Cari

Mengenal Agama Baha'i


Kita telah mengenal agama langit/samawi yang meng-ESA-kan Tuhan atau Agama Monoteistik yang secara umum masuk kelompok Agama Abrahamik, yaitu agama yang diperkenalkan oleh nabi Ibrahim AS. Agama Abrahamik adalah Yahudi, Kristen dan Islam.

Sebelumnya, telah kita bahas tentang agama monoteisme Zoroastrianisme, yang dibawa oleh nabi Zaratusthra (zoroaster). Kini kita membahas agama Baha'i. Apakah agama Baha'i itu?

Rumah ibadah Bahá'í di New Delhi, India.
Mengutp dari Baha'i Indonesia, bahwa Agama Baha’i adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte dari agama lain. Pembawa Wahyu Agama Baha’i adalah Baha’u’llah, yang mengumumkan bahwa tujuan agama-Nya adalah untuk mewujudkan transformasi rohani dalam kehidupan manusia dan memperbarui lembaga-lembaga masyarakat berdasarkan prinsip keesaan Tuhan, kesatuan agama, dan kesatuan umat manusia.

Bahá'í (bahasa Arab: ﺑﻬﺎﺋﻴﺔ ; Baha'iyyah) adalah agama monoteistik yang menekankan pada kesatuan spiritual bagi seluruh umat manusia. Agama Baha'i lahir di Persia (sekarang Iran) pada abad 19. Pendirinya bernama Bahá'u'lláh. Pada awal abad kedua puluh satu, jumlah penganut Bahá'í mencapai sekitar enam juta orang yang berdiam di lebih dari dua ratus negera di seluruh dunia. -wikipedia.

Dalam ajaran Bahá'í, sejarah keagamaan dipandang sebagai suatu proses pendidikan bagi umat manusia melalui para utusan Tuhan yang disebut para "Perwujudan Tuhan". Bahá'u'lláh dianggap sebagai Perwujudan Tuhan yang terbaru. Dia sebagai pendidik Ilahi yang telah dijanjikan bagi semua umat dan yang dinubuatkan dalam agama Kristen, Islam, Buddha, dan agama-agama lainnya. Dia menyatakan bahwa misinya adalah untuk meletakkan pondasi bagi persatuan seluruh dunia, serta memulai suatu zaman perdamaian dan keadilan, yang dipercayai umat Bahá'í pasti akan datang.

House of Justice, tempat suci dan pusat agama Baha'i di Haifa, Israel.
Yang menjadi dasar ajaran Bahá'í adalah asas-asas keesaan Tuhan, kesatuan agama, dan persatuan umat manusia. Pengaruh dari asas-asas hakiki ini dapat dilihat pada semua ajaran kerohanian dan sosial lainnya dalam agama Bahá'í. Misalnya, orang-orang Bahá'í tidak menganggap "persatuan" sebagai suatu tujuan akhir yang hanya akan dicapai setelah banyak masalah lainnya diselesaikan lebih dahulu, tetapi sebaliknya mereka memandang persatuan sebagai langkah pertama untuk memecahkan masalah-masalah itu. Hal ini tampak dalam ajaran sosial Bahá'í yang menganjurkan agar semua masalah masyarakat diselesaikan melalui proses musyawarah. Sebagaimana dinyatakan Bahá'u'lláh: "Begitu kuatnya cahaya persatuan, sehingga dapat menerangi seluruh bumi." Iman Baha'i adalah agama Abrahamik.

Siapakah Baha’i?
Suatu hari Abdul Baha ditanya, “Apa artinya menjadi seorang Bahai?” Ia menjawab bahwa,
“Menjadi orang Baha’i berarti mencintai seluruh dunia; mencintai umat manusia dan berusaha untuk mengabdi kepada umat manusia; bekerja demi perdamaian dunia dan persaudaraan universal.”
Selaras dengan Ajaran-Nya yang bertujuan untuk tercapainya kesatuan umat manusia, kegiatan-kegiatan masyarakat Baha’i terbuka untuk semua kelompok masyarakat dari semua latar belakang agama, ras dan suku. Pada dasarnya kegiatan Baha’i meliputi serangkaian kegiatan kerohanian dan pendidikan untuk setiap tingkat usia.

Berdoa kepada Tuhan
Orang Bahá’i mengabdi kepada umat manusia dan juga berdoa bagi kebaikan sesama manusia. Kita mengetahui bahwa Tuhan menciptakan kita. Dia mengetahui apa yang kita inginkan dan butuhkan. Kalau demikian, mengapa kita harus berdoa lagi? Tuhan tidak memerlukan doa-doa kita, namun perkembangan roh kita tergantung pada doa, karena doa merupakan makanan rohani. Pada saat kita berdoa, kita sedang memberikan makanan rohani kepada roh kita dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mengabdi kepada Umat Manusia
Pendidikan, menurut Bahá’u’lláh bukanlah sekedar membaca dan menulis, tujuan pendidikan haruslah “Mendidik umat manusia agar menyadari keluhuran jati dirinya, mengembangkan kapasitas rohaninya dan menggunakan kapasitas yang diperoleh tersebut bagi kebaikan sesama dan perbaikan seluruh dunia”. Dengan demikian mereka memberikan cinta mereka dan pengabdian mereka demi perbaikan seluruh dunia.

Berdoa kepada Tuhan
Orang Bahá’i mengabdi kepada umat manusia dan juga berdoa bagi kebaikan diri dan sesama manusia. Kita mengetahui bahwa Tuhan menciptakan kita. Dia mengetahui apa yang kita inginkan dan butuhkan. Kalau demikian, mengapa kita harus berdoa lagi? Tuhan tidak memerlukan doa-doa kita, namun perkembangan roh kita tergantung pada doa, karena doa merupakan makanan rohani.

Pada saat kita berdoa, kita sedang bercakap-cakap dengan Tuhan.
“Dalam doa yang paling tinggi, orang-orang berdoa hanya demi cinta kepada Tuhan, bukan karena takut pada-Nya atau takut pada neraka atau karena mereka mengharapkan kurnia atau surga… Ketika seseorang jatuh cinta pada orang lain, maka mustahil baginya untuk tidak menyebut nama kekasihnya. Alangkah lebih sulit lagi untuk tidak menyebut Nama Tuhan bila seseorang telah mencintai-Nya… Orang yang rohaniah tidak mendapatkan kesenangan dari apapun kecuali dari mengingat Tuhan…” (Abdul-Bahá)
Salah satu kegiatan kerohanian utama masyarakat Bahá’i adalah doa bersama yang dilakukan bersama dengan masyarakat dari berbagai latar belakang keyakinan (dimana doa dari berbagai agama dilantunkan dalam pertemuan tersebut). Kegiatan ini bertujuan untuk memenuhi kerinduan setiap kalbu untuk berhubungan dengan pencipta-Nya, dan bersatu dengan orang-orang lain dalam doa, membangun kepekaan rohani dan menghadapkan hati mereka pada Sang Pencipta.

Mengabdi kepada Umat Manusia
Pendidikan, menurut Bahá’u’lláh bukanlah sekedar membaca dan menulis, tujuan pendidikan haruslah “Mendidik umat manusia agar menyadari keluhuran jati dirinya, mengembangkan kapasitas rohaninya dan menggunakan kapasitas yang diperoleh tersebut bagi kebaikan sesama dan perbaikan seluruh dunia”. Dengan demikian mereka memberikan cinta mereka dan pengabdian mereka demi perbaikan seluruh dunia.

Dalam konteks pendidikan dan pemberdayaan moral, masyarakat Bahá’i menggunakan pendekatan-pendekatan pendidikan yang bersifat partisipatif dan kreatif. Untuk mendukung pertumbuhan karakter yang bermoral pada anak-anak dan mempertahankan kelembutan hati mereka, masyarakat Bahá’i mendukung diadakannya kelompok-kelompok belajar bagi anak-anak di lingkungan mereka.

Kelompok-kelompok pemberdayaan remaja diadakan untuk membantu para remaja melewati masa yang paling kritis dalam kehidupan mereka dan mengarahkan energi serta semangat mereka kearah memajukan peradaban. Sedangkan untuk usia dewasa, pembelajaran dilakukan dalam kelompok belajar bersama dari berbagai latar belakang dalam suasana yang serius sekaligus menggembirakan hati. Dengan demikian memungkinkan orang-orang dari latar belakang yang beragam itu untuk maju bersama dalam mempelajari dan menyelidiki bagaimana menerapkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai moral dan rohani yang bersifat universal dalam kehidupan mereka, baik sebagai individu maupun dalam masyarakat.
“Ya Tuhan! Kibarkanlah panji-panji kesatuan manusia. Ya Tuhan! Dirikanlah Perdamaian Yang Maha Agung. Perkuatlah, ya Tuhan, semua hati orang dalam kesatuan. Ya Engkau Tuhan Yang Maha Pengasih! Gembirakanlah hati kami dengan keharuman cinta-Mu. Terangilah mata kami dengan Cahaya Bimbingan-Mu. Nikmatkanlah telinga kami dengan rayuan Firman-Mu dan lindungilah kami semuanya dalam Perlindungan Kekuasaan-Mu. Engkaulah Yang Maha Kuat, Maha Kuasa, Engkaulah Maha Pengampun dan Engkaulah Yang tidak mengindahkan kekhilafan manusia…” (Abdul-Bahá)

Dari banyak ajaran Bahá'í, dua belas asas yang bersifat sosial berikut ini paling sering dikutip:
  1. Keesaan Tuhan
  2. Kesatuan agama
  3. Persatuan umat manusia
  4. Persamaan hak antara kaum wanita dan kaum pria
  5. Penghapusan segala macam prasangka buruk
  6. Perdamaian dunia
  7. Persesuaian antara agama dan ilmu pengetahuan
  8. Mencari kebenaran secara bebas
  9. Keperluan untuk pendidikan universal yang wajib
  10. Keperluan untuk bahasa persatuan sedunia
  11. Tidak boleh campur tangan dalam politik
  12. Penghapusan kemiskinan dan kekayaan yang berlebih-lebihan
Tuhan dalam Agama Baha'i
Para penganut agama Bahá'í beriman kepada Tuhan Yang Esa. Bahá'u'lláh menegaskan bahwa semua percobaan untuk memahami atau mengisyaratkan Realitas Ilahi dalam pernyataan mana pun, tidak lain hanyalah penipuan diri: "Bagi mereka yang berilmu dan hatinya diterangi, telah terbukti bahwa Tuhan, Hakikat yang tak dapat diketahui, Keberadaan Suci, sangatlah dimuliakan melebihi segala sifat manusia, seperti keberadaan jasmani, naik dan turun, maju dan mundur. Jauhlah dari kemuliaan-Nya bahwa lidah manusia dapat mengatakan pujian yang cukup bagi-Nya, atau hati manusia memahami rahasia-Nya yang tak terkira." 

Menurut ajaran Bahá'í, alat yang dipakai oleh Pencipta segala makhluk untuk berinteraksi dengan ciptaan-Nya yang terus berevolusi adalah munculnya Sosok-sosok kerasulan yang mewujudkan sifat-sifat dari Ketuhanan Yang tak dapat dijangkau itu: "Oleh karena pintu pengetahuan Sang Purba ditutup sedemikian rupa di depan wajah semua makhluk, maka Sumber kemuliaan yang tak terhingga … telah menyebabkan para Permata Kesucian muncul dari alam rohani, dalam bentuk mulia badan manusia dan dijelmakan kepada seluruh umat manusia, agar mereka membagikan rahasia Tuhan … kepada dunia, dan mengabarkan tentang kehalusan Hakikat-Nya yang kekal." Menurut Bahá'u'lláh, apa yang dimaksud dengan "mengenal Tuhan", adalah mengenal para Perwujudan yang menyatakan kehendak-Nya dan sifat-sifat-Nya, dan justru di sinilah jiwa menjadi akrab dengan Pencipta Yang melebihi bahasa maupun pemahaman.

Agama Bahá'í menganggap para "Perwujudan Tuhan" itu, yang telah menjadi pendiri agama-agama besar di dunia, sebagai wakil Tuhan di bumi dan pembimbing utama umat manusia. Menurut ajaran Bahá'u'lláh, semua perbedaan dan pembatasan yang berkaitan dengan wahyu mereka masing-masing telah ditentukan oleh Tuhan sesuai dengan kebutuhan misinya. Oleh karena itu, orang-orang Bahá'í tidak meninggikan salah satu Perwujudan di atas yang lainnya, tetapi menganggap, dalam kata-kata Bahá'u'lláh, bahwa mereka semua "berdiam dalam kemah yang sama, membubung di langit yang sama, duduk di atas takhta yang sama, mengucapkan sabda yang sama, serta mengumumkan Agama yang sama".

Jumlah Penganut Baha'i
Sumber-sumber Bahá'í biasanya memperkirakan jumlah penganut Bahá'í di atas 5 juta. Kebanyakan sumber lain memperkirakan antara 5-6 juta.

Menurut The World Almanac and Book of Facts 2004, Kebanyakan penganut Bahá'í hidup di Asia (3,6 juta), Afrika (1,8 juta), dan Amerika Latin (900.000). Menurut beberapa perkiraan, masyarakat Bahá'í yang terbesar di dunia adalah India, dengan 2,2 juta orang Bahá'í, kemudian Iran, dengan 350.000, dan Amerika Serikat, dengan 150.000. Selain negara-negara itu, jumlah penganut sangat berbeda-beda. Pada saat ini, belum ada negara yang mayoritasnya beragama Bahá'í. Guyana adalah negara dengan persentase penduduk yang beragama Bahá'í yang paling besar (7,0%).

Encyclopedia Britannica Book of the Year (1992-kini) memberikan informasi sebagai berikut:

Agama Bahá'í adalah agama paling tersebar di dunia setelah agama Nasrani menurut jumlah negeri di mana para penganut tinggal.
  • Agama Bahá'í ada di 247 negeri di seluruh dunia.
  • Anggota-anggotanya berasal dari lebih dari 2.100 suku, ras, dan suku bangsa.
  • Tulisan suci Bahá'í telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 800 bahasa
Sejarah Agama Baha'i
Sang Bab
Sang Bab
Pada tahun 1844 Sayyid 'Alí Muhammad dari Shíráz, Persia, yang lebih dikenal dengan gelarnya Sang Báb (artinya "Pintu" dalam bahasa Arab), mengumumkan bahwa dia adalah pembawa amanat baru dari Tuhan. Dia juga menyatakan bahwa dia datang untuk membuka jalan bagi wahyu yang lebih besar lagi, yang disebutnya "Dia yang akan Tuhan wujudkan". Antara lain, Sang Báb mengajarkan bahwa banyak tanda dan peristiwa yang ada dalam Kitab-kitab suci harus dimengerti dalam arti kias, bukan arti harfiah.

Agama Báb tumbuh dengan pesat di semua kalangan di Iran, tetapi juga dilawan dengan keras, baik oleh pemerintah maupun para pemimpin agama. Sang Báb dipenjarakan di benteng Máh-Kú di pegunungan Azerbijan, di mana semua penduduk bersuku bangsa Kurdi, yang dikira membenci orang Syiah; tetapi tindakan itu tidak berhasil memadamkan api agamanya, dan mereka pun menjadi sangat ramah terhadap Sang Báb. Kemudian dia dipenjarakan di benteng Chihríq yang lebih terpencil lagi, tetapi itu juga tidak berhasil mengurangi pengaruhnya. Pada tahun 1850 Sang Báb dihukum mati dan dieksekusi di kota Tabríz. Jenazahnya diambil oleh para pengikutnya secara diam-diam, dan akhirnya dibawa dari Iran ke Bukit Karmel di Palestina (sekarang Israel) dan dikuburkan di suatu tempat yang ditentukan oleh Bahá'u'lláh. Makam Sang Báb kini menjadi tempat berziarah yang penting bagi umat Bahá'í.

Makam Sang Báb di Haifa, Israel
Bahá'u'lláh
Antara tahun 1848 dan 1852, lebih dari 20.000 penganut agama Báb telah dibunuh, termasuk hampir semua pemimpinnya. Mírzá Husayn 'Alí yang lebih dikenal dengan gelarnya Bahá'u'lláh (artinya "Kemuliaan Tuhan" dalam bahasa Arab) adalah seorang bangsawan Iran yang menjadi pendukung utama Sang Báb. Pada tahun 1852, ketika Bahá'u'lláh ditahan di penjara bawah tanah Síyáh-Chál ("lubang hitam") di kota Teheran, dia menerima permulaan dari misi Ilahinya sebagai "Dia yang akan Tuhan wujudkan" sebagaimana telah diramalkan oleh Sang Báb. Bahá'u'lláh menceritakannya sebagai berikut: "Suatu malam dalam mimpi, firman-firman yang luhur ini terdengar dari segenap penjuru: 'Sesungguhnya, Kami akan memenangkan-Mu melalui Diri-Mu serta pena-Mu. Janganlah Engkau bersedih hati atas apa yang telah menimpa-Mu, dan janganlah takut pula, sebab Engkau ada dalam keadaan selamat. Tak lama lagi, Tuhan akan membangkitkan harta-harta bumi, orang-orang yang akan membantu-Mu melalui Diri-Mu dan melalui Nama-Mu, dengan mana Tuhan telah menghidupkan kembali hati mereka yang mengenal Dia.'"

Bahá'u'lláh dibebaskan dari Síyáh-Chál, tetapi dia diasingkan dari Iran ke Baghdad, 'Iráq. Pada awalnya, Bahá'u'lláh tidak mengumumkan misinya kepada para penganut agama Báb lainnya di 'Iráq, yang berada dalam keadaan sangat kacau dan hina. Dia mulai mendidik dan menghidupkan kembali umat itu melalui tulisannya dan teladannya, dan beberapa Kitab suci Bahá'í yang penting berasal dari masa Baghdad ini, seperti Kalimat Tersembunyi, Tujuh Lembah, dan Kitáb-i-Íqán ("Kitab Keyakinan"). Pada tahun 1863, di sebuah taman yang diberi nama Taman Ridwán, Bahá'u'lláh mengumumkan misinya kepada para pengikut Báb yang berada di Baghdad, dan sejak itu agama ini dikenal sebagai agama Bahá'í.

Segera setelah pengumuman itu, Bahá'u'lláh diminta oleh pemerintahan Turki untuk pindah ke Konstantinopel (Istanbul), dan dari sana ke kota Adrianopel (Edirne). Di Adrianopel Bahá'u'lláh mulai mengirimkan "Loh-loh" kepada berbagai raja dan pemimpin dunia, yang mengumumkan kepada mereka kedatangan Hari Tuhan dan menyerukan agar mereka berdamai. Misalnya, salah satu loh yang ditujukan kepada para raja secara kolektif, berbunyi: "Wahai raja-raja di bumi! Kami melihat engkau setiap tahun meningkatkan pengeluaranmu, dan membebankannya pada rakyatmu. Ini sesungguhnya, sama sekali dan jelas tidak adil.…Rakyatmu adalah hartamu…jangan sampai engkau menyerahkan rakyatmu ke tangan perampok.…Wahai para penguasa di bumi! Berdamailah di antaramu sendiri, sehingga engkau tidak lagi memerlukan persenjataan, kecuali apa yang dibutuhkan untuk menjaga wilayah-wilayah…dalam kekuasaanmu.…Wahai raja-raja di bumi! Bersatulah, karena dengan demikianlah prahara perselisihan akan berakhir di antaramu, dan rakyatmu akan memperoleh ketenangan…"

Pada tahun 1868, Bahá'u'lláh diasingkan ke kota 'Akká di Palestina (sekarang Israel), yang pada waktu itu dipakai sebagai penjara oleh kekaisaran Usmani. Pada awalnya, Bahá'u'lláh dipenjarakan di barak di 'Akká, tetapi dengan berlalunya waktu kondisi hidupnya semakin membaik, walaupun secara resmi dia masih seorang pesakitan. Kitab suci yang mengandung kebanyakan hukum Bahá'í, Kitáb-i-Aqdas ("Kitab Tersuci"), diturunkan di 'Akká. Pada tahun 1892, Bahá'u'lláh wafat di Bahjí dekat 'Akká, tempat yang menjadi Qiblat agama Bahá'í.

Abdul Baha'. Foto: truefreethinker.com
'Abdu'l-Bahá
Dalam Kitáb-i-'Ahd, surat wasiatnya, Bahá'u'lláh telah menunjuk putranya, 'Abdu'l-Bahá sebagai pemimpin agamanya dan Penafsir tulisannya. Hal itu menjamin agar agama Bahá'í tidak mengalami perpecahan.

'Abdu'l-Bahá telah mengalami pembuangan dan pemenjaraan yang panjang bersama ayahnya. Setelah dia dibebaskan sebagai akibat dari "Revolusi Pemuda Turki" (pada tahun 1908), dia mengadakan suatu perjalanan besar selama tahun 1910-1913 ke Mesir, Inggris, Skotlandia, Perancis, Amerika Serikat, Jerman, Austria, dan Hungaria, di mana dia mengumumkan prinsip-prinsip ajaran Bahá'í. 'Abdu'l-Bahá juga mengirimkan ribuan surat ke masyarakat-masyarakat Bahá'í setempat di Iran, dengan akibat umat itu yang dahulu miskin dan hina menjadi berpendidikan dan mandiri. 'Abdu'l-Bahá wafat di Haifa pada tahun 1921, dan kini dikuburkan di salah satu ruang dari Makam Sang Báb.

Shoghi Effendi dan Balai Keadilan Sedunia
Dalam Surat Wasiat 'Abdu'l-Bahá, cucunya, Shoghi Effendi ditunjuk sebagai "Wali Agama Tuhan". 

Selama masa hidupnya, Shoghi Effendi menterjemahkan banyak tulisan suci Bahá'í, melaksanakan berbagai rencana global untuk pengembangan masyarakat Bahá'í, mengembangkan Pusat Bahá'í Sedunia. 

Juga melakukan surat-menyurat dengan banyak masyarakat dan individu Bahá'í di seluruh dunia, dan membangun struktur administrasi Bahá'í yang mempersiapkan jalan untuk didirikannya Balai Keadilan Sedunia. Shoghi Effendi meninggal pada tahun 1957.

Dia disebut sebagai "Teladan Sempurna" karena ia hidup lebih sempurna daripada laki-laki lain.



SImbol Baha' Star. Sumber: minorityrights.org
Menurut Kitáb-i-Aqdas, urusan masyarakat Bahá'í setempat dan nasional harus ditangani oleh badan-badan musyawarah yang sekarang dinamakan "Majelis Rohani", yang terdiri dari sembilan anggota yang dipilih secara demokratis. Pada tingkat internasional, Kitáb-i-Aqdas menetapkan sebuah lembaga yang dinamakan "Balai Keadilan Sedunia", yang dipilih oleh para anggota Majelis-majelis Rohani Nasional di seluruh dunia. Balai Keadilan Sedunia telah dipilih untuk pertama kalinya pada tahun 1963, dan sejak itu dipilih tiap lima tahun sekali. Selain berlaku sebagai pemimpin agama Bahá'í, Balai Keadilan Sedunia diberi fungsi khusus oleh Bahá'u'lláh untuk membuat hukum-hukum yang tidak ditetapkan dalam Kitáb-i-Aqdas; aspek ini dianggap penting karena memberi agama Bahá'í fleksibilitas untuk menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan persatuannya.

Kehidupan masyarakat
Hukum Bahá'í
Kebanyakan hukum Bahá'í terdapat dalam Kitáb-i-Aqdas tetapi hukum-hukum itu akan diterapkan secara bertahap sesuai dengan keadaan masyarakat. Beberapa hukum Bahá'í yang sudah berlaku secara umum adalah yang berikut ini:
  1. Sembahyang wajib Bahá'í.
  2. Membaca tulisan suci tiap hari.
  3. Dilarang bergunjing dan memfitnah.
  4. Menjalankan puasa Bahá'í tiap tahun.
  5. Minuman beralkohol dan obat bius dilarang, kecuali untuk perawatan medis.
  6. Hubungan seksual di luar pernikahan tidak diperbolehkan, begitu juga hubungan homoseksual.
  7. Dilarang berjudi.
Dalam ajaran Bahá'í, memisahkan diri dari dunia tidak diperbolehkan, tetapi sebaliknya manusia harus bekerja. Melakukan pekerjaan yang berguna dianggap beribadah.

Sumber:
  1. Baha'i Indonesia
  2. Wikipedia
  3. Bahai.org
Baca Juga

Sponsor