Cari

Agama Jati Sunda, Sang Ijuna Jati: Jalan Spiritual Sunda yang Hilang Tapi tak Punah

[Historiana] Oleh Alam Wangsa Ungkara. Ajaran Agama Sunda atau Jati Sunda atau Sunda Purwa yang kemudian juga dikenal masyarakat sebagai Sunda Wiwitan. Beberapa orang bertanya-tanya mengenai ajaran ini. Artikel ini mencoba memberikan informasi awal.

Meski telah didukung oleh keputusan Mahkamah Konstitusi tentang ajaran lokal Nusantara, namun warga masyarakat masih bingung karena minimnya informasi. Berikut kami informasikan beberapa hal singkat mengenai Agama Jati Sunda. Informasi disampaikan dalam bahasa Sunda. Naskah akan terus diupdate, berdasarkan penemuan sumber terpercaya.


Bab Pertama: Pangawitan Nu Jati (Awal Kebenaran)

Dewasa ini, banyak orang menjalani hidup mereka dalam kebingungan, kekacauan, dan disorientasi. Banyak yang mencoba menemukan makna hidup melalui ajaran eksternal, tetapi lupa bahwa di tanah kita sendiri terdapat ajaran yang benar-benar luas dan mendalam: Jalan Spiritual Sunda — yang disebut Agama Sunda. Agama Sunda bukanlah agama dalam arti "agama asing" yang mengklaim membawa firman langsung dari Tuhan, tetapi lebih seperti sistem nilai, kehidupan, dan aturan hidup sehingga tidak ada kekacauan: "A" (tidak) dan "Gama" (kekacauan). Artinya: agama adalah jalan menuju keteraturan, harmoni, dan keseimbangan. Pada masa pemerintahan Raja Sanghyang Dharmasiksa (juga dikenal sebagai Raja Sanghyang Wisnu), Raja Sunda Galuh yang memerintah antara tahun 1175 - 1297 M, ajaran ini dikelola dengan bijaksana. Ia menulis manuskrip Amanat Galunggung (Papagon dari Galunggung) yang saat ini disimpan di Perpustakaan Nasional dengan nomor koleksi L 632. Sementara itu, manuskrip Lontar Sanghyang Siksa Kandang Karesian, yang disimpan di Perpustakaan Nasional dengan nomor koleksi L 630 dan L 624, ditulis pada tahun 1518 M. Dalam manuskrip tersebut, ajaran ini disebut "Agama Jati Sunda" atau "Agama Sunda Pajajaran". Ajaran ini menjadi landasan spiritual masyarakat Sunda sebelum kedatangan agama-agama asing. Tidak ada paksaan, tidak ada ancaman. Jalan Sunda adalah jalan kesadaran batin, di mana mereka yang mengenal diri sendiri akan mengenal "Engkau". Anda tidak perlu mencari jauh-jauh, karena "Engkau" ada dalam kelembutan diri. Engkau — Sang Pencipta segala sesuatu — tidak memiliki nama khusus. Dalam berbagai teks, Beliau disebut dengan berbagai atribut:

  • Sang Ijuna Jati (Yang Maha Benar)
  • Sanghyang Tunggal (Yang Maha Esa)
  • Sanghyang Kersa (Yang Maha Berkehendak)
  • Sanghyang Wening (Yang Maha Suci)
  • Sanghyang Karsa (Yang Maha Kuasa)
Semua ini bukanlah nama, melainkan atribut, yang berjumlah lebih dari 3000 nama atribut.
Ini menunjukkan bahwa masyarakat Sunda memiliki pemikiran spiritual yang sangat dalam. Oleh karena itu, sangat penting bagi masyarakat Sunda saat ini untuk menyadari dan memulihkan ajaran leluhur mereka, sehingga mereka dapat memperluas kesadaran diri, kesadaran akan alam, dan kesadaran akan Tuhan. Jalan Sunda bukanlah jalan menuju dunia luar, tetapi jalan untuk kembali kepada diri mereka yang sejati: jalan menuju ke dalam diri mereka sendiri. Alam tertinggi disebut Alam Jatiniskala, yaitu tempat kesucian sejati. Ketika kita kembali ke asal kita, kita akan bertemu Tuhan lagi. Itulah sebabnya kita sering berdoa untuk orang mati: “Semoga mereka diterima di sisi-Nya” Sebuah istilah yang berasal dari ajaran Sunda. Sekaranglah saatnya untuk menelusuri kembali jalan yang hilang — jalan yang sebenarnya tidak hilang, tetapi hanya tertutupi oleh segala sesuatu dari luar. Jalan Sang Ijuna Jati — Jalan Spiritual Sundanese.

Bab Kadua: Struktur Jalan "Jati Sunda"

Dalam sistem spiritual Sunda, terdapat tingkatan yang mewakili jalan batin manusia menuju kesempurnaan. Tingkatan-tingkatan ini tercatat dalam beberapa teks, termasuk Manuskrip Kropak 630. Tingkatan-tingkatan tersebut disebut sebagai berikut:

  • Acara – seorang siswa atau murid yang baru memulai jalan spiritual. Siswa harus mempelajari pengetahuan dan mengikuti petunjuk.
  • Adigama – seseorang yang telah dengan tekun mengikuti aturan dan ajaran.
  • Gurugama – seseorang yang telah menjadi teladan bagi orang lain dalam mempraktikkan agama (ajaran leluhur).
  • Tuhagama – seseorang yang telah menyatukan hatinya dengan ajaran; tidak hanya mengetahui, tetapi juga hidup dalam ajaran tersebut.
  • Satmata – seseorang yang mata hatinya terbuka, dapat melihat keagungan sejati.
  • Suraloka – seseorang yang telah menelusuri alam pengalaman, terhubung dengan alam supranatural dan lembut.
  • Nirawerah – tingkatan tertinggi, yaitu seseorang yang telah bersatu dengan Diri Sejati, kehilangan rasa "aku", kembali ke esensi, menjadi bagian dari kemurnian sejati.
Tingkatan-tingkatan ini tidak berarti bahwa tingkatan tersebut harus dicapai dalam waktu singkat. Beberapa orang mungkin hanya mencapai tingkat adigama selama hidup mereka, tetapi itu juga mulia jika dilakukan dengan tulus dan sesuai dengan kesadaran. Tingkatan tertinggi yang tercatat dalam sejarah Sunda pada tingkat Satmata dalam praktik Agama Sunda adalah Prabu Sanghyang Bunisora ​​​​Suradipati. Beliau adalah raja Kerajaan Sunda Serikat Galuh yang memerintah antara tahun 1357 dan 1371 di mana pemerintahannya berpusat di Kawali. Beliau mewarisi takhta dari saudaranya, Prabu Linggabuana yang meninggal dalam Perang Bubat pada tahun 1357, di mana beliau diangkat menjadi raja karena putranya Niskala Wastu Kancana adalah putra mahkota yang baru berusia 9 tahun. Ada juga tingkatan Suraloka dan Nirawerah dalam sejarah Agama Jati Sunda. Jalan spiritual Sunda tidak menekankan ritual atau aturan yang ketat, tetapi lebih pada kesadaran diri, rasa kesucian, dan kehidupan yang seimbang. Inilah yang menjadikannya jalan yang cocok untuk sepanjang masa. Hierarki spiritual Sundanese juga menyerupai sistem negara di Pajajaran kuno yang disebut Tritangtu di Bwana:
  • Ratu (Raja)
  • Rama
  • Resi (Pandita)
Hierarki Resi adalah yang terluas, mulai dari yang pertama hingga yang terakhir.
Ini menunjukkan bahwa ajaran Sundanese membuka jalan spiritual bagi siapa saja, selama mereka tekun, jujur, dan berhati terbuka.

Bab Ketiga: Ratusan Nama-Nya — Sebutan Sifat Sang Maha Kuasa

Dalam ajaran Sunda, tidak ada nama khusus untuk menyebut-Nya — Sang Pencipta. Ini adalah bukti bahwa leluhur kita telah menempuh jalan spiritual yang luas, yang tidak menekankan pada satu bentuk atau rupa tunggal, tetapi lebih menekankan pada perasaan, kualitas, dan kepenuhan batin. Di antara nama-nama yang paling populer, kita dapat menemukan:

  • Sanghyang Tunggal — menunjukkan bahwa Dia adalah satu, tunggal, tak terbagi.
  • Sanghyang Kersa — Dia adalah Yang Maha Kehendak, segala sesuatu terjadi sesuai kehendak-Nya.
  • Sanghyang Wening — artinya Yang Maha Suci, jernih, tanpa noda. Inilah hakikat kesucian sejati.
  • Sanghyang Karsa — Maha Kuasa, segala sesuatu bergantung pada kehendak dan kekuasaan-Nya.
  • Sang Ijuna Jati — Yang Maha Benar, yang mewakili substansi yang melampaui segala sesuatu, yang ada di dalam segala sesuatu.

Selain itu, ada ribuan nama lain, yang sering ditemukan dalam manuskrip kuno, seperti dalam Carita Parahyangan, Bujangga Manik, dan manuskrip Kawih Sanghyang. Ini bukanlah nama-nama untuk menangkap bentuk, tetapi untuk mendekati perasaan.

Apa Artinya Ratusan Nama?

Ratusan referensi ini menunjukkan bahwa Sundanese tidak mengajarkan kepercayaan pada “Tuhan” seperti yang ditunjukkan dalam agama-agama Semit (seperti Islam, Kristen, Yahudi). Tetapi Sundanese mengajarkan untuk merasakan kehadiran-Nya dalam segala hal:

  • Di dalam diri sendiri,
  • Di alam,
  • Di dalam orang lain,
  • Dalam ruang dan waktu.
Dia tidak jauh. Dia dekat, bahkan di dalam diri sendiri. Oleh karena itu, jalan spiritual Sundanese mengajarkan untuk menemukan diri sendiri, karena:

“Saha nu nyaho ka dirina, bakal nyaho ka Anjeuna.”

“Siapa yang mengenal dirinya sendiri, mengenal Tuhannya.”
Ajaran ini merupakan praktik spiritual yang tinggi, yang mendorong kita untuk berupaya mencapai kesadaran, kemurnian, dan keseimbangan.

Teu Ngabarung, Tapi Mawa Rasa (Bukan Beribadah, Tetapi Menghayati Perasaan)

Dalam agama Sunda, tidak ada konsep "ibadah" dalam arti beribadah, mengikuti aturan ibadah yang ketat, atau bermimpi tentang keselamatan. Tetapi yang ada adalah perasaan dan pengakuan akan kekuatan dan kesucian-Nya. Ketika kita mengetahui, menyadari, dan menghormati—itu berarti kita telah "beribadah". Inilah ibadah perasaan, ibadah hati, ibadah yang tidak harus diwujudkan dalam bentuk ritual, tetapi tercermin dalam perilaku hidup.

Bab Keempat: Karuhun, Alam, dan Hidup Sederhana

Dalam ajaran Sunda, hubungan spiritual tidak dapat dipisahkan dari hubungan dengan leluhur, dengan alam, dan dengan kehidupan sehari-hari. Ketiga hal ini seperti tiga ujung panggung: saling melengkapi, saling melindungi, dan saling memperkuat.

Hormat Ke Karuhun: Asal Usul yang Mulia

Karuhun Leluhur bukan hanya orang tua, tetapi juga roh asal, warisan cita rasa, dan sumber kebijaksanaan. Di setiap desa Sundanese, kita sering menemukan tradisi menyimpan foto leluhur, berdoa, dan melestarikan ajaran mereka. Ini adalah pengingat akan asal usul, karena:

“Nu leungit asal, bakal leungit jati dirina.” 

(Siapa yang kehilangan asal-usulnya, kehilangan identitasnya.)

Dengan menghormati leluhur kita, kita tidak mendewakan mereka, tetapi mengakui dan menghormati bahwa kita adalah hasil dari kehidupan orang-orang sebelumnya. Ini adalah bagian dari menjaga rantai kehidupan yang tak terputus.

Menjaga Alam: Tiada Spiritual Tanpa Keseimbangan

Alam bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga cerminan diri dan perasaan seseorang. Leluhur Sunda mengajarkan bahwa hutan adalah ibu, gunung adalah leluhur, sungai adalah urat nadi kehidupan. Hutan tidak boleh ditebang sembarangan. Air tidak boleh diremehkan. Gunung tidak boleh dianggap hanya sebagai batu. Segala sesuatu memiliki jiwa, memiliki perasaan, dan harus dihormati. Tradisi mempersembahkan sesaji kepada hutan, air, atau gunung bukanlah untuk beribadah, tetapi sebagai ungkapan rasa syukur dan saling menghormati. Ajaran ini menjaga keseimbangan, melindungi bumi dari kerusakan, dan melindungi diri batin kita dari kesombongan.

Hidup Sederhana: Tapi Hurip, Luhur, dan Mulia

Nenek moyang Sunda mengajarkan kita untuk hidup sederhana. Tetapi itu bukan berarti tidak memiliki apa-apa. Hidup sederhana berarti:

  • Tidak pamer
  • Tidak mengambil alih hak orang lain
  • Tidak terpesona oleh dunia
  • Tetapi kaya akan pengetahuan dan pemahaman
Pada masa Pajajaran, masyarakat Sunda tercatat sebagai bangsa yang kaya — berdagang dengan kerajaan asing, memiliki budaya yang berkembang, dan masyarakat yang makmur.
Tetapi kehidupan mereka tidak terpesona oleh pangkat atau kekayaan.

Ajaran "Silih asah, silih asih, silih asuh" jadi landasan moral. Apabila ketiga hal tersebut terpenuhi, maka terjadilah hal keempat: silih wangikeun — Membangkitkan kehidupan mulia dalam diri sendiri dan dalam diri orang banyak.

Bab Kelima: Mulih Ka Jati, Mulang Ka Asal

Dina hirup nu pinuh ku kasibukan jeung gangguan, kadang urang poho kana asal jeung tujuan. Poho kana jati diri, kana rasa nu sajati, kana nu sakuduna jadi pituduh kahirupan. Dina ajaran Sunda buhun, sagalana téh dimimitian ku hiji hal: mangsa urang mulih ka jati.

Jati hartina asal, nu murni, nu sajati. Mulih ka jati hartina mulang ka asal mula — nya éta dirina sorangan, jati dirina, jeung nu nyiptakeun dirina. Ieu prosés disebut oge jalma jadi, nya éta manusa nu geus sadar kana asal, tujuan, jeung jalan hirupna.

Dina ajaran karuhun, tujuan ahir hirup lain kahirupan saatos maot, lain syurga atawa naraka, tapi kasampurnaan rasa — nya éta patepang jeung Anjeuna dina Alam Jatiniskala. Eta patepang lain wujud nyanghareupan fisik, tapi nyanghareupan rasa, nyanghareupan kasadaran.

Ieu nu disebut “sangkaning hurip”: hirup sangkan hurip. Manusa hirup di dunya lain ukur pikeun nyorang kabagjaan lahir, tapi pikeun ngalakukeun panalungtikan jero kana dirina sorangan, ngorek rasa, neuleuman batin, nepi ka ngahontal jati.

Dina laku lampah kahirupan sapopoe, ieu ajaran bisa katingali dina cara urang ngajaga:

  • Tata titi duduga dina omongan — ucapan nu taya maksud nyingsieunan atawa nyilakakeun batur.
  • Tata titi dina lampah — ngalakukeun sagalana kalawan daria, henteu ngalanggar kahadéan.
  • Tata titi dina rasa — henteu kagoda ku amarah, dengki, atawa loba kahayang.

Mun kahirupan dijalankeun kalawan sadar, kalayan ngajaga rasa, eta hartina urang geus nyorang Jalan Sang Ijuna Jati.

Urang Sunda henteu perlu jauh neangan kadamaian. Kadamaian aya di dinya: dina jero dirina sorangan. Nu kudu dipaluruh lain tempat suci di luar, tapi tempat suci dina rasa, dina haté, dina elmu, dina lampah.

Ku jalan ieu, urang bisa ngajadikeun hirup sabagai “lalakon” nu jero hartina — lalakon mulang, ti nu profan kana nu suci, ti kabingungan kana panarangan, ti kabagjaan lahir kana kabagjaan batin.

Sangkan jadi jalma, sangkan jadi jati, sangkan jadi jembar. Éta Jalan Sang Ijuna Jati.

Dalam kehidupan yang penuh kesibukan dan gangguan, terkadang kita melupakan asal usul dan tujuan kita. Melupakan identitas kita, perasaan sejati kita, apa yang seharusnya menjadi pedoman hidup. Dalam ajaran Sunda, semuanya dimulai dengan satu hal: ketika kita kembali kepada diri kita yang sejati. Jati berarti asal, yang murni, yang sejati. Kembali kepada diri kita yang sejati berarti kembali kepada asal kita — yaitu, diri kita sendiri, identitas kita, dan pencipta kita. Proses ini juga disebut menjadi, yaitu manusia yang telah menyadari asal usul, tujuan, dan jalan hidupnya. Dalam ajaran leluhur kita, tujuan akhir hidup bukanlah kehidupan setelah kematian, bukan surga atau neraka, tetapi kesempurnaan perasaan — yaitu bertemu dengan Yang Esa di Alam Jatiniskala. Pertemuan itu bukanlah pertemuan fisik, tetapi pertemuan dengan perasaan, pertemuan dengan kesadaran. Ini disebut “sangkaning hurip”: hidup untuk hidup. Manusia hidup di dunia bukan hanya untuk menikmati kebahagiaan kelahiran, tetapi untuk melakukan penelitian mendalam tentang diri mereka sendiri, untuk mengeksplorasi perasaan, untuk menjelajahi diri batin, hingga mereka mencapai jati diri mereka yang sebenarnya. Dalam kehidupan sehari-hari, ajaran ini dapat dilihat dalam cara kita menjaga:

  • Tata krama dalam berbicara — ucapan yang tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti atau menyakiti orang lain.
  • Tata krama dalam bertindak — melakukan segala sesuatu dengan bermartabat, tidak melanggar kebajikan.
  • Tata krama dalam perasaan — tidak tergoda oleh amarah, iri hati, atau keinginan yang berlebihan.

Jika hidup dijalani dengan kesadaran, dengan menghormati perasaan, itu berarti kita telah menempuh Jalan Sang Ijuna Jati. Orang Sunda tidak perlu pergi jauh untuk menemukan kedamaian. Kedamaian ada di sana: di dalam diri mereka sendiri. Yang harus dicari bukanlah tempat suci di luar, tetapi tempat suci dalam perasaan, di dalam hati, dalam pengetahuan, dalam tindakan. Dengan cara ini, kita dapat menjadikan hidup sebagai "perbuatan" yang bermakna dalam — sebuah tindakan kembali, dari yang profan ke yang suci, dari kebingungan ke pencerahan, dari kegembiraan kelahiran ke kegembiraan batin. Menjadi pribadi, menjadi identitas, menjadi luas. Itulah Jalan Sang Ijuna Jati.

Referensi

  1. Amanat Galunggung, Kropak 632. Koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
  2. Lontar Sanghyang Siksa Kandang Karesian, L 630 & L 624. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
  3. Carita Parahyangan. Naskah kuna Sunda abad ka-16.
  4. Kawih Sanghyang. Manuskrip spiritual Sunda kuna.
  5. Bujangga Manik. Naskah perjalanan rohani abad XV.
  6. Ayatrohaedi (1979). Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Pustaka Jaya.
  7. Ekajati, E.S. (1995). Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah. Jakarta: Pustaka Jaya.
  8. Danasasmita, Saleh (1987). Naskah Sunda Kuno dan Maknanya dalam Kehidupan Spiritual Masyarakat Sunda. Bandung: Lembaga Kajian Budaya Nusantara.
  9. Kalsum, U. (2012). Agama Lokal di Nusantara: Kajian terhadap Kepercayaan Asli Masyarakat Indonesia. Yogyakarta: LKIS.
Baca Juga

Sponsor