Cari

Sakit Hati Kesultanan Cirebon Penyebab Penyerangan ke Pakuan Pajajaran? | Subang Larang Sang Istri Siliwangi yang Terbuang

Ilustrasi: historyofcirebon.id
[Historiana] - Kisah berkecamuknya perang saudara di Tatar Pasundan yang meruntuhkan Keraton Pakuan pajajaran telah melegenda hingga saat ini. Dalam Video Insights & Inspirative Channel Youtube dipaparkan bahwa perang ini adalah masalah politik, bukan masalah agama.

Namun, uniknya naskah-naskah dari cirebon mengungkapkan hal lain. Ada beberapa peristiwa yang memunculkan kisah "sakit hati" keturunan Prabu Siliwangi di Cirebon. Ditambah lagi bumbu adanya "ketidaksukaan" Prabu Siliwangi terhadap Islam. Berikut tulisan yang disadur dari historyofcirebon.id
Subang Larang yang mempunyai nama lain Subang Karancang merupakan salah satu Istri Sri Baduga Maharaja, seorang Raja Kerajaan Pakuan Pajajaran yang lebih dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi. Pada mulanya Prabu Siliwangi sangat mencintai istrinya itu, akan tetapi setelah keduanya memiliki anak rupanya kemudian terjadi konflik, dan konflik tersebut kemudian menyebabkan dibuangnya Subang Larang dari Istana. 
Menurut Naskah Kuningan, Subang Larang merupakan anak dari Nyi Karancang Singapuri beliau diceritakan berasal dari suatu tempat yang bernama Singapura di Pulang Pinang, Pulau ini sekarang masuk pada wilayah Malaysia. 
Sementara menurut Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Subang Larang adalah anak dari Patih Kerajaan Surantaka yang bernama Ki Ageng Tapa dari istrinya yang bernama Nyi Ratna Karancang, Subang Larang dilahirkan pada tahun 1404. 
Sementara itu kisah mengenai dibuangnya Subang Larang oleh Prabu Siliwangi dari Istana Pajajaran dikisahkan dalam Naskah Mertasinga, dalam Naskah ini disebutkan bahwa sebab-sebab dibuangnya Subang Larang dari Istana disebabkan karena ia telah lancang menyimpan rahasia keIslamannya. 
Di Istana kerajaan Pajajaran tidak boleh ada yang menyebut nama Allah. Oleh sebab itulah setelah peristiwa itu Subang Larang kemudian diasingkan di Banten. Mendapati ibunya diperlakukan seperti itu, anak tertua Subang Larang, Pangeran Walangsungsang dan Adiknya Rara Santang kemudian turut meninggalkan istana karena sakit hati. 
Kisah pembuangan yang dialami oleh Subang Larang tersebut dalam Naskah  Mertasinga dikisahkan oleh Subang Larang sendiri ketika beliau bertemu dengan cucunya Syarif Hidayatullah di Cirebon. Waktu itu beliau mengunjungi Cirebon dengan diiringi 100 Prajurit dari Banten kejadianya tidak lama setelah pemroklamiran Syarif Hidayatullah sebagai Raja Cirebon. Demikian ringkasan isi naskah tersebut:
  • He kusuma cucuku yang ku kasihi, nenek telah mendengar berita tentang dirimu. Mudah-mudahan engkau selamat menjadi Raja…
  • Dahulu ketika masih muda, nenek pergi berguru ke seberang kepada seorang guru yang termasyhur sebagai wali yang pandai, yaitu kepada Syekh Benthong.
  • Pada suatu ketika kekekmu Raja Pajajaran melihatku dan kemudian beliau melamarku untuk dijadikan selirnya. Demikian memaksanya sang Prabu sehingga akhirnya akupun menjadi selir Raja Pajajaran.
  • Lama kelamaan nenek mempunyai anak……. Setelah nenek mempunyai dua orang anak yaitu uwakmu dan ibumu baru kemudian diketahui oleh kakekmu Raja, bahwa nenek telah menyimpan rahasia mengenai agama. Maka kemudian nenek diusir dan dibuang kearah pinggiran yaitu di Banten, karena di Pajajaran tidak boleh ada yang menyebut nama Allah.
  • Dengan terjadinya peristiwa itu Uwakmu dan Ibumu merasa sakit hatinya, kemudian mereka pergi berguru kepada seorang Syekh di Gunung Surandil. 
Berdasarkan ringkasan isi naskah tersebut, diketahui bahwa Subang Larang di usir dari Istana setelah kedapatan beragama Islam. Sebab itulah kemudian kedua anaknya keluar dari Istana Pajajaran dan memilih menjadi seorang Islam sebagaimana agama ibunya. Kelak dua orang Pangeran dan Puteri Raja Pajajaran yang terbuang ini mendirikan Kerajaan Islam Cirebon.
Jika Naskah Mertasinga menyatakan sebab musabab keluarnya R Walangsungsang atau yang mempunyai nama lain Pangeran Cakrabuana meninggalkan Istana disebabkan diusirnya ibunya dari Istana Pajajaran, maka tidak demikian dalan Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari.
Dalam Carita Purwaka Caruban Nagari tidak disebutkan mengenai penolakan agama Islam oleh Prabu Siliwangi, dalam naskah ini hanya menjelaskan bahwa selepas kematian Subang Larang, kedua anak beliau keluar dari Istana karena mendapatkan perlakuan buruk dari kalangan Istana Kerajaan Pajajaran. 
Daftar Pustaka
[1]. Aman. N wahyu. Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah SGJ. Hlm 219-220
[2]. Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari Pupuh XXIV

Jika benar isi Naskah Mertasinga tentang "Ketidaksukaan Siliwangi terhadap Subanglarang dan anak-anaknya, bisa jadi selanjutnya diartikan sebagai "motif" utama penyerangan Kesultanan Cirebon ke Pakuan Pajajaran. Saya berharap Naskah Mertasinga adalah SALAH!

Maaf, Saya menganggap naskah "Merta Singa" Cirebon mirip sebagai "Hoax" sejarah masa lalu.


Kisah Nyi Rambut Kasih
Kemiripan kisan adanya rasa "ketidaksukaan" terhadap Islam dan orang Cirebon juga nampak pada Wawacan Nyi Rambut Kasih. lagi dan lagi bersumber dari Naskah Mertasinga Cirebon.

Selama ini, kesejarahan Kerajaan Sindangkasih dengan "ratu" Nyi rambut kasih sering dikait-kaitkan dengan proses penyebaran Islam dari Cirebon ke Kerajaan Sindang Kasih yang kelak menjadi Majalengka.

Kisah asal-usul Majalengka disertai dengan proses peng-Islam dari Cirebon dibawah pimpinan Pangeran Muhammad dan Istrinya Siti Armilah. Alur kisahnya ditulis dalam naskah-naskah Cirebon, seperti Babad Cirebon dan Naskah Mertasinga. Menurut penulis, naskah-naskah itu lebih bersifat "Pujasatra". Artinya menjungjung sang tokoh setempat. Ini dilakukan untuk menggambarkan bagaimana susahnya meng-Islamkan Majalengka hingga harus bertarung dahulu dengan penguasa setempat. Dan... kita sudah tahu endingnya bahwa sang tokoh utama pasti menang. Lalu yang dikalahkan akan moksa, ngahiyang atau menghilang.

Sebagai Catatan, banyak sekali versi naskah "Babad Cirebon". Silahkan baca di katalognya Berbagai babad Cirebon di Sini. Sebagian besar naskah tidak ditulis di Cirebon (Bandung dan Garut).

Penggambaran naskah "mitos" Nyi Rambut kasih ketika dimintai buah maja oleh Susuhunan Gunung Jati melalui utusannya, Pangeran Muhammad di Sindangkasih Majalengka.

"Dan karena saking bencinya terhadap  orang Cirebon, sampai-sampai ketika di Cirebon sedang merebak sebuah penyakit yang disebabkan oleh Virus yang belum diketahui namanya dan kebetulan virus itu dikatakan sangat mematikan sehingga banyak rakyat Cirebon yang tewas, Nyimas Rambut Kasih tidak peduli bahkan mensyukurinya." historyofcirebon.id

Sangat diragukan jika pada masa akhir kerajaan Pajajaran dan telah eksisnya Kerajaan Sumedang Larang seolah-olah pihak Kerajaan Pajajaran "alergi" dengan Islam. Kita mengetahui bahwa Prabu Siliwangi mempersunting Nyi Subang Larang menjadi istrinya yang beragama Islam. Anak-anak Prabu Siliwangi dari Nyi Subang Larang beragama Islam dan menjadi raja-raja Cirebon. Kisah lain justru memaparkan bahwa Prabu Siliwangi mengetahui kecantikan Subang Larang ketika sedang membaca Al-Qur'an.

Banyak kisah peng-Islaman atau pertarungan setelah kedua pihak beragama Islam dengan penggambaran berlebihan. Misalnya pertarungan hingga 40 hari 40 malam, ngapung jeung nerus bumi (terbang dan menembus bumi). Meskipun hal itu bukan mustahal atas izin Allah yang Maha Kuasa, namun cerita ini berupa Pujasastra (hanya puja dan puji). Kisah ini mirip dengan peng-Islaman di berbagai tempat di Tatar Pasundan (Jawa barat), termasuk peng-Islaman Maharaja Prabu Siliwangi oleh Kian Santang (?). Kisah epik ini diragukan kebenarannya, terutama berkaitan dengan pertempuran. Dari sisi positif, penulis menganggap mungkin ini bentuk kearifan lokal untuk tetap memosisikan yang dikalah agar tetap merasa terhormat.

Cag
Baca Juga

Sponsor