Cari

Raja-raja Dayeuhluhur Cilacap dan Banyumas Keturunan Prabu Siliwangi

[Historiana] - Kerajaan Sunda-Galuh yang kemudian dikenal dengan nama Pajajaran. Saat itu pemerintahan di tangan Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja atau kita mengenalnya Prabu Siliwangi III. Semasa muda, Prabu Siliwangi III dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa.

Seiiring berjalannya waktu, penulisan mengenai seorang tokoh sejarah (yang tentunya terkait dengan sebuah atau berbagai macam peristiwa sejarah di zamannya) mengalami berbagai perjalanan pula.

Pun, demikian dengan yang terjadi pada tokoh Banyak Catra. Bagi sebagian orang, nama ini tentu asing karena memang jarang diungkapkan dalam teks-teks buku ajar di sekolah-sekolah resmi dan memang sifatnya tidak “nasional”, hanya “lokal”.

Bagi sebagian orang Jawa Barat bagian timur dan Jawa tengah bagian barat, terutama Banyumas (juga Purwokerto, Purbalingga, Cilacap, Kebumen), mungkin nama ini tak asing, karena berhubungan dengan sejarah kota tersebut, namun bagi orang-orang di luar kota itu nama ini belum melejit.

Dalam Babad Pasirluhur yang berlatar zaman Kerajaan Pakuan-Parahiyangan (Pajajaran) ketika masa Prabu Linggawesi Dewa Niskala (1466-74 M), yang dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Sri Prabu Linggawastu Ratu Purana Jayadewata (1474-1513 M).

Sri Prabu Linggawastu memiliki empat orang anak: Raden Harya Banyak Catra, Raden Harya Banyak Blabur, Raden Harya Banyak Ngampar, dan Dewi Retna Pamekas.

Pasirluhur, menurut Sugeng Priyadi, memiliki nama-nama lain yang lebih kuno, seperti Medang Sekori, Medang Kamulan, Jawa Pawwatan (Jawa Pamotan), dan Pura Medang. Nama Jawa Pawwatan sendiri terekam dalam naskah Carita Parahyangan (ditulis akhir abad ke-16 M di Galuh, ada juga yang menganggap ditulis pada tahun 1604 M di Sumedang).

Baca juga:


Sebagaimana halnya kisah yang telah berlangsung ratusan tahun terjadi distori. Tokoh Prabu Siliwangi sebagian dinisbatkan pada Jayadewata alias Sri Baduga Maharaj alias Pamanah Rasa. Bukan Sosok Prabu Siliwangi II yaitu Ayahanda Jayadewata/Pamanah rasa: Prabu Dewa Niskala. Bila mengacu pada Naskah Carita Ratu Pakuan, Ambetkasih sezaman dengan Jayadewata/Sri Baduga Maharaja. Mengingat kisah Carita Ratu Pakuan adalah iring-iringan kepindahan pusat kerajaan dari Kawali (Galuh) ke Pakuan Pajajaran (Sunda).

Raden Pamanah Rasa adalah putera Prabu Dewa Niskala atau Ningrat Kancana (1475-1482), Raja Galuh. Saat itu Kerajaan Sunda dan Galuh terpisah masing-masing menjadi kerajaan yang mahardika (merdeka). Kerajaan Sundah diperintah oleh Prabu Susuk Tunggal(1475-1482). Prabu Susuk Tunggal (Sang Haliwungan) adalah uwa dari Pamanah Rasa. Prabu Dewa Niskala dan Prabu Susuk Tunggal kakak-beradik (beda ibu). Keduanya putera Prabu Niskala Wastukancana (1371-1475). Saat Wastu Kancana wafat, kerajaan sempat kembali terpecah dua dalam pemerintahan anak-anaknya, yaitu Susuktunggal yang berkuasa di Pakuan (Sunda) dan Dewa Niskala yang berkuasa di Kawali (Galuh).

Kelak puteri Prabu Susuk Tunggal, yaitu Nhay Kentring Manik Mayang Sunda menjadi istrinya. Oleh karenanya, Prabu Susuk Tunggal adalah Uwa sekaligus Mertua Pamanah Rasa atau Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi III. Pamanah Rasa selanjutnya bergelar Sri Baduga Maharaja (1482-1521) yang merupakan anak Dewa Niskala sekaligus menantu Susuktunggal menyatukan kembali Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh atau sering disebut sebagai Kerajaan Padjadjaran

Ada kisah yang tidak terlalu populer di tatar Pasundan yaitu adanya istri pertama Pamanah Rasa ialah Nhay Ambet Kasih. Kisah tentang Ambet Kasih tertera dalam Naskah Lontar "Carita Ratu Pakuan" yang disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dalam kropak 410. Diperkirakan ditulisakhir abad ke-17 atau awal abad ke-18.
    Nitis ka Tajimalela Panji Rohmahiyang/ Gunung Jajar Sri Lenggang/ Patapaan Buyut Sang Herang/ Nitis ka Rahmacute/ Gunung Tilu mandala Reka Maya/ Patapaan Batara Wisnu/ Nitis Jayasakti/ Gunung Manik mandala Si Nata Lenggang/ Patapaan Batara Wisnu Wisesa/ Nitis ka Jayapremana/Halayna hanteu kabita/ Ku nu geulis tus dilaki/ Dicarita Ngabetkasih/ Kadeungeun sakamaruhan

    Menitis kepada Tajimalela Panji Romahiyang. Gunung Paguh Mandala Leka Datar, pertapaan Batara Wisnu Jati, Gunung Jajar Sri Lenggang, pertapaan Batara Buyut Sang Herang menitis kepada Rahmacuté. Gunung Tilu Mandala Lekamaya, pertapaan Batara Wisnu, menitis kepada Jayasakti. Gunung Manik Mandala Sri Nata Lenggang, pertapaan Batara Wisnu Wisesa, menitis kepada Jaya Premana, berahinya tidak tertarik, oleh yang cantik tapi tak bersuami. Tersebutlah Ngabetkasih, diiring sanak keluarga.
Dari Ngabetkasih, Prabu Siliwangi memiliki 3 orang anak. Rinciannya akan dibahas pada bagian di bawah ini. Dikisahkan Ngabetkasih atau Ambetkasih meninggal dunia. Kisah anak-anaknya kemudian menjadi raja-raja di Kerajaan Dayeuh Luhur yang kini masuk wilayah Kabupaten Cilacap Jawa Tengah.

Lihat juga versi videonya...


Kerajaan Pasir Luhur dan Dayeuh Luhur

Dayeuhluhur adalah sebuah kerajaan kecil atau keadipatian atau kadipaten yang berlokasi di Kecamatan Dayeuhluhur sekarang dengan wilayah meliputi bagian barat Kabupaten Cilacap sekarang. Kadipaten Dayeuhluhur merupakan cikal bakal dari Kabupaten Cilacap itu sendiri.

Menurut sejarah lama Kedayeuhluhuran Pada awalnya Pada tahun 1475, Kadipaten Dayeuhluhur, adalah sebuah kerajaan yang merdeka dengan diperintah oleh seorang raja yang berkedudukan di Istana Salangkuning. Kerajaan Dayeuhluhur adalah pecahan dari Kerajaan Pasirluhur. Raja yang pertama dan terkenal adalah Gagak Ngampar / Banyak Ngampar yang merupakan saudara dari Banyak Catra dari Kerajaan Pasirluhur (Karanglewas, Purwokerto). Mereka berdua adalah keturunan Raja Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran.


Pada tahun 1475 Pajajaran dibagi 2 kerajaan untuk kedua anak Prabu Wastukancana, Kerajaan Sunda untuk Prabu Susuk Tunggal dan Kerajaan Galuh Untuk Prabu Dewa Niskala. Pada saat Prabu Niskala Wastu Kencana masih berkuasa, Susuk Tunggal telah memiliki putri bernama Kentringmanik Mayangsunda dan Amuk Marugul (Murugul), sedangkan Dewa Niskala telah memiliki putra bernama PAMANAH RASA yang menjadi cucu kesayangan Niskala Wastu Kencana.

Pamanah Rasa sangat sakti dan mewarisi ilmu dan kebijaksanaan kakeknya, ia menikahi sepupunya putri Ki Gedeng Kasih yang bernama Dewi Ambetkasih dan memiliki 3 orang anak, Banyak Catra (Banyak Cotro), Banyak Ngampar dan Dewi Ratna Pamekas. Karena Dewi Ambetkasih meninggal, Pamanah Rasa (Prabu Siliwangi III) mengawini gadis muslim Dewi (Nyi Mas) Subanglarang. Selanjutnya Prabu Siliwangi III menikah dengan sepupunya Kentring Manik Mayang Sunda (seperti dibahas di atas). Dari perkawinanya dengan Kentring Manik Mayang Sunda dikarunia anak lelaki bernama Banyak Blabur (Surawisesa) dan Surasowan yang menjadi adipati Banten dan anak putri Surawati yang menikah dengan adipati Sunda Kelapa.

Semenjak Prabu Siliwangi III menikahi Kentring Manik Mayang Sunda, ketiga anak Ambetkasih meninggalkan istana Pakuan Pajajaran. Banyak Cotro dan Banyak Ngampar tidak dapat mewarisi Kerajaan Pajajaran karena tubuhnya terluka saat peperangan di Pasir luhur maka putra mahkota jatuh kepada Banyak Blabur. konon, disyaratkan bahwa tubuh calon raja harus sempurna.  Keputusan ini menyebabkan ketiga anak dari istri Pamanah rasa Dewi Ambetkasih itu (Banyak Cotro dan Banyak Ngampar) serta Dewi Ratna Pamekas yang dihukum usir dari istana. Mereka kembali ke Pasir Luhur.



Ratna Pamekas, putri Ambetkasih dinikahi Arya Baribin saudara Raja Brawijaya V yang menjadi pengungsi dari Majapahit ke Kerajaan Galuh. Banyak Catra (cotro) menikashi Dewi Ciptoroso (Ciptarasa) Kadipaten Pasir Luhur. Konon boyongan dari Kerajaan Nusakambangan. Oleh mertuanya Adipati Kandadaha, Banyak Cotro diangkat menjadi Adipati Pasir luhur dan menurunkan adipati Pasir Luhur selanjutnya. Banyak Cotro kemudian mengangkat Banyak Ngampar menjadi Adipati Dayeuhluhur sebagian wilayah Pasir luhur di Barat yang kelak menurunkan keturunan Dayeuhluhur dan menempatkan serta menerima Ratna Pamekas dan Arya Baribin yang kelak menurunkan Adipati Mrapat (Joko Kaiman) sebagai leluhur para adipati Banyumas. Dari ketiga kakak beradik inilah kelak menurunkan para leluhur orang-orang di wilayah Banyumas dan Dayeuhluhur serta Cilacap melalui perkawinan antar saudara diantara mereka. Rangkaian peristiwa ini diperkirakan terjadi tahun 1485-1490.

Raden Banyak Ngampar alias Arya Gagak Ngampar alias Panembahan Haur yang menikahi Dewi Purwati atau Dewi Peringgi atau Panembahan Biang (adik Pule Bahas, Putri Boyongan dari Nusakambangan) dikarunia 2 anak yaitu anak lelaki bernama Candi Kuning dan anak Putri bernama Dewi Ratnasari atau Niken Rantamsari, dan mendirikan astana di Salangkuning Dayeuhluhur. Arya Gagak Ngampar berbesanan dengan Kakaknya Arya Kamandaka (Banyak Cotro) dengan menikahkan putrinya Niken Rantamsari dengan Banyak Wirata yang menjadi Adipati Pasir Luhur kelak menggantikan ayahnya Kamandaka. Candi Kuning Menggantikan Gagak Ngampar menjadi adipati Dayeuhluhur Dengan Nama Adipati Arya Gagak Ngampar II, dan berputra Candilaras (laki-laki) dan Dewi Niken Kurenta (perempuan). Candi Kuning kembali mempererat hubungan dengan pasirluhur karena berbesanan dengan Banyak Wirata dengan menikahkan putrinya Niken Kurenta dengan Banyak Roma yang akhirnya menjadi adipati Pasir luhur menggantikan ayahnya Banyak Wirata. Dari Dewi Niken Kurenta ini kelak menurunkan Banyak Kesumba (Senopati Mangkubumi I Kerajaan Demak) dan Banyak Eleng/Banyak Galeh (Senopati Mangkubumi II Kerajaan Demak) dan menurunkan Trah Banyumas. Setelah meninggal, Candi Kuning Digantikan anaknya Candilaras dengan gelar Arya Gagak Ngampar III.

Gejolak kerajaan Pasirluhur dan Dayeuh Luhur terjadi dari berbagai kekuasaan. Dimulai dari ditundukan oleh Kerajaan Demak Bintoro-Cirebon, Pajang, Mataram (pada akhirnya seluruh Tatar Pasundan di bawah Mataram), Kartasura, VOC dan Belanda.

Akhir Kerajaan dan Kadipaten

Setelah ditaklukan Mataram, Kerajaan Dayeuhluhur setatusnya diturunkan menjadi Kadipaten Dayeuhluhur,dengan adipati keturunan dari bangsawan Mataram. Kadipaten Dayeuhluhur dibubarkan oleh pemerintah Hindia Belanda tahun 1831 karena keterlibatan adipati terakhir Tumenggung Prawiranegara dalam Perang Jawa mendukung Pangeran Diponegoro. Akibatnya adalah Tumenggung Prawiranegara dibuang dan Kadipaten Dayeuhluhur diturunkan lagi statusnya jadi Afdeling Dayeuhluhur.

Cikal Bakal Pembentukan Kabupaten Cilacap oleh Belanda

Gubernur Jendral Mr. J. G. van den Bosch mengunjungi Cilacap pada tanggal 9 Oktober 1832 dan mengubah status Kabupaten Dayu-Luhur menjadi Kepatihan (Patteschap) Dayu-Luhur.

Dengan surat keputusan tanggal 15 Mei 1838 no 5, Pemerintah Hindia Belanda hanya menyetujui usul mutasi para pejabat Pattehschap Dayu-Luhur.

Referensi

  1. Atja dan Edi S. Ekadjati. 1987. "Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara I.1: Suntingan Naskah dan Terjemahan". Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  2. Ayatrohaedi. 2005. Sundakala: Cuplikan Sejarah Sunda Berdasarkan Naskah-naskah “Panitia Wangsakerta” Cirebon. Jakarta: Pustaka Jaya.
  3. Yusandi. 2018. "Tokoh Banyak Catra Dalam Tradisi dan Sejarah Sunda". Wacana.co Diakses 18 Desember 2018
  4. Wikiwand. "Kabupaten Dayeuh Luhur. Wikiwand diakses 18 Desember 2018.


Baca Juga

Sponsor