[Historiana] - Oleh Alam Wangsa Ungkara. Buku berjudul "Early' views of Indonesia: drawings from the British Library" berisi lukisan-lukisan yang diuraikan dalam bentuk katalog ini mencerminkan hubungan Inggris dengan Indonesia terutama dalam periode 1811-16, saat Thomas Stamford Raffles menjadi Letnan Gubernur Jawa. Ilham dan pengarahan yang ia berikan untuk meneliti sejarah dan budaya pulau Jawa menandakan di mulainva suatu zaman baru dalam penelitian ilmiah mengenai Indonesia, dan perannya dalam memberi nafas kembali atas Perkumpulan Seni dan Sains Batavia (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen) yang hampir lenyap, dan kedudukannya sebagai Presiden dalam Perkumpulan tersebut, memberikannya kesempatan untuk mengarahkan penelitian.
Buku ini tersedia dalam format e-book di laman indonesiaheritage.org
Dua anggota terkemuka dari Perkumpulan Batavia yang mendapat dukungan dan dorongan dari Raffles dalam penelitian ilmiah dan budaya yang mereka lakukan adalah Letnan Kolonel Colin MacKenzie dari Madras Engineers dan Dr Thomas Horsfield, seorang naturalis berkebangsaan Amerika yang sebelumnya bekerja bagi pemerintah kolonial Belanda untuk mempelajari materia medica dan ilmu pengetahuan alam. Kedua orang ini mempunyai minat besar atas peninggalan pulau ini dan mereka mencatat dengan pensil, pena dan cat air tempat-tempat peninggalan purbakala yang mereka kunjungi. MacKenzie mempekerjakan pelukis-pelukisnya sendiri, termasuk John Newman yang berdarah Eropa dan Asia. Horsfield membuat banyak gambar sendiri, tetapi ia juga dibantu oleh beberapa siswa dari Sekolah Pelayaran Semarang, seperti C.Coolen, Jan van Stralendorff dan J.G.Doppert. Horsfield adalah salah satu orang Barat pertama yang menghargai keindahan benda-benda purbakala Jawa dan ia pulalah yang pertama kali mengunjungi tempat-tempat peninggalan arkeologis di pulau Jawa. Tulisan-tulisannya mengenai kepurbakalaan Jawa banyak sekali dikutip oleh Raffles dalam hukunya The History of Java (London, 1817) sehingga sebahagian besar teks tercetak mengenai peninggalan purbakala merupakan tulisannya dan bukan tulisan Raffles. Gambar-gambar Horsfield dan MacKenzie sekarang terdapat di British Library dan diuraikan dalam katalog ini.
Seorang lain yang juga didorong oleh Raffles untuk mempelajari benda- benda purbakala Jawa adalah Kapten G.P.Baker dari Bengal Light Infantry Battalion yang meneliti Prambanan dan candi Borobudur, dan gambar-gambarnva juga disimpan di British Library. British Museum dan Royal Asiatic Society. Gambar-gambar lainnya dari benda-benda purbakala Jawa yang ada di British Library dibuat oleh seorang insinyur Belanda, Mayor H.C.Cornelius yang meneliti Borobudur dan peninggalan di dataran Dieng, J.Flikkenschild, A.F.van der Geugten. P.C.Karsseboom, J.H.D.Knops dan J.W.B. Wardenaar.
Sangat tepat pula bahwa reproduksi lukisan arkeologis tersebut akan disimpan di dalam Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, yang mewarisi koleksi naskah Indonesia dari koleksi Perkumpulan Seni dan Sains Batavia, yang pada satu saat pernah dikepalai Raffles.
Beberapa lukisan arkeologis tersebut dan gambar-gambar lain yang melukiskan kehidupan sehari-hari di Indonesia. akan menjadi bagian dari pameran ini, dan gambar-gambar tersebut diuraikan dalam katalog ini.seperti kebanyakan gambaran mengenai Indonesia yang biasanya direproduksi diri gambar terukir terkenal. lukisan-lukisan yang baru kali dipamerkan akan memberi pandangan yang baru dan menarik tentang Indonesia sebagaimana dilihat langsung dari mata para pelukisnva tanpa tangan dari juru ukir.
Berikut beberapa lukisan yang dapat membuka cakrawala pandang kita tentang suasana saat itu. Yang ditunjukkan dalam katalog ini adalah beberapa pilihan dari 1500 lukisan Indonesia dari awal abad ke 19 yang merupakan koleksi British Library yang mengagumkan. Sebagian besar gambar ini belum pernah diterbitkan. Katalog ini terdiri dari tiga bagian: gambar-gambar arkeologis dari Jawa dalam koleksi Horsfield dan MacKenzie; pemandangan kehidupan sehari-hari, juga dari koleksi Horsfield dan MacKenzie yang dibuat di Jawa; dan lukisan lingkungan hidup yang kebanyakan berasal dari Sumatra.
![]() |
JAKARTA, 1646 Iacatara, from Barreto de Resende, 1646 Sloane MS 197. ff.393v-394r |
Gambar di atas adalah PERJANJIAN UNTUK MEMBELI LADA DI SILEBAR, 1682. Perjanjian antara Kiai Dipati Ujung Galuh, Dipati Ululura, Dipati Lawang Kidal dan Peruatan Duabelas dan Benjamin Craft dan Daniel Cook dari Perusahaan India Timur untuk pembelian eksklusif lada di Silebar, [Jumaat] Rabiulawal 1093/16 Maret 1682. Dalam Bahasa Melayu di Aksara Jawi dan bahasa Inggris; tinta di atas kertas; 321 x 205 mm.
![]() |
SEJARAH JAWA, DENGAN GAMBAR RADEN RANA DIPURA Thomas Stamford Raffles, The History of Java (London, 1817). W 2323, Vol.1, title page |
![]() |
RUMAH RAFFLES DI CISARUA, JAWA BARAT Raffles's house at Cisarua, West Java. Pencil; 210 x 247 mm. Kattenhorn (1994:10). WD 4303 |
Candi-candi di Pulau Jawa
Salab satu zaman kejayaan pembuatan monumen dari batu berawal di Jawa Tengah pada akhir abad ke 7 yang mencapai puncaknya dengan pembangunan candi Borobudur pada abad ke 8 dan kompleks candi Loro Jonggrang di Prambanan pada abad ke 9. Pada abad ke 10 pusat kegiatan beralih ke Jawa Timur di mana pembangunan candi dilakukan dengan menggunakan batu dan batu bata hingga akhir abad ke 15. Candi-candi ini adalah candi Hindu dan Buddha yang pembangunan dan penggunaan resminya berakhir dengan masuknya agama Islam ke Pulau Jawa sejak abad ke 15. Candi-candi yang tidak terawat dan tidak digunakan lagi itu lama-kelamaan rusak. Kerusakan candi dipercepat dengan tumbuhnya tanaman liar yang tak terkendali serta adanya gempa bumi dan letusan gunung berapi.
Salab satu zaman kejayaan pembuatan monumen dari batu berawal di Jawa Tengah pada akhir abad ke 7 yang mencapai puncaknya dengan pembangunan candi Borobudur pada abad ke 8 dan kompleks candi Loro Jonggrang di Prambanan pada abad ke 9. Pada abad ke 10 pusat kegiatan beralih ke Jawa Timur di mana pembangunan candi dilakukan dengan menggunakan batu dan batu bata hingga akhir abad ke 15. Candi-candi ini adalah candi Hindu dan Buddha yang pembangunan dan penggunaan resminya berakhir dengan masuknya agama Islam ke Pulau Jawa sejak abad ke 15. Candi-candi yang tidak terawat dan tidak digunakan lagi itu lama-kelamaan rusak. Kerusakan candi dipercepat dengan tumbuhnya tanaman liar yang tak terkendali serta adanya gempa bumi dan letusan gunung berapi.
![]() |
CANDI INDUK DI KOMPLEKS CANDI SEWU Main temple at Candi Sewu, Prambanan. Ink and wash; 400 x 331 mm. Archer (1969:ii.456). WD 957, f.13 (103) |
![]() |
PEMANDIAN, JAWA TIMUR Bathing place with decorated water-spout, East Java, by Dr Thomas Horsfield, ca.1815. Pencil; 230 x 355 mm. Archer (1969:ii.457). WD 957, f.37 (129) |
Meskipun demikian, candi-candi tersebut tidak `menghilang'. Reruntuhan candi tetap dikenal oleh penduduk di sekitarnya dan arca utama para dewa-dewi tetap menjadi tempat pemujaan di mana orang setempat meletakkan sesaji selama berabad-abad, bahkan hingga kini. Selama abad ke 18, para pejabat VOC tentu juga melewati dataran Prambanan dan melihat segala reruntuhan di sekitarnya dalam setiap kunjungan mereka dari Batavia ke Kartasura. ibukota Mataram, namun mereka pada umumnya sama sekali tidak berkeinginan untuk mengetahui mengenai reruntuhan itu. Oleh karena itu, tidaklah benar untuk mengatakan bahwa monumen-monumen besar itu `ditemukan' oleh para pejabat Eropa pada abad ke 19. Yang seharusnya disebut sebagai `penemu' adalah tokoh seperti seorang petani di desa Sambisari di Jawa Tengah yang menemukan sebuah batu besar pada suatu hari di bulan Juli tahun 1966 sewaktu ia sedang bekerja di kebunnya. Ketika ia akan menyingkirkan batu itu, dilihatnya batu itu berukir dan terikat dengan batu-batu lain di dalam tanah. Penggalian selanjutnya menghasilkan penemuan Candi Sambisari yang berasal dari abad ke 9, yang telah terkubur debu letusan gunung berapi sejak kira-kira abad ke 15.
Meskipun penduduk desa sekitar monumen mengetahui mengenai keberadaan reruntuhan itu, namun penelitian, pengukuran dan pencatatan secara teratur mengenai banyak candi di Jawa baru benar-benar mulai pada masa pemerintahan Inggris di Jawa dari tahun 1811 hingga 1816. Pengadaan sumberdaya pemerintah untuk proyek penelitian ini berkat minat pribadi Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jawa waktu itu, yang begitu giat meneliti segala aspek kebudayaan dan sejarah Jawa. Dengan arahan Raffles, para juru ukur dan juru gambar dikirim untuk meneliti, mencatat dan menggambarkan tempat-tempat peninggalan lama, sementara para cendekiawan Jawa yang berpengetahuan mengenai sejarah dan kesusasteraan Jawa diminta untuk membantu mengartikan prasasti.
Meskipun penduduk desa sekitar monumen mengetahui mengenai keberadaan reruntuhan itu, namun penelitian, pengukuran dan pencatatan secara teratur mengenai banyak candi di Jawa baru benar-benar mulai pada masa pemerintahan Inggris di Jawa dari tahun 1811 hingga 1816. Pengadaan sumberdaya pemerintah untuk proyek penelitian ini berkat minat pribadi Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jawa waktu itu, yang begitu giat meneliti segala aspek kebudayaan dan sejarah Jawa. Dengan arahan Raffles, para juru ukur dan juru gambar dikirim untuk meneliti, mencatat dan menggambarkan tempat-tempat peninggalan lama, sementara para cendekiawan Jawa yang berpengetahuan mengenai sejarah dan kesusasteraan Jawa diminta untuk membantu mengartikan prasasti.
Di Inggris terdapat hampir seribu buah gambar arkeologis Indonesia yang disimpan di dalam tiga buah lembaga yang semuanya terletak di London. Koleksi Horsfield dan MacKenzie tersimpan di British Library, koleksi Raffles di British Museum dan koleksi Baker di Royal Asiatic Society. Gambar-gambar ini menampilkan peninggalan purbakala Jawa dalam kurun waktu 800 tahun: dari candi tertua di dataran tinggi Dieng dari abad ke 7, hingga reruntuhan Pajajaran, Candi Sukuh dan Candi Ceta dan peninggalan awal kedatangan Islam di Jawa dari abad ke 15.
![]() |
ARCA BATU DARI CIBODAS, JAWA BARAT Stone statue from Cibodas, West Java. by A.A.J. Payen. Inscribed in ink: Souvenir de A.Payen au docteur Horsfield. Ink: 181 x 104 mm. Archer (1969:ii.450). |
Lukisan Arca Batu dari Cibodas ini berada di Pasir Angin, Ciampea, Bogor. Saat dilukis pada abad ke 19 rupanya kondisi arca masih baik. Sebagaimana penulis juga mendapatkan perbandingan foto arca itu seperti di bawah ini.
![]() |
Perbandingan kondisi arca tahun 1863 dan 2020 Museum Pasir Angin, Ciampea Bogor |
![]() |
Borobudur, Central Java By Dr Thomas Horsfield, ca.1814. Pencil; 318 x 490 mm. Archer (1969:ii.455), Archer (1958:466-67). |
Raffles adalah pejabat Eropa pertama yang menyadari pentingnya Borobudur. Pada tahun 1814, waktu ia mendengar kabar mengenai adanya monurnen tersebut, dia segera mengirimkan seorang juru ukur Belanda, Mayor H.C.Cornelius untuk menyelidiki tempat tersebut. Raffles sendiri Baru mengunjungi Borobudur pada tahun 1815. Bukunya The History of Java (1817) berisi penggambaran Borobudur yang pertama diterbitkan: 'Di kabupaten Boro, propinsi Kedu, di dekat pertemuan dua aliran sungai, yaitu sungai Elo dan sungai Praga, menutupi sebuah bukit kecil, berdirilah candi Boro Bodo. . . . Bangunan batu berbentuk bujur sangkar ini terdiri dari tujuh tingkat dinding. Setiap tingkat bangunan makin mengecil hingga di puncak bangunan yang berbentuk seperti kubah' (Raffles 1982:ii.29).
Dewasa ini, Borobudur adalah antara tempat pemujaan Buddha yang terkenal di dunia. Sulit untuk membayangkan bahwa dua abad yang lalu pengetahuan orang Barat mengenai agama-agama dari Timur sangatlah terbatas hingga seorang ilmuwan yang sangat antusias seperti Raffles pun tidak segera dapat mengenal pasti agama monumen tersebut. Mengenai arca dan seni pahat Buddha yang ada di Borobudur, Raffles hanya dapat menggambarkan sebagai berikut: 'Pada bagian luar dinding yang rendah ini, pada jarak yang sama terdapat relung-relung yang masing-masing berisi arca orang telanjang duduk bersila . . . Relief di dindingnva menggambarkan berbagai kejadian nampaknya.
Pada tahun 1807, Mayor Cornelius mengunjungi dataran Prambanan, dan gambar ini menunjukkan pembersihan reruntuhan candi induk kompleks Candi Sewu, yang dilakukan atas perintah Cornelius. Kesibukan yang terekam dalam gambar di atas sungguh bertentangan dengan suasana 'masa yang telah lama terlupakan' yang tersirat dalam lukisan pensil Candi Sewu karya Horsfield.
![]() |
A ruin in the forest Peninggalan lama di dalam hutan Watercolour; 236 x 331 mm. Archer (1969:ii.452). |
Lukisan di atas merupakan reruntuhan candi. Saat dilukis, ada tonggak kayu dengan bagian tengah bolong berbentuk kotak. Selain fungsinya tidak diketahui, nama candi dalam lukisan di buku ini tidak menyebutkannya.
Gambar di atas adalah Prasasti Airlangga, 1041. Tempat asal prasasti Airlangga ini tidak diketahui dengan tepat, tetapi mungkin sekali berasal dari daerah barat Jaya Surabaya, dari lereng Gunung Penanggungan atau Gunung Pucangan (de Casparis 1975:39). Pada tahun 1813, prasasti ini dibawa dari Malang ke Surabaya, dan oleh MacKenzie dikirim ke Lord Minto, Gubernur Jenderal Bengal, bersama sepucuk surat (lihat Lampiran III) dan gambar. Batu prasasti ini — yang merupakan salah satu prasasti Jawa Kuno terpenting yang dikenal orang — sekarang disimpan di Indian Museum di Calcutta.
Batu Calcutta ini, yang dibuat pada tahun 1041, adalah 'salah satu prasasti yang jarang ditemui yang mengungkapkan urutan jelas peristiwa-peristiwa sejarah' (Fontein 1990:44). Batu prasasti itu menceritakan masa pemerintahan Airlangga (lahir sekitar tahun 1001, bertahta sekitar tahun 1019-42). Diceritakan juga bagaimana Medang, ibukota kerajaan Jawa Timur, hancur dalam sebuah bencana atau pralaya pada tahun 1016, dan bagaimana Airlangga, keluarga kerajaan yang sedang berkunjung dari Bali, berhasil melarikan diri dan bersembunyi. Kemudian Airlangga dinobatkan menjadi raja dan membangun kembali kekuasaan kerajaan di beberapa bagian Jawa. Setelah kematian Airlangga pada tahun 1049, abu jenazahnya dikuburkan di pemandian Belahan, dekat Gempol, Jawa Timur.
![]() |
A ruined bathing place, East Java By Dr Thomas Horsfield, ca. 1815. Pencil; 277 x 361 mm. Archer (1969:ii.457). |
Pada abad ke 10 dan ke 11, sewaktu pusat kegiatan kesenian Jawa kuno beralih dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, dibangunlah tempat-tempat pemandian. Tidak mudah untuk menentukan cara kegunaan pemandian ini. Meskipun demikian, sifat air yang memberi kehidupan dianggap diperkuat jika air ini pertama melalui serangkaian relief dan pancuran air dalam bentuk para dewa dan leluhur yang dihormati, sebelum air itu turun untuk mengairi tanah persawahan. Tempat pemandian tak dikenal pada PLATE 7 memancarkan ketenangan zaman kuno di mans pada suatu saat dahulu para raja dan bidadari pernah menyelam. Sekarang ini, kura-kura berlalu lalang, meskipun masih dibawah bayangan patung Ganesha.
Gambar di atas dapat dikenal pasti sebagai tempat pemandian di Brebeg, di sebelah selatan Nganjuk di lereng Gunung Wilis, yang dikunjungi oleh Horsfield pada tahun 1815. Kepada Raffles Horsfield menggambarkan tempat itu sebagai berikut: `Tumenggung yang baru dilantik, ketika membersihkan dan meratakan tanah di desa Brebeg untuk ibukota yang baru, dengan mengikuti bekas-bekas air yang merembes ke permukaan, dalam sebuah cekungan yang tertutup tanaman liar, ia menemukan reruntuhan suatu pemandian, yang dibangun dengan rapi penuh citarasa seni. Galian utamanya, yang tampaknya dibangun sebagai pemandian, bentuknya persegi panjang dengan panjang kurang lebih 10 kaki [3 meter]. Enam pancuran mengucurkan air ke dalamnva... Pancuran yang memancarkan air ini ditutupi ukiran, salah satunva adalah wujud seorang perempuan rnengucurkan air dari buah dadanya... Tumenggung ini telah mengumpulkan beberapa arca dan peninggalan lama yang lain yang tersebar di sekitar daerah itu, dan menempatkannya dekat pemandian tersehut' (Raffles 1982:ii.34).
Gambar di atas dapat dikenal pasti sebagai tempat pemandian di Brebeg, di sebelah selatan Nganjuk di lereng Gunung Wilis, yang dikunjungi oleh Horsfield pada tahun 1815. Kepada Raffles Horsfield menggambarkan tempat itu sebagai berikut: `Tumenggung yang baru dilantik, ketika membersihkan dan meratakan tanah di desa Brebeg untuk ibukota yang baru, dengan mengikuti bekas-bekas air yang merembes ke permukaan, dalam sebuah cekungan yang tertutup tanaman liar, ia menemukan reruntuhan suatu pemandian, yang dibangun dengan rapi penuh citarasa seni. Galian utamanya, yang tampaknya dibangun sebagai pemandian, bentuknya persegi panjang dengan panjang kurang lebih 10 kaki [3 meter]. Enam pancuran mengucurkan air ke dalamnva... Pancuran yang memancarkan air ini ditutupi ukiran, salah satunva adalah wujud seorang perempuan rnengucurkan air dari buah dadanya... Tumenggung ini telah mengumpulkan beberapa arca dan peninggalan lama yang lain yang tersebar di sekitar daerah itu, dan menempatkannya dekat pemandian tersehut' (Raffles 1982:ii.34).
![]() |
Candi Singasari, East Java Probably by a Dutch draughtsman working for MacKenzie, ca.1812. |
![]() |
Unidentified brick temple, East Java Probably by a Dutch draughtsman working for MacKenzie, ca.1812. Watercolour; 263 x 400 mm (image size 221 x 363 mm). Archer (1969:ii.503). |
Reruntuhan Candi batu bata, Jawa Timur. Dibandingkan dengan candi di Jawa Tengah yang umumnya kokoh, lebar dan pendek dengan penekanan pada garis-garis horizontal, monumen dari Jawa Timur memberikan kesan ramping ke atas (Fontein et al 1971:13). Candi tak dikenal yang terbuat dari batu bata ini, dengan atap yang tinggi berlapis-lapis, terletak di dalam halaman.
Arca batu di Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat Desa Batu Tulis di dekat Bogor di beri nama demikian karena adanya prasasti batu yang besar. Prasasti Bahasa Sunda kuno ini memperingati didirikannya kerajaan Hindu-Buddha Pajajaran pada tahun 1333 oleh seorang bernama Raja Maharaja. Kerajaan ini berakhir setelah ditaklukkan oleh kekuatan Islam Banten sekitar tahun 1579. Bersama prasasti itu terdapat beberapa jejak yang katanya merupakan jejak kaki dan tangan sang Raja, dan sebuah batu lingga yang, menurut catatan pada gambar (di atas): Menurut pendapat penduduk setempat, keberuntungan dan rezeki seumur hidup akan menyertai siapa saja yang dapat melingkarkan tangan mereka ke belakang dan memeluk lingga batu ini. Dekat desa Batu Tulis terdapat beberapa tempat pemujaan lain. Yang paling menonjol di antaranya adalah patung batu yang oleh penduduk setempat dikenal sebagai Kiai.
Selain lukisan terkait arkeologis, buku ini juga menyajikan lukisan para tokoh.
![]() |
GADIS MELAYU, BATAVIA A Malay girl. Batavia, by William Alexander, 1793. Watercolour. Archer (1969:ii.391). |
Dan.. masih banyak lagi lukisan lainnya. Bagi Pembaca yang tertarik membacanya, Silakan langsung kunjungi link pada bagian referensi di bawh ini.
*Cag*
Referensi
Gallop, Annabel Teh. 1995. "Early' views of Indonesia: drawings from the British Library". London: The British Library Board. versi ebook indonesiaheritage.org Diakses 26 Juni 2020.