Cari

Tudingan Kafir karena Yoga dan Aura

Ilustrasi: insideguides.com.au

[Historiana] - Menggali remah-remah budaya bangsa, memahami fenomena bencana alam yang kini kerap melanda kita tanpa peringatan datangnya bahaya. Mampukan kita mengetahui akan datangnya bahaya?

Sekilas yang ingin menyampaikan bahwa ada pengetahuan yang dianggap ilmiah, pseudo ilmiah dan tidak ilmiah. Tinggalan pengetahuan leluhur bangsa tidak lagi dianggap sebagai pengetahuan yang penting bagi hidup dan kehidupan manusia. Alasannya karena tidak ilmiah.

Apa yang dimaksud ilmiah? Penjelasannya memerlukan ruang lingkup terbatas dalam perkuliahan. Singkatnya adalah dilihat dari sisi reliabilitasnya. Artinya setiap orang dapat membuktikan sebuah fakta sebagai kebenaran. Jika ia mengulangi dengan subjek yang sama, metodologi yang sama maka hasilnya atau kesimpulannya akan sama.

Dahulu, di awal tahun 90-an saya mempelajari yoga. Mendalami kebangkitan kundalini hingga melihat aura. Tudingan dan hardikan kepada saya sebagai orang kafir dan musyik telah saya sandang dengan baik. Mengapa saya dituding seperti itu? Asumsi mereka bahwa apa yang saya dapatkan dari pelajaran dan pengetahuan itu adalah khoyali atau khayalan. Jika pun ada datangnya dari setan.

Auratubuh.wordpress.com

Tetapi kebenaran adalah kebenaran. Kini sudah ada kamera Kirlian yang mampu memotret aura manusia. Anda dapat mendatanginya di studio-studio foto yang melayani jasa pemotretan aura. Biayanya lebih kurang 30-50 ribu rupiah.

Selain itu, kini Yoga juga diberlakukan di Arab Saudi. Baca Arab Saudi Halalkan Yoga -Tempo.co. Akhirnya predikat saya sebagai orang kafir dan musyrik gegara mempelajari yoga dan melihat aura, luntur sendiri rupanya.
Kita seringkali terjebak oleh “Materialisme” bahwa sesuatu dianggap benar dan nyata bila dapat dikenali dengan panca indra. Bagaimana dengan Dasaindra? Bahkan supranatural yang hingga kini belum ilmiah karena belum ada alat untuk itu. Namun, leluhur kita telah mampu mengenalinya dan bahkan mempraktikannya ribuan tahun yang lalu.

Supranatural atau masyarakat umum menyebutnya indera keenam digunakan dalam memahami alam semesta. Seluruh bagian dari alam semesta ini dipandang hidup. Oleh karena itu setiap hal yang ada di semesta ini memiliki jiwa. Termasuk bumi dianggap memiliki jiwa. Maka tak mengherankan jika ada komunikasi antara manusia dengan Sang bumi. Jika telah mampu mengenalinya, Sang bumi akan memberitahukan sesuatu kepada manusia tentang kemungkinan sebuah bencana gempa bumi.

Jika kita ingin mengetahui hal tersebut, kita bisa minta informasinya dari para pinisepuh, Pandhita, Mahawiku yang paham atas komunikasi transendental.

Hatur punten bilih kirang, luput tina lelepitna, nu disanggi mung ukur sieur jeung beunyeur, tebih tina saenyaan.Panyampurna tangtuna ti nu ahlina. Seja tampi masing tepi, ka para pupuhu kanca, anu surti, nu sasawa, nu sasiwi, nu saini, nu sasunda, nu saindung, nu sasia: I n d o n é s i a.

*Cag*

Baca Juga

Sponsor