[Historiana] - Agus Haris Purnama Alam - Board of Peace (BoP) adalah organisasi internasional baru yang digagas oleh Donald Trump (yang kembali menjabat sebagai Presiden AS) dengan fokus utama pada penyelesaian konflik di Gaza dan stabilisasi global.
Berikut adalah perkembangan terbaru per Februari 2026:
1. Peresmian dan Struktur Organisasi
- Deklarasi Davos: Trump meresmikan Piagam Board of Peace pada 22 Januari 2026 di sela-sela acara World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss.
- Kepemimpinan: Trump menjabat sebagai Ketua (Chairman) seumur hidup dengan hak veto eksklusif atas semua keputusan mayoritas.
- Mandat Gaza: BoP saat ini memasuki Fase Dua, yang berfokus pada demiliterisasi, pembentukan pemerintahan teknokratis di Gaza (di bawah komite Palestina yang ditunjuk AS), dan rekonstruksi besar-besaran.
2. Partisipasi Internasional
- Anggota Bergabung: Hingga kini, sekitar 27 negara dilaporkan telah bergabung. Negara-negara yang sudah menandatangani piagam atau menyatakan dukungan antara lain Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Mesir, Yordania, Turki, Pakistan, Hungaria, dan Azerbaijan.
- Negara yang Menolak/Ragu: Uni Eropa (kecuali Hungaria), Inggris, Prancis, Jerman, China, dan Rusia sejauh ini belum bergabung atau secara terbuka menyatakan keraguan terhadap dominasi AS dalam forum tersebut.
3. Posisi Indonesia
- Partisipasi Awal: Presiden Prabowo Subianto ikut menandatangani piagam BoP di Davos pada Januari 2026 sebagai langkah diplomasi aktif.
- Ancaman Keluar: Pemerintah Indonesia menegaskan akan keluar dari Board of Peace jika forum tersebut tidak secara nyata memperjuangkan kemerdekaan Palestina yang berdaulat atau jika kebijakannya bertentangan dengan kepentingan nasional.
- Kritik Dalam Negeri: Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sejumlah akademisi (seperti dari UGM) menyatakan skeptisisme, khawatir BoP hanya menjadi alat kepentingan politik Trump dan Israel.
4. Kontroversi Terkini
- Pengganti PBB?: Trump secara kontroversial menyatakan bahwa BoP bisa menjadi alternatif bagi Dewan Keamanan PBB yang dianggapnya gagal.
- Rencana "New Gaza": Jared Kushner mempresentasikan visi rekonstruksi Gaza dengan ratusan gedung pencakar langit (mirip Dubai), yang dikritik oleh sebagian pihak sebagai upaya komersialisasi wilayah konflik tanpa konsultasi mendalam dengan warga Palestina.
Update dari trump sendiri, sudah sampai mana?
Hingga awal Februari 2026, Donald Trump telah mengukuhkan posisi pribadinya sebagai Ketua (Chairman) Board of Peace (BoP) seumur hidup. Trump mengklaim organisasi ini sebagai satu-satunya solusi nyata yang melampaui birokrasi PBB dalam menangani konflik global.
Berikut adalah progres terbaru yang dilaporkan langsung dari kepemimpinan Trump:
1. Peresmian dan Mandat Absolut
- Ratifikasi Piagam: Pada 22 Januari 2026 di Davos, Trump secara formal menandatangani piagam BoP. Ia menegaskan bahwa badan ini memiliki "hak veto eksklusif" atas keputusan strategis, yang memberinya kekuasaan absolut tanpa tergantung pada posisi presiden AS-nya.
- Target Gaza: Trump mengeklaim telah berhasil menyelesaikan Fase Satu (gencatan senjata dan pemulangan sandera). Per Februari 2026, ia secara agresif mendorong Fase Dua, yaitu demiliterisasi total Hamas dan penunjukan pemerintahan teknokratis di bawah pengawasan langsung BoP.
2. Ambisi Rekonstruksi (Gaza 2030)
- Proyek "New Gaza": Melalui Jared Kushner, Trump mempresentasikan masterplan pembangunan 180 gedung pencakar langit di Gaza.
- Pembersihan Puing: Trump telah membuka tender internasional untuk pembersihan sekitar 68 ton puing reruntuhan perang di Gaza sebagai langkah awal pembangunan.
3. Diplomasi dan Iuran Keanggotaan
- Ekspansi Anggota: Trump menyatakan sudah ada 27 negara yang bergabung. Namun, terdapat kontroversi mengenai "biaya partisipasi" sebesar Rp16,9 triliun ($1 miliar) untuk menjadi anggota tetap.
- Indonesia dalam BoP: Trump secara langsung menyambut Presiden Prabowo sebagai anggota pendiri. Meski begitu, pemerintah Indonesia melalui Seskab Teddy menegaskan bahwa pembayaran iuran tersebut tidak wajib dan RI belum melakukan pembayaran.
4. Tantangan dan Sikap Trump
Meskipun Trump menyatakan bahwa "konflik di Gaza akan segera berakhir" di bawah kepemimpinannya, ia masih menghadapi hambatan besar:
- Boikot Eropa: Negara-negara besar Eropa (kecuali Hungaria) masih menahan diri karena keberatan dengan dominasi penuh AS dalam struktur BoP.
- Keamanan: Proses pelucutan senjata (demiliterisasi) masih menemui jalan buntu di lapangan, yang membuat investor swasta ragu untuk mulai mendanai proyek gedung pencakar langit tersebut.
Adanya penolakan berbagai pihak di indonesia atas sikap prabowo gabung BoP, adakah tanggapan dari Trump?
Hingga saat ini (Februari 2026), Donald Trump telah memberikan beberapa respons khas yang ditujukan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap dinamika politik di Indonesia pasca-bergabungnya Presiden Prabowo ke dalam Board of Peace (BoP).Berikut adalah poin-poin utama dari sikap dan tanggapan Trump:
1. Penekanan pada Hubungan Personal dengan Prabowo
Trump secara konsisten memuji keberanian Presiden Prabowo untuk bergabung sebagai salah satu "Pendiri Awal" (Founding Members). Dalam pernyataannya di Mar-a-Lago baru-baru ini, Trump menyebut:
- "Great Leader": Trump menyebut Prabowo sebagai pemimpin yang "memahami masa depan" dan berani mengambil langkah yang tidak populer demi stabilitas kawasan.
- Apresiasi Diplomasi: Trump menghargai posisi Indonesia yang tetap vokal membela Palestina di dalam forum BoP, meskipun ia sendiri menegaskan bahwa keputusan akhir tetap ada di tangan Ketua BoP (dirinya sendiri).
2. Tanggapan Terhadap Kritik "Iuran" dan Kedaulatan
Menanggapi kegaduhan di Indonesia mengenai biaya keanggotaan sebesar $1 miliar (sekitar Rp16,9 triliun) dan isu kedaulatan, Trump merespons dengan gaya transaksionalnya:
- Fleksibilitas untuk "Teman": Trump mengisyaratkan bahwa untuk negara-negara strategis seperti Indonesia, skema kontribusi tidak harus selalu berupa uang tunai langsung, melainkan bisa melalui kerjasama logistik atau dukungan politik di ASEAN.
- Narasi "Deal of the Century": Trump meyakinkan publik Indonesia melalui media sosialnya bahwa penolakan hanya akan membuat Indonesia "ketinggalan kereta" dalam proyek rekonstruksi besar-besaran di Gaza yang ia klaim akan sangat menguntungkan secara ekonomi.
3. Sikap terhadap Ancaman "Keluar" dari Indonesia
Merespons pernyataan pemerintah Indonesia bahwa RI bisa keluar jika BoP tidak memihak kemerdekaan Palestina, Trump cenderung meremehkan ancaman tersebut:
- Keyakinan pada Hasil: Trump bersikeras bahwa "hasil nyata" di lapangan (pembangunan gedung dan ekonomi di Gaza) akan membungkam kritik di Jakarta.
- Tekanan Halus: Dalam beberapa briefing, tim Trump memberikan sinyal bahwa negara yang keluar dari BoP mungkin akan kehilangan akses terhadap fasilitas perdagangan khusus yang sedang dirancang AS untuk anggota-anggota Board of Peace.
4. Pengabaian terhadap Kritik Ormas (MUI & NU)
Terhadap penolakan dari organisasi keagamaan seperti MUI atau NU yang menganggap BoP sebagai alat politik pro-Israel, Trump secara umum:
- Tidak Merespons Teknis: Trump cenderung mengabaikan kritik dari aktor non-negara. Baginya, diplomasi hanya terjadi antar pemimpin puncak (Top-to-Top).
- Fokus pada Arab Saudi: Trump menggunakan dukungan dari negara-negara Arab (seperti Arab Saudi dan UEA) di dalam BoP sebagai argumen untuk mematahkan kritik dari kelompok Muslim di Indonesia, dengan narasi: "Jika pemimpin Arab saja mendukung, mengapa Indonesia ragu?"
Kesimpulan Sementara:
Trump menganggap protes di Indonesia sebagai "kebisingan domestik" yang biasa. Fokus utamanya tetap menjaga Presiden Prabowo tetap berada di mejanya, karena keberadaan Indonesia (sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar) memberikan legitimasi moral yang sangat besar bagi Board of Peace di mata dunia internasional.
Apakah Anda ingin saya merinci lebih dalam mengenai poin-poin keberatan utama yang disampaikan oleh tokoh-tokoh politik Indonesia terkait hal ini?
