Cari

Baranang Siang Versi Ridwan Saidi dan Apa arti yang tepat?


[Historiana] - Nama Barang Siang mengingatkan kita pada nama Terminal Bis Antar Kota-Antar Propinsi = AKAP) di Kota Bogor yang dibangun tahun 1974. Jalur masuk melalui tol Jagorawi pun mempermudah akses ke kota Bogor.  Baranangsiang adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Kelurahan ini merupakan salah satu kelurahan vital di Bogor karena di sinilah, terminal bus utama kota Bogor, Terminal Bus Baranangsiang berada.Tahukah Anda asal mula nama "Baranang Siang"?

Menurut Budayawan Betawi, Barang Siang diartikan sebagai "pergi dengan bermartabat". Demikian pernyataannya dalam Video Youtube: Kanal Macan Idealis.yang diunggah tanggal 11 September 2019. Bagi kita mungkin ini hal baru lagi?

Dikisahkan oleh Ridwan Saidi bahwa pasca runtuhnya Kerajaan Pajajaran, Prabu SIliwangi mengungsi ke Astana Anyar Bandung pada tahun 1518 (?). Astana Anyar dikatakan Ridwan Saidi adalah IBukota Baru, bukan kuburan. Kata "Asatana" menurut Ridwan Saidi berasal dari bahasa Armedia.

Menurut Naskah yang selama ini kita ketahui bahwa runtuhnya Kerajaan Pajajaran akibat serangan Kerajaan Banten pada tahun 1579 Masehi bukan 1518. Terdapat ketidak-sinkronan antara pendapat Ridwan Saidi dan data sejarah sebelumnya. Darimana sumber kajian dan kesimpulan ditarik oleh Ridwan Saidi? berdasarkan videonya ia menggunakan pendekatan linguistik dengan analisia nama tempat (toponimi) dikaitkan dengan peristiwa sejarah.

Ridwan Saidi secara tegas menolak data penelitian sebelumnya, seperti ia tulis dalam pengantar bukunya "Kerajaan Sunda dan Sunda Kalapa, serta kemandirian Banten" Oleh Ridwan Saidi. Dalam Pengantar: Kerancuan Babad, Ridwan menyatakan bahwa sumber-sumber tertulis tradisional penulisan sejarah Kerajaan Sunda tak banyak yang dapat digunakan. Diantaranya yang dapat membantu penulisan: Lalamphan Bujangga Manik dan Sanghyang Siksakandang Karsian karena merupakan laporan perjalanan, berarti ditulis semasa, atau pada saatnya. Sehingga konstruksi tulisan jelas. Demikian menurut Ridwan Saidi.

Naskah yang ditolak Ridwan adalah Carios Parahyangan (mungkin Carita Parahyangan, Pen), Babad Banten, Babad Cirebon yang naskah itu baru ditulis pada XIX M, bahkan Wangsakerta ditulis pada XX M, lantas babad-babad itu berkisah tentang kejadian 300 hingga 500 tahun sebelum penulis babad dilahirkan. Dan si penulis babad mengambil posisi seolah saksi zaman pula.



Cek Data

Peneliti Naskah Wangsakerta, Dosen Filologi Unpad Bandung, Dr. Undang A. Ahmad Darsa di Festival Gotrasawala Cerbonan, 14-15 Desember 2013. Menurutnya, Naskah-naskah Wangsakerta, jelas penulisnya seorang yang berpikiran ‘maju’ untuk zamannya. Patut diingat bahwa dalam naskah-naskah Wangsakerta belum tersentuh oleh para ahli sejarah modern. Berkat petunjuk dari kolofon naskah Pustaka Caruban Nagari karya Arya Cirebon tahun 1720 dan naskah Pustaka Pakungwati Carbon karya Wangsamanggala dan Tirtamanggala tahun 1779, menyebut rujukan naskah Pustaka Nagara Kretabhumi, akhirnya tabir keberadaan naskah-naskah Wangsakerta memakan waktu penulisan sekitar 21 tahun (1677-1698) dapat diketemukan kembali secara berangsur-angsur dalam waktu selama 12 tahun (1974-1985) oleh Drs. Atja.

Festival Gotrasawala Cerbonan, 14-15 Desember 2013

Naskah Pangeran Wangsakerta terbuat dari bahan kertas daluang dengan sampul kertas karton dibungkus kain blacu putih dan warna kecoklat-coklatan. Tinta warna hitam. Ukuran aksaranya 5 mm. Bahasa dan aksara yang digunakan model bahasa Jawa Kuno dan aksara Jawa yang bercirikan kebudayaan Pesisir-Cirebon.

Diungkapkan, penyusunan naskah Wangsakerta ini terlebih dahulu diadakan musyawarah untuk menguji kebenaran bahan karangan yang berasal dari berbagai riwayat yang dibawa sejumlah peserta dari berbagai negeri. Isi riwayat beraneka macam, seperti riwayat beberapa kebijaksanaan tertulis beberapa kerajaan di nusantara, uraian etika politik, prasasti, peraturan kerajaan, ajaran agama, silsilah, dan kisah keluarga raja. Adapun peserta musyawarah disebutkan terdiri atas sang pinakadi, sang mahakawi, sang jurukatha, mentri, patih, duta kerajaan, duta wilayah, ahli nujum, penghulu, guru besar agaman sang gotrasawala, sang adyaksa yang tujuh dan Pangeran Wangsakerta sebagai pemimpin musyawarah. Musyawarah itu dilaksanakan di Paseban Kesultanan Kasepuhan Cirebon.

Jadi Naskah wangsakerta ditulis abad XVII hindda XVIII bukan Abad XX seperti pendapat Ridwan Saidi.


Bahasa Sunda

Tokoh masyarakat Bogor, Abraham menceritakan nama Baranangsiang berasal dari dua suku kata Bahasa Sunda. "Dari cerita masyarakat dulu, Baranangsiang diambil dari dua kata bahasa Sunda, Baranang dan Siang," kata Abraham demikian seperti dikutip dari TribunnewsBogor.com.

"Baranang artinya terang benderang, dan siang artinya siang hari," katanya  Ia melanjutkan bahwa, konon katanya, dulu wilayah Baranangsiang seperti hutan belantara. Meskipun siang hari, kondisinya juga gelap.

"Dulu di Baranangsiang itu hutan lebat, sampai ada istilah tempat jin buang anak," terangnya.

"Namun, saat itu ada pepatah atau petuah dari orang dulu, kalau Baranangsiang ini akan jadi tempat yang terang benderang," lanjutnya.

Abraham menuturkan, pepatah tersebut memiliki arti wilayah Baranangsiang ini meskipun di malam hari akan terang seperti siang hari. "Jadi Baranangsiang itu diibaratkan malam hari akan terang benderang seperti siang hari," ujarnya.

Dan benar saja, petuah orang-orang dulu kejadian seperti sekarang ini. "Baranangsiang jadi banyak gedun-gedung dan lampu-lampu menyala menerangi jalanan," tuturnya.

Benar tidaknya arti dari Definisi Ridwan Saidi atau dari tokoh Masyarakat Bogor adalah dengan menelusuri etimologi (asal usul bahasa). Barang Siang adalah bahasa Sunda. Selain nama tempat "Baranang Siang" kata "Baranang" dan "Siang" bisa kita dapati dalam bahasa Sunda. Misalnya "Bentang Baranang" artinya Bintang bercahaya. "Siang" tidak selalu diartikan sebagai "Beurang" = Bhs Sunda atau Siang (Indonesia). Kita dapati kalimat "Palang Siang" atau "Hanjuang Siang". Menurut Kamus Bahasa Sunda-Indonesia, "Palang Siang" artinya barangkali, jangan-jangan.

Sedangkan "Hanjuang Siang" sering kita kenal dalam kalimat ”Urang teundeun na handeuleum sieum, urang tunda na hanjuang siang pikeun guareun jaga”.  artinya secara umum "kita simpan dengan rapi untuk ita ambil lagi di kemudian hari" Sebuah peribahasa. Bila kita pecah per bagian "Hanjuang" dan Siang" adalah Hanjuang merupakan nama sebuah pohon dalam bahasa Sunda dan Siang diartikan "Siang" dalam bahasa Indonesia.

Baranang Sanghyang

Budayawan Kota Bogor, Eman Sulaeman mengatakan, wilayah Baranangsiang, dulunya bernama Baranang Sanghyang. Demikian dikutip dari Tribunnewsbogor.com. Menurut Eman, Baranang Sanghyang ini artinya kecemerlangan, yang diberikan oleh Tuhan kepada orang sekitar situ.

Nama itu, kata dia, kemungkinan diberikan oleh warga Tionghoa yang datang ke Bogor, dengan makna tertentu. "Nah orang kita susah bilang Sanghyang, makanya jadi siang. Jadi lah sampai sekarang namanya Baranang Siang," jelas Eman.

Budayawan lainnya dari Vihara Mahabrahma, Pulo Geulis, Lenih Gita Isvara juga menyebutkan bahwa Baranangsiang dulunya bernama Parakan Baranang Sanghyang. "Sanghyang itu dalam bahasa Tionghoa artinya Tuhan. Sedangkan Baranang artinya sesuatu yang sangat terang," katanya.

Dia juga mengatakan, ketika bangsa Tionghoa datang ke Bogor melalui jalur sungai, kemudian menemukan wilayah Baranangsiang. "Konon mereka mempercayai bahwa wilayah itu merupakan wilayah yang ditemukan, berkat penerangan Tuhan," ujarnya.

Baranangsiang merupakan kelurahan yang berada di Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, Jawa Barat. Kelurahan Baranangsiang keberadaannya cukup vital, karena disinilah letak terminal utama Kota Bogor.

Kisah yang mengkaitkan dengan Baranang Sanghyang tidak diketahui kapan peristiwa kedatangan orang Tionghoa tersebut ke Bogor.

Berdasarkan Laporan Kappten Scipio yang melakukan ekspediri mencari jejak Pajajaran di zaman Kolonialisme Belanda, besar kemungkinan peristiwa kedatangan orang Tiong Hoa di Kampung Baru (kelak bernama Buitenzorg dan Bogor) terjadi setelah Pembukaan kampung Baru oleh Raden Kyai Tanujiwa seorang serdadu Belanda Bangsawan Sumedang keturunan Pajajaran. ari perjalanannya disimpulkan bahwa jejak Pajajaran yang masih bisa memberikan "kesan wajah" kerajaan hanyalah "Situs Batutulis". Penemuan Scipio segera dilaporkan oleh Gubernur Jenderal Joanes Camphuijs kepada atasannya di Belanda. Dalam laporan yang ditulis tanggal 23 Desember 1687,

Nama Bunga

Kembali ke kata "Barang Siang". Nama terminal di Bogor ini diambil dari sebuah nama bunga Baranangsiang (bahasa Sunda) yang artinya “Mekar di Siang Hari” Menurut cerita, dulu di tempat ini banyak tumbuh bunga jenis tersebut. Demikian penulis kutip dari Lovelybogor.com

Mana arti yang tepat?


Referensi
  1. "Dulu Tempat Jin Buang Anak, Ini Asal Usul Nama Baranangsiang Bogor" tribunnewsbogor.com Penulis: Yudhi Maulana Aditama. Editor: Suut Amdani Diakses 13 September 2019.
  2. "Arti kata "palangsiang" bahasa Sunda dalam bahasa Indonesia - Sunda-Indonesia" Kamuslengkap.com Diakses 13 September 2019.
  3. "Baranang Sanghyang ini artinya kecemerlangan, yang diberikan oleh Tuhan kepada orang sekitar situ," kata Eman Sulaeman kepada TribunnewsBogor.com. Penulis: Vivi Febrianti. Editor: Soewidia Henaldi. Diakses 13 September 2019.
  4. Saidi, Ridwan. 2019.  "Kerajaan Sunda dan Sunda Kalapa, serta kemandirian Banten". Jakarta: Yayasan renaissance. google books Diakes 13 September 2019.
  5. "Mengungkap Kontroversi Naskah Wangsakerta". Radarcirebon.com 14 Desember 2013 Diakses 13 September 2019. 
  6. "Terminal Baranangsiang – bunga tak terawat" oleh Anton Ardyanto. Diakses 13 September 2019. lovelybogor.com 


Sponsor