Cari

Ciri Orang Bahagia Menurut Rasulullah

Ilustrasi: fenicie.com
Ada 11 Ciri orang Bahagia menurut Rasulullah saw, dinukilkan dari tulisan Ali Akbar bin Aqil , wakil Ketua MIUMI Malang Raya dalam Hidayautllah.



SETIAP orang pasti ingin bahagia. Sayangnya, sebagian orang menilai kebahagiaan terletak pada harta dan materi. Artinya seseorang memandang dirinya dan dipandang oleh orang lain sebagai orang yang bahagia kalau memiliki harta melimpah, deretan mobil, hamparan tanah yang luas dan seabrek fasilitas dunia lainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam memiliki kriteria tersendiri untuk menilai apakah seseorang masuk sebagai golongan yang bahagia atau tidak. Beliau berpandangan bahwa bahagia itu bukan sebuah kondisi tapi pilihan. Kita bisa memilih untuk menjadi orang yang bahagia meski pun kita bukan termasuk orang yang kaya.

Rasul membahasakan bahagia dengan kata ‘thuba’ yang berarti beruntung, bahagia, dan sukses. Dari kata thuba inilah kita bisa menemukan jejak-jejak orang yang bahagia untuk kita jadikan sebagai evaluasi diri apakah diri kita sudah termasuk di dalamnya atau belum.

Pertama, orang yang bahagia adalah orang yang asing dalam kesalehan

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Beruntunglah orang yang asing.” Sahabat bertanya, “Siapakah orang-orang asing itu?” Nabi menjawab, “Orang asing (yang beruntung itu) adalah orang-orang shalih yang berada di tengah masyarakat yang banyak melakukan keburukan, yang melakukan kemaksiatan lebih banyak daripada yang melakukan ketaatan.”

Inilah kriteria orang bahagia menurut Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Yakni orang yang tetap istiqamah mengerjakan kebajikan, meski di sekelilingnya lebih pro kepada keburukan. Orang asing seperti ini tidak ambil pusing dan peduli, apakah ia dinilai negatif atau positif oleh orang-orang yang hanyut dalam sungai kemaksiatan. Yang ia pedulikan adalah meraih ridha Allah Subhanahu Wata’ala. Ia tidak ikut hanyut ke dalam arus keburukan yang sedang mengaliri kehidupan di suatu zaman.

Orang yang asing dalam kesalehan selalu berupya memiliki pendirian yang kuat, tidak berubah-ubah layaknya bunglon yang berubah kulit pada masa tertentu. Pagi dan sore, siang dan malam, ia tetap konsisten dalam mengabdi kepada Allah sembari terus berusaha memperbaiki diri dan orang lain untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Kedua, orang yang beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam meski tidak menjumpainya.

Jumlah manusia yang beriman kepada Rasul dan semasa dengan beliau tidak sebanding dengan jumlah umat Islam yang hidup sepeninggalnya. Jarak waktu yang begitu panjang telah memisahkan antara kehidupan kita dengan masa Rasul. Di sinilah letak keistimewaannya. Meski tidak berjumpa secara langsung namun tetap beriman terhadap risalah yang disampaikan oleh Nabi. Orang-orang ini masuk dalam golongan kaum yang beruntung. Seperti sabda Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wassallam,

“Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku dan berbahagialah dan (beruntunglah) orang yang tidak melihatku dan beriman kepadaku (7x menyebut).” (HR. Bukhari).

Oleh karena itu, kita harus mati-matian mempertahankan iman dalam hati kita sampai akhir hayat. Godaan dan tantangan di depan semakin kuat dan keras. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan umur kita berakhir dalam keadaan iman, dalam keadaan husnul khatimah.

Ketiga, orang yang beramal berdasar ilmu

Kita pernah bahkan sering mendengar ungkapan yang artinya, Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. Ilmu , sedikit atau banyak, yang sudah kita raih harus kita amalkan. Mengamalkan suatu perbuatan harus didasari ilmu agar tahu mana yang benar dan yang salah. Imam Bukhari pernah berkata, Ilmu sebelum beramal dan berucap. Ucapan ini menunjukkan pentingnya ilmu sebagai dasar dalam melakukan suatu tindakan.

Oleh karenanya, menjadi sangat penting untuk mengamalkan ilmu dan mengamalkan sesuatu berdasarkan ilmu. Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Berbahagialah orang yang beramal dengan ilmunya.” (HR. Bukhari)

Keempat, orang yang ikhlas

Ikhlas artinya bersih, suci, murni. Orang yang ikhlas (mukhlis) adalah orang yang melakukan amal kebaikan karena Allah (Lillaahi ta`ala), tanpa embel-embel, tanpa mengharap imbalan, pujian, dan penghargaan dari selain-Nya. Beramal dengan ikhlas tidak akan membuat seseorang mabuk kepayang oleh pujian pun juga tidak melemah karena hardikan dan cacian dari manusia.

Orang yang ikhlas dikategorikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam sebagai orang yang beruntung, orang yang sukses, orang yang berhasil. Sabda beliau, “Berbahagialah orang-orang yang ikhlas, mereka adalah pelita-pelita hidayah yang dari mereka setiap fitnah yang gelap menjadi terang.” (HR. Abu Nu`aim).

Kelima, orang yang mampu menahan lidahnya

Ada bunyi pepatah, Lidahmu Harimaumu yang pas menggambarkan betapa besarnya pengaruh yang ditimbulkan oleh lisan. Ucapan yang terlontar dari lisan tidak lagi bisa ditarik. Ucapan itu menjadi catatan dalam kehidupan seseorang.

Lidah memang bentuknya kecil namun akibat yang ditimbulkan begitu besar, lebih besar dari bentuk lidah itu sendiri. Karenanya, Rasul memerintahkan kepada kita untuk berkata baik. Kalau kita tidak mampu, maka diam adalah pilihan terbaik. Di zaman penuh fitnah seperti sekarang ini, sangat penting untuk mengendalikan ucapan. Tidak melapas dan melempar ucapan dengan begitu mudah.

Perhatikan dan lihat baik-baik apakah pada ucapan yang akan kita sampaikan, mengandung manfaat atau sebaliknya. Jika bermanfaat, sampaikanlah. Jika tidak, tahan dan ini jauh lebih selamat.

Siapa yang mampu mengendalikan lidahnya ia akan tergolong sebagai orang yang beruntug. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Berbahagialah orang yang dapat menahan lidahnya…” (HR. Baihaqi).

Keenam, orang yang banyak beristighfar

Beristighfar berasal dari bahasa arab: istaghfara, yastaghfiru, istighfaaran. Artinya memohon ampunan atas segala perbutan dosa kepada Allah Subhanahu Wata’al. Beristighfar adalah bentuk pertaubatan seseorang atas segala noda dosa dan kesalahan yang ia lakukan.

Setiap hari, Rasul beristighfar kepada Allah tidak kurang 100 kali. Padahal, beliau sudah diampuni oleh Allah. Namun, beliau tahu diri dan tetap mengharap ampunan Allah yang tidak terbatas. Selama hayat masih dikandung badan, selama nyawa masih belum sampai di kerongkongan, permohonan ampun seorang hamba tidak akan diabaikan oleh Allah Subhanahu Wata;ala. Allah Maha Pengampun atas segala dosa, dosa besar atau kecil.

Semakin banyak memohon ampun semakin besar kesempatan menjadi orang yang bahagia, secara lahir maupun batin. Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Berbahagialah orang yang dalam catatan amalnya terdapat banyak istighfar.” (HR. Ibnu Majah).

Ketujuh, orang yang hidup Sederhana

Hidup sederhana tidak berarti membeci harta dan lari dari kekayaan. Dalam Islam, harta bukan menjadi tujuan tapi perantara untuk memuluskan langkah kehidupan dalam mengabdi kepada Allah. Titik tekannya adalah bagaimana menjalani kehidupan di dunia yang sementara dengan tidak sombong, boros dan berlebih-lebihan.

Hidup sederhana adalah hidup yang bersahaja. Memuji Allah atas segala nikmat yang diberikan-Nya. Tidak mengeluh dan putus asa atas apa yang belum didapatkan dari keinginan. Bersyukur kepada Allah merupakan kunci orang yang ingin hidup sederhana. Menurut Nabi Subhanahu Wata’ala, Orang kaya bukanlah orang banyak harta. Demikian orang miskin bukanlah orang yang tidak berharta. Orang kaya adalah orang yang hatinya diisi dengan rasa syukur. Orang miskin adalah orang yang sempit jiwanya karena tidak memiliki rasa syukur.

Berbahagialah orang yang hidup sederhana, bersahaja, pandai mensyukuri nikmat Allah, sedikit atau banyak. “Berbahagialah orang yang diberi petunjuk kepada Islam, hidupnya sederhana, dan ia rela atasnya.” (HR. Turmudzi).

Kedelapan, orang yang panjang umur dan beramal baik

Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad berkata dalam Kitabul Hikam, “Sesungguhnya modalmu hanyalah umur. Maka isilah ia dengan perbuatan terpuji dan kemuliaan amal shalih.”

Ada tiga golongan manusia dalam mengisi umurnya. Pertama, orang yang diberi umur (modal) yang ia manfaatkan dengan berhati-hati. Ia sadar benar bahwa modal ini hanya sementara maka ia gunakan sebagai sarana melakukan amal shalih. Inilah orang yang akan memeroleh keuntungan.

Kedua, orang yang malas dalam menjalankan dan memanfaatkan modalnya. Ia mendiamkan modalnya begitu saja. Tidak memanfaatkannya sebagaimana mestinya sehingga ia menjadi orang yang rugi, tanpa memeroleh manfaat.

Ketiga, golongan yang gemar menghambur-hamburkan modalnya. Baginya, modal hanya diperuntukkan untuk kepuasaan dan kesenangan. Dalam pandangannya, modal umur hanya bermanfaat jika digunakan untuk hal-hal yang mengasyikkan hingga menyeretnya kepada kerugian yang besar.

Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menyampaikan, “Berbahagialah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. Thabrani).

Kesembilan, orang yang menangisi kesalahan yang dilakukannya

Siapakah manusia yang bebas dari kesalahan? Tidak satu orang pun yang lepas dari jerat-jerat kesalahan dan kekhilafan. Disengaja atau tidak, manusia pasti pernah berbuat kesalahan. Manusia tempatnya salah dan lupa. Dua sifat ini selalu berada pada diri manusia. Tinggal bagaimana seseorang berhati-hati agar tidak jatuh dalam kesalahan dan segera bertaubat sembari menangisi kesalahan yang sudah ia lakukan.

Seorang ulama, Syaqiq Al-Balakhi pernah berkata, “Tanda taubat adalah menangisi perbuatan dosa di masa lalu, takut terjatuh ke dalam perbuatan dosa, meninggalkan teman-teman yang buruk, dan selalu membersamai orang-orang shalih.”

Menangisi kesalahan termasuk tanda kebahagiaan. Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Berbahagialah orang yang menangisi kesalahannya.” (HR. Thabrani).

Kesepuluh, orang yang sibuk dengan aib sendiri

‘Aib adalah bentuk masdar dari kata kerja `Aaba, Ya`iibu, `Aib artinya cacat, cela, rusak, buruk, salah, dan lemah. Sayidina Umar bin Khattab RA pernah berdoa, “Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan aib-aibku kepadaku.” Ketika Salman mengunjunginya, beliau berkata, “Coba sebutkan perilakuku yang tidak kausukai.” Salman menolak dengan halus, namun beliau terus mendesak. Akhirnya Salman berkata, “Kudengar kaumakan dengan dua lauk, dan memiliki dua pakaian, satu kaukenakan di siang hari dan satu lagi kaukenakan di malam hari.”

“Selain itu, adakah hal lain yang tidak kausukai?,” Tanya sahabat Umar lebih lanjut. “Tidak.”

“Sesunguhnya dua perbuatan yang kausebutkan tadi telah kutinggalkan, ucap beliau.”

Di waktu lain, beliau juga pernah bertanya kepada Hudzaifah, Engkau adalah Shahibus Sirri (orang yang mengetahui berbagai rahasia) Rasulullah saw yang dapat mengenali orang munafik. Apakah kaumelihat tanda-tanda kemunafikan pada diriku?

Kisah Sayidina Umar menjadi pelajaran berharga tentang sikap seorang arif dan bijaksana dalam mengenali serta menyadari kekurangan pada diri sendiri. Sebuah sikap yang menggambarkan betapa beliau sibuk dengan kecacatan dan kelemahan diri, tanpa melihat kecacatan dan cela pada diri orang lain.

Sikap ini harus menjadi alur kehidupan kita sehari-hari. Jangan sampai kita menjadi seperti bunyi peribahasa, Kuman di seberang lautan, tampak. Sementara gajah di pelupuk mata tidak tampak.
Contoh nyata dari sikap sibuk dengan aib sendiri, antara lain, meninggalkan tayangan infotaiment yang mengumbar aib orang lain, terkait perselingkuhan, perceraian, pengkhianatan dan sebagainya.

Siapa yang sibuk dengan aibnya sendiri dan tidak melihat aib pada diri orang lain adalah sikap orang yang bahagia. “Berbahagialah orang yang disibukkan oleh aib sendiri daripada menyibukkan diri dengan aib orang lain,” sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam yang diriwayatkan oleh Dailami.

Kesebelas, orang yang rendah hati

Sikap rendah hati adalah lawan sikap takabbur (sombong). Sombong merupakan sikap tercela, sementara rendah hati adalah sikap terpuji. Rendah hati yang dalam bahasa arab disebut tawadhu` menjadi hiasan para salafus shalih. Mereka bersikap baik kepada siapa saja, baik kepada orang kaya atau miskin.

Sikap tawadhu` itu tercermin, salah satunya pada diri Sayidina Hasan putra Ali bin Abi Thalib. Suatu saat beliau menaiki kuda lalu melewati sekelompok orang miskin yang akan makan. Beliau diundang tiba-tiba. Diajak untuk makan bersama yang tentunya dengan sangat sederhana. Tanpa banyak pikir lagi, Sayidina Hasan langsung memenuhi undangan mereka tanpa memandang status sosialnya.
Usai makan, beliau mengundang orang-orang miskin datang ke rumahnya pada keesokan hari.

Keesokan harinya, beliau menjamu orang-orang miskin ini dengan jamuan yang sangat lezat sebagai bentuk penghormatan kepada mereka.

Setali tiga uang, Umar bin Abdul Aziz yang kala itu telah menjadi Amirul Mukminin pernah suatu malam didatangi seorang tamu. Saat itu beliau sedang menulis sesuatu. Lampu minyak yang beliau gunakan sebagai penerang nyaris meredup. Si tamu berkata, “Izinkan saya untuk memperbaikinya.”
Umar berkata, “Tidaklah termasuk dari kemuliaan seseorang jika ia membiarkan tamunya bekerja membantu.” “Kalau begitu, saya panggilkan pembantu saja.” Jawab Umar, “Jangan engkau bangunkan. Ia sedang tidur setelah lama tidak beristirahat.”

Kata tamu, “Berarti, engkau sendiri yang akan mengerjakannya, wahai Amirul Mukminin?” Umar mengatakan, “Ketika aku keluar rumah, aku adalah Umar. Ketika aku kembali ke rumah, aku juga tetap Umar seperti ini. Tidak ada sesuatu pun yang berkurang dari diriku. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bersikap rendah diri di hadapan Allah.”

Berbahagialah orang yang bersikap rendah hati. Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Berbahagialah orang yang rendah hati bukan karena kekurangan..” (HR. Bukhari).

Itulah golongan orang-orang yang beruntung. Mereka terdiri dari berbagai kalangan sesuai amal perbuatannya. Bahagia atau tidak, beruntung atau tidak, tidak diukur dari harta, tahta, dan jabatan serta seabrek aksesoris materi yang nisbi. Orang-orang yang bahagia, pada intinya, orang-orang yang dekat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

>>KEMBALI KE ATAS
.
Baca Juga

Sponsor