlah. Padahal ada Candi Cangkuang yang telah lama ada di Cangkuang Garut Jawa Barat. Mari kita lihat data temuan terakhir. 


Di Bandung ada Candi Bojongmenje di Rancaekek Bandung (ditemukan pada 18 Agustus 2002). Bagaimana nasibnya sekarang? terbengkalai. Di Bandung ada Situs Batu Candi Tanggulun terdapat di Kampung Talun, Desa Tanggulun, Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung. Juga Candi Bojong Emas di Solokan Jaya Bandung Selatan, malahan onggokan batu-batunya beberapa kali dipindahkan karena terancam erosi sungai Citarum. 

 

Di Ciamis ada Candi Ronggeng atau Candi Pamarican di Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis (ditemukan tahun 1977).  Sudah pernah dilakukan ekskavasi terhadap Candi Ronggeng itu. Disampaikan oleh arkeolog bahwa candi itu masih bisa dipugar. Lalu nasibnya sekarang? tidak ada kabar. Candi Indihiang Tasikmalaya, juga demikian. 

 

Di Karawang terdapat kompleks percandian Batu Jaya. Dikatakan kompleks percandian karena banyaknya jumlah candi yang diidentifikasi para arkeolog. Situs ini pertama kali di survei oleh tim arkeologi FSUI pada tahun 1984, antara tahun 1992 dan 2000 situs ini di eskapasi oleh Puslit Arkenas, dan menghasilkan penemuan sebuah reruntuhan candi.

 

Sebaran Candi mencakup wilayah 5 kilometer persegi. Saat ini, kompleks Candi Batujaya merupakan areal persawahan dan pemukiman penduduk. Sebagian besar bangunan purbakala di lokasi tersebut masih tertimbun dalam 'unur' atau 'lemah duwur' (tanah darat menyembul diantara pesawahan). Sampai dengan pertengahan tahun 2004 ini, penggalian dan penelitian di kompleks percandian di Batujaya masih terus berlangsung di bawah pengawasan Tim Peneliti Situs Batujaya dari Universitas Indonesia. 


Ekskavasi pernah dilakukan beberapa kali dan 2 Candi telah dipugar yaitu Candi Blandongan dan Candi Jiwa. Candi Serut dan lainnya masih belum dipugar. Awalnya diketahui jumlah Unur (Gundukan tanah) yang menutupi candi-candi itu ditenggarai berjumlah 46 titik candi. Kemudian berkembang dengan adanya temuan baru hingga berjumlah 51 yang ada tanda sisa bangunan Candi dan terakhir ternyata jumlah Candi diperkirakan totalnya 62 buah candi. Wow banget bukan?

 

Bagaimana perkembangannya? Akankah diekskavasi besar-besaran? ataukah kita akan mempertahankan pendapat bahwa di tatar Sunda tidak ada candi dan oleh karenanya lelhuhur kita tidak pernah menganut agama Hindu atau Buddha...


Kurangnya ekskavasi tinggal candi di Jawa Barat bukan salah para arkeolog, bukan pula salah pemerintah daerah atau pemerintah pusat. Dukungan kita sebagai warga Jawa barat sangat penting. Munculnya beberapa kali penentangan dalam mengungkap adanya tius keagamaan lama di Jawa Barat turut andil dalam pengambilan keputusan pemerintah dalam ekskavasi. Lihat demonstrasi di Ciamis dengan isu akan dibangunnya Pura (harapanrakyat.com). "Penolakan Rencana pembangunan pura di Desa Sukahurip, Kabupaten Bekasi". (bbc.com). Namun di Jakarta, penulis mengapresiasi Gubernur Jakarta Anies Baswedan yang diberitakan detiknews.com "Anies Pimpin Peletakan Batu Pertama Rumah Ibadah Hindu Tamil di Kalideres". Pembangunan Pura Hindu di Jakarta didukung pemerintah daerah. Munkin karena untuk warga etnis Tamil, bagaimana untuk warga Indonesia?


Kondisi yang ada di negeri kita tercinta Indonesia, penuh dengan toleransi sejak berabad lalu, ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Jangan dihubungkan dengan situasi di negeri lain sebagai ajang pembenaran perlakuan di negeri kita. Misalnya apa yang terjadi Timur Tengah, India dan Myanmar (Birma). Dahulu di Indonesia ketika masih Nusantara, tidak menganut Internasionalisme  (paham internasiona) yang ada perdaganan dengan kerjasama Internasional. Apa yang terjadi dalam kaitannya dengan 'isme' atau paham keagamaan di negeri lain tidak dibawa ke Nusantara. Meskipun dahulu di Nusantara mayoritas Hindu-Buddha, tidak terpengaruh perseteruan politik dari negeri asal ajaran itu. Di India sering terjadi konflik politik, namun tidak berpengaruh ke Nusantara. Bahkan awal sejarah bangsa kita di Nusantara, ketika para pengungsi negeri Salankanyana ke Pulau-pulau Nusantara tidak membawa dendam politik kebangsaan mereka di negeri asalnya. Para pengungsi Salankanyana itu tidak mengajak bangsa Nusantara untuk menyerang negeri Bharata India. Mari kita belajar dari leluhur kita.


Referensi

  1. "Candi Bojongmenje Tenggelam di Kawasan Industri Tekstil" kemdikbud.go.id Diakses 22 Agustus 2020.  
  2. "Melihat Situs Candi Bojongmenje yang Terbengkalai" oleh Rico Bagus - detikNews.com Sabtu, 12 Okt 2019 14:18 WIB Diakses 22 Agustus 2020.


Baca Juga

Sponsor