[Historiana] - Lagi, Budayawan Betawi Ridwan Saidi (RS) memberikan penyataan seputar sejarah yang kontroversial. Kali ini penulis soroti tentang pernyataan RS bahwa di Ciamis tiu tidak ada kerajaan dan Galuh itu artinya brutal. Pernyataannya disampaikan dalam sebuah wawancara di Youtube Kanal "Macan Idealis" dengan judul "GEGEER !! TERNYATA KERAJAAN KERAJAAN DI INDONESIA SANGAT DITAKUTI DI DUNIA". Video berdurasi 12 menit 31 detik itu sontak membuat terperangah masyarakat Sunda.
Selain itu, RS juga membahas tentang "Ketidakmungkinan" pernikahan Dyah Pitaloka -yang selanjutnya menyebabkan peristiwa Bubat. karena "Tidak Mungkin" perempuan dipanggul-panggul diarak-arak menuju Bubat (Majapahit) nyamperin laki-laki. Untuk hal ini kita bisa membandingkannya dalam kisah Bujangga Manik.
Naskah Bujangga Manik ditulis dalam larik-larik delapan suku kata—bentuk terikat dalam puisi cerita Sunda kuno, yang ditulis di atas daun palem yang tersimpan di perpustakaan Bodleian di Oxford (Inggris) sejak 1627 atau 1629. Bujangga Manik dilamar oleh dilamar seorang perempuan cantik dan ibunya menyarankan untuk menerima lamaran tersebut. Seorang kurir yang bernama Jompong Larang disuruh perempuan yang melamar Bujangga Manik untuk menyampaikan maksudnya, sembari membawa sirih-pinang yang ditata di atas baki, ditutup dengan sapu tangan, dan tersusun begitu rapi, dan rupa-rupa pemberian lainnya.
Ibunya berkata pada baris 535-545:
“Anaking, haja lancanan/ karunya ku na tohaan/ sugan sia hamo nyaho/ tohaan geulis warangan/ rampés rua rampés ruah/ teher geulis undahagi/ hapitan karawaléa/ buuk ragi hideung teuleum/ ceta hamo diajaran/ na geulis bawa ngajadi/ na éndah sabot ti pangpang/ hanteu papahianana.”
“Ananda, layanilah dengan serius/ kasihan terhadap puteri/ barangkali ananda tidak tahu/ puteri cantik pantas diperisteri/ cantik rupa baik perilaku/ bahkan berperawakan indah semampai/ gadis pingitan juga setia/ rambut hitam bagai dicelup/ terampil tanpa harus diajari/ cantik bawaan semenjak lahir/ jelita saat masih dikandung/ tiada yang menandingi.”
Bujangga Manik adalah seorang bangsawan Kerajaan Sunda (Pakuan Pajajaran) yang memilih menjadi rahib Hindu-Sunda yang berkelana ke beberapa tempat suci untuk mencari tempat untuk masa akhir hidupnya. Dalam naskah (baris 663-667) yang tertuang di buku Tiga Pesona Sunda Kuna karya J. Noorduyn (Direktur KITLV yang pensiun pada 1991) dan A. Teeuw (Profesor Emeritus bidang Bahasa dan Sastera Melayu dan Indonesia di Universitas Leiden).
Ridwan Saidi menyandarkan argumentasinya pada buku laporan perjalanan Mendes Pinto, seorang Portugis. Mari kita lihat siapakah Mendes Pinto itu?
Mendes Pinto Seorang Pembohong Besar
Menurut sebuah artikel dalam Newyork Times dengan judul "THE GREATEST LIAR OF THEM All?: oleh Stuart Schwartz menyatakan bahwa Mendes Pinto adalah seorang pembohong. Schwartz mereview buku " THE TRAVELS OF MENDES PINTO karya Fernao Mendes Pinto. Diedit dan diterjemahkan oleh Rebecca D. Catz.Setelah Marco Polo, kisah seorang Eropa yang menggambarkan dunia Timur yang eksotis dan karyanya diakses pembaca terbanyak di era modern awal. Bukunya ini awalnya diberi judul ''The Peregrination" (Peregrinasi ~ Pilgrim ~ Ziarah? -Pen) dari petualangan seorang Portugis bernama Fernao Mendes Pinto, yang kemudian dalam edisi modern diberi judul "The Travels of Mendes Pinto."
Fernao Mendes Pinto lahir pada tahun 1510 (?) dan meninggal pada tahun 1583 di Portugal.
Perjalanan Mendes Pinto, ditulis di Portugal antara 1569 dan 1578, adalah buku "eliptikal/perjalanan" yang gila, memesona, seperti dunia impian dan eksotis. Mendes Pinto melakukan perjalanan ke Asia selama tahun 1537 hingga 1558 dan "Perjalanan/Travels" Pinto adalah upayanya untuk memahami pengalaman-pengalaman dan fantasi serta refleksi yang menyertainya. Naskah besar yang bertele-tele itu akhirnya diterbitkan pada tahun 1614, tiga puluh satu tahun setelah kematian Pinto. Edisi bahasa Spanyol yang sangat rumit muncul pada tahun 1620, terjemahan bahasa Perancis yang lengkap pada tahun 1628, dan terjemahan bahasa Inggris tahun 1653.
Judul Pinto sendiri untuk bukunya adalah The Peregrinations, dan yang sepertinya mengatakan sesuatu yang berbeda dari Travels. “Perjalanan/Travels” kedengarannya memiliki tujuan atau setidaknya wisata, sedangkan “Peregrinasi/The Peregrinations” dapat diartikan sebagai dimulai dan berakhir di mana saja, dapat mengubah tujuan dan sasaran secara terus-menerus, atau bahkan sama sekali tidak memilikinya.
Terlepas dari popularitasnya yang luas, ''Catatan Perjalanan'' selalu menjadi teks yang bermasalah, mungkin yang paling kontroversial dalam sejarah ekspansi Portugis. Sedikit yang diketahui tentang asal-usul Mendes Pinto atau tentang kehidupannya setelah ia kembali ke Portugal. Dia tidak meninggalkan karya sastra lainnya. Dia tidak menyelesaikan naskahnya sampai 40 tahun setelah peristiwa yang dia gambarkan, dan buku itu akhirnya diterbitkan setelah kematiannya. Mengapa ditunda, apa yang diambil oleh editor dan penerbit berikutnya dan berapa banyak kesalahan dan ketidakkonsistenan yang jelas merupakan akibat dari tangan-tangan selanjutnya, ingatan buruk penulis atau niatnya - semua ini hanya dapat diperkirakan, karena naskah asli hilang.
Mendes Pinto mengenal Asia Tenggara dan ''lands below the wind" (daratan di bawah angin). Dia adalah salah satu orang Eropa paling awal yang mengunjungi Jepang (jika bukan yang pertama, seperti yang dia klaim), dan apa yang dia tulis tentang Jepang memiliki deskrip yang cuku teliti. Namun, uraiannya tentang Tiongkok tampaknya merupakan hasil dari apa yang dia dengar atau baca dan dicirikan sebagai "arant nonsense" oleh seorang kritikus. Bahkan, pada abad ke-17, pemalsuan begitu jelas sehingga Mendes Pinto telah dianggap sebagai "pembohong". Sejak saat itu, sejumlah besar cendekiawan berusaha meluruskan.
Mengesampingkan kontroversi, ada banyak pembacanya di abad modern ini. Terjemahan ini baik, dan ada catatan yang bermanfaat untuk menjelaskan referensi geografis dan versi kacau dari banyak istilah dan nama-nama di Asia. Catz bukan spesialis Asia, dan pengantar serta catatannya menekankan aspek-aspek sastra dari buku ini, tetapi ia memanfaatkan literatur yang ada tentang Mendes Pinto untuk detail sejarah dan geografis. Deskripsi yang jelas tentang kampanye militer petualang dan lokasi eksotis membuat kisah ini sebuah petualangan yang hebat.
Mendes Pinto mungkin adalah saksi mata yang sensitif, atau pembohong yang hebat, atau seorang satiris yang cemerlang, tetapi ia jelas lebih dari sekadar pendongeng yang sederhana. Pada satu waktu ketika ia dan rekan-rekannya menjarah sebuah pagoda di Tiongkok dan membenarkannya sebagai kehendak Tuhan kepada para pertapa di sana, pertapa itu berkata: '' Saya tahu sekarang dan sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya, bahkan tidak pernah saya impikan sebelumnya akan pernah saya lihat atau dengar. - sebuah kejahatan dan kebajikan yang pura-pura semuanya, yaitu - untuk mencuri dan berkhotbah! "" Apakah kata-kata itu sebenarnya dari pertapa atau dari Mendes Pinto, bagaimanapun, deskripsi yang cukup bagus untuk tahun-tahun awal Ekspansi Eropa di Asia.
Apakah ini autobiografi, fiksi atau campuran genre yang disengaja dengan tujuan sastra yang lebih ambisius? Rebecca D. Catz berpendapat bahwa '' Perjalanan '' benar-benar "satire korosif" dari semua lembaga di Portugal dan tentang ekspansi kekaisaran dan etika perang salib. Dia tidak peduli dengan kurangnya akurasi Mendes Pinto, tetapi lebih percaya bahwa kesalahan yang jelas dimaksudkan petunjuk niat satirik dari penulis, semacam jejak remah roti dalam kritik panjang novel ala picaresque dari kerajaan maritim Portugal. Tesisnya yang kompleks, yang didasarkan pada beberapa bukti tidak langsung, sama sekali tidak meyakinkan, walaupun tentu saja ada banyak tempat di buku ini di mana Mendes Pinto menunjukkan cara bagaimana orang kafir bertindak lebih adil atau bijaksana daripada orang Kristen. Apakah "Catatan Perjalanan" itu adalah karya seorang Mendes Pinto dalam ekspansi Portugis? masih harus diperdebatkan, seperti yang terjadi dalam dekade berikutnya ketika dunia mengisahkan perjalanan Columbus dan Vasco da Gama.
Sumber:
- The New York Times nytimes.com "THE GREATEST LIAR OF THEM All?" oleh Stuart Schwartz. 4 Maret, 1990. Diakses 13 Februari 2020.
- "Galuh Disebut Brutal, Masyarakat Ciamis Tak Terima" oleh K Putu Latif. 13 Februari 2020. Diakses 13 Februari 2020.
- "A Picaresque Hero" oleh Jonathan D. Spence. The New York Review of Books. nybooks.com Diakses 13 Februari 2020.
- "Fernao Mendes Pinto Facts: The first European to visit Japan was Portuguese adventurer Fernao Mendes Pinto, unjustly called the "Prince of Liars" because his book about his travels was so widely disbelieved by his contemporaries". Biography dari yourdictionary.com Diakses 13 Feberuari 2020.
- "The Travel od Mendes Pinto". dari archive.org txt version KLIK DISINI. The voyages and adventures of Ferdinand Mendez Pinto, the Portuguese by Pinto, Fernão Mendes, d. 1583; Cogan, Henry. Dipublikasikan 1897. archive.org ebook format KLIK DISINI