Cari

Candi Tugu Semarang, Tapal Batas Kerajaan Majapahit dan Padjajaran? | Tapak Lacak Karuhun


 

[Historiana] - Candi Tugu di Kota Semarang, sebagai Tapal Batas Kerajaan Majapahit dan Padjajaran. Kok bisa? Informasi ini sering kita dengan dari masyarakat di Semarang bahkan Jawa Tengah umumnya. Namun informasi ini tidak kita dapati di jawa Barat atau tatar Sunda. Ada banyak misteri dalam kesejarahan di negeri kita.

Situs Watu Tugu atau yang biasa disebut Candi Tugu di Semarang, Jawa Tengah hingga saat ini sejarahnya masih misterius. Selain diduga sebagai tapal batas era kerajaan Majapahit dan Padjajaran, keberadaan situs yang berada di RT 10/RW 1, Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semasarang provinsi Jawa Tengah itu juga disebut sebagai peninggalan zaman Mataram kuno.

Prasasti modern pada dinding candi si situs Candi Tugu

 

Candi Tugu bukan situs purbakala, tetapi bangunan modern yang dibuat pada tahun 1984-1985 oleh Djamin CH. Djamin CH adalah pengusaha pemilik PT Tanah Mas Semarang yang diberikan konsesi penambangan galian C di perbukitan tugu sejak tahun 70an sampai tahun 2000. Keterangan itu terdapat dalam prasasti modern yang tertempel pada salah satu dinding candi baru itu. Pengerjaan oleh RT Djajaprana Muntilan. Namun di kompleks Candi Tugu terdapat situs bersejerah berupa Watu Tugu. Dalam foto di atas, stupa bagian depanlah yang dimaksud Candi Tugu sebagai bangunan purbakala, bukan bagian belakang yang merupakan bangunan baru.

Galian C di sekitar Candi Tugu


Dugaan lain fungsi Watu Tugu sebagai peninggalan zaman Mataram Kuno diungkapkan oleh arkeolog Semarang, Tri Subekso. Dia menyebut situs Watu Tugu yang menjulang tinggi ke atas dengan bentuk menyerupai stupa atau caitya, berhubungan dengan agama Buddha.

Stupa  atau Caitya Buddha
Candi Tugu sebagai Benda Cagar Budaya

 

Bagaimana Semarang bisa menjadi Tapal Batas Kerajaan Pajajaran dan Majapahit?

Kerajaan Majapahit didirikan pada tahun 1293 Masehi dan berakhir pada tahun 1478 Masehi adapula yang menyebutnya berakhir pada tahun 1520 Masehi. Lalu Pajajaran didirikan kapan? Bila mengacu pendapat para ahli bahwa Kerajaan Pajajaran adalah Kerajaan Sunda, maka pendirian Kerajaan Pajajaran merujuk pada kerajaan Sunda yang berdiri sejak tahun 670 M hingga 1579 M. Jadi ada masa dimana rentang waktu 2 kerajaan ini bertemu. Karena Kerajaan Sunda lebih panjang usianya, maka kemungkinan perbatasan kedua kerajaan ini berlangsung selama Majapahit berdiri yaitu dari tahun 1293 - 1520 Masehi. Namun bila acuannya adalah Babad Tanah Jawi, maka akan kacau kronologi sejarahnya. Dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan bahwa wilayah ini berdiri semenjak berdirinya Majapahit yang diawali runtuhnya Pajajaran. Padahal Pajajaran runtuh belakangan, bukan sebaliknya. Sejarah ditulis memang penuh kepentingan ideologis-politis.

Sejarah tatar Sunda memang sempat dalam situasi "gelap gulita". Semenjak runtuhnya Pajajaran, sejarah tatar Pasundan seperti "pareumeun obor" (kehilangan jejaknya). Dalam buku sejarah Kerajaan Pajajaran atau Kerajaan Sunda disebut-sebut berdiri abad ke-15 ditandai dengan naik tahtanya Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja yang kemudian dikenal sebagai Prabu Siliwangi. Namun, kini secara berangsur sudah mulai terangkai kisah panjang Kerajaan Sunda yang kemudian disebut Pajajaran terkait dengan Kerajaan Tarumanagara yang berakhir abad ke-7 Masehi. Sejarah Sunda dimulai sejak Sang Tarusbawa naik tahta di Kearajaan Tarumanagara. Ia pada tanggal 9 bagian-terang bulan Jesta tahun 591 Saka, kira-kira bertepatan dengan tanggal 18 Mei 669 M. Sang Tarusbawa menggantikan mertuanya Maharaja Tarumanagara Linggawarman. Setahun kemudian, 670 Masehi, Sang Tarusbawa mengubah nama Kerajaan menjadi Kerajaan Sunda.

Akibat perubahan nama Kerajaan Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh menyatakan mahardhika lepas dari kerajaan Sunda pada tahun 670 M itu. Dengan dukungan Kerajaan Kalingga yang sedang naik pamor, Kerajaan Sunda mengabulkannya untuk menghindari perselisihan dengan batas 2 kerajaan ini adalah disebelah timur Sungai Citarum ke Timur adalah Kerajaan Galuh.

Kisah selanjutnya masih kita ketahui hingga zaman Sanjaya berkuasa di Sunda, Galuh 723-732 Masehi) dan Kalingga. Terjadi peristiwa perebutan Tahta Galuh antara Purbasora dan Sena (716 M). Kemudian balas dendam Sanjaya merebut tahta Galuh dari Purbasora pada tahun 723 M. Perebutan tahta selanjutnya disertai dengan epik peperangan Gotrayudha antara Kerajaan Galuh-Sunda (Ciung Wanara-Hariang Banga) versus Kerajaan Kalingga (Sanjaya) pada tahun 739 M. Ada jejak kisah berikutnya pada abad ke-11 dalam Prasasti Sri Jayabhupati atau Prasasti Sanghyang Tapak atau Prasasti Cicatih (tahun Saka 952 bulan Kartika tanggal 12 bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, Ahad, Wuku Tambir atau 11 Oktober 1030). Namun jejak sejarah dari tahun 739 M sampai dengan tahun 1030 M tak terdengar. Demikian pula, sejak tahun 1030M itu jejak kisah kerajaan Sunda dan Galuh seperti hilang hingga muncul peristiwa Bubat yang kontroversi tahun 1357 M. Kisah berikutnya pada hancurnya Kerajaan Pajajaran pada tahun 1579 M.

Secara berangsur alur kisah Sejarah Sunda mulai ada titik terang hingga tersusun daftar raja-raja yang berkuasa di Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh hingga Pajajaran. Penyusunan sejarah Sunda masih jauh dari kata selsesai. Tersusunnya nama-nama para raja, tidak serta merta kita mengetahui secara utuh perjalanan sejarahnya, masyarakat bahkan kewilayahannya. Untuk itu memerlukan kajian dari sumber non Jawa Barat.

 

Candi Tugu Peninggalan Mataram Kuno?

Menurut Arkeolog Semarang, tri Subekti, Situs yang berada di atas bukit dengan ketinggian sekitar empat meter itu, bahkan usianya diperkirakan lebih tua dari masa kerajaan Majapahit maupun Padjajaran. Usia Watu Tugu diperkirakan sudah ada sejak pada abad ke-8 sampai abad ke-10 Masehi atau era Hindu/Buddha. Artinya ketika Candi Tugu didirikan, Kerajaan Majapahit belum ada dan Kerajaan Pajajaran saat itu masih disebut Kerajaan Sunda. 

Kalau dilihat dari ciri-ciri di lokasi situs Watu Tugu saat ini berada memang dulunya merupakan tepian laut, yang berada di atas tebing sebuah bukit. Jauh sebelum, ada sawah dan pabrik seperti sekarang ini. Dulunya, sudah terbentuk pemukiman kuno, sehingga dibangunlah sebuah situs ini untuk sarana peribadatan di sekitar pemukiman sekaligus sebagai lambang penting pada masa itu.

Fungsi dari Caitya atau stupa dalam agama Buddha, biasanya sebagai tempat pemujaan atau koleksi objek pemujaan, sehingga berfungsi sebagai altar. Secara etimologi, kata Cetiya atau Caitya dalam bahasa Sansekerta berarti gundukan tanah atau tumpukan bata yang berkaitan dengan makam. Atau juga tempat untuk peninggalan relik atau abu hasil kremasi Sang Buddha, biksu dan biarawan yang dikeramatkan Buddha, yang dihormati. Dan tempat untuk meditasi menenangkan diri bersemedi maupun tempat perayaan penting dalam hidup Sang Buddha atau para biksu dan dalam penyebaran agama Buddha.

Sedangkan di Tibet, sebutan bagi Cetiya atau stupa dinamakan ChOrten, yang bermakna wadah untuk persembahan dengan berbagai ukuran dan perlambangan. Bentuknya lebih langsing daripada Stupa yang umumnya lebih bulat. ChOrten memiliki banyak tingkat dengan bangun berlainan yang masing-masing membawa perlambangan khusus.

Di lihat sisi lokasi situsnya, kawasan Watu Tugu pada masa lalu tampak berada di tepi laut. Apalagi tersiar kabar bahwa dulunya pernah ditemukan jangkar kapal di bawah tebing Watu Tugu.
Dulunya Kota Semarang dikenal dengan sebutan Bukit Pragota. Berdasar catatan Badan dan Perpustakaan Daerah Jateng pada abad ke-8 Masehi, kawasan Bukit Pragota merupakan wilayah Mataram Kuno. 

Di sisi lain, pada pelataran candi Tugu ini terdapat Arca Nandi tanpa kepala. Arca Nandi mewakili kepercayaan Agama Hindu. Nandi atau Nandiswara adalah lembu yang menjadi kendaraan Dewa Siwa dalam mitologi Hindu. Apakah mungkin sebenarnya letak asli Candi Nandi itu tidak di lokasi seperti sekarang ini? Mengingat Arca Nandi itu berukuran kecil, maka dengan mudah bisa dipindahkan.

Baca juga: Kerajaan Medang atau Mataram Hindu adalah Kerajaan Galuh

Sejarah di Pulau Jawa memang sangat panjang. Berbagai kerajaan muncul lalu hancur silih berganti. Kita telusuri hingga zaman Kerajaan Tarumanagara untuk memahami peristiwa selanjutnya, termasuk munculnya candi Tugu sebagai batas Kerajaan Pajajaran dan Majapahit. Seluruh kerajaan pasca Tarumanagara sangat erat hubungannya: mulai dari Kerajaan Sunda, Kendan lalu Galuh, Kalingga, Sriwijaya, Medang, Kahuripan, Janggala, kadiri, Singhasari hingga Majapahit.

Bila kita milihat pada peristiwa pernyataan Mahardhika Kerajaan Galuh dari Kerajaan Sunda (pengganti nama Tarumanagara) dapat kita lihat batas Barat dua kerajaan adalah Sungai Citarum. Namun, batas timur tidak disebutkan pada tahun 670 Masehi itu. Bisa jadi wilayah yang mebentang dari timur Sungai Citarum hingga Hujung Galuh atau Surabaya di zaman sekarang ini. Lalu batas timur Kerajaan Sunda Pajajaran muncul pada abad ke-15 atau 16 M (tahun 1400-an hingga 1500-an) dalam catatan Perjalanan Bujangga Manik bahwa batasnya adalah Sungai Cipamali atau Kali Pemali di brebes dan Sungai Cisarayu (Serayu) Jawa Tengah. Jadi ada rentang waktu yang sangat lama dari abad ke-7 (tahun 670 M) hingga abad ke-15/16 M ada rentang waktu lebih dari 800 tahun batas wilayah tak diketahui.

Mengacu pada artikel bahwa Kerajaan Medang atau Mataram Hindu adalah Kerajaan Galuh, maka bisa jadi pada abad ke-8 hingga abad ke-11 batas Kerajaan Galuh/Medang/Mataram Kuno kemudian dianggap sebagai kerajaan Sunda dan dikisahkan pada masa belakangan dengan menyebutnya sebagai Kerajaan Pajajaran. Sementara, Candi Tugu di Semarang didirikan sekira abad ke-8 hingga abad ke-11 Masehi dapat disimpulkan di zaman Kerajaan Medang/Mataram Hindu atau Galuh. Dalam rentang waktu itu, belum ada Kerajaan Majapahit, namun sering disebut di wilayah Jawa Timur sudah ada Kerajaan tanpa disebut namanya. Konon, kerajaan itu disebut sebagai Kerajaan Kanjuruhan di Jawa Timur. Bahkan sejak awal abad ke-7 (tahun 612 M), ketika Sang Wretikandayun mendirikan kerajaan Galuh, dikisahkan bahwa istrinya adalah Putri Resi Makandriya (Marcandriya) yang datang dari wilayah Jawa Timur di zaman modern ini (Sumber: Naskah Carita Parahyangan).

Prasasti Canggal.
Sumber: Kern-Verspreide Geschriften

 

Dalam Prasasti Canggal/Gunung Wukir (654 S/732 M), Sanjaya menyebutkan pendahulunya adalah Sana atau Bratasenawa sebagai raja tanpa menyebutkan nama kerajaannya. Barulah pada Prasasti Mantyasih I (dari Kedu berangka tahun 829 S/907 M), Dyah Balitung menyebutkan nama pendiri Kerajaan baru yang bernama Medang di Bhumi Mataram adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Dyah Balitung dalam Prasasti Tulangan (832S/910M) disebut sebagai Śrī Mahārāja Rakai Galuḥ Dyaḥ Garuda Mukha Śri Dharmmodaya Mahāsambu.

Mantyasih 1A.
Sumber: socrates.leidenuniv.nl, OD-18737

Mantyasih 1B.
Sumber: socrates.leidenuniv.nl, OD-18736.

Mengutip tulisan karya Henky Bambang Hernowo dari laman Kabupaten Pati (dinasarpus.patikab.go.id) berkisah tentang peristiwa panjang seputar Pulau Muria atau kini Gunung Muria. 

Posisi Kadipaten Parang Garuda
Sumber: Hernowo, Henky Bambang. "Hancurnya Kerajaan Pati Ayam"

 

Peristiwa berawal dari Kerajaan Sriwijaya diserang dari Kerajaan Cholamandala dari India Selatan pada tahun 1024 M dan 1030 M. Dalam serangan tersebut, raja Sriwijaya bernama Sri Sanggramawijaya ditawan oleh musuh. Serangan itu mengakibatkan banyak kapal Sriwijaya hancur dan tenggelam. Angkatan laut Sriwijaya menjadi lemah.

Setelah jatuhnya Sriwijaya, Kondisi pulau Muria yang selama ini dibawah protektorat Sriwijaya menjadi terancam. Sepeninggalnya Sriwijaya, maka mulai negeri-negeri tetangga mulau bergerak mengincar Pulau Muria. Pulau Muria ini sangat penting dimana terletak kota pelabuhan Welahan (Jepara) dan Silugangga (Juwana) sebagai kunci perdagangan internasional saat itu. Kerajaan Pajajaran dan Singoshari hingga Kerajaan Majapahit berupaya menguasai jalur selat Patiayam dimana kota pelabuhan Welahan dan Silugangga berada.

Jepara (Welahan) dan Juwana (Silugangga) disebut sebagai daerah atau wilayah Sandang Garba, "raja kaum pedagang". Pulau Muria letaknya sangat strategis. Posisinya seperti titik poros sebuah kipas: Sumatra, Melayu, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusatenggara terangkai pada jari-jari pulau Muria dengan rentang jangkauannya relatif dekat.

Sisi melik dari Kerajaan Majapahit mengawasi situasi pelayaran di muara Barat Selat Patiayam di sekitar Pelabuhan Welahan (Jepara). Namun Kerajaan Pajajaran juga tidak mau kalah. Para Puhawang Kapal Pajajaran lengkap dengan Kapal jung digalakan secara ketat mengawasi setiap pergerakan yang mencurigakan dari Majapahit di selat Patiayam Pulau Muria.

Ketegangan terasa di kawasan pulau Muria, terutama di pelabuhan Welahan dan Juwana. hanya kapal-kapal Arab (Dazi) dan Cina saja yang masih berani mondar-mandir keluar-masuk pelabuhan. Menurut cerita rakyat, Kerajaan Pajajaran menguasai Selat Patiayam pada tahun 1290 M dan pelabuhan Silugangga Juwana) berhasil dikuasai Kerajaan pajajaran. Para prajurit Pajajaran ditempatkan di parang Garuda untuk menguasai Jawa Tengah utara, sepanjang perbukitan kendeng dan berhasil menguasai Pelabuhan prawoto. Kerajaan Pajajaran, ketika itu rajanya adalah Ratu Purana yang bergelar Guru Dewasrana atau disebut Sri Baduga Maharaja. Ekspansinya diteruskan menuju Jawa Timur. Namur pergerakkannya tertahan pasukan tart-tar di tuban.

Pada tahun 1290 M,semula kadipaten-kadipaten kecil di pesisir utara Jawa tengah adalah tunduk kepada Pajajaran dan mereka dijadikan pasukan terdepan dari Kerajaan Pajajaran, merupakan ujung tombak penjaga pintu perbatasan antara kerajaan Pajajaran dengan Kerajaan Singosari pada waktu itu. Salah satunya adalah Kadipaten Parang Garuda adalah merupakan kepanjangan tangan Kerajaan Pajajaran yang dipimpin seorang Adipati bernama Yudhapati. Batas wilayah kekuasaannya meliputi hulu Bengawan Silugonggo yaitu pegunungan kapur utara (Pati selatan: Batangan, Jaken, Jakenan, Pucakwangi, Winong, Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Gabus dan sebagian wilayah Rembang bagian barat), hingga daerah Grobogan. Pusat pemerintahan Kadipaten Parang Garuda berada di desa Goda Kecamatan Winong.

Tahun 1293, Raden Wijaya raja Majapahit yang pertama di Jawa Timur mulai meluaskan pengaruhnya di Jawa Tengah semenjak jatunya Singosari pada tahun 1292 M. Raden Wijaya merangkul dan memberi mandat kepada Raden Sukmajana untuk mempersatukan Bupati-bupati pesisir utara di bawah Majapahit. Target utama adalah menguasai selat patiayam dan pulau Muria.

Raden Sukmajana kemudian menemui raja Patiayam (penguasa pulau Muria) dengan tujuan mengajak kerjasama dalam menghadapi Pajajaran. Raja patiayam menyetujui kerjasama ini, kemudian mengugasi Adipati Puspa Andungjaya dari Kadipaten Carang Soka (Carangsaka) untuk melaksanakan misi ini. Pasukan gajah disiapkan mengamankan perbatasan. Kadipaten Carang Soka meliputi: Muara Bengawan Silugonggo, Selat Patiayam dan Pantai utara laut jawa sisi timur Pulau Muria.

Wilayah kekuasaan Kadipaten Carang Soka meliputi daerah yang sekarang merupakan kecamatan: Trangkil, Juwana, pati, Margorejo, Tayu, Dukuhseti, Gunungwungkal, Cluwak dan sebagian meliputi wilayah Jepara bagian timur. Pusat pemerintahan Kadipaten Carang Soka berada di Desa Sukoharjo Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati sekarang.

Awal pertempuran terjadi antara CarangSoka dipimpin Raden Sukmajana (Sukmayana) dan Parang garuda (vasal Pajajaran) pimpinan Yudhapati. Carang Soka terdesak hingga pasulan Parang Garuda terus merangsek menyerang pertahanan Majapahit di Bantengan. Raden Sukmajana gugur. Silungangga dikuasai Pajajaran melalui pasukan Parang Garuda hingga sisi selatan pulau Muria. Di sana Pajajaran membangun basis pertahanannya.

Adik Sukmajaya yaitu Raden Kembang Jaya membalas serangan ke Parang Garuda. Kali ini pasukan Parang Garuda terdesak dan akhirnya porak-poranda. Pemimpin pasukan Parang Garuda yakni Yudhapati gugur dalam pertempuran itu. Akhirnya Kadipaten Parang Garuda disatukan dengan atau dibawah pemerintahan Adipati Carang Soka sebagai vasal Kerajaan Majapahit. Dengan demikian Majapahit berhasil menundukan bagian wilayah pajajaran di Jawa Tengah bagian Utara. Namun konon katanya, Kadipaten Carang Soka dan Kadipaten Parang garuda menolak kekuasaan Majapahit. Kedua Kadipaten tersebut diklaim sebagai bagian kerajaan Patiayam Pulau Muria yang merdeka semenjak zaman kerajaan Kalingga. Kisah selanjutnya campur baur. Maklum berbasis folklore.

Dari kisah legenda ini, kemudian menjadi asal-usul Kabupaten Pati. Kisahnya bahwa pasca peperangan, Kadipaten Parang Garuda, Carang Soka dan Majasemi menjadi satu kadipaten bernama Kadipaten Pati.

Kisah mulai lagi pada zaman keemasan Majapahit. Raja Hayam Wuruk berencana menyerang Palembang pimpinan Liang Dao Ming (sebenarnya ia seorang Bajak Laut) yang dalam kisah rakyat masih disebut Kerajaan Sriwijaya pada tahun 1377 M. Rencanyanya Majapahit bekerjasama dengan Kerajaan Cholamndala. Sambil menunggu kedatangan pasukan Cholamandala, Majapahit membawa pasukan ke Pulau Muria. Kerajaan Patiayam diserang lalu dihancurkan. Tidak dikisahkan keberangkatan ke Palembang dalam kisah rakyat. Fakta sebenarnya menurut sejarah, munculnya Raja Bajak Laut Liang Tao Ming justru muncul setelah serangan Majapahit ke Palembang namun ditinggalkannya alias tidak diduduki. Karene kekosongan itu, Liang Dao Ming berkuasa di Palembang. Sejarah berikutnya datang dari Tiongkok (China) dimana Laksamana Cheng Ho menangkap Liang Dao Ming dan dibawa ke China untuk dieksekusi.

Tidak jelas kisahnya, bagaimana candi Tugu sebagai batas Kerajaan Pajajaran dan Kerajaan Majapahit. Dari rangkaian panjang pemaparan di atas, sulit untuk menyimpulkan sejak kapan candi tugu sebagai batas Kerajaan Pajajaran dan Majapahit. Usia candi sendiri diperkirakan dari abad ke-7 atau 8 Masehi sebelum kerajaan Pajajaran dan Majapahit eksis.

Mengutip artikel dari lama pemerintahan Kota Semarang (semarangkota.go.id) "Candi Tugurejo, Tapal Batas Majapahit dan Pajajaran". Di tempat ini konon adalah candi perbatasan antara kerajaan Majapahit dan Pajajaran. Candi Tugu Semarang ini berada pada Jalan Mangkang KM 11, sekitar 2 km dari IAIN Walisongo, arah Semarang Jakarta berada di sisi kanan jalan, atau beberapa ratus meter saja dari RSUD Tugurejo. Di tempat ini konon adalah candi perbatasan antara kerajaan Majapahit dan Pajajaran. Lama tak terurusi, pada era penjajahan belanda, tahun 1938 (atas masukan Sejarawan J Knebel) diadakan pemugaran terhadap situs ini, lalu dibawah situs tersebut dan diletakan prasasti dengan tulisan belanda dan jawa dibawahnya. Dan tahun 80-an, candi ini kembali direnovasi oleh pemkot kota Semarang, dan ditujukan sebagai tempat wisata budaya.


Referensi

  1. Laman Pemerintah Kota Semarang. "Candi Tugurejo, Tapal Batas Majapahit dan Pajajaran". semarangkota.go.id Diakses 19 Agustus 2021.
  2. Coedes, George. 1964. "The Indianized States of Southeast Asia". Honolulu: East-West Center Press (translation of Les Etats Hindouises d'Indochine et d'Indonesie. Paris: De Boccard, 1964).
  3. Coedes, George. 1989. "Kedatuan Sriwijaya: Penelitian tentang Sriwijaya (Seri terjemahan arkeologi)".‎ Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; Cet. 1 edition (January 1, 1989) 
  4. Coedes, George. 1992. "Sriwijaya : history, religion & language of an early Malay polity : collected studies".  Publisher ‏ : ‎ MBRAS (January 1, 1992) 
  5. Coedes, George. 2015. "The Making of South East Asia (RLE Modern East and South East Asia). Routledge Library Editions: Modern East and South East Asia, 1st Edition, Kindle Edition
  6. Geertz, Clifford James. 1973. "The Interpretation of Culture: Selected Essays". New York: Basic Books, Inc. monoskop.org Diakses12 Agustus 2021. 
  7. Harianti, dkk. 2007. "Laporan hasil Penelitian Babad Pati: Perang Tanding Adipati Jayakusuma Melawan Panembahan Senopati dalam Babad Pati". Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi.
  8. Hernowo, Henky Bambang. "Hancurnya Kerajaan Pati Ayam". Dinas Arsip dan Perustakaaan Daerah Kabupaten Pati Jawa Tengah. dinasarpus.patikab.go.id PDF Download. Diakses 12 Agustus 2021.
  9. Kulke, Hermann. 2016. " Śrīvijaya Revisited: Reflections on State Formation of a Southeast Asian Thalassocracy [article] ". Bulletin de l'École française d'Extrême-Orient, Année 2016 102 pp. 45-95 . persee.fr
  10. Marwati Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka
  11. Munoz, Paul Michel (2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet. 
  12. "Nama Pati Rupanya Berasal dari Peleburan Tiga Kadipaten". Solopos.com reporter: Yesaya Wisnu Jumat, 18 Juni 2021. Diakses 19 Agustus 2021.
  13. Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
  14. Reid, Anthony.1998. "Age of Commerce 1450-1680 Volume One: The Lands Below the Winds", Volume 1. Yale University Press
  15. Sarkar, Himanshu Bhusan. 1971-1972. "Corpus of the Inscriptions of Java (Corpus inscriptioonum Javanicarum), up to 928 A.D. Calcuta, K.L. Mukhopadhyay, 2 Vols.
  16. Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKIS
  17. Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
  18. Slamet Muljana. 2006. Sriwijaya (terbitan ulang 1960). Yogyakarta: LKIS 
  19. Soekmono, Drs. R. 1998. " Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2", 2nd ed. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Cet ke-5.

Baca Juga

Sponsor