Cari

Perang Bubat, Perang Majapahit dan Pajajaran Tidak Pernah Terjadi?

Iring-iringan pasukan kecil pajajaran membawa calon pengantin Putri Dyah Pitaloka
Kisah epik perang bubat, sebagian menyebutnya "pembantaian bubat"  telah menjadi kisah turun temurun di Pulau Jawa. Kisah yang memilukan. Irirng-iringan pasukan kecil pengiring calon pengantin Pajajaran, Citra Resmi Dyah Pitloka berakhir tragis.

Terbunuhnya seluruh pasukan dan raja Pajajaran serta Putri pajajaran pun memilih mengakhiri hidupnya daripada diperbudak Hayam Wuruk, Raja Majapahit. Dengan kujang yang masih dipegang jasad ayahnya, Raja Pajajaran, Dyah Pitaloka mengambil kujang itu, lalu menikamkannya ke dada sang putri cantik Sunda pajajaran.....
Perang Bubat
Perang Bubat adalah salah satu tonggak sejarah yang sangat penting yang mewarnai perjalanan Nusantara. Perang yang mengawali kehancuran Majapahit itu ..

Kisah yang beredar selama ini, perang Bubat adalah perang yang diceritakan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dan mahapatihnya, Gajah Mada.

Perang ini melibatkan sejumlah besar pasukan kerajaan Majapahit pimpinan Mahapatih Gajah Mada melawan sekelompok kecil pasukan kerajaan Sunda pimpinan Prabu Maharaja Linggabuana, di desa pelabuhan Bubat, Jawa Timur pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 Masehi.

Pertempuran yang sangat tidak seimbang tersebut dimenangkan secara mutlak oleh pihak Majapahit. Pasukan kerajaan Sunda dibantai habis, termasuk raja kerajaan Sunda, Prabu Maharaja Linggabuana.

Tidak cuma itu, permaisuri dan putri raja Sunda bernama Dyah Pitaloka Citraresmi – yang sedianya akan dinikahkan dengan raja Hayam Wuruk – ikut tewas dengan cara bunuh diri setelah meratapi mayat ayahnya.

Diceritakan bahwa timbulnya perang ini akibat kesalahpahaman mahapatih Gajah Mada saat melihat raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit Sunda.

Gajah Mada menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di pelabuhan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri kerajaan Sunda kepada Majapahit. Hal ini menimbulkan perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada, dan memuncak hingga terjadi perang terbuka.

Tradisi menyebutkan sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati berduka melakukan bela pati, bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Tindakan ini mungkin diikuti oleh segenap perempuan-perempuan Sunda yang masih tersisa, baik bangsawan ataupun abdi. 

Menurut tata perilaku dan nilai-nilai kasta ksatriya, tindakan bunuh diri ritual dilakukan oleh para perempuan kasta tersebut jika kaum laki-lakinya telah gugur. Perbuatan itu diharapkan dapat membela harga diri sekaligus untuk melindungi kesucian mereka, yaitu menghadapi kemungkinan dipermalukan karena pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak.

Rekonsiliasi Majapahit dan Sunda Pajajaran
Tragedi perang Bubat merusak hubungan kenegaraan antar kedua negara dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian, hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sediakala. Pangeran Niskalawastu Kancana — adik Putri Pitaloka yang tetap tinggal di istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih terlalu kecil — menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan kemudian akan naik takhta menjadi Prabu Niskalawastu Kancana. 

Kebijakan Prabu Niskala antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit dan menerapkan isolasi terbatas dalam hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan. Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan larangan estri ti luaran, yang isinya di antaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.

Disebutkan dalam kisah bahwa Hayam Wuruk meratapi kematian Dyah Pitaloka. Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali - yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka - untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya. Raja Hayam Wuruk kemudian menikahi sepupunya sendiri, Paduka Sori.

Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. 

Gajah Mada sendiri menghadapi tentangan, kecurigaan, dan kecaman dari pihak pejabat dan bangsawan Majapahit, karena tindakannya dianggap ceroboh dan gegabah. Ia dianggap terlalu berani dan lancang dengan tidak mengindahkan keinginan dan perasaan sang Mahkota, Raja Hayam Wuruk sendiri. 

Peristiwa yang penuh kemalangan ini pun menandai mulai turunnya karier Gajah Mada, karena kemudian Hayam Wuruk menganugerahinya tanah perdikan di Madakaripura (kini Probolinggo). Meskipun tindakan ini tampak sebagai penganugerahan, tindakan ini dapat ditafsirkan sebagai anjuran halus agar Gajah Mada mulai mempertimbangkan untuk pensiun, karena tanah ini letaknya jauh dari ibu kota Majapahit sehingga Gajah Mada mulai mengundurkan diri dari politik kenegaraan istana Majapahit. 

Meskipun demikian, menurut Negarakertagama Gajah Mada masih disebutkan nama dan jabatannya, sehingga ditafsirkan Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai akhir hayatnya

Tafsir baru kisah perang Bubat
Berbeda dari versi umumnya yang mengaitkannya dengan ambisi Gajah Mada, Agus Aris Munandar membuat penafsiran baru berdasarkan kisah Panji Angreni, yang ditulis pada 1801 atas perintah Pangeran Adimanggala di Palembang.

Menurutnya, Gajah Mada semula setuju dengan perkawinan itu, sebagai upaya mempersatukan Majapahit dan Sunda tanpa peperangan. 

Namun ayahanda Hayam Wuruk, Kertawarddhana (suami Tribhuwanottunggadewi) yang disebut sebagai penguasa Kahuripan, keberatan dengan perkawinan itu. Terlebih Hayam Wuruk telah dijodohkan dengan Indudewi, anak Rajadewi Maharajasa (adik Tribuwana) yang berkedudukan di Daha (Kadiri).

Maka, Kertawarddhana memerintahkan Gajah Mada untuk membatalkan perkawinan tersebut. Gajah Mada hanya perpanjangan tangan orangtua Hayam Wuruk yang khawatir kedudukan permaisuri Majapahit jatuh ke tangan Dyah Pitaloka. 

Demikian dikatakan sejarahwan dari Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam acara Seminar Borobudur Writers & Cultural Festival Magelang, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Selain itu ada juga teori konspirasi. Dalam bukunya ‘Gajah Mada Biografi Politik’, Agus menuliskan konspirasi pejabat Majapahit karena pada masanya, Gajah Mada itu terlalu cemerlang. Banyak pejabat Majapahit yang ingin menjatuhkan Gajam Mada. Mereka pun berkonspirasi, menjadikan Gajah Mada sebagai kambing hitam. 

Soal pernikahan dengan Dyah Pitaloka, Gajah Mada tidak bersalah. Dia hanya melaksanakan titah sang raja. Justru, sang mahapatih punya keinginan besar agar Majapahit dan Sunda bergaung menjadi kerajaan besar.

Sayangnya, Gajah Mada tidak tahu-menahu tentang konspirasi perjodohan Hayam Wuruk sejak kecil yang sudah dijanjikan pada sepupunya, Dewi Sekartaji. Kesalahan inilah yang menjurus pada terjadinya Perang Bubat.

Sumber terbatas
Sumber sejarah tentang Perang Bubat amat terbatas. Bahkan hingga kini tak ada satu pun dari sekitar 50 prasasti yang berasal dari masa kerajaan Majapahit dan 30 prasasti dari masa kerajaan Sunda yang menyebutkan, apalagi menguraikan, peristiwa tersebut. Yang ada hanya sumber-sumber tertulis berupa naskah atau manuskrip.

Periode perkiraan Perang Bubat adalah perang yang terjadi pada tahun 1279 Saka atau 1357 M pada abad ke-14, yaitu di masa pemerintahan raja Majapahit Hayam Wuruk. Sumber-sumber rujukan tertua mengenai adanya perang ini terutama adalah Serat Pararaton serta Kidung Sunda dan Kidung Sundayana yang berasal dari Bali.

Pararaton sendiri, sebagai sumber awal mengenai peristiwa itu diragukan keakuratannya. Dari hasil pembacaan ulang atas teks Pararaton, Agung Kriswantoro, filolog Perpustakaan Nasional RI, menyebut data sejarah di dalam Pararaton sangat mungkin menyimpang dari sumber data primer. Hal ini disebabkan waktu penulisan teks dilakukan jauh setelah peristiwa sebenarnya terjadi.

Bahkan Edi Sedyawati, guru besar arkeologi Universitas Indonesia, membuat perkiraan lebih jauh. Peristiwa Bubat tidak lebih dari sisipan penyalin Pararaton, atau malahan tambahan orang Belanda pertama yang menelitinya.

“Usai perang Bubat itu, diyakini Gajah Mada meninggal atau mati dengan moksa. Sebab, sampai dimana pun dan kapanpun Gajah Mada tidak akan pernah mau melawan perintah Raja Majapahit,” tutur Dimas Cokro Pamungkas, budayawan Trowulan yang mempelajari tentang Majapahit. 

Semoga kisah ini tak terulang lagi...

Mugia Sagung Dumadi
Rahayu...

Baca juga:
  1. DI BALIK RUNTUHNYA KERAJAAN MAJAPAHIT (HIDDEN STORY)
  2. Kerajaan Majapahit: Antara Fakta, Legenda atau Ilusi? -Bagian 1
  3. Kerajaan Sunda, Pajajaran, Galuh dan Agama Sunda
  4. Harimau Jawa lambang Pajajaran Punah?

Baca Juga

Sponsor