Cari

Peristiwa Bubat adalah Penyerangan Kerajaan Sunda-Galuh ke Majapahit?

Ilustrasi

[Historiana] - Peristiwa Bubat yang disebut-sebut sebagai peristiwa sejarah tetap menjadi kontroversi hingga hari ini. Bagi pendukung teori bahwa Peristiwa Bubat tidak pernah terjadi didukung dengan argumentasi. Pun demikian, bagi pendukung bahwa peristiwa Bubat benar-benar terjadi.

Misalnya banyak artikel membahas bahwa Peristiwa Bubat tidak pernah terjadi. Dan kisah itu hanyalah buatan Belanda sebagai politik adu domba. Terlepas dari hasil penelitian sumber catatan tentang peristiwa bubat, ada beberapa hal yang justru memunculkan pertanyaan bagi sejarawan Sunda.

Jika peristiwa Bubat tidak terjadi alias tidak ada, kemanakah Prabu Linggabuana? Karena Maharaja Sunda, Maha Prabu Lingga Buana inilah yang bergelar sebagai "Prabu Wangi" yang disebut-sebut dalam Carita Parahyangan, gugur di Bubat. Dan dari Prabu Wangi inilah penggantinya disebut sebagai Prabu Siliwangi. Jika kita menerima bahwa peristiwa Bubat tidak ada, maka Prabu Siliwangi menjadi tidak akan pernah ada. Nah... justru ini dapat menimbulkan kecurigaan, Jangan-jangan ada yang ingin menghapus sosok Prabu Siliwangi dari Sejarah Sunda!!! Dengan demikian, menafikan peristiwa Bubat malah bisa menimbulkan kecurigaan yang tak perlu.

Baiklah, kita harus mencoba menelusuri sejarah yang samar-samar ini dengan analisis isi sumber naskah dimaksud. Misalnya mengenai Putri Kerajaan Sunda, Citraresmi Dyah Pitaloka yang menjadi sorotan karena berangkat ke Galuh beserta rombongan untuk upacara pernikahan dengan Prabu Hayam Wuruk, Maharaja Mapahait. Prosesi seperti itu dipertanyakan. Dalam budaya Jawa maupun Sunda, jika seorang lelaki ingin menikahi seorang wanita, maka ia yang mendatangi wanita itu, bukan sebaliknya.

Perang Bubat terjadi pada tahun 1357 M atau pada abad ke-14 Masehi. Perang Bubat berawal dari keinginan Prabu Hayam Wuruk memperistri Dyah Pitaloka Citraresmi, Putri Prabu Linggabuana. Selain terpesona pada wajah putri yang cantik, Prabu Hayam Wuruk ingin mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda.

Setelah melamar Dyah Pitaloka, Prabu Hayam Wuruk memutuskan bahwa upacara pernikahan akan berlangsung di Majapahit. Meskipun mendapat tantangan dari dewan kerajaan, Prabu Linggabuana, Dyah Pitaloka, dan rombongan pergi ke Majapahit. Rombongan itu diterima dan ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

Mahapatih Gajah Mada yang ingin mewujudkan Sumpah Palapa, menyatukan Nusantara memanfaatkan situasi yang tengah terjadi. Kedatangan rombongan itu, dipandang sebagai tanda takluk Kerajaan Sunda dan Dyah Pitaloka dipandang sebagai upeti. Prabu Linggabuana menolak tawaran Gajah Mada. Sebagai ksatria Sunda, ia lebih baik mati memertahankan kehormatan daripada takluk pada superioritas Majapahit. Perang pun terjadi.

Perang yang tidak seimbang antara prajurit Gajah Mada dan rombongan Raja Sunda mengakibatkan gugurnya Prabu Linggabuana dan rombongannya.

-*-0-*-

Peristiwa Perang Bubat pada abad ke-14 tersebut mendapat sambutan dan tanggapan masyarakat Sunda dan masyarakat Jawa berupa tulisan-tulisan, baik berupa kritik, artikel, dan karya sastra.

Tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Perang Bubat tersebut dapat dipandang sebagai respon masyarakat (pembaca) yang dalam istilah sastra disebut dengan resepsi sastra. Sambutan dan tanggapan terhadap Perang Bubat yang disebut resepsi sastra itu wujudnya, antara lain lahirnya penciptaan karya satra atas peristiwa Perang Bubat, kritik sastra, resensi, dan penelitian yang terbit dalam bentuk artikel jurnal.

Peristiwa Bubat pada abad ke-14 dan resepsi sastranya yang muncul beberapa abad kemudian menarik dibicarakan karena menggambarkan konfigurasi pendapat, tanggapan, kritik dan pandangan. Di antara tanggapan tersebut ada yang berpandangan bahwa perang itu terjadi karena ambisi Gajah Mada, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa dalam peristiwa tersebut Gajah Mada hanyalah korban.

Penelitian "Perang Bubat" pada Abad ke-14 dan "Resepsi Sastranya" secara kepustakaan diteliti oleh Yeni Mulyani Supriatin dan dipublikasikan pada Jurnal PATANJALA Vol.10 No.1 Maret 2018: 51-66. Penelitian lain adalah penelitian tentang novel-novel Indonesia yang bertema Perang Bubat, kritik tentang Perang Bubat yang dipublikasikan dalam surat kabar, resensi tentang Perang Bubat dalam surat kabar. Hidayat (2015) meneliti ―Pandangan Dunia Orang Sunda dalam Tiga Novel Indonesia tentang Perang Bubat. Kemudian, Asmalasari (2010) meneliti "Peristiwa Perang Bubat" dalan Novel Perang Bubat Karya Yoseph Iskandar dan Novel Gajah Mada, Perang Bubat Karya Langit Kresna Hariadi (Kajian Sastra Bandingan).

Sementara itu, tulisan tentang Perang Bubat yang lain didominasi oleh resensi, artikel dalam surat kabar, dan artikel dalam majalah. Sumarjo (2013) menulis artikel tentang "Sekitar Perang Bubat" dan Imran (2009) menulis artikel tentang "Perang Bubat" yang Lain. Penelitian dan artikel dalam surat kabar serta majalah tersebut meneliti serta memberi ulasan atau kritik tentang peristiwa Perang Bubat yang terdapat dalam novel karya Yoseph Iskandar atau tentang Perang Bubat karya Langit Kresna Hariadi.

Sementara itu, penelitian ini mengkaji Perang Bubat dari sisi resepsi sastranya, yaitu melakukan penelitian terhadap karya-karya yang berupa penelitian, kritik, artikel, karya sastra, resensi yang berkaitan dengan Perang Bubat. Para penulisnya, dipandang sebagai peresepsi atau penerima Perang Bubat.

Perang Bubat mengundang berbagai tanggapan dan reaksi masyarakat terutama setelah peristiwa itu diceritakan atau dicatat dalam buku yang berbahasa Sunda dan Jawa. Resepsi masyarakat terhadap muncul abad ke-16 sampai dengan abad ke-21. Secara umum resepsi sastra dari abad ke abad nyaris menanggapi kepahlawan Raja Sunda, keberanian Putri Dyah Pitaloka, kebesaran Kerajaan Majapahit, dan kekuatan Patih Gajah Mada.

Resepsi sastra terhadap Perang Bubat tersebut berupa penceritaan kembali, komentar dan tanggapan tentang sejarah Sunda, karya sastra, penilaian atau resensi, dan kritik sastra. Tanggapan terhadap Perang Bubat tercatat pada abad ke-16, abad ke-17, abad 19, dan muncul kembali abad ke-20. 
 
Resepsi sastra terhadap Perang Bubat secara substansi sangat bergantung pada horizon harapan pembacanya saat tanggapan itu dikemukakan, misalnya resepsi sastra dari Hasan Wirasutisna pada abad ke-16, resepsi sastra dari Pangeran Wangsakerta abad ke-18, dan resepsi sastra dari Yosep Iskandar pada abad ke-20 akan menunjukkan persamaan dan perbedaan. Persamaan dan perbedaan tersebut karena horizon harapan pembaca tidak sama. Di samping itu, ruang dan waktu akan menentukan hasil peresepsian.
 
Dengan demikian, resepsi sastra terhadap Perang Bubat akan cukup beragam mengingat horizon harapan masyarakat datang dari berbagai kalangan.
 

Berkaitan  dengan  sejarah, dipertanyakan apakah Perang Bubat itu pernah terjadi atau hanya rekaan?

Pada abad ke-20, CC Berg, sejarawan Belanda, menerbitkan teks dan terjemahan Kidung Sunda (1927) yang mengurai Peristiwa Bubat dan versi yang lebih pendek Kidung Sundayana (1928). Dalam Penulisan Sejarah Jawa, Berg menyebut Kidung Sunda mengandung fakta-fakta sejarah karena kejadian itu diperkuat tulisan Sunda kuna, Cerita Parahyangan. Berg pun menyimpulkan, “dalam Kidung Sunda kita harus melihat endapan sastra dari cerita-cerita rakyat yang turun-temurun dan dalam fragmen Pararaton yang bertema sama itu...”

Sumarjo (2013: 1) menerima Perang Bubat sebagai peristiwa sejarah karena ada tiga sumber tua yang menceritakan adanya peristiwa tersebut, yaitu Kidung Sunda, Pararaton yang berbahasa Jawa kuno, dan Parahiyangan yang berbahasa Sunda kuno. Akhir-akhir ini muncul naskah Pangeran Wangsakarta dari Cirebon yang berbahasa Jawa. Menilik sumber tua yang berasal dari dua masyarakat yang terlibat dalam Perang Bubat (Sunda dan Majapahit) kemungkinan besar tidak saling berhubungan, dapat ditafsirkan bahwa Perang Bubat adalah peristiwa sejarah. 
 
Sumber tertulis tersebut berasal dari abad ke-16, sedangkan Perang Bubat terjadi pada abad ke-14. Jadi, terdapat selisih dua abad antara peristiwa itu terjadi dan tuturannya. Meskipun demikian, ingatan kolektif masyarakat pada peristiwa tersebut masih cukup kuat yang kemudian tertuang dalam tradisi sastra kedua masyarakat.
  
Ekajati dalam Hidayat (2015: 103) berpendapat bahwa Perang Bubat adalah peristiwa sejarah yang pernah terjadi pada abad ke-14 yang melibatkan Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit. Disebut peristiwa  sejarah  karena  Perang  Bubat tercatat dalam beberapa sumber tradisional historiografi Nusantara seperti dalam Pararaton, Kidung Sunda, Kidung Sundayana, dan Carita Parahiyangan.

Aminuddin Kasdi, sejarawan Universitas Negeri Surabaya, berpendapat bahwa sebagai sumber sejarah, Kidung Sunda, merupakan sumber sekunder, bahkan tersier. Berbagai fakta sejarah di dalamnya tidak sesuai dengan sumber-sumber lain yang lebih kredibel seperti prasasti. Perlu diperhatikan pula bahwa pada abad ke-19, kurun waktu penulisan Kidung Sunda, merupakan masa munculnya beberapa karya sastra kontroversial.
 
Edi Sedyawati dalam (Anugrah, 2015:4) bahkan menyoroti peran Pemerintah Kolonial dalam memperkenalkan Peristiwa Bubat kepada khalayak. Oleh Pemerintah Belanda, Kidung Sunda dijadikan bahan ajar bagi siswa di Algemeene Middelbare School (AMS). Mengapa tidak menggunakan karya sastra yang lebih dikenal seperti Ramayana dan Bharatayudha. Ada kepentingan Belanda di dalamnya, ujar Sedyawati, mengaitkan terbitnya teks-teks Sunda yang dekat dengan peristiwa Sumpah Pemuda. Pasundan-Bubat menjadi misteri yang butuh dipecahkan. Karena peristiwa itu tertanam dalam ingatan kolektif masyarakat.

Beberapa pendapat tersebut mengimplikasikan adanya kontroversi tentang peristiwa Perang Bubat, yaitu antara peristiwa sejarah yang benar terjadi dan suatu rekayasa demi kepentingan politik. 

Terlepas dari itu, Perang Bubat yang terjadi pada abad ke-14 telah meramaikan jagat sastra Sunda dan Indonesia.

Perang Bubat Merupakan Serangan Kerajaan Sunda-Galuh ke Majapahit?

Dalam resepsi sastra secara sosiologis adalah tanggapan pembaca terhadap unsur di luar struktur sastra seperti pengarang dan pembaca. Firdaus (2006: 3) melaporkan hasil diskusi dan peluncuran novel ke-4 tentang Perang Bubat karya Langit Kresna Hariadi (LHK) yang berjudul Gajah Mada: Perang Bubat yang diselenggarakan oleh Universitas Parahyangan dalam rangka "Pekan Sejarah‖. Dalam diskusi tersebut peresepsian lebih diarahkan kepada pengarang. Diungkapkan bahwa LKH di dalam  novelnya  menyampaikan keberpihakan bukan kepada dua kubu yang berkonflik, melainkan kepada nalar dan dan logika yang  diproses dari fakta-fakta sejarah, misalnya saat di lapang Bubat, pihak mana yang menyerang lebih dulu? Tentunya nalar dan logika akan berpihak pada pihak yang tersinggung yang menyerang terlebih dahulu.
 
LHK juga menggambarkan penokohan Gajah Mada sebagai orang yang bijkasana, strategis, dan taktis dalam bidang politik kemiliteran. Digambarkan pula bahwa sikap Gajah Mada itu selalu diselaraskan dengan sumpah saktinya yang termasyur.

Ridwan (2012) memberikan penjabaran mengenai resepsi lain atas peristiwa "Perang Bubat". Kalau asumsinya perang dilapangan luas Bubat atau yang sering disebut “Perang Bubat” antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda Galuh ini benar-benar terjadi, semua pihak harus menerimanya secara elegan bahwa ini adalah bagian dari peristiwa sejarah yang harus dihormati keberadaanya. Tidak seharusnya dijadikan sentimen kesukuan, dan terlalu picik bila ini dipandang sebagai dendam kesukuan, tidak ada kaitannya, karena ini adalah proses sejarah yang bisa jadi menentukan keberadadaan bangsa Indonesia masa kini.

Informasi penting dari Kidung Sunda dianalisis, dimana naskah ini merupakan salah satu sumber referensi penguat adanya perang Bubat selain Pararaton. Sebenarnya naskah resmi kerajaan Majapahit adalah Negarakertagama, yang sama sekali tidak menyinggung peristiwa besar itu.

Pupuh I dari kidung Sunda disebutkan nama raja kerajaan Majapahit yaitu Hayam Wuruk, nama Hayam Wuruk ini diangkat juga oleh Pararaton, inilah kaitannya dan kenapa dikatakan bahwa  Kidung Sunda dan Pararaton adalah dua naskah saling menguatkan yaitu dalam peristiwa perang Bubat.

Teramat aneh kalau masyarakat menerima sebutan raja Majapahit Sri Rajasanagara dengan Hayam Wuruk, Hayam adalah kata dalam bahasa Sunda yang mempunyai arti Ayam, sedang Wuruk sama kata dalam bahasa Sunda yang mempunyai arti jago lebih kearah jagoan kelahi. Inilah hebatnya yang mempromosikan Pararaton sehingga nama Hayam Wuruk seolah-olah benar nama sebutan atau panggilan dan tidak tanggung-tanggung nama seorang raja besar kerajaan Majapahit. Bahkan pemerintah pun mengakui sebutan itu.

Informasi lainnya seperti hal-hal yang mustahil, tidak masuk logika dan berbau mistis, seperti petikan ini:

"Maka beliau Gajah Mada mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu Ia menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan (niskala)”

Kidung Sunda dilihat dari seluruh isinya berupa narasi untuk sebuah kisah, lebih kearah fiksi fantasi artinya ada hayalan imaginer dari si pembuat atas peristiwa yang diceritakan . Tentu saja kebenaran sejarah untuk narasi seperti ini sangat diragukan bisa jadi tidak ada nilai sejarahnya, bisa jadi pula bawa perang Bubat ini hanyalah rekayasa mengikuti cerita sebelumnya, karena Kidung Sunda ini diterbitan setelah naskah pertama yang memuat kejadian serupa mengenai perang Bubat diterbitkan terlebih dahulu yaitu Pararaton.

Baiklah dalam hal initidak diperdalam lebih lanjut mengenai keaslian, kebenaran atau kepalsuan dari Kidung Sunda dan Pararaton, tetapi lebih fokus menganalisa isi yang disampaikan oleh Kidung Sunda mengenai kejadian perang Bubat, mari perhatikan petikan dari Kidung Sunda:

Kutipan sebagian Kidung Sunda (terjemahan) Pupuh I :

“ Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil. Kapal jung. Ada kemungkinan rombongan orang Sunda menaiki kapal semacam ini. Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/Cina) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” (bait 1. 43a.)”.

Informasi penting yang diperoleh dari sebagian petikan Kidung Sunda diatas salah satunya yaitu mengenai jumlah armada rombongan dari Kerajaan Sunda Galuh, yang terdiri dari 200 buah kapal ukuran kecil, jumlah total armada itu sekitar 2.000 buah perahu terdiri dari sebagian besar jumlah kapal dalam ukuran besar ditambah 200 kapal dalam ukuran kecil.

Hitungan matematis sederhana, kalau dimisalkan 1 buah perahu rata-rata memuat atau membawa awak 10 orang, berarti jumlah rombongan sekitar 20.000 orang, ini jumlah yang terlalu over dosis atau berlebihan untuk sebuah acara perkawinan. Bayangkan lagi kalau muatannya dalam 1 buah perahu minimal mengangkut rata-rata awak 20 orang, berarti jumlah rombongan bisa mencapai sekitar 40.000 orang, dan itu juga bukan jumlah sedikit, jumlah itu cukup untuk sebuah rencana menggempur atau menyerang suatu negara atau kerajaan lain pada saat itu.

Perjalanan berlayar dari tanah Sunda ke tanah Jawa ujung timur dengan memakai perahu-perahu, pasti bukanlah jenis perahu kecil-kecil yang digunakan. Perahu-perahu ini mestinya harus bisa memuat jumlah personil atau awak perahu lebih dari 30 orang dalam 1 buah perahu, kalau dihitung lagi dan dijumlahkan dari rata-rata 1 buah perahu memuat awak 30 orang, maka total jumlah orang akan mencapai jumlah kisaran lebih dari 60.000 orang, jumlah yang cukup fantastis dan ideal untuk sebuah rencana penyerangan, sekaligus membumihanguskan kerajaan seperti Majapahit yang notabene mereka sedang sibuk melakukan invasi ke luar wilayah kerajaannya.

Teknologi maritim atau tehnologi pembuatan perahu, lalu kemudian disesuaikan dengan keberadaan kerjaan Sunda Galuh yang masa perdamainya ratusan tahun lamanya, tentunya pembuatan perahu dan tehnologi akan sangat dimungkinkan, bisa jadi hasil membeli dari negara lain seperti yang diungkapkan bahwa perahu-perahu besar yang digunakan mirip dengan perahu-perahu tentara Mongol waktu menyerang kerajaan Kediri masa pemerintahan Jayakatwang, terlebih punya hubungan kedekatan sejarah dengan kerajaan Sriwijaya yang terkenal mempunyai teknologi maritim yang unggul, ditambah lagi pendanaan yang cukup untuk membeli atau membuat kapal atau perahu sejumlah itu.

Tradisi Jawa atau dimana pun dalam pernikahan, laki-laki yang harus datang ke tempat si calon istri, bukan malah sebaliknya. Seandainya raja Sunda Galuh dan pasukannya pada kisah Kidung Sunda itu dikatakan merasa terhina sebagai alasan untuk berperang pada saat itu, dengan diceritakan bahwa mereka harus dan diminta takluk secara militer oleh Gajah Mada, maka secara logika akal sehat sebenarnya itu tidak mungkin, kalau alasanya seperti itu, artinya dari awal dia sudah menghinakan diri dengan datang mengantar sang putri Citraresmi sebagai calon istri raja Majapahit Hayam Wuruk (atau Sri Rajasanegara), kisah ini paradoks tentunya, tidak bisa diterima. Walau pun mungkin pada daerah-daerah tertentu atau kondisi khusus ada yang seperti itu yaitu si pihak calon istri yang datang ke pihak laki-laki tapi itu tidak bisa disebut kebenaran umum.

Dalam Kidung Sunda itu pula dibahas tentang Gajah Mada yang disalahkan oleh para seniornya (para penguasa Wilayah Daha dan Kahuripan) dikeraton kerajaan Majapahit yang merpakan paman Hayam Wuruk, yaitu ketika berakhirnya perang Bubat, tapi mengapa dalam kidung Sunda dinyatakan bahwa diantara pimpinan Sunda Galuh termasuk rajanya yang terbunuh, bahwa merekalah (para senior) yang melakukannya. Ketika peristiwa itu berlangsung, suatu hal yang tidak singkron satu sama lain yaitu Hayam Wuruk ikut serta dalam peperangan itu. Disini realistik juga, kelihatan jelas sisi fantasi si pengarang, dalam kenyataan perang sesungguhnya siapapun bisa saling membunuh tidak hanya pembesar dengan pembesar, prajurit biasa pun bisa membunuh seorang raja, atau bisa jadi mereka tidak terbunuh langsung tapi karena terkena panah atau tombak jarak jauh.

Walau pun ada sisi sentimentil dari Kidung Sunda itu yang mengatakan Hayam Wuruk menyesalkan kematian Dyah Pitaloka atau Citraresmi yang dikisahkan bunuh diri. Padahal kematian seperti itu bagi yang sudah sering mengalami peperangan adalah sesuatu hal biasa apalagi ajaran yang dianut memungkinkan si istri atau keluarga mengorbankan diri setelah suami atau orang tuanya tiada, atau memang secara kemanusiaan walaupun perang adalah suatu pilihan, melihat ribuan orang melayang jiwanya, tentunya sebagai kesatria perang semua melakukan penghormatan kepada pihaknya sendiri ataupun pihak lawan dengan rasa duka mendalam.

Dalam Kidung Sunda juga dijelaskan ada utusan dari Majapahit ke kerajaan Sunda Galuh, yang diceritakan dan diterangkan membawa maksud dari raja Hayam Wuruk untuk melamar puteri kerajaan. Analisa yang mungkin untuk kejadian atau saat peristiwa datangnya utusan dari Majapahit, adalah bahwa utusan kerajaan Majapahit itu sebenarnya utusan kerajaan untuk meminta raja Sunda Galuh untuk tunduk dan takluk dibawah kerajaan Majapahit, pola utusan-utusan seperti itu hal biasa kalau salah satu kerajaan punya keinginan untuk menaklukan kerajaan yang lainnya, semacam peringatan tidak menyerang tiba-tiba tanpa alasan. Pada akhirnya kalau diterima berarti kedua belah pihak berdamai dengan syarat-syarat ditentukan bersama, kalau sebaliknya kedua belah pihak harus sudah mempersiapkan diri untuk memulai peperangan.

Seandainya perang itu sudah diniatkan oleh Raja Sunda Galuh, pertanyaannya adalah mengapa permaisuri dan putri keraton ikut serta. Hal ini mudah dijawab, karena asumsinya perjalanan panjang, sebuah rencana operasi militer dari tanah Sunda ke Majapahit setidaknya memerlukan waktu yang lama. Pastinya ada kapal-kapal utama yang nyaman untuk mereka, dikapal-kapal besar sudah tentunya bisa untuk anggota keluarga kerajaan melakukan kegiatan yang tidak terganggu oleh kondisi perjalan perang dari prajurit-prajuritnya yang lain, bisa dibuat senyaman mungkin.

Keikutsertaan mereka dalam perjalanan pertempuran adalah hal biasa, seperti halnya pasukan Mongol yang melakukan perjalanan panjang (long march) ke negara lain, mereka sering membawa serta keluarganya, sekaligus mereka bisa dimanfaatkan dalam persiapan upacara keagamaan sebelum memulai peperangan dan lain sebagainya. Dalam waktu-waktu tertentu bisa jadi untuk motifator bagi pasukan dan sang raja, menambah semangat tempur prajuritnya.

Jumlah sekitar 2000 buah kapal adalah kemegahan yang sangat luar bisa, masuk akal bagi kerajaan Sunda Galuh yang hidup makmur dan besar secara luas wilayah kekuasaannya, ingin menunjukan superioritas perekonomian dan kemampuan dana mereka. Pasukan besar yang dipimpin raja Sunda Galuh itu merupakan hal wajar, gabungan dari koloninya, daerah-daerah kerajaan bawahan kekuasan kerajaan Sunda Galuh pada waktu itu. Jumlah itu merupakan jumlah pasukan tentara gabungan dan pasti ada keyakinan dari mereka dapat mengalahkan pasukan tentara kerajaan Majapahit yang kemungkinan sebagian besar pasukanya masih melakukan ekspedisi atau invasi keluar wilayah ke negara atau kerajaan lainya.

Sumber sejarah lain yang menjadi pendukung kisah terjadinya perang Bubat yaitu Pararaton (para raja), yang salah satu petikan tentang peristiwa diantaranya :

"Orang Sunda akan mempersembahkan puteri raja, tetapi tidak diperkenankan oleh bangsawan bangsawannya, mereka ini sanggup gugur dimedan perang di Bubat, tak akan menyerah, akan mempertaruhkan darahnya."

Petikan diatas memberikan informasi yaitu adanya pemberitahuan dari Raja Sunda Galuh kepada para bangsawannya, tentang pilihan penyerahan puteri raja sebagai persembahan bagi Raja Majapahit. Para bangsawan menolak pilihan itu tadi, ini artinya teori rencana penyerahan atau iring-iringan untuk mengantar sang puteri yang akan dinikahkan dengan raja Majapahit Hayam Wuruk itu tidak pernah terjadi, yang ada adalah raja Sunda Galuh beserta para pembesar kerajaanya sepakat untuk menyatakan perang terhadap Majapahit. Kesimpulan yang bisa ditarik adalah bahwa peperangan ini sudah direncanakan sebelumnya, sedang dipilih daerah Bubat adalah karena lokasi dan pilihan strategi mereka yang sudah mereka tetapkan untuk menggempur atau menyerang kerajaan Majapahit.

Kutipan dari Pararaton:
"Kesanggupan bangsawan bangsawan itu mengalirkan darah, para terkemuka pada fihak Sunda yang bersemangat, yalah: Larang Agung, Tuhan Sohan, Tuhan Gempong, Panji Melong, orang orang dari Tobong Barang, Rangga Cahot, Tuhan Usus, Tuhan Sohan, Orang Pangulu, Orang Saja, Rangga Kaweni, Orang Siring, Satrajali, Jagadsaja, semua rakyat Sunda bersorak.

Bercampur dengan bunyi bende, keriuhan sorak tadi seperti guruh. Sang Prabu Maharaja telah mendahului gugur, jatuh bersama sama dengan Tuhan Usus. Seri Baginda Parameswara menuju ke Bubat, ia tidak tahu bahwa orang orang Sunda masih banyak yang belum gugur, bangsawan bangsawan, mereka yang terkemuka lalu menyerang, orang Majapahit rusak.

Adapun yang mengadakan perlawanan dan melakukan pembalasan, yalah: Arya Sentong, Patih Gowi, Patih Marga Lewih, Patih Teteg, dan Jaran Baya. Semua menteri araman itu berperang dengan naik kuda, terdesaklah orang Sunda, lalu mengadakan serangan ke selatan dan ke barat, menuju tempat Gajah Mada, masing masing orang Sunda yang tiba dimuka kereta, gugur, darah seperti lautan, bangkai seperti gunung, hancurlah orang orang Sunda, tak ada yang ketinggalan, pada tahun saka: Sembilan Kuda Sayap Bumi, atau: 1279."

Petikan diatas seperti gayung bersambut, seirama atau sesuai dengan informasi yang diberikan Kidung Sunda mengenai jumlah pasukan tentara Kerajaan Sunda Galuh yang ikut berperang, yaitu dengan skala jumlah pasukan tentara yang luar biasa besar.

Tambahan informasi yang menguatkan dari petikan diatas tentang adanya pernyataan bunyi bende dan keriuhan sorak seperti gemuruh, serta dinyatakan pula bahwa pasukan tentara Sunda Galuh yang gugur digambarkan dengan situasi bahwa sebaran aliran darah akibat banyaknya prajurit yang gugur diibaratkan seperti lautan, bangkai-bangkai manusia atau tentara seperti gunung, dan kehancuran total tanpa bersisa.

Seandainya jumlah mayat sampai menggunung itu bukanlah jumlah sedikit dan kematian seperti itu dalam perang jaman seperti itu mungkin sudah biasa dan sering terjadi, soalnya ketika pasukan Jenghis Khan menyerang kesultanan Kwarizmi, terjadi pembantaian luar bisa yang mencapai angka jutaan jiwa manusia. Konon katanya penggambaran situasinya waktu itu, kepala yang dipenggal saja pada waktu itu kalau digambarkankan membentuk bukit-bukit piramida besar, belum badan yang bergelimpangan dan berserakan dimana-mana. Sungguh pemandangan yang mengerikan, tetapi ini fakta sejarah dan kejadian ini pula yang bisa terjadi saat itu.

Pertanyaan kemudian adalah mengapa pasukan besar tentara kerajaan Sunda Galuh dapat dikalahkan dalam perang itu, terbantai habis tak bersisa. Hal ini dikarenakan sudah ratusan tahun lamanya kerajaan Sunda Galuh tidak pernah lagi berperang dalam sekala besar dan panjang, setelah masa-mas kedamaian dan kemakmuran (abad ke-10 sampai ke-14 Masehi), walau pun setatusnya kerajaan besar yang merupakan salah satu negara adidaya ditataran pulau Jawa bahkan nusantara. Kondisi sebaliknya untuk pasukan tentara kerajaan dari Majapahit yang pada saat itu terus-menerus melakukan invasi milter ke negara-negara lain dan itu artinya selalu berselimut dengan pengalaman perang sampai saat itu.

Pasukan tentara Majapahit pada waktu itu diasmunsikan masih gencar-gencarnya melakukan invasi atau ekspedisi ke negara-negara lain, tentunya pasukan-pasukanya sebagian tidak ada diposisi wilayah kerajaan. Logika jumlah keterlibatan pasukan tentara Majapahit pada saat itu sendiri pasti berkurang dari jumlah keseluruhan total pasukan kerjaan secara keseluruhan, perkiraan paling sekitar 1/2 atau 2/3 dari pasukan tentara kerajaan Sunda Galuh yang ada disana. Tetapi dengan jumlah seperti itu pun bisa mengalahkan pasukan tentara Sunda Galuh, mengapa? Hal ini dikarenakan meraka sudah terlatih, terbiasa, tertempa dan berpengalaman dalam kehidupan perang selama itu.

Sekenario perang bisa saja diumpamakan 3 tahapan yaitu:
  1. Perang permulaan antar armada dilautan, pasukan armada lautan Majapahit terdesak karena kekurangan armada, tapi itu tujuannya bukan perang total lebih ke arah gangguan    
  2. Perang pantai, disini hanya untuk melemahkan pasukan kerajaan Sunda Galuh karena yang hanya bisa dilakukan oleh pasukan perang Majapahit hanya bisa menahan melalui serangan panah dan itu ada batas pasokan panah, tapi ini paling efektif dalam mengurangi jumlah musuh.    
  3. Perang darat yang terjadi dilapangan luas Bubat, disinilah perang total, dengan berbagai strategi, dan yang lebih dominan dalam perang seperti ini adalah pengalaman dan strategi.
Gajah Mada dan Hayam Wuruk punya prototipe atau sumber inspirasi metode pembentukan pasukan tentara perang, yaitu dari bangsa Mongol dengan panglima perang kaligus kaisar Imparium besar daratan Mongol yaitu Jenghis Khan, Sang Penakluk dengan priode kekaisarnya juga berkembang pada masa itu juga, walau pada masa mereka kaisar Mongol di pegang oleh penerusnya yaitu Kubelai Khan, ini juga merupakan model bagi negara-negara lain diseluruh dunia untuk sebuah cita-cita pemersatuan suku bangsa-bangsa menuju bangsa yang besar.

Gagasan utama atau ide pemersatuan ini dipelopori pertama kali oleh Sri Rajasa Sang Amurwabhumi (Ken Arok – versi Pararaton), pendiri Wangsa Rajasa, yang berawal sebagai penguasa kadipaten Tumapel, bagian dari kerajaan Kediri, selanjutnya mengambil alih kekuasaan kerajaan Kediri dan membentuk kerajaan baru yang terkenal dengan nama kerajaan Tumapel (Singhasari versi Pararaton). Kematian raja Tumapel Sri Rajasa sama dengan kematian Jenghis Khan tahun 1227 Masehi. Keberadaan kerajaan Tumapel sudah ada dalam catatan dari Dinasti Yuan dari Cina dengan sebutanatau pelafalan “Tu-ma-pen”. Artinya memang hubungan perdagangan sudah dilakukan sebelumnya antara kerajaan nusantara dengan wilayah Cina, dan dari hal seprti inilah peta perpolitikan dunia tersampaikan ke wilayah nusantara.

Raja Majapahit masih keturunan langsung Wangsa Rasaja, yang pendirinya tiada lain raja Tumapel atau lebih terkenal sebutan Singhasari pertama, Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Ide atau gagasan perluasan wilayah Sri Rajasa kemudian ditindaklanjuti oleh turunan ke-4 yaitu raja Kertanegara, sehingga kekuasaan Tumapel yang lebih terkenal dengan sebutan Singhasari pada waktu itu sudah meluas dengan adanya misi yang terkenal dengan sebutan “Ekspedisi Pamalayu”.

Ide dan gagasan pemersatuan dan perluasan wilayah ini sebenarnya pada akhirnya bertujuan untuk menghadang gempuran kekuatan besar pasukan tentara Mongol itu sendiri, yang kemungkinan akan mengarah ke wilayah Asia bagian tenggara, tanpa kecuali wilayah-wilayah nusantara. Ide atau gagasan pemersatuan ini juga dibuat untuk sistem pertahanan semesta dan pembentukan aliansi atau tentara gabungan pasukan tentara seluruh kerajaan di nusantara menghadapi terjangan badai besar dari pasukan tentara Mongol.

Pasukan tentara Mongol bahkan sanggup memporakporandakan dan membantai sejumlah pasukan yang bisa jadi 5 kali lipat jumlah pasukanya, tentunya ini hasil buah strategi dan pengalaman perang mereka didaratan Mongol, perang antar klan (suku) menyebabkan meraka teruji untuk model perang seperti apapun.

Begitu juga dalam mengadapi pasukan besar tentara Sunda Galuh walaupun tentara yang dibawa sebegitu banyak, laksana air bah, mungkin tentara Majapahit hanya terkumpul 30.000 – 45.000 orang, tapi posisi meraka yang menguasai medan tempur dan ahli-ahli perang semua, akan dengan mudah membikin porak-porandakan formasi tentara Sunda Galuh.

Perang Bubat ini pasti perang yang sangat heroik dan penuh cerita kepahlawanan bagi kedua belah pihak (kalau asumsinya benar-benar terjadi), karena bukti prasati peninggalan jaman itu tidak pernah dibahas mengenai kepahlawanan perang Bubat, logikanya jika itu terjadi pasti didirikan monumen bersejarah bagi kedua belah pihak, karena peristiwa ini tidak mungkin terlupakan dalam sejarah kebangsaan.

Pasukan tentara Majapahit akan bertempur dengan strategi jitu, sedangkan Sunda Galuh selain strategi mengandalkan jumlah besarnya, walaupun pada akhirnya kalah dan pasti ada yang menyerah, pasukan majapahit pasti tidak akan menerima, soalnya ini mengadopsi dari kebijakan perang Genghis Khan, apa lagi posisi musuh menyerang duluan logikanya harus dibantai habis memang kalau kita ada dalam emosi perang seperti itu, kejadian terbalik kalau pasukan Majapahit kalau mereka dalam posisi menang, pasti pasukan Majapahit gantian yang akan dibantai habis.

Tapi mungkin yang lebih mengena adalah sifat kepahlawanan dari pasukan tentara Sunda Galuh sendiri, yang tidak mengenal kata menyerah, mereka melakukan perang seperti model perang Puputan yaitu perang sampai habis-habisan, dengan semangat perang yaitu sampa darah penghabisan alias gugur sebagai pahlawan perang.

Tentunya semangat kepahlawanan ini yang sangat membanggakan dan membuat siapa pun terharu termasuk pihak lawan, dan tradisi perang biasanya punya tradisi penghormatan luar biasa bagi pihak lawannya yang gugur. Itulah gambaran raja Hayam Wuruk yang merasa terharu oleh kondisi perang semacam itu, melihat kepahlawanan dari seluruh prajurit yang gugur termasuk seluruh keluarga raja dan para bangsawan.

Beda halnya kalau raja Sunda Galuh melarikan diri dari peperangan, tentunya ini akan mencedrai nilai kepahlawanan itu. Perang sampai titik darah penghabisan ini akan menjadi kebanggan pula bagi seluruh masyarakat Sunda Galuh pada waktu itu. Kalah memang tapi kalah secara terhormat dan membanggakan, tidak ada alasan bagi mereka merasa terhina atau malu.

Kalau metoda perang sampai paripurna oleh pasukan Majapahit, yang kemungkin besar kerajaan-kerajaan di Nusantara diperlakukan sama juga oleh cara-cara seperti ini yaitu perang total sampai bersih, diteror dengan cara yang serupa yaitu habisi dengan sempurna. Itu juga, sekali lagi kalau sudah dalam situasi perang, bagi meraka yang menyatakan tidak tunduk dan mengakui kerajaan kerajaan Majapahit, sehingga itu pula dalam waktu singkat dan cepat yang menyebabkan kerajaan-kerajaan Nusantara bisa disatukan dan ditaklukan.

Apa yang dilakukan raja Sunda Galuh bersama pasukan tentaranya adalah hal wajar, karena mereka mencoba mempertahankan diri kerjaannya dengan melakukan penyerangan duluan, teori serangan dadakan, daripada mereka diserang duluan, tapi salah perhitungan dan tidak didukung atau dibarengi dengan pengalaman perang pasukan.

Pada akhirnya meraka harus mengakui kekalahan itu. Sang raja Sunda Galuh beserta dengan seluruh pasukan tentara dan pengikut kerajaan Sunda Galuh menjadi para pahlawan yang gugur dengan gagah berani mengadapi resiko kematian sebagai hasil akhir dalam peperangan tersebut.

Gajah Mada terkenal mempunyai pasukan elit intelejen yang bernama Bayangkara, yang telah telatih dan terdidik mendekati sempurna, informasi penyerangan kerajaan Sunda Galuh seperti ini itu pasti akan sudah meraka terima sebelumnya dan sudah dipersiapkan antisifasinya walaupun dengan sumber daya seadanya.

Mahapatih Gajah mada, raja Hayam Wuruk dan pasukan militernya harus bekerja keras dan dengan strategi yang brilian untuk menghadapi jumlah musuh yg begitu besar, walaupun kemenangan diraih tapi jumlah pasukan yang selamat hanya tinggal beberapa ribu orang saja pastinya.

Setelah perang Bubat, pasukan Kerajaan Majapahit tidak memobilisasi pasukan besar ke pusat kerajaan Sunda Galuh setelah kemenangan itu, itu dikarenakan secara hitung-hitungan kerajaan Sunda Galuh bukan lagi kekuatan yang bisa menghadang dimasa yang akan datang dan mereka juga perlu waktu untuk memulihkan kondisi akibat yang ditimbulkan oleh perang besar tersebut.

Kidung Sunda menyatakan Gajah Mada moksa (menghilang ditelan bumi dengan cara-cara mistis), tetapi dalam Negarakertagama tentang Gajah Mada yaitu karena usianya sudah uzur sudah waktunya digantikan dan menikmati masa-masa tua, dan dalam diri Gajah Mada sendiri sudah merasa cukup, apa yang dia usahakan yang terakhir dengan mengalahkan pasukan besar tentara kerajaan Sunda Galuh artinya seluruh nusantara dapat ditaklukan, perjalanan penaklukan yang sempurna.

Gajah Mada berusia 71 tahun ketika selesai menjabat Mahapatih di kerajaan Majapahit dari tahun 1313 M semenjak dia menjabat patih di kerajaan Kediri, bawahan kerajaan Majapahit sampai dengan tahun 1364 M, terhitung 51 tahun masa menjabatnya, ditambah dia sudah menjabat prajurit senior sebagai pemimpin pasukan Bayangkara, asumsi katakanlah 25 tahun berarti kisaran usianya sekitar 76 tahun, usia yang wajar sekiranya Gajah Mada tutup usia, atau Gajah Mada dengan umur segitu sudah menjadi manusia lanjut usia (red - aki-aki rempong), wajar untuk pensiun dan menikmati hidup apalagi cita-cita dan pengabdian besarnya sudah dirasa cukup.

Hayam Wuruk kalau merujuk tahun perang Bubat dari Pararaton yaitu tahun 1357 M, maka disesuaikan dengan masa menjabat Hayam Wuruk menjadi raja dari tahun 1334 sampai dengan tahun 1389 M dihitung tahun yang pada awal dinobatkannya disebut sebagai raja muda, katakanlah usia pada waktu itu 10 tahunan, artinya umur Hayam Wuruk pada saat perang Bubat terjadi adalah 33 tahun dan umur segitu Hayam Wuruk sudah menikah dan punya anak perempuan umur 14 tahun yang sudah dijodohkan dengan anak sepupunya yang nantinya akan menjadi raja Majapahit setelah raja Hayam Wuruk. Teori persembahan Dyah Pitaloka kayanya mubazir, karena Sang Prabu Raja Galuh pasti tidak mau anaknya jadi selir yang tidak menurunkan putera mahkota.

Cerita perang Bubat ini berbeda dengan kondisi cerita-cerita yang beredar secara umum,. Perangan antara rombongan para pengantar calon penganten puteri dari kerajaan Sunda Galuh untuk raja Majapahit Hayam Wuruk. Ini hanyalah analisa dari keberadaan Kidung Sunda yang dianggap referensi untuk kejadian atau peristiwa perang Bubat.

Kidung Sunda itu sendiri seperti halnya Pararaton dan Sundayana harus dipastikan ke absyahannya, kebenaran kandungan ceritanya. Soalnya ini sejarah, jangan hanya terjebak dan terpaku kepada cerita anak manusia, sekelompok orang atau pihak tertentu yang punya kepentingan tidak baik bagi kehidupan bangsa Indonesia, yang kemudian cerita itu malah dianggap sebagai kebenaran umum. Artinya kita akan salah kaprah dan riset sejarah dari pemerintah Indonesia sendirilah yang harusnya bertanggung jawab meluruskan kebenaran sejarah, dengan membentuk Dewan Sejarah Nasional.

Apa yang penulis ceritakan hanya berdasar asumi yaitu jika perang itu benar-benar terjadi, silakan masing-masing pembaca yang budiman untuk menganalisa sendiri Kidung Sunda. Logika dan kondisi-kondisi realistiklah yang menjadi dasar bagi si penulis.

Satu hal yang jadi pertanyaan besar dalam kidung Sunda ini, pengarangnya tidak menyebut nama jelas prameswari dan puteri raja Sunda Galuh yaitu Citraresmi atau Dyah Pitaloka dan bahkan nama Raja Sunda Galuh pada waktu itu juga tidak disebut, logikanya orang yang mengarang Kidung Sunda adalah orang yag terbatas pengetahuannya tentang sejarah itu sendiri, atau ini hanyalah fiksi dari cerita-cerita sebelumnyaan yang mana puteri Citraresmi atau Dyah Pitaloka sendiri hanya ada di Pararaton, naskah yang dianggap benar oleh masyarakat umum, walau sebenarnya Pararaton ini banyak keanehan dan kebenarnya yang sama-sama harus dibuktikan.

Akhir kata, Sri Rajasa (Ken Arok - versi Pararaton), Kertanegara, Gajah Mada dan Hayam Wuruk adalah para penganut pola dan metoda Jenghis khan, dan diterapkan sesuai kehidupan ditataran tanah Jawa dan Nusantara pada pencapaian lebih jauh. Masalah perang bubat bukan sesuatu yang harus dibesar-besarkan karena jastifikasi sejarah belum ada, tetapi kalau itupun benar banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Semoga semua pihak lapang dada menerima sesuatu yang terjadi dikehidupan masa lampau umat manusia, karena itulah jalan dan taqdir IILAHI.

Referensi

  1. Abdullah, Imran T. 1991. "Resepsi Sastra Teori dan Penerapannya." Humaniora No.2 (1991): 71--76. 
  2. Asmalasari, Devyanti. 2010. "Peristiwa Bubat dalam Novel Perang Bubat Karya Yoseph Iskandar dan Novel Gajah Mada, Perang Bubat Karya Langit Kresna Hariadi (Kajian Sastra Bandingan).‖ Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra 3 (Nomor 2, Desember 2010): 93--105. 
  3. Hidayat, Sarip. 2015. "Pandangan Dunia Orang Sunda dalam Tiga Novel Indonesia tentang Perang Bubat." Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra: 105–20. http://ejurnalbalaibahasa.id/index.php/metasastra. 
  4. Imran, Ahda. 2009. "Perang Bubat Yang Lain.‖ : 1–5. Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 31 Mei 2009. 
  5. Mahayana.Maman S. 2009. "Perang Bubat : Tragedi di Balik Kisah Cinta Gajah Mada dan Dyah Pitaloka."
    In Qanita
  6. Pradipta, Inggar. 2009. "Resensi dan Resepsi Sastra." Universitas Indonesia. 
  7. Ramadhan, Mochamad Sigit dan Aminuddin T.H. Siregar. 201 "Bhayangkara (Tafsir Visual Peristiwa Sejarah Perang Bubat‖ J. Vis. Art & Design, Vol. 9. No.1 , 2017, 14—27, ITB, Bandung. 
  8. Ridwan, Ejang Hadian (2012). "Teori Perang Bubat". MenguakTabirSejarah.blogspot.com Diakses 30 Maret 2020.
  9. Sastriyani, Siti Hariti. 2001. "Karya Sastra Perancis Abad ke-19 Madame Bovary Dan Resepsinya Di Indonesia.‖ Humaniora XII, No. 3: 252--29. 
  10. Sulwesi, Endah. 2006. DYAH PITALOKA : Senja di Langit Majapahit. Bandung. Klub Sastra Bandung.
  11. Supriatin, Yeni Mulyani (2018). "Perang Bubat, Representasi Sejarah Abad ke-14 dan Resepsi Sastranya". Jurnal Patanjala  Vol. 10  No. 1 Maret  2018: 51 - 66. researchgate.net Diakses 30 Maret 2020. 
  12. Wati, Noor Rahmi. 2013. "Analisis Resepsi Pembaca Cerpen Koroshiya Desunoyo Karya Hoshi Shin "Ichi (Studi Kasus terhadap 15 Orang Jepang )." Japanese Literature 2 (Nomor 3, Tahun 2013): 1--13 
  13. "Perang Bubat dalam Memori Orang Sunda" oleh Yudi Anugrah Nugroho historia.id Diakses 30 Maret 2020.
Baca Juga

Sponsor