Cari

Cerita Mukidi bukannya juga banyak yang vulgar?


Cerita Mukidi bukannya juga banyak yang vulgar? adalah pertanyaan beritagar.id kepada pencipta sosok jenaka Mukidi, Soetantyo Moechlas.


Yoyo, panggilan Soetantyo Moechlas, mengatakan "Pas awal-awal memang agak vulgar, sekarang sudah aku kurangi, malu he-he. Lagi pula aku enggak niat mengomersialkan cerita Mukidi waktu itu. Hanya sebagai ice breaker saja saat presentasi ketika jadi product manager (di perusahaan farmasi) atau ketika ditanggap (disuruh cerita) sama keluarga."

Prinsipnya Mukidi tidak pernah dibuat untuk berusaha melucu. Dengan adanya absurd dan ambiguitasnya maka pembaca akan otomatis tertawa, tidak bingung mencari lucunya di mana.

Bagaimana caranya untuk menganalisa sebuah cerita itu lucu atau tidak?
Humor atau kelucuan itu tidak memaksa, tapi juga tidak selalu identik dengan tawa. Tertawa hanya satu respons saja menanggapi humor. Kalau memang lucu pasti akan membuat orang jadi penasaran untuk mengikuti terus, kalau tidak lucu ya akui saja dan katakan. Cuek saja, dan jangan berharap orang akan tertawa dari cerita Anda.

Tidak berencana dipatenkan?
"Enggak, nanti malah repot. Rejeki orang itu sudah diatur masing-masing. Sama saja dengan merek Dagadu lah, siapa saja kan boleh pakai merek itu. Yang resmi hanya beberapa, tapi tetap saja sama-sama laku. Kenapa? Karena orang tahu mana yang asli dan tidak. Seperti juga bakpia."

Sejak kapan bercerita lucu di depan orang banyak?
Gue ingat dalam acara kantor di Hotel Horison Ancol tahun 1986 gue mencoba mengibur teman-teman perusahaan dengan kisah Mukidi. Nah, itu adalah pertama kalinya gue coba membuat orang lain tertawa. Sejak itu juga gue identik dengan Mukidi.

Oh Mukidi memang sudah terkenal saat itu...
Awal dikenalnya Mukidi sebetulnya bermula ketika nama itu jadi bagian dari strategi pemasaran tempat gue kerja. Mukidi itu singkatan dari obat Mucopect dan Kiddi Pharmaton. Singkatan itu memudahkan penjualan para sales obat.

Dengan singkatan Mukidi itu penjualan obatnya jadi laku?
Enggak juga he-he. Yang Mucopect-nya laku, tapi Kiddi-nya malah enggak.

Di media-media nama Mukidi dikatakan Anda diambil dari salah satu film Warkop DKI?
Bukan. Tidak ada hubungannya. Penamaan Mukidi karena saya suka nama-nama Banyumasan. Mukidi adalah nama populer di sana. Kebetulan saya berasal dari Purwokerto.

Demikian sekilas kutipan wawancara Yoyo di Britagar.id

Menurut Bagi.me mengigambarkan bahwa Mukidi berasal dari Cilacap. Tipikal orang yang biasa saja, tidak terlalu alim, mudah akrab dengan siapa saja. Punya karir tapi kadang-kadang bisa menjadi apa saja. Istrinya Markonah, juga punya karir tapi tidak terlalu istimewa. Anak mereka 2 orang, Mukirin yang sudah remaja dan Mukiran yang masih duduk di bangku SD. Sahabatnya adalah Wakijan.

_____
VULGAR: KISAH Bukan MUKIDI JADI DOKTER GADUNGAN
Ini kisah bukan dari Yoyo


Saat Kidip jadi dokter gadungan, ia menerima pasien yang mengaku sakit demam, Pasien itu bernama Maronah yang saat itu belum dia kenal. Wanita yang cantik di mata Kidip. Kelak ia menjadi istrinya (kawin hansip kali hehehe).
Termometer
Kidip: "Ibu sakit apa?
Maronah: "Demam dok"
Kidip: "Baik... kita periksa. Buka mulutnya bu!!"
Perintah Kidip dambil memasukan termometer ke mulut Maronah.
Kidip: "Hmmmm... ibu baik-baik saja, suhu normal..." katanya
           "Coba buka bajunya, kita cek di ketiak"
           "hmmm.. sama saja, normal kok"
Maronah: "Tapi.. saya merasa demam"
Kidip: "Baiklah.. coba ibu buka celana dan nungging, biar dicek dengan termometer dibagian duburnya"
 
Maronah membuka celana dan nungging. Disaat ada sesuatu yang masuk...
Maronah: "Maaf dok... itu bukan dubur!"
Kidip: "oh.. gapapa bu, ini juga bukan termometer..."

Wakakakakaka koplak

Mohon maaf jika tidak berkenan
Baca Juga

Sponsor