Cari

Agama dan Budaya Kerajaan Sunda-Galuh hingga Talagamanggung

[Historiana] - Oleh Alam Wangsa Ungkara. Agama merupakan salah satu unsur kehidupan yang terdapat sepanjang sejarah masyarakat. Menurut Norbeck (1974:3), pada masyarakat manusia, agama bersifat universal. Walaupun individu-individu yang non-religius makin umum di kalangan masyarakat modern, tetapi kepercayaan keagamaan tetap saja dipegang oleh semua masyarakat dari sejak jaman dahulu sampai sekarang. Keuniversalan agama menurut sejumlah ahli disebabkan karena fungsinya di dalam kehidupan manusia. Salah satunya adalah Weber (1954: 5), menyatakan bahwa bagi strata sosial yang mempunyai hak-hak istimewa, agama terutama berfungsi sebagai suatu alat untuk melegitimasi atau membenarkan posisi sosial mereka yang berkuasa dan memiliki hak-hak istimewa. Sedangkan bagi mereka yang tidak mempunyai hak-hak istimewa, fungsi agama dilihat sebagai media untuk memperoleh keselamatan dan lepas dari penderitaan.

Agama yang dianut Raja-raja Sunda adalah agama Hindu terutama Hindu Saiwa. Namun toleransi Raja-raja Sunda cukup besar sehingga ada juga masyarakat yang beragama Hindu Waisnawa dan kerajaan bawahan, yaitu Kerajaan Talaga yang beragama Budha. Hal ini dibuktikan dalam prasasti Sanghyang Tapak (1030 M), prasasti Kawali, naskah Carita Parahiyangan naskah Sewaka Darma (abad ke-16), atau Serat Dewa Budha (1435 M), Serat Catur Bumi, naskah Sanghyang Raga Dewata, Kawih Paningkes, naskah Jati Niskala, serta naskah Sanghiyang Siksakandang Karesian (1518 Masehi).

Namun perlu dijelaskan bahwa sejak akhir abad ke-15, muncul ajaran agama yang menekankan pemujaan terhadap hiyang, yang ditunjukkan oleh adanya “penurunan” derajat dewata
berada di bawah hiyang. Hal ini secara implisit dapat dibaca pada naskah Sanghiyang Siksakandang Karesian, yaitu:
“…ratu bakti di dewata, dewata bakti di hiyang …” (…raja tunduk kepada dewata, dewata tunduk kepada hiyang ...’)
(Danasasmita, 1987: 74)
Tome Pires dalam bukunya Summa Oriental (1513-1515), menulis demikian:”…Raja Sunda memuja berhala, demikian pula semua pembesar kerajaannya…”. (Heuken, 1999: 7).

Lebih rendahnya kedudukan dewa-dewa mengakibatkan ajaran Hindu yang dianut tidaklah sepenuhnya dijalankan sesuai dengan ajaran dari tempat aslinya, terbukti bahwa Raja-raja Sunda tidak terlalu menekankan pada pembangunan candi-candi atau pembuatan arca-arca dewa yang monumental seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jadi, tidak mengherankan juga bahwa di Tatar Sunda, tidak banyak ditemukan candi karena kedudukan leluhur tertinggi yang diwujudkan dalam “hyang” lebih diutamakan daripada para dewa Hindu/Buddha.

Hal itu sejalan dengan kelanjutan isi naskah itu ketika mengisahkan penguasa alam selesai menciptakan dunia (Danasasmita, 1987: 86)
/ ….Sakala batara jagat ngretakeun bumi niskala. Basana: Brahma, Wisnu, Isora, Mahadewa, Siwah, bakti ka Batara! Basana: Kusika, Garga, Mestri, Purusa, Pata (n)jala, bakti ka Batara! Sing para dewata kabeh pada bakti ka Batara Seda Niskala. Pahi manggihkeun si tuhu lawan pretyasa.
Terjemahannya sebagai berikut.
‘Suara penguasa alam ketika menyempurnakan dunia abadi. Ujarnya: Brahma, Wisnu, isora, Mahadewa, Siwa, baktilah kepada Batara! Ujarnya: Kusika, Garga, Mestri, Purusa, Patanjala, baktilah kepada Batara! Maka para dewata semua berbakti kepada Batara Seda Niskala. Semua menemukan “yang Hak” dan “yang wujud".

Dari kutipan di atas jelas bahwa hiyang adalah Batara Seda Niskala ‘Tuhan yang maha gaib’ yaitu tokoh tertinggi yang dipercaya sebagai tujuan akhir perjalanan bakti manusia. Juga dibedakan antara tempat kedudukan hiyang di kahyangan dan tempat dewa di surga. Orang dapat masuk ke surga dengan cara munggah, dan dapat masuk ke kahiyangan dengan cara mokta. Sementara itu, dalam naskah Sewaka Darma disebutkan bahwa seseorang yang telah mencapai kelepasan jiwa akan datang di kahiyangan. (Danasasmita, 1987:53).

Kepercayaan tentang alam semesta atau kosmologi pada masa Kerajaan Sunda tergambar dalam naskah yang berupa bundel nipah berjudul Sang Hyang Hyu ‘Tuntunan Kebajikan’. Isinya, antara lain, menggambarkan halhal yang berkaitan dengan sistem kosmologi Sunda yang berdasarkan konsep triumvirate ‘tiga serangkai, tritunggal’ yang terbagi ke dalam (1) susunan dunia bawah, saptapatala ‘tujuh neraka’, (2) buhloka adalah bumi tempat kita saat ini yang disebut madyapada; dan (3) susunan dunia atas, saptabuana atau buanapitu ‘tujuh sorga hingga alam mahagaib yang tak bisa ditembus oleh makhluk halus apa pun karena tempat itu adalah persemayaman Dzat Tunggal Maha Kuasa, Hyang Manon’. Jadi, di antara saptapatala dan saptabuana disebut madyapada, yakni pratiwi ‘dunia tempat manusia’. Dijelaskan pula dalam teks naskah ini mengenai adanya hubungan antara jagat raya “makrokosmos” dengan jagat kecil “mikrokosmos” dalam raga manusia.

Ini menggambarkan bahwa, konsep tata ruang masyarakat Sunda secara kosmologis selalu bersifat triumvirate. Dalam tatanan ini, mereka berupaya mencari makna dunia menurut eksistensinya, yakni menyangkut keluasan atau lingkupnya yang mengandung segala macam dunia dengan seluruh bagian dan aspeknya sehingga tidak ada sesuatu pun yang dikecualikan. Ini artinya masyarakat Sunda memiliki pandangan tentang kesejajaran antara makrokosmos dan mikrokosmos, antara jagat raya dan dunia manusia. Saptapatala itu susunan bentuknya bagaikan kerucut tengadah, yang terdiri atas patala, nitala, sutala, talantala, talaningtala, mahatala, dan atyanta artapatala ‘neraka terdalam yang sangat mengerikan’. Sedangkan susunan Saptabuana atau Buanapitu menyerupai keadaan sarang lebah berbentuk labu, terdiri atas buwahloka, suwahloka, janahloka, tapwaloka, satyaloka, mahaloka, dan atyanta artaloka ‘sorga tertinggi’.

Setelah saptabuana masih ada tempat tujuh susun yang bersuasana “sunyi-hampa”, yaitu sunya, atisunya, paramasunya, atyantasunya, nirmalasunya, suksmasunya, dan acintyasunya. Di atasnya lagi adalah tujuh susun yang berupa tempat “kesirnaan-lenyap”, yaitu taya, atitaya, paramataya, atyantataya, nirmalataya, suksmataya, dan acintyataya.

Kemudian, di atas tempat tersebut masih ada tempat yang dinamakan abyantarataya ‘bagian terdalam kesirnaan’. Abyantarataya artinya tidak dapat terjangkau oleh cahaya bintang, bulan, matahari, pelangi, bianglala, kabut, asap, awan, hujan, petir, halilintar, guruh, guntur, meteor, paramanuh ‘partikel-partikel kecil, atom’, dan berbagai suara mahluk hidup. Semua itu tidak akan pernah sampai ke sana.


Setelah abyantarataya adalah pancatanmantra ‘lima unsur halus’ yang terdiri atas buddi ‘bijak’, guna ‘pandai’, pradana ‘saleh’. Di atas itu terdapat sunyataya nirmala ‘kesunyisenyapan suci abadi’; dan berakhir pada kanirasrayan ‘kemahakuasaan/kebebasan tertinggi’, yakni takdir.

Hal tersebut adalah salah satu tugas para mahaguru untuk menjelaskannya, di samping terus berlomba dalam belajar serta beribadah demi mencapai kesempurnaan hidup, baik di sakala ‘dunia kini’ maupun di niskala ‘akhirat kelak’. Pada bagian berikutnya ditegaskan bahwa tidak ada lagi tempat selain yang telah disebutkan tadi.

Alam semesta ini kenyataannya tanpa batas. Yang namanya arah penjuru angin (utara-timur laut-timurtenggara-selatan-barat daya-barat-barat laut), atas maupun bawah itu hakikatnya hanya ada dalam anganangan. Di dalam angan-angan itu pulalah bahwa sorga itu adanya di atas, tempat para ruh halus, seperti ruh para mahluk suci, ruh para leluhur, dan ruh para pemimpin yang saleh. Para pandita ‘kaum cendikia’ menyerukan kepada semua manusia untuk senantiasa memperhatikan Sang Hyang Darma ‘Kitab Suci Petunjuk Keadilan’.

Setiap manusia harus dapat melepaskan diri dari kebodohan. Lihatlah ahli bangunan, pelukis, pemahat, perangkai bunga, dan pekerja lainnya, termasuk pula bermacam ajian berupa ayat-ayat suci dan doa-doa. Semua itu adalah kepandaian yang harus dianggap sebagai pangkal ilmu pengetahuan. Inilah yang dinamakan Sang Hyang Ajnyana ‘Ilmu Pengetahuan’ yang harus dicari para siswa, yang pada hakikatnya sudah ada di dalam setiap diri manusia, hewan, dan tumbuhan.

Buana adalah bumi dan angkasa, sedangkan sarira adalah semua yang ada di bumi dan di angkasa serta di antara keduanya. Sarira di angkasa adalah benda-benda langit, seperti bulan, bintang, matahari, dan planet-planet lainnya pengisi jagat raya. Sarira di bumi adalah benda-benda bumi, seperti air, gunung, samudra, manusia, binatang, tumbuhan, dan sebagainya. Semua itu ialah Sang Hyang Ajnyana ‘sumber ilmu pengetahuan’.

Dinyatakan bahwa tanpa bayu, sabda, dan hedap manusia seolah-olah hanyalah bangkai-bangkai yang lama kelamaan busuk dan hancur. Segala mahluk beserta alam semesta ini hakikatnya ialah jelmaan tigarahasya dari unsur bayu sabda hedap yang bisa melenyapkan kebingunan dan kebodohan, dapat menyingkirkan sifat-sifat tamak, dendam, dan iri. Bayu sabda hedap harus digunakan untuk mempelajari kitab suci dan melaksanakan syariat peribadatan sehingga akan tercapai suatu kekuatan dan kemuliaan.

Kasar dan lembutnya bayu sabda hedap dapat diketahui. Kasarnya bayu karena bisa dimasukkan, dikeluarkan, dan ditahan di hidung; lembutnya bayu tak terpegang. Kasarnya sabda adalah apa saja yang bisa terdengar, terucapkan, dan tertahan; lembutnya sabda karena tak terlihat. Kasarnya hedap dapat digunakan untuk melihat, mendengar, mencium, meraba, dan merasa; lembutnya hedap karena tak pernah kesulitan ke mana pun pergi serta begitu cepat sampai ke tujuan, tak berbekas, dan tak bersisa.

Bagi para mahaguru, Sunyataya Paramarta Wisesa ‘Keagungan Keheningan Alam Sirna Abadi’ adalah tempat pengobar bayu guna melenyapkan kebingungan, kenikmatan tidur, dan nafsu birahi. Sedangkan Ajimantra Barali ‘Petunjuk Puja Illahi’ adalah alat pengobar sabda tatkala melantunkan ayat-ayat kitab suci. Kemudian, Yogasamadi ‘Kekhusukan’ merupakan upaya pengobar hedap untuk mengagungkan Sang Khalik. Seseorang dinyatakan sebagai pandita ‘cendikia’ jika memiliki: (1) Seruan berupa ilmu pengetahuan; (2) Kasih sayang berupa bayu sabda hedap; (3) Kesibukan untuk memberi petunjuk, memutuskan, menemukan, berwibawa, berkuasan, dan teguh

Dijelaskan pula mengenai Astaguna “delapan kearifan’ sebagai pedoman yang harus diketahui dan dijiwai serta dilaksanakan oleh Sang Sewaka Darma ‘Para Pengabdi Hukum’, terutama bagi mereka yang memiliki jabatan sebagai pemimpin. Hal yang dimaksud masing-masing ialah (1) animan ‘berbudi halus/ramah, (2) ahiman ‘tegas’, (3) mahiman ‘berwawasan luas’, (4) lagiman ‘gesit-terampil’, (5) prapti ‘tepat sasaran’, (6) prakamya ‘ulet-tekun’, (7) isitwa ‘jujur’, dan (8) wasitwa ‘terbuka bagi kritik’.

Mengenai budaya waktu itu dapat dijejaki dari tinggalan yang ada. Namun, tidak banyak tinggalan budaya Sunda dari masa kuna yang bertahan hingga kini, kecuali tinggalan budaya yang terbuat dari bahan yang tahan lama, misalnya prasasti, bangunan suci, dan sebagian naskah yang terbuat dari lontar atau daun nipah. Mengenai arsitektur zaman Kerajaan Sunda, seperti yang diamati Tome Pires, telah dikemukakan. Hanya karena bahan bangunan kebanyakan dari kayu, tak ada bangunan yang tertinggal karena lapuk dan hancur dimakan waktu.

Dari naskah Sanghyang Siksakandang Karesian, diketahui adanya para ahli sastra, lukis, ukir, gamelan, dan bahasa. Di antara para ahli itu, misalnya memen ‘dalang’. Ia mengetahui sejumlah cerita, antara lain Boma, Damarjati, Sanghyang Hayu, Jayasena, Sedamana, Pu Jayakarna, Ramayana, Adiparwa, Korawasarma, Bimasorga, Sumana, Tantri, Ranggalawe, Kalapurbaka, dan Jarini. Mengherankan juga jika pada masa itu prepantun ‘ahli pantun’, baru mengetahui empat buah cerita pantun, cerita-cerita yang pada umumnya dianggap asli Sunda, yaitu Langgalarang, Banyakcatra, Haturwangi, dan Siliwangi.

Berbagai jenis kawih seperti kawih pengpeledan, kawih bwatuha, kawih panjang, kawih lalanguan, kawih panyaraman, kawih sisindiran, kawih babaha-nan, kawih bangbarongan, kawih sasambatan, kawih tangtung, bongbong kaso, parerane, dan porod orih dapat diperoleh penjelasannya dari paraguna.

Dalam pada itu, kepada hempul dapat ditanyakan beraneka permainan (pamacoh), dari ceta macoh, ceta nirus, noroy panca, tatapukan, bangbarongan, babakutrakan, ubang-ubangan, munikon, lembur, ngadu lesung, asup kana lantar, sampai ngadu nini. Dalam kedua jenis kesenian itu ada petunjuk yang menarik. Ke dalam kelompok kawih disebutkan ada kawih bangbarongan, sedangkan ke dalam kelompok pamacoh ada yang disebut bangbarongan. Hal itu menunjukkan bahwa pada masa itu, sangat mungkin sudah ada jenis permainan yang peragaannya harus diiringi nyanyian, yaitu bangbarongan.

Menurut Tome Pires (1513-1515), orang Sunda sudah mengenal berbagai jenis kain impor, sementara itu menurut naskah lokal, di dalam negeri juga dikenal kain-kain lokal, yaitu jenis-jenis batik (tulis), dengan ahlinya disebut lukis, antara lain pupunjengan, hihinggulan, kekembangan, alas-alasan, urangurangan, memetahan, sisiringan, taruk hata, kembang tarate, sedangkan macammacam ukiran seperti dinanagakon, dibarongkon, ditirupaksi, ditiruwere, dan ditirusingha dapat ditanyakan kepada marangguy yang ahli di bidang itu.

Jika ingin tahu bahasa-bahasa yang dikenal di Nusantara oleh penduduk negara Sunda, dapat ditanyakan kepada jurubasa darmamurcaya. Bahasa asing pada waktu itu disebut carek paranusa, antara lain terdiri atas bahasa-bahasa Cina, Keling, Parsi, Mesir, Samudra, Benggala, Makasar, Pahang, Palembang, Siem, Kalaten, Bangka, Buwun, Beten, Tulangbawang, Sela, Tego, Pasay, Parayaman, Dinah, Nagaradekan, Andeles, Moloko, Badan, Pego, Malangkabo, Mekah, Lawe, Saksak, Bali, Sebawa, Jenggi, Sabini, Ngogan,

Kanagen, Kumering, Simpangtiga, Gumantung, Bubu, Manumbi, Nyiri, Sapari, Patukangan, Lampung, Surabaya, Jambudipa, Seran, Gedah, Solot, Sologong, Cempa, Indragiri, Tanjungpura, Samapung, Baluk, dan Jawa. Disebutkannya nama-nama bahasa dan tempat itu sekaligus menjadi petunjuk, dengan daerah mana saja negara Sunda ketika itu bersentuh budaya, dan dalam kegiatan itu nampaknya peranan jurubasa darmamurcaya tidak dapat diabaikan. Tome Pires, memberikan kesaksian, bahwa bahasa Sunda jelas sekali berbeda dengan bahasa Jawa, meskipun berada dalam satu pulau (Ayatrohaedi dkk, 1987: 77; Danasasmita, 1987: 83-84; Heuken, 1999: 38).

Menurut naskah Sanghyang Siksakandang Karesian, masyarakat telah mengenal berbagai macam keahlian pekerjaan atau mata pencaharian hidup seperti pandai besi, pandai emas, penangkap ikan, peternak, dan petani. Pertanian (terutama di ladang) merupakan mata pencaharian utama masyarakat Sunda, sehingga hasil pertanian disebutnya permata yang keluar dari bumi.

Bukti atau petunjuk mengenai masyarakat ladang itu terdapat bukan saja terdapat dalam sumber sastra tulis, tetapi juga dalam sastra lisan. Dalam naskah Carita Parahiyangan misalnya, hanya satu kali disebutkan sawah, itupun dalam hubungannya dengan nama tempat yang disebut sawah tampian dalem, tempat dipusarakannya Ratu Dewata. Petunjuk selebihnya mengarah kepada masyarakat ladang, dimulai dengan informasi tentang kelima orang titisan pancakusika, tiga orang di antaranya menjadi pahuma (peladang), panggerek (pemburu), dan penyadap (penyadap) yang ketiganya merupakan jenis pekerjaan di ladang. Di dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian, menyebutkan sejumlah perkakas yang umumnya merupakan alat untuk bekerja di ladang seperti: kujang, patik, baliung, kored, dan sadap.

Kehidupan di ladang akan membentuk manusia yang berwatak ladang. Ciri yang paling menonjol dari masyarakat ladang itu adalah selalu berpindah tempat. Keadaan ini secara langsung turut mempengaruhi bentuk bangunan tempat mereka tinggal yang terkesan sederhana. Demikian juga dengan hasil budaya lainnya seperti sarana peribadatan, tradisi tulis, baik bentuk tulisan maupun sarana penulisan, hasil sastra dan seni lainnya. Dengan memperhatikan pola hidup seperti itu, dapatlah dimengerti keunikan budaya masyarakat Sunda yang sisa-sisanya ditemukan pada masa kini.

Kolenjer

Dalam kehidupan yang berkaitan dengan kehidupan pertanian, dan aktivitas lainnya dalam kehidupan seharihari, masyarakat Sunda masa lampau telah mengenal alat yang disebut kolenjer untuk menghitung hari yang dianggap baik untuk melakukan suatu aktivitas. Bentuknya berupa titik-titik dan garis-garis yang membentuk kotakkotak tertentu. Jumlah titik-titik dalam satu kotak mempunyai arti tertentu dan tafsiran tersendiri. Demikian juga dengan semua tanda yang digoreskan dalam kolenjer itu mempunyai arti yang tertentu pula.


Referensi
  1. Ayatrohaedi. 1978. “Pajajaran dan Sunda”, dalam Majalah Arkeologi No. 4 Th. 1 Maret. Jakarta: Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
  2. Danasasmita, Saleh dkk. 1987. "Sewaka Darma, Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung; Transkripsi dan Terjemahan". Bandung: Bagian Proyek Penelitia n dan Pengkajia n Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  3. Heuken, S.J. 1999. "3 Sumber-Sumber Asli Sejarah Jakarta". Jilid I. Jakarta: Ciptaloka Caraka.
  4. Kartakusuma, Richadiana. 2015. "Situs Kawali (Astana Gede), Desa Indrayasa, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis (Jawa Barat); Salah satu Balay Pamujan/ Kabuyutan Kerajaan Galuh-Priangan Timur". Makalah FGD 29 September 2015 Bandung.
  5. Lubis, Nina Herlina dkk. 2003. "Sejarah Tatar Sunda jilid 1". Bandung: Lembaga Penelitian Unpad
  6. Lubis,Nina Herlina (dkk.). 2013. "Sejarah Kerajaan Sunda". Bandung: YMSI Cabang Jawa Barat Bekerja Sama dengan MGMP IPS SMP Kabupaten Purwakarta.
  7. Norbeck, Edward. 1974. "Religion in Human Life". New York: Holt, Rinehart and Winston Inc.
  8. Prijono, Sudarti. 1994/1995. "Laporan Hasil Penelitian Arkeologi tentang Identitas Data untuk Memperoleh Gambaran Transformasi Budaya di Situs Astana Gede, Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Propinsi Jawa Barat". Bandung: Balai Arkeologi Bandung (Tidak diterbitkan).
  9. Saptono, Nanang. 2008. “Situs Astana Gede Kawali dalam Konteks Perubahan Budaya”, dalam Dimensi Arkeologi Kawasan Ciamis. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.
  10. Sukendar, Haris (dkk). 1999. "Metode Arkeologi". Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan ArkeologiNasional.
  11. Tim Peneliti. 2003. "Laporan Hasil Penelitian Arkeologi Klasik di Situs Astana Gede, Kecamatan Kawali, Kabupa ten Ciamis, Propinsi Jawa Barat". Bandung: Balai Arkeologi Bandung (Tidak diterbitkan).
  12. Weber, Max. 1958. "The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism". New York: Charles’s Scribner’s Sons.
 

Sumber: "Rekonstruksi Kerrajaan Galuh Abad VIII-XV" oleh Nina Herlina Lubis, Mumuh Muhsin Z., Kunto Sofianto, Dade Mahzuni, Widyonugrohanto, R.M. Mulyadi, Undang Ahmad Darsa . Jurnal Paramita Vol. 26, No. 1 - Tahun 2016 Hlm. 9—22 . Diakses 22 Juni 2020.


Baca Juga

Sponsor