Cari

Sepuluh Kebudayaan Asli Nusantara Sebelum Masuknya Pengaruh Hindu, Buddha dan Islam

Peta Indonesia 1558

 

[Historiana] - Masuknya berbagai pengaruh kebudayaan yang berasal dari luar seperti Kebudayaan Hindu dan Buddha dari India dan Kebudayaan Islam ke Nusantara mempengaruhi berbagai kebudayaan yang ada di Indonesia. Meski demikian, menurut J.L.A. Brandes (Jan Laurens Andries Brande) terdapat 10 kebudayaan asli yang berasal dari masyarakat Indonesia. Ia adalah seorang filolog (ahli bahasa kuno), kolektor barang kuno, dan leksikografer (ahli penyusun kamus bahasa langka) berkebangsaan Belanda.

Ia terkenal antara lain karena menemukan manuskrip Kakawin Nagarakretagama di Puri Cakranegara, Lombok, pada tahun 1894.

Brandes meninggal pada tahun 1905 saat ia masih menjabat ketua Commissie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundige Onderzoek op Java en Madoera (Komisi Hindia Belanda untuk Penelitian Arkeologi di Jawa dan Madura), yaitu cikal bakal dari Dinas Purbakala dan Pusat Penelitian Arkeologi di Indonesia. Kesepuluh budaya asli Nusantara, adalah sebagai berikut:

  1. Kepandaian bersawah
  2. Kemampuan dalam pelayaran
  3. Mengenal prinsip dasar pertunjukan wayang
  4. Kemampuan dalam seni gamelan
  5. Kepandaian dalam membatik
  6. Menggunakan aturan metrik (Satuan berat, panjang, luas dan lain-lain)
  7. Kepandaian dalam membuat logam (Metalurgi)
  8. Menggunakan sistem perbintangan (Astronomi dan Astrologi)
  9. Menggunakan alat tukar (Mata Uang) terbuat dari logam
  10. Terbentuknya susunan masyarakat (Birokras Pemerintahan) yang teratur

Kontak awal antara masyarakat Nusantara dengan masyarakat luar semakin intensif. Kontak awal ini kemudian berlanjut dengan berkembangnya pengaruh India ke Nusantara. Kontak awal yang diperkirakan terjadi pada awal abad Masehi ini berkaitan dengan kegiatan perdagangan  maritim. Jaringan  perdagangan regional di Asia Tenggara, beberapa dari mereka telah terlibat dalam perdagangan jarak jauh sebelum pengaruh India atau Cina di awal milenium pertama. Beberapa temuan nekara dan kapak Dongson adalah bukti adanya jaringan perdagangan jarak jauh tersebut (Manguin  1996: 255).  Bahkan jika diamati maka himpunan tinggalan arkeologis dari budaya Dongson (Vietnam  Utara) sangat penting karena benda logam paling awal yang ditemukan di Kepulauan Nusantara pada umumnya bercorak Dongson, bukan  diilhami oleh benda logam dari India atau Cina (Bellwood 2000: 389). 

Dapat dikatakan bahwa Nusantara pada  sekitar  awal  milenium  pertama  yang menunjukkan perkembangan kebudayaan paleometalik dengan ciri-ciri utamanya antara lain berkembangnya teknologi pembuatan  benda  benda  logam  (perunggu dan besi), kehidupan yang menetap, mengembangkan  pertanian  persawahan, dan mengembangkan sistem kepercayaan pemujaan roh nenek moyang.

Berbicara tentang awal pengaruh Hindu Buddha di Nusantara sejauh ini selalu dimulai pada  sekitar  abad  ke-5  M.  yang  ditandai  oleh  kehadiran  kerajaan  Kutai  dan  Tarumanagara  di Nusantara dan masih sedikit perhatian terhadap periode sebelum itu. Padahal periode awal sampai dengan  abad  ke-5  M.  adalah  periode  krusial  bagi  munculnya  kerajaan  yang  bercorak  Hindu-Buddha di Nusantara. Penelitian terhadap periode awal sejarah dimaksudkan untuk mengungkapkan dinamika sosial ekonomi yang terjadi di masyarakat Nusantara sehingga mampu menerima dan menyerap unsur-unsur budaya asing (India) yang pada puncaknya memunculkan sejumlah  kerajaan  bersifat  Hindu-Buddha  di  Nusantara. 

Informasi  ini  dapat diidentifikasikan dari sejumlah tinggalan arkeologi seperti sisa tiang rumah, sisa perahu, keramik, tembikar, manik-manik, alat logam, dan sejumlah kubur yang diidentifikasi berasal dari periode awal sejarah. Berdasarkan tinggalan tersebut dapat direkonstruksi kondisi sosial-ekonomi masyarakat Nusantara dan peranannya di dunia internasional di Kawasan Asia Tenggara.

Berdasarkan  pendapat  Brandes tersebut bukan hal yang mengherankan jika masyarakat Nusantara waktu itu sudah aktif dalam perdagangan maritim internasional antara India-Cina karena mampu melakukan pelayaran (dengan perahu bercadik) di samudera  dan  memanfaatkan  ilmu  astronomi yang mereka kuasai. 

Sumber-sumber kesusasteraan  asing yang menyebut wilayah  Nusantara  tidak begitu banyak. Meskipun  India  memberikan kontribusi besar dalam  pengenalan  tulisan kepada masyarakat Nusantara,  namun India tidak mempunyai catatan-catatan tentang Nusantara maupun kegiatan-kegiatan yang terjadi antara dua wilayah tersebut.  Tetapi ada karya-karya sastra yang menyebut nama-nama tempat yang diperkirakan berada di wilayah Nusantara. Kitab Milindapanha (Milindapañha) yang ditulis sekitar abad ke-1 S. M. dan Mahaniddesa yang ditulis antara abad ke-3 M. menyebutkan nama pulau seperti Sumatera (Suvarṇnabhumi), Bangka (Wangka), dan Jawa (Damais 1995:85).  Adalagi Kitab Ramayana (menyebut Yawadwipa, Swarnadwipa), Kitab Jataka Kisah Sang Buddha (menyebut Swarnabhumi), Kitab Periplous tes Erythtras Thalasses (Abad ke1, menyebut Chryse), Kitab Geographike Hyphegenesis karya Ptolomeus (abad ke-2, menyebut Argyre Chora/Pulau Perak, Chryse Chora/Semenanjung atau Pulau Emas dan Iabadiou/Pulau Jelai). Dugaan kuat menyatakan istilah labadiou identik dengan Yawadwipa dalam bahasa Sansekerta.

Selain itu, catatan Cina awal juga menyebutkan sejumlah kerajaan awal yang memiliki hubungan dengan jalur perdagangan melalui Selat Malaka seperti Poli, Koying, Kantoli, P’u-lei, P’ota, P’o-huang, P’en-p’en, Tan-tan, dan Holotan yang berada di antara kerajaan-kerajaan awal yang diperkirakan telah muncul di berbagai lokasi di Kepulauan Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatera (Read 2008:78). 

Ko-ying adalah kerajaan awal yang muncul sekitar Abad yang ke-3 yang kemudian posisinya digantikan oleh Ho-lo-tan sebelum kemunculan Kan-to-li (441-563 M.). Kan-to-li  inilah  yang disebutkan oleh Wolters sebagai kerajaan dagang terpenting sebelum munculnya Śrīwijaya (Read 2008:78). Keterbatasan sumber-sumber tertulis dan data arkeologi, bagaimanapun, lokasi sejumlah kerajaan awal termasuk dari Ko-ying, masih diperdebatkan. 

Dengan bukti-bukti tersebut dapat diperkirakan masyarakat Nusantara pada masa itu sudah dalam tingkatan kebudayaan yang cukup tinggi. J.L.A. Brandes menyebutkan bahwa masyarakat Nusantara sebelum kedatangan pengaruh India telah mempunyai 10 butir aspek kebudayaan yang merupakan kepandaian asli masyarakat Nusantara (Suleiman  1986: 159-160).

 

Kepandaian Bersawah

Kepandaian bersawah sebelum datangnya pengaruh luar di Nusantara, telah lama dipraktekan. Pratek kepandaian bersawah ini tidak hanya seputar menanam atau memasukan benih ke dalam tanah berair, tetapi kepandaian dalam mengatur irigasi. Misalnya di Bali dikenal sistem Subak.

Secara arkeologis, terdapat jejak sekam di situs perapian di gua Maros, Sulawesi Selatan yang bertanggal sekitar 500 M (Glover, 1985) dan yang tertua jejak padi berumur 2000 SM dari lokasi yang sama (Paz, 2005).

Di awal pengaruh peradaban Hindu, terdapat jejak sekam padi di situ Candi Batujaya Karawang Jawa Barat dari abad ke-7 dan di Situs Liyangan terdapat "arang padi" akibat letusan Gunung Sindoro yang juga berasal dari abad ke-7 M. Di Bali Utara, jejak sekam padi ditemukan dari tahun 800 SM.

Riset genome dari New York University menjadi bukti bahwa sebaran padi di Nusantara sejak 4200 tahun lalu. Ini sejalan dengan riset ahli genetika dari University of Cambridge, Eske Willerslev pada Jurnal Science 2018.

Sekalipun demikian, tanaman padi memang bukan asli Indonesia, yakni berasal dari tiongkok 9000 tahun lalu. Adaptasi dan kemampuan pengelolaannya sudah sangat panjang dan kekayaan hayati kita yang luar biasa.

 

Teknologi Perkapalan Nusantara

Teknologi perkapalan Nusantara telah lama dikuasai oleh bangsa Nusantara. Misalnya kapal Pinisi, Kapal Jung, Lankara dan perahu-perahu lainnya yang lebih kecil. Kapal Jung berukuran raksasa menguasai lautan tidak saja di Nusantara tetapi mengarungi samudera luas di dunia.

Banyak narasi sejarah menggambarkan datanganya pengaruh luar. Misalnya dari India, China dan Arab. Namun tidak banyak yang menjelaskan teknik kedatangan mereka ke Nusantara. Apakah mereka membawa kapal sendiri? Rupanya tidak. Mereka menggunakan kapal niaga umum di pelabuhan-pelabuhan Internasional. Pengusaha perkapalan besar di Asia Tenggara hingga teluk Benggala adalah dari Nusantara. Begitu pula di Laut merah, kapal-kapal Jung tiba hingga daerah itu.

Di wilayah perairan China atau Tiongkok. Tercatat dalam naskah negeri Tiongkok tentang adanya larangan Kapal Jung memasuki Sungai Panjang (Yangtse). Alasannya faktor keamanan negeri Tiongkok. Kaisar-kasir Tiongkok khawatir kemungkinan tembakan meriam ditujukan ke Istana yang saat itu di Nanjing (dulu dieja Nanking) berada di selatan Sungai Yangtse yang rawan terhadap serangan artileri demikian pula untuk pusat-pusat strategis mereka lainnya. Maka di muara Sungai Yangtse itu dilakukan bongkar muat, memindahkan barang ke kapal kecil milik tiongkok untuk memasuki wilayah pedalaman negeri Tiongkok.

Di zaman Cheng Ho lah China berlayar Jauh dengan teknologi sangat maju di zamannya abad ke-15 M. Di antara penjelajahannya adalah ekspedisi ke Nusantara antara tahun 1405 hingga 1433. Namun, di Tiongkok terjadilah kerusuhan atau kekacauan besar. Dimana saat itu armada Cheng Ho masih di India. Semua naskah ilmu dan teknologi perkapalan dalam Ensiklopedia Yongle dibakar habis dalam kekacauan itu. Oleh karenanya, menurut para peneliti Barat, China tak pernah lagi berlayar jauh dari pesisirnya.  Para penerus Yongle bersikap menjaga jarak terhadap orang-orang asing sehingga ekspedisi ini dihentikan secara resmi tahun 1434 oleh Kaisar Xuande. Tiongkok pun kembali menjadi negara yang mengisolasi diri seperti negara-negara Asia Timur lainnya pada zaman itu.

Lalu bagaimana kisah hubungan kerajaan-kerajaan Nusantara dengan Tiongkok? Ya memang terjadi. Dalam berbagai literatur, dikisahkan pemberian upeti dari kerajaan-kerajaan di Nusantara ke Tiongkok. Upeti didefinisikan sebagai pemberian semacam pajak. Padahal pemberian itu menurut saya lebih tepat sebagai buah tangan atau oleh-oleh yang diberikan oleh negara sahabat. Mirip di zaman sekarang antar presiden sebagai kepala negara yang bertukar cenderamata. Nah cendera mata dari negeri Tiongkok biasanya keramik-keramik yang kemudian dibawa ke Nusantara.


Di level bawah raja terjadi mou antar-menteri luar negeri dan menteri perdagangan antar-kerajaan. Lalu terjadilah impor keramik ke Nusantara yang dibawa oleh kapal-kapal Jung Nusantara, bukan kapal Tiongkok.


Referensi

    1. Ardika, I Wayan. 2003. "Hubungan antara Indonesia dan India pada Awal Masa Sejarah", dalam Katalog Pameran Fajar Masa Sejarah Nusantara,  hal. 15-21. Jakarta: Museum Nasional.
    2. "Asal-Usul Padi dan Evoluasi Padi hingga ke Nusantara". Ahmad Arif. Evy Rachmawati (Ed.) Kompas 28 Mei 2020.
    3. Bellwood, Peter. 2000.  "Prasejarah  Kepulauan  Indo-Malaysia". Jakarta: P.T. Gramedia. 
    4. Damais, L-Ch. 1995. "Epigrafi  dan  Sejarah Nusantara: Pilihan Karangan Louis-Charles Damais". Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
    5. Groslier, B.P. 2002. "Indocina Persilangan Kebudayaan" (Indochina Crossing of Culture). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
    6. Indradjaja, Agustijanto. "Awal Pengaruh Hindu Buddha di Nusantara". Jurnal KALPATARU, Majalah Arkeologi Vol. 23 No. 1, Mei 2014: 1-80. Jakarta: Pusat Arkeologi Nasional.
    7. Suleiman, Satyawati. 1986. “Local  Genius pada Masa Klasik”. Dalam, Ayatrohaedi (ed.), Kepribadian Budaya Bangsa, hal. 152-185. Jakarta: Pustaka Jaya. 
    8. Manguin, Pierre-Yves. 1996. “Trading Ships of The South China Sea: Shipbulding Techniques and their Role in the History of the Development of Asian Trade Networks”, Journal of the Economic and Social History of the Orient Vol. XXXVI.  
    9. Read, R. D. "Penjelajah Bahari: Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika" (Exploring the maritime influence of archipelago civilization in Africa). Bandung: Mizan. 
    10. Wijaya, Wisnu. "Kitab Milindapañha" (Terj dari Milinda's Questions Vol. I, ed. I. B. Horner, M.A. The Pali Text Society. Oxford. 1996). Online books: [PDF] itc-tipitaka.org Indonesia Tipitaka Center (ITC). Medan: Yayasan Vicayo IndonesiaDiakses 20 Oktober 2021.
    11. Wolters, O. W. 1967. Early Indonesian Commerce. Ithaca  and London: Cornell University Press.

Sponsor