Cari

Kerajaan Sriwijaya dan Tarumanagara Fiktif?

[Historiana] - Ketika Anda membaca judul atikel ini barangkali akan bergumam ada-ada saja! Reaksi Anda adalah wajar. Mengingat bahwa kita telah mempelajari sejarah di bangku Sekolah bahwa eksistensi Kerajaan Sriwijaya dan Tarumanagara adalah faktual historis. Darimana asal mula penulisan judul di atas?

Berawal dari video youtube dalam channel Macan Idealis yang memposting video wawancara/dialog dengan Budayawan Betawi Ridwan Saidi. Meski dialog secara informal dan santai di kediamannya, pernyataan babeh (demikian panggilan akrabnya) sontak membuat netizen bertanya-tanya. Apakah benar pernyataan Ridwan Saidi bahwa Sriwijaya dan Tarumanagara adalah fiktif? dasarnya apa?

Untuk menjawab pernyataan babeh Ridwan yang justru menimbulkan pertanyaan itu, tidak bisa dengan mengutip pendapat para ahli arkeologi dan ahli naskah kuno (filolog). Alasannya karena babeh menganggap bahwa para arkeolog dan filolog Indonesia salah dalam membaca naskah dalam prasasti. Ia menyebutkan diantaranya naskah pada Prasasti Jambu dan Prasasti Tugu (babeh Ridwan menyebutnya Prasasti Sukapura). Ridwan Saidi mengatakan bahwa kesalahan arkeolog dan epigraf adalah menganggap naskah tersebut berbahasa Sansekerta dengan aksara Pallawa. Sementara menurut Ridwa Saidi naskah tersebut berbahasa Venggi Khmer (Kamboja).

Lebih lanjut Ridwan Saidi mengatakan bahwa Tarumanagara adalah fiktif dan Sriwijaya adalah "hanya bajak laut".  Lebih tepatnya Anda bisa melihat sendiri videonya



Semua pernyataan Babe Ridwan ini sebenarnya sudah ia tulis dalam karya yang bisa kita baca dalam Buku "Kerajaan Sunda dan Sunda Kalapa, serta Kemandirian Banten" terbitan Yayasan Renaisance.




Benar atau tidaknya pernyataan Ridwan Saidi meresahkan kaum muda pecinta sejarah. Namun demikian, diskursus (wacana) yang disampaikan Ridwa Saidi boleh-boleh saja. Selanjutnya setiap data dapat dikonfrontir dengan data lainnya. Apalagi lebih afdol dirembukan dengan berbagai ahli seperti Sejarawan, budayawan, Arkeolog, Epigraf, Filolog dan lain sebagainya.

Misalnya Ridwan Saidi menganggap arkeolog dan epigraf salah membaca prasasti Tugu sebagai Tarumanagara, sebenaranya Purnawarman Tarum turunan naga, bukan Tarumanagara. Ditambah lagi penjelasannya bahwa Prasasti tugu tidak sedang membicarakan pembangunan kanal banjir yang selama ini kita kenal terjemahannya demikian, tetapi sebuah puisi pujaan dari seorang gadis untuk raja Purnawarman. Ada hal menarik sebenarnya dapat kita telusuri, bahwa prasasti tidak pernah berisi lirik pujaan. Fungsinya di saat itu biasanya sebagai penanda selesainya sebuah proyek atau penanda bangunan suci seperti candi dan dipakai juga sebagai penanda batas wilayah. Di dalamnya ada juga prsasti yang berisi kutukan. Lirik puji-pujian biasanya ditulis dalam naskah lontar.

Kebenaran sejarah akan biasanya dibahas dalam forum ilmiah seperti seminar. Metode metode penelitian sejarah sangat hati-hati dan sistematis.

Dalam Channel Youtube: Insights and Inspirative sebagai pembanding...



Sebuah seminar internasional, diselenggarakan di Kamboja dalam tema: "2ND International Seminar On Khmer-Malay Cultural Heritage"  4-5 Agustus 2015 di Royal Academy of Cambodia (RAC), Cambodia. Ada tulisan menarik dari salah seorang pembicara yaitu Zuliskandar Bin Ramli dari Universiti Kebangsaan Malaysia. Artinya para ahli dari bangsa lain saja telah mengakui keberadaan tarumanagara dan Sriwijaya.



Dengan demikian, kekhawatiran para netizen mengenai pernyataan bahwa Kerajaan Sriwijaya dan Tarumagara Fiktif tidak akan mengubah keilmuan sejarah Nusantara dan Dunia. Kita masih ingat tentang pseudo-research tentang Candi Borobudur sebagai peninggalan Nabi Sulaiman AS. Dengan metode ilmiah dapat ditarik kesimpulannya yang benar menurut kaidah ilmiah. Bahkan secara Supranatural, Gus Muwafik pernah mengatakan bahwa beliau bertanya pada jin yang paling tua di tanah jawa, bukan! itu bukan peninggalan Nabi Sulaiman AS.

Referensi

  1. Saidi, Ridwan. "Kerajaan Sunda dan Sunda Kalapa, serta Kemandirian Banten". Yayasan Renaisance. Online google books Diakses 26 Agustus 2019.
  2. "BATUJAYA : Tarumanagara Remains", researchgate,net oleh Muhamad Shafiq Bin Mohd Ali1, Zuliskandar Ramli & Bambang Budi Utomo. Proceeding Seminar dalam 2ND International Seminar On Khmer-Malay Cultural Heritage Royal Academy of Cambodia (RAC), Cambodia 4-5 August 2015. 2ND International Seminar On Khmer-Malay Cultural Heritage  4-5 August 2015 Royal Academy of Cambodia (RAC), Cambodia  BATUJAYA : Tarumanagara Remains Muhamad Shafiq Bin Mohd Ali1, Zuliskandar Ramli1 & Bambang Budi Utomo2 1Institut Alam & Tamadun Melayu Universiti Kebangsaan Malaysia - Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Indonesia. pdf online.

Sponsor