Cari

Kisah Ciung Wanara | Cerita Rakyat | Pantun Sunda


[Historiana] - Ciung Wanara merupakan sebuah carita  pantun. Dalain hasil penelitiannya, Eringa (1949) menyebut adanya lakon ini. Cerita Ciung Wanara dikenal luas di kalangan masyarakat Sunda. Penyebarannya yang sudah demikian lama secara lisan, memungkinkan terjadinya beberapa cerita yang berbeda. Pleyte (1922/1923) pernah menerbitkan sebuah teks cerita itu. Rusyana (1966) memetik teks "Caritana Ciung Wanara" dan Almanak Sunda (1923). Berdasarkan teks Pleyte itu Salmun (1938) menggubah cerita Ciung Wanara dalam bentuk wawacan. Di samping itu, ia memetik pula bagian awal teks itu dalam Kandaga Bacaan (1956) bunga rampai bacaan bagi murid-murid sekolah menengah. Sandiwara-sandiwara rakyat sering pula mementaskan lakon ini. Tahun 1939 perkumpulan kesenian Sekar Pakuan mementaskan lakon Ciung Wanara di Surakarta. Rosidi menggubah lakon pantun ini dalam bahasa Indonesia.

Proyek Penelitian Pantun dan Folklore Sunda (1973) menerbitkan cerita pantun Ciung Wanara berdasarkan hasil rekaman Juru pantun Ki Subarma, dari Ciwidey, Kabupaten Bandung, Rekaman dari juru pantun Ki tjeng Tamadipura (Situraja, Sumedang) tidak dapat diterbitkan karena terdapat kerusakan pada sebagian rekaman. Seorang juru pantun lain yang biasa menuturkan lakon ini ialah Ki Enjum, dari Ujungberung, Kabupaten Bandung.

Dalam menolak pendapat bahwa cerita-cerita pantun lahir mulai zaman Pajajaran, Rosidi (1966) antara lain menunjuk cerita pantun Ciung Wanara, yang menceritakan Kerajaan Galuh (jauh sebelum Pajajaran). Kartini dkk. (1980) memilih lakon ini sebagai salah satu sampel dalam penelitiannya mengenai struktur cerita pantun. Rusyana (1966:3) memperkirakan cerita ini berasal dari masa kerajaan Galuh (abad ke-8 hingga ke-13), dan sudah disebut juga dalam naskah Carjta  Waruga Guru.

Perbandingan atas jalan cerita dan nama-nama tokoh, menyimpulkan bahwa lakon ini banyak persamaannya dengan sebuah bagian dan Wawacan Sajarah Galuh, Carjos Wiwitan Raja-raja di Pulo Jawa, dan Sajarah Cijulang. Ringkasan cerita berikut ini berdasarkan edisi C.M. Pleyte.

Negara Galih Pakuan masih sangat sedikit penghuninya, kebanyakan orang halus. Rajanya bernama Sang Permana di Kusumah, yang mempunyai permaisuri Pohaci Naganingrum dan Dewi Pangrenyep.

Tersebut salah seorang pembesarnya, bernama Mantri Anom Aria Kebonan, yang sangat menginginkan kedudukan raja karena tampaknya demikian menyenangkan. Sang raja mengetahui hal itu maka kerajaan pun segera diserahkannya dengan perjanjian bahwa kedua permaisurinya jangan diganggu. Setelah penyerahan itu, ia tiba-tiba menghilang, yang sebenarnya ia pergi ke Gunung Padang. Di sana ia menjadi pendeta, dengan nama barn Ajar Suka Rasa (Ajar Suka Resi).

Raja baru, yang namanya berganti menjadi Raden Galuh Barma Wijaya Kusumah, ternyata berperangai buruk dan mabuk kekuasaan. Ajar Suka Rasa menjadi resah, apalagi ia belum beroleh anak dan kedua permaisurinya itu. Hyang Widi mengabulkan permohonannya, cahaya yang berkilau tampak turun berbelah, sebagian turun di hulu negeri dan masuk ke dalam diri Naganingrum, sebagian lagi turun di istana dan masuk ke dalam diri Dewi Pangrenyep.

Naganingrum menghadap raja, menyampaikan pemberitahuan seorang pendeta yang datang kepadanya, yang mengatakan bahwa kedua permaisuri akan mempunyai anak laki-laki. Sang raja tidak mempercayai kebenaran ramalan itu dan meminta agar pendeta itu dipanggil. Kepada utusan yang datang, sang pendeta memberikan sebungkus bunga melati, kunir, dan sepotong bunga putih, untuk diserahkan kepada raja. la sendiri datang kemudian. Sang pendeta tetap pada ramalannya, Raja Galuh Barma Wijaya Kusumah tetap pula membohongkannya. Permaisuni Pohaci Naganingrum dan Dewi Pangrenyep memang dibuat seperti sedang mengandung, masing-masing dengan menggunakan bokor kencana dan kuali kencana. Sang raja bangkit marahnya, kakek-kakek itu berkali-kali ditusuk dengan curiga 'keris', tetapi tidak juga mati. Akhirnya, pendeta itu berpura-pura mati. Tubuhnya dilemparkan, yang kelak berubah menjadi Naga Wiru. Bokor kencana dan kuali kencana tiba-tiba terlepas dari perut kedua permaisuri, lalu dilemparkan, masing-masing jatuh di (Gunung) Padang dan tanah Kawali.

Dengan bantuan dukun beranak Nini Marga Sari, Dewi Pangrenyep melahirkan bayi laki-laki, diberi nama Aria Banga.

Pada saat Raja Barma Wijaya tertidur di pangkuan Naganingrum, terdengar suara dari kandungan permaisuri itu, yang mengatakan bahwa sang raja seorang yang kejam dan akan mendapat hukuman dari pendeta Ajar Suka Resa. Yaksa Mayuta menerangkan makna suara gaib itu kepada raja, sebagai pertanda buruk. Karena itu, ia menjadi benci kepada Naganingrum. Pesannya kepada Dewi Pangrenyep ialah agar bayi Naganingrum kelak dihanyutkan ke Sungai Citanduy.

Pada hari Jumat, tanggal 14 Mulud tahun Alif, Naganingrum melahirkan. Ia ditolong oleh Dewi Pangrenyep, karena inang Sangklong Larang dan Timbak Larang tidak berhasil menemukan dukun beranak. Mata dan telinga Naganingrum ditutup dengan malam panas.

Bayinya dimasukkan ke dalam sebuah kanagan 'sejenis peti' bersama sebutir telur, sedangkan tembuninya dibentuk seperti anak anjing. Kanagan itu lalu dihanyutkan ke Sungai Citanduy. Setelah melewati Jamban Larangan dan Ciawitali, kanagan itu tersangkut di Sapuangin. Di sana disambut oleh Raden Himun Hidayatullah, anak Nabi Sulaeman yang sedang bertapa di Bantengmati, yang menjelma menjadi seekor buaya putih. Ditepuknya permukaan air untuk menciptakan banjir. Kanagan itu pun lalu dijunjungnya sampai ke hilir Sipatahunan.

Karena fitnah bahwa ia beranak anjing, Naganingrum hendak dibunuh. Tetapi, Lengser menyingkirkannya dan menyuruhnya bertapa.

Di lubuk Sipatahunan, Aki dan Nini Balangantarng tidak berani mengangkat lukahnya karena sungai sedang banjir. Pada malam harinya mereka bermimpi, yang ditafsirkannya sebagai akan beroleh rezeki besar. Bayi yang tersangkut pada lukah itu ditemukan dan dimandikan oleh Aki dan Nini Balangantrang dengan air dari celah batu yang pecah karena hentakan kaki bayi itu, lalu dipeliharanya dengan baik. Anak itu kelak menciptakan kampung Babakan Geger Sunten, berburu dengan bersenjatakan sumpit, dan memiliki seekor ayam sabung yang berasal dari telur yang terdapat dalam kanagan hanyut itu. Telur itu ditetaskan oleh Naga Wiru di Gunung Padang.

Di tengah hutan perburuan, Aki Balangantrang memberi tahu anak asuhannya bahwa kedua binatang yang dilihatnya itu adalah burung ciung 'tiung' dan wanara 'kera'. Nama itu kemudian dijadikan nama anak itu: Ciung Wanara. Aki Balangantrang lalu memberitahukan pula, siapa orang tua Ciung Wanara yang sebenarnya.

Pada saat berlangsungnya pesta sabung ayam yang diselenggarakan di ibu kota kerajaan, Ciung Wanara dan Aki Balangantrang datang pula untuk mencoba ayamnya. Kedatangan Ciung Wanara diketahui oleh Lengser. la segera maklum bahwa pendatang yang menyamar sebagai anak hitam buncit dan sebagai pemuda yang mengaku bernama Bagus Lengka, yang membawa seekor ayam sabung, dan yang bisa melewati gerbang kerajaan tanpa terlihat pengawal itu, sesungguhnya adalah anak Naganingrum.

Persabungan dimulai. Taruhan dari pihak raja adalah setengah wilayah negara, sedangkan Ciung Wanara hanya bertaruhkan nyawanya. Berkat air Cibarani, ayam Clung Wanara dapat mengalahkan ayam sang raja. Raja Barma Wijaya lalu menyerahkan wilayah barat kerajannya kepada Clung Wanara, sedangkan bagian timur diserahkannya kepada Aria Banga.

Lama-kelamaan Ciung Wanara sadar bahwa ia memperoleh kerajaan bukan sebagai warisan, melainkan sebagai petaruh bersabung ayam. Terbit niatnya membalas dendam kepada sang raja dan Dewi Pangrenyep. Ibu dan ayahnya meny.etujui rencana itu. Batara Trusnabawa, ayah Naganingrum, datang sambil membawa bahan penjara. Ki Gendu Mayak, seorang pandai besi, baru mau membuatkan penjara itu kalau raja diberi tahu lebih dulu. Ciung Wanara memenuhinya, dengan mengatakan bahwa penjara itu dibuat untuk menghukum orang yang berniat jahat kepada raja permaisurinya.

Pada saat Raja Barma Wijaya dan Dewi Pangrenyep melihat-lihat penjara baru itu, Clung Wanara segera menguncinya dari luar.

Akibat peristiwa itu terjadilah pertarungan sengit antara Ciung Wanara dengan Aria Banga. Aria Banga terlempar ke sebelah .timur. Ketika ia hendak menyerang kembali, terhalang sebuah sungai. Maka keputuskanlah bahwa peperangan dihentikan, sungai itu dijadikan batas wilayah kekuasaan mereka dan dinamai Sungai Cipamali sebagai larangan (pamali) berselisih dengan saudara. Dari Cipamali ke timur, yang dinamai tanah Jawa Kajawan Kaprabon dikuasai Aria Banga. la kemudian menuju Majapahit. Dari Cipamali ke barat, sampai Palembang, yang dinamai Tanah Sunda, dikuasai Ciung Wanara yang kemudian pergi menuju Pajajaran. Sebelum berangkat, ia melemparkan penjara besinya, yang kemudian jatuh di Kandangwesi.

Sumber: Ensiklopedi Sastra Sunda Kemendikbud
Baca Juga

Sponsor