Cari

Nyai Rambut Kasih dalam Sejarah Kota Majalengka, Jawa Barat, Indonesia

Ilustrasi

[Historiana] - Oleh Alam Wangsa Ungkara - Kota Majalengka, yang terletak di Provinsi Jawa Barat, Indonesia, memiliki sejarah yang kaya akan cerita rakyat dan legenda yang masih hidup di kalangan masyarakat hingga hari ini. Salah satu tokoh yang paling menonjol dalam narasi sejarah lokal adalah Nyai Rambut Kasih, seorang ratu misterius yang diyakini memiliki peran penting dalam pembentukan identitas kota ini. Kisahnya, yang bercampur antara fakta sejarah dan mitos, menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Majalengka.


Asal-Usul Nyai Rambut Kasih

Nyai Rambut Kasih sering dikaitkan dengan Kerajaan Sindangkasih, sebuah entitas yang konon berdiri di wilayah Majalengka pada abad ke-15. Dalam cerita rakyat, ia digambarkan sebagai seorang ratu cantik yang memiliki kekuatan supranatural dan ilmu kanuragan yang luar biasa. Ia diyakini sebagai keturunan Prabu Siliwangi, raja legendaris Kerajaan Pajajaran, yang menambah dimensi historis pada kisahnya. Nama "Rambut Kasih" sendiri dikaitkan dengan kecantikan rambutnya yang panjang dan terurai, yang menjadi simbol keanggunan dan kekuatannya.

Menurut beberapa sumber, Nyai Rambut Kasih memerintah Kerajaan Sindangkasih dengan penuh kasih sayang, membawa kedamaian dan kemakmuran bagi rakyatnya. Wilayah kekuasaannya meliputi kawasan yang kini menjadi bagian dari Kota Majalengka, termasuk Sindangkasih, Kulur, dan Cijati. Ekonomi kerajaan ini bertumpu pada pertanian, dengan pohon maja—yang memiliki khasiat obat—menjadi salah satu komoditas penting.


Legenda dan Asal Nama Majalengka

Salah satu kisah paling terkenal tentang Nyai Rambut Kasih adalah peristiwa yang diyakini menjadi asal-usul nama "Majalengka." Cerita ini bermula ketika Pangeran Muhammad, utusan dari Kerajaan Cirebon di bawah perintah Sunan Gunung Jati, datang ke Sindangkasih untuk mencari buah maja sebagai obat bagi warga Cirebon yang sedang dilanda wabah demam. Selain itu, ia juga membawa misi untuk mengislamkan wilayah tersebut, yang saat itu masih menganut agama Hindu di bawah kekuasaan Nyai Rambut Kasih.

Pertemuan antara Pangeran Muhammad dan Nyai Rambut Kasih tidak berjalan mulus. Sang ratu menawarkan buah maja dengan syarat Pangeran Muhammad bersedia menikahinya dan masuk agama Hindu, tetapi Pangeran menolak kecuali Nyai Rambut Kasih bersedia memeluk Islam. Ketegangan memuncak hingga terjadi pertempuran. Merasa terdesak, Nyai Rambut Kasih memilih "ngahiyang" (menghilang secara mistis) bersama buah maja serta kerajaannya, meninggalkan wilayah tersebut dalam kehampaan.

Prajurit Pangeran Muhammad kemudian menyebut wilayah itu "Maja langka," yang berarti "maja tidak ada" dalam bahasa Sunda, merujuk pada hilangnya pohon maja yang dicari. Seiring waktu, pengucapan ini berubah menjadi "Majalengka," yang kini menjadi nama kota dan kabupaten. Meskipun cerita ini lebih bersifat legenda, ia mencerminkan proses islamisasi di wilayah tersebut dan peralihan kekuasaan dari kerajaan Hindu ke pengaruh Islam.


Petilasan dan Kehadiran Mistis

Keberadaan Nyai Rambut Kasih tidak hanya terbatas pada cerita lisan, tetapi juga diyakini masih terasa melalui petilasan-petilasan yang tersebar di Majalengka. Salah satu yang paling terkenal adalah petilasan di Dusun Leuwilenggik, Kelurahan Sindangkasih, yang diyakini sebagai tempat ia menghilang. Di lokasi ini, terdapat susunan batu dan sumur yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat.

Selain itu, Pendopo Bupati Majalengka juga menjadi situs yang erat kaitannya dengan Nyai Rambut Kasih. Di pendopo ini, terdapat kamar khusus yang dikosongkan sebagai penghormatan kepada sang ratu, yang dipercaya sebagai sesepuh spiritual kota. Kamar tersebut dilengkapi dengan kasur, lemari, dan cermin, meskipun tidak dihuni. Banyak warga dan pegawai yang mengaku pernah melihat sosok wanita cantik berpakaian bangsawan kuno di sekitar pendopo, yang diyakini sebagai penampakan Nyai Rambut Kasih.


Hubungan dengan Prabu Siliwangi

Dalam beberapa versi sejarah, Nyai Rambut Kasih disebut sebagai salah satu istri Prabu Siliwangi, meskipun tidak memiliki keturunan darinya. Naskah lontar Carita Ratu Pakuan, yang disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, mencatat bahwa pernikahan ini terjadi sebelum Prabu Siliwangi naik takhta di Pajajaran, saat ia masih dikenal sebagai Raden Pamanah Rasa atau Jayadewata. Namun, kisahnya berakhir tragis dengan "ngahiyang"-nya Nyai Rambut Kasih, yang menandakan berakhirnya era Sindangkasih sebagai mandala atau kerajaan kecil.


Relevansi Budaya dan Pesan Moral

Kisah Nyai Rambut Kasih bukan sekadar legenda, tetapi juga membawa nilai budaya dan moral bagi masyarakat Majalengka. Ia melambangkan kekuatan wanita, kepemimpinan yang bijaksana, dan perlawanan terhadap perubahan yang bertentangan dengan keyakinan. Keberadaan petilasan dan mitos seputar penampakannya menunjukkan betapa kuatnya warisan leluhur masih dihormati di tengah modernisasi.

Pada masa kini, di tahun 2025, kisah Nyai Rambut Kasih tetap menjadi bagian dari identitas Majalengka. Mitos seperti keharusan memainkan lagu "engko" saat hajatan—yang konon merupakan kesukaan sang ratu—meskipun mulai memudar, mencerminkan bagaimana tradisi lokal beradaptasi dengan zaman. Pesan yang ditinggalkan adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara menghormati budaya leluhur dan menyambut kemajuan.


Kesimpulan

Nyai Rambut Kasih adalah figur sentral dalam sejarah dan budaya Kota Majalengka. Meskipun bukti sejarah konkret tentang keberadaannya masih terbatas, kisahnya telah membentuk narasi asal-usul kota ini dan terus diwariskan secara turun-temurun. Dari legenda tentang "Maja langka" hingga petilasan yang masih dirawat, ia tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Majalengka sebagai simbol keagungan masa lalu yang patut dihormati.



Daftar Referensi

  1. "Legenda Nyi Rambut Kasih, Ratu Sakti yang Sering Muncul di Pendopo Majalengka." Detik News, 26 September 2021.
  2. "Asal-usul Majalengka: Melacak Jejak Sindangkasih dan Nyai Rambut Kasih." KRSumsel.com, 20 Februari 2021.
  3. "Sejarah Nyai Rambut Kasih dari Majalengka, Istri Pertama Prabu Siliwangi." Radar Majalengka, 25 Juni 2022.
  4. Lubis, Nina. Sejarah Majalengka: Dari Sindangkasih hingga Modernitas. (Penelitian 2012, dikutip dari berbagai sumber).

Sponsor