![]() |
Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Foto: Ponorogopos |
[Historiana] - Heboh pemberitaan mengenai Dimas Kanjeng Taat Pribadi mewarnai berbagai portal berita di Indonesia bahkan di Mancanegara (termasuk di Amerika Serikat).
Marwah Daud Ibrahim menjadi salah satu sosok kontroversi dalam kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Ia sangat yakin Dimas Kanjeng tidak melakukan penipuan tapi memiliki karomah (mukjizat). Marwah bahkan pasang badan untuk tersangka pembunuhan dan penipuan penggandaan uang.
Baca juga: Mu'jizat, Karomah, Maunah, Irhas
Marwah bergabung dalam padepokan Dimas Kanjeng sejak tahun 2011. Perempuan yang menjadi Ketua Komisi Perempuan dan Anak Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Sekjen Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu mengaku sudah melakukan istikharah. Tiga kali melihat Dimas Kanjeng bisa mendatangkan uang dengan mata kepalanya sendiri, Marwah mantap habis-habisan membela pria bernama asli Taat Pribadi itu.
Keyakinan Marwah Daud makin tebal karena Dimas Kanjeng yang dikenal humble dan sederhana ini berjanji menggunakan uang dari padepokan untuk pendidikan dan beasiswa anak Indonesia.
Namun, Marwah Daud semakin gerah dengan publik yang tidak mempercayai karomah yang dimiliki Dimas Kanjeng. Dia mendorong lelaki yang berusia 40 tahun itu untuk membuktikan karomah di depan publik agar tidak disebut sebagai penipuan.
Langkah Marwah yang percaya penuh terhadap klaim Dimas Kanjeng sangat disayangkan sejumlah kalangan mengingat Marwah Daud dikenal sebagai akademisi yang seharusnya mengedepankan rasionalitas dan kerja keras. Lewat pesan WhatsApp, Marwah Daud akhirnya menepati janjinya setia kepada Dimas Kanjeng dan memutuskan mundur dari MUI.
‘Karomah’ Bersifat Pribadi dan Tak Bertendensi Materi
Ustad Shamsi Ali, tokoh masyarakat Muslim di Amerika, mengatakan siapa pun bisa mendapat “karomah”, tetapi umumnya bersifat sangat pribadi dan tidak memiliki tendensi material.
“Kita akui bahwa memang ada yang namanya karomah. Tapi karomah terjadi pada orang-orang yang karena kedekatannya pada Tuhan, mendapat kemuliaan tertentu. Tetapi bukan karena ia yang menginginkan. Seseorang yang mendapat karomah itu bukan karena ingin memamerkannya dan terjadi secara instan atau tiba-tiba ketika berada dalam kondisi sangat membutuhkan," ujarnya.
"Orang yang mendapat karomah adalah mereka yang sudah sangat mengkonsentrasikan dirinya pada Tuhan, bukan pada manusia. Sangat bertolak belakang dengan apa yang dipertontonkan Kanjeng Taat, baik di depan khalayak ramai maupun lewat YouTube."
Ia menambahkan bahwa yang paling terpenting adalah sangat tidak masuk akal ketika seseorang mengaku bisa mendapat karomah jika memberi bayaran atau janji-janji tertentu.
"Jadi saya nilai apa yang dilakukan Taat Pribadi ini tidak benar dan hanya merupakan rekayasa semata," tuturnya.
“Saya tidak jelas apakah itu penipuan, sihir, kahanah atau perdukunan. Tapi yang pasti jangan sampai karomah yang merupakan konsep yang sangat mulia itu diatasnamakan untuk penipuan yang tidak benar. Yang dikorbankan adalah konsep-konsep Islam yang agung. Jadi yang disampaikan Ibu Marwah Daud itu patut dipertanyakan, apalagi mengingat ia tokoh intelektual Muslim,” imbuh Shamsi.
Tewasnya Dua Anggota Padepokan
Nama Taat Pribadi dan padepokan yang dipimpinnya menjadi perhatian ketika terungkap pembunuhan dua anggota padepokan, Abdul Ghani dan Ismail Hidayah, yang diduga dilakukan oleh santri padepokan atas sepengetahuan Taat.
Sebagai Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Marwah maju membela orang yang disebutnya sebagai “guru” itu. Ia juga kemudian menyebut sejumlah kesaktian Taat Pribadi dan ketenangan yang diberikan di padepokan yang sudah tersebar di hampir seluruh propinsi di Indonesia itu.
Dalam acara di televisi itu, istri kedua anggota padepokan yang ditemukan terbunuh itu mengungkap sejumlah barang peninggalan suami mereka, yang diperoleh dari Taat. Salah satunya pulpen dengan mata pena sangat tajam yang kabarnya bisa membuat pemiliknya menguasai tujuh bahasa tanpa belajar, kantung macan yang diyakini bisa membuat pemiliknya menghilang, kartu bergambar Taat Pribadi yang disimpan dalam kantung kain dan dikabarkan bisa mengeluarkan uang untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari, dan banyak lainnya.
Banyak pihak mengkritik sikap Marwah, tetapi tidak sedikit pula yang membelanya dan bersikeras bahwa Taat Pribadi, yang kini sudah ditahan polisi, adalah “orang terpilih”.
Fenomena Pengkultusan Bukan Hal Baru
Fenomena orang dan perkumpulan yang dikultuskan sedemikian rupa bukan hal baru, yang tidak saja terjadi di Indonesia, tetapi juga di Amerika. Salah satu yang paling terkenal adalah “Branch Davidians” yang didirikan oleh David Koresh tahun 1983.
Koresh, yang menggambarkan masa kanak-kanaknya sebagai masa yang sunyi dan kesepian, berhasil memiliki banyak pengikut yang meyakini bahwa kiamat sudah dekat.
Ia mendirikan perkumpulan di Waco, Texas, menjalankan tradisi yang tidak biasa seperti berhubungan seks dengan istri-istri anggota perkumpulannya dan anak di bawah umur, dan mempersenjatai perkumpulannya.
Kedua hal ini menarik perhatian Biro Alkohol, Tembakau dan Senjata Amerika (ATF) yang mendatangi Waco pada Maret 1993 dan terlibat baku tembak, yang menewaskan empat petugas ATF dan enam anggota “Branch Davidians”.
Insiden ini mendorong pengepungan aparat selama 51 hari yang berakhir dengan penyerbuan yang menewaskan 77 anggota “Branch Davidians”, termasuk 20 anak-anak.
Selain Koresh dan “Branch Davidians”, ada pula kelompok “Heaven’s Gate”, “Scientology” dan “Children of God”. Kelompok “Heaven’s Gate” menarik perhatian luas pada Maret 1997 ketika 39 anggota perkumpulan yang mengkultuskan Marshall Applewhite dan Bonnie Nettles sama-sama melakukan aksi bunuh diri, dengan harapan bisa mencapai antariksa pasca penemuan komet Hale-Bopp.
Menurut Shamsi Ali, fenomena ini bisa disebabkan karena dua hal yaitu tendensi materialistik yang sangat tinggi dan sekaligus begitu sempitnya cara memahami agama atau keyakinan tertentu.
“Saya kira ada dua hal yang menjadi gabungan pemicu fenomena seperti ini. Pertama, ada tendensi materialistik yang sangat tinggi, yang mendorong orang ingin segera berhasil dengan cara instan. Bukan hanya dengan bergabung pada padepokan yang memberi janji seperti ini, tetapi juga cara-cara yang tidak rasional seperti bintang-bintang film yang didaulat terjun dalam bidang politik dan kini duduk di dewan perwakilan kita," ujarnya.
"Ini penyakit manusiawi yang paling utama, ingin cepat berhasil dengan cara mudah. Yang kedua, bisa jadi juga karena pilihan-pilihan yang ada dalam agama masing-masing terlalu kaku, tidak memberi ketenangan spiritualitas, sehingga ketika ada kegiatan yang seakan-akan memberi ilham tertentu, mereka cepat terbuai,” katanya.
Hingga laporan ini disampaikan pihak kepolisian Indonesia masih menyelidiki pembunuhan dua anggota Padepokan Dimas Kanjeng dan dugaan keterlibatan Taat Pribadi, dan sekaligus ajaran aliran yang dinilai meresahkan tersebut.
Majelis Ulama Indonesia juga sedang menunggu hasil penyelidikan MUI Jawa Timur untuk mengeluarkan fatwa terkait perkumpulan yang mengklaim memiliki ribuan pengikut di seluruh Indonesia.
Sumber: VoaIndonesia dan Detik