Cari

ORANG KRISTEN ARMENIA: Suatu Minoritas Kecil di Indonesia yang Sudah Punah

 
Keluarga Sarkies. Armenia di Indonesia

[Historiana] - Berikut ini adalah artikel "ORANG KRISTEN ARMENIA: Suatu Minoritas Kecil di Indonesia yang Sudah Punah" yang diformat ulang dalam html agar dapat dibaca langsung dalam website. Naskah asli dalam bentuk pdf yang dikeluarkan oleh GEMA TEOLOGI Vol. 37, No. 1, April 2013. Sisipan gambar ilustrasi oleh admin Historiana.


ORANG KRISTEN ARMENIA
Suatu Minoritas Kecil di Indonesia yang Sudah Punah

ALLE G. HOEKEMA*

Abstract
The Armenian Church in the Dutch East Indies (Indonesia) came into being after Armenian traders from Persia (Iran) entered to the country in the middle of the 19th century and remained here; at fi rst in Batavia (Jakarta), then also in Central Java, and especially in Surabaya. Both their church life and their attitude in society were inwardly oriented. All of their priests came from Persia. An Armenian trading network existed widely in South East Asia and contacts with the mother church in Persia and Armenia itself were very strong. Though the Armenian community contributed positively to  the  Indonesian  society,  nevertheless  its  closed  attitude  proved  to  be  a  major weakness. During the colonial time the Armenians received an equal status to the Dutch and a number of them perished due to the Japanese occupation. These factors caused the liquidation of this community around 1960. The church buildings were sold and the remaining members migrated to Netherlands, USA, and Australia.Keywords: church history, the Armenians, ethnic minority, diaspora. AbstrakGereja  Armenia  di  Indonesia  (dulu:  Hindia  Belanda)  hadir  setelah  para pedagang dari Persia (Iran) masuk ke Indonesia pada pertengahan abad ke-19;  pertama  kali  di  Jakarta  (dulu:  Batavia),  kemudian  di  Jawa  Tengah,  dan  yang  terutama  di  Surabaya  (Jawa  Timur).  Baik  dalam  kehidupan  gerejawi  maupun  dalam  sikapnya  di  dalam  masyarakat,  komunitas  Gereja  Armenia  berorientasi  ke  dalam.  Semua  imam  mereka  berasal  dari  Persia. 
_______________________________________________________________________ 

*Mantan dosen Seminari Mennonite dan Vrije Universiteit Amsterdam

Jejaring   perdagangan   Armenian   yang   tersebar   di   Asia   Tenggara   dan   hubungan mereka dengan gereja induk di Persia dan Armenia juga amat kuat. Meskipun komunitas Armenian memberikan sumbangsih yang positif pada lingkup sosial Indionesia, sikap mereka yang tertutup terbukti telah menjadi kelemahan  besar.  Dalam  rentang  masa  kolonial  orang-orang  Armenia  memperolah status yang setara dengan orang Belanda dan beberapa di antara mereka  terbunuh  terkait  dengan  kekuasaan  Jepang  di  Indonesia.  Hal-hal  inilah  yang  menyebabkan  likuidasi  komunitas  Armenia  di  Indonesia  pada  sekitar  tahun  1960-an.  Bangunan-bangunan  gerejanya  dijual  dan  anggota-anggota gerejanya pindah ke Belanda, Amerika Serikat, dan Australia.

Kata-kata kunci: sejarah gereja, orang Armenia, minoritas etnis, diaspora.

Pendahuluan

Dalam  sejarah  Indonesia  beberapa  golongan  etnis  dari  luar  negeri  yang masuk dan menetap di wilayah kepulauan Indonesia, sering kali lewat jalur perdagangan. Sebagai contoh bisa disebut orang Cina, golongan etnis asing yang terbesar, dan orang Arab (mulai sekitar abad ke-9). Namun, di samping golongan-golongan tersebut, masih ada yang lain, yang sebagian besar  lama-kelamaan  berasimilasi  atau  punah,  seperti  orang  Portugis  dan  bekas  budak  Portugis  yang  sebagian  berasal  dari  wilayah-wilayah  lain  di  Asia  seperti  India  dan  Sri  Lanka.  Bekas  budak-budak  itu  disebut  Mardijker.[1] Antara  tahun  1831  dan  1872,  3.000  sukarelawan  dari  suku  Ashanti  di  Pantai  Emas  (sekarang  Ghana),  Afrika  Barat,  diberangkatkan  dari Elmina ke Hindia Belanda untuk dijadikan tentara KNIL dengan status “Belanda hitam”.[2] Sehabis ikatan dinas sebagian mereka pulang ke Afrika Barat;  namun  sebagian  lain  menetap  di  Hindia  Belanda  dan  berasimilasi.  Mereka tinggal di Semarang, Salatiga, dan Solo. Di Purworejo (salah satu kota tentara KNIL) malah ada kampung khusus untuk mereka (lihat Kessel, 2002). Karena mereka dianggap orang Belanda, setelah perang kemerdekaan Indonesia banyak di antara mereka pindah ke negeri Belanda.

Akhirnya,  meskipun  mereka  tidak  bisa  dipanggil  golongan  etnis, beberapa ratus orang Yahudi pernah masuk wilayah Hindia Belanda (a.l. di Aceh,  Surabaya,  Batavia/Jakarta,  dan  juga  daerah  Tondano  di  Minahasa).  Pada suatu ketika jumlah mereka rupanya lebih dari seribu jiwa; sekarang tinggal beberapa saja di Surabaya dan Minahasa.[3]

Latar Belakang Orang Armenia

Di dalam tulisan ini kami membatasi diri pada suatu golongan etnis Kristen  yang  asal-mulanya  di  negeri  Armenia.  Negara  Armenia  terletak  antara  Lautan  Hitam  dan  Lautan  Kaspia,  dan  negara-negara  tetangganya  adalah  Turki,  Iran  atau  Persia  (barat  dan  selatan).  Dengan  demikian,  menurut  pengakuannya  sendiri,  Gereja  apostolis  Armenia  adalah  gereja  nasional  yang  tertua  di  dunia.  Pada  tahun  301,  Raja  Tridates  III  (234-314)  memproklamasikan  agama  Kristen  sebagai  agama  negara.  Sejak  itu,  Armenia selalu mempertahankan identitas sebagai negara Kristen. Sekitar tahun 645 daerah Armenia masuk ke dalam cakupan pengaruh khalifat  Turki,  yang  baru-baru  saja  didirikan;  namun  kaum  Armenia  tetap  Kristen.  Setelah  suatu  periode  singkat  di  bawah  penjajah  Mongol,  terjadi  perebutan  antara  Ottoman  Turki  dan  Persia  pada  abad  ke-16;  dalam  praktik  negara  Armenia  itu  dibagi  dua.  Apalagi,  Rusia  menganeksasikan  bagian  Timur  Armenia  antara  tahun  1813-1828,  yang  hingga  waktu  itu  menjadi  bagian  dari  Persia.  Akhir  abad  ke-19  orang  Armenia  merasa  didiskriminasikan  oleh  pemerintah  Ottoman  (Sultan  Abdul  Hamid  II);  akibatnya ialah suatu pembunuhan massal, dengan 80.000 sampai 300.000 ribu orang Armenia yang mati. Dan selama perang dunia I, antara 1915-1917, katanya satu juta orang Armenia dibunuh, antara lain karena mereka ingin bebas dari penjajahan Turki. Hingga sekarang pembunuhan itu merupakan butir pertikaian dengan negeri Turki: apakah pembunuhan massal tersebut termasuk genocide  atau  tidak?  Akhirnya,  kekuasaan  Ottoman/Turki melemah  dan  setelah  banyak  persoalan  politik  dan  militer  lagi,  sekitar  tahun  1920-an  Armenia  menjadi  bagian  dari  Rusia  Soviet.  Ketika  pada  pemerintahan Presiden Gorbatschov USSR makin lemah, maka pada tahun 1990 Armenia menyatakan diri berdikari, hingga kini. Pembuangan ke Negeri PersiaSekitar tahun 1600, bagian timur dari wilayah Armenia dijadikan medan perang antara Sultan Ottoman (Turki) yang Sunni dan Shah Abbas I (1588-1629), penguasa Shi’ite (Syi’ah) di Persia. Akibatnya, sebagian besar penduduk Armenia dari daerah itu terpaksa beremigrasi ke Azerbaidjan; para elite  mereka  (pedagang,  cendekiawan,  dan  tukang-tukang)  dibawa  ke Persia, khususnya daerah kota Isfahan, pusat Dinasti Safavid (sampai 1722).  Dekat  Isfahan  mereka  mendirikan  kota  New  Julfa  (Nor  Djugha),  menurut kota asal mereka Julfa (Djulfa, Djugha) di Azerbaidjan/Armenia. Karena mereka terkenal sebagai pedagang, teristimewa pedagang sutera, Shah Abbas tentu sangat puas dengan kedatangan mereka. Pasaran dunia mulai  dibuka,  dari  Amsterdam  sampai  Aleppo  dan  Jerusalem,  Rusia,  Polandia.  Setelah  Dinasti  Safavid  melemah,  pada  abad  ke-18  banyak  orang  Armenia  berusaha  beremigrasi  lagi  ke:  Amsterdam,  Alexandria,  Venetia, Rusia, dan beberapa pusat perdagangan di Asia Tenggara: Surat, Madras  (Chennai),  Calcutta  (Kolkata),  Manila,  Singapore,  dll.  Namun,  sebagian dari mereka menetap di New Julfa sebagai pusat. Sekitar tahun 1880  ada  lebih  dari  5.000  orang  Armenia  di  sana—walaupun  angka  itu  di  kemudian  hari  menurun—,  dan  sampai  sekarang  ada  banyak  gedung  Gereja Armenia yang indah serta sebuah sekolah.Di bidang gereja, pemimpin tertinggi, patriarkh atau katholikos dari Gereja  Armenia  Apostolis—sejak  Konstantinopel  jatuh  ke  dalam  tangan  Islam  (1453)—kembali  pindah  ke  Echmiadzin  di  Armenia,  dan  kaum  Armenia di New Julfa (dan kemudian mereka di Asia Tenggara) berada di bawah pimpinannya.

Sumber-sumber

Kita  bergantung  pada  beberapa  sumber  primer  untuk  mengerti  sejarah  bangsa  Armenia  di  Hindia-Belanda.  Tentang  sejarah  mereka  di  India, ada studi oleh Mesrovb Jacob Seth (1937) dan belakangan ini sejarah orang  Armenia  di  Singapura  dan  Malaysia  ditulis  oleh  H.  Wright  (2003).  Di  samping  itu,  ada  beberapa  karangan  pendek  tentang  sejarah  tersebut.  Sumber-sumber mengenai sejarah mereka di Hindia-Belanda lebih tipis. Ada buku oleh G. Paulus (1935). Di samping itu ada terjemahan bahasa Belanda (dalam  bentuk  tulisan  tangan)  dari  suatu  penelitian  oleh  Jordan  (1937).[4] Jordan  tiba  dari  Persia  sekitar  tahun  1900;  dua  kali  dia  bangkrut  sebagai  pedagang.  Dia  mendampingi  Uskup  Thorgom  Gushakian  ketika  beliau  mengunjungi  Jawa  dan  khususnya  Surabaya  pada  tahun  1917.  Kemudian  Jordan  menjadi  guru  di  sekolah  Armenia  di  Surabaya  dan  akhirnya  dia  mulai menulis sejarah kaum Armenia di Hindia-Belanda. Di  negeri  Belanda,  Armèn  Joseph  (lahir  tahun  1921  di  Surabaya)  melaksanakan banyak riset sejak1980-an. Sayangnya, dia tidak menerbitkan hasil  penelitiannya.  Pada  tahun  2007  arsipnya  yang  sangat  berharga dipindahkan ke Arsip Negara (Nationaal Archief) di Den Haag.[5] Selain itu, kita  tergantung  pada  laporan-laporan  dan  juga  wawancara  dengan  orang  Armenia  di  Australia,  dsb.  Tulisan  ini  didasarkan  pada  data-data  yang  sudah  dikumpulkan  dalam  suatu  tulisan  kami  yang  dipublikasikan  tahun  2006 (Hoekema: 2006), ditambah dengan data dari beberapa sumber baru, termasuk Arsip Armèn Joseph itu, yang dalam tahun 2006 belum tersedia.

Awal Datangnya Orang Armenia ke Hindia-BelandaMungkin pada abad ke-17 sudah ada beberapa tokoh VOC di Batavia yang  mengambil  isteri  dari  golongan  Armenia  di  India  atau  Singapura.  Sewaktu-waktu juga ada pedagang Armenia yang mengunjungi Batavia dan dalam abad ke-18 dan beberapa di antara mereka menetap di sana; kepada mereka  diberi  hak  yang  sama  seperti  orang  Belanda:  vrijburger.  Lama-kelamaan  jumlah  mereka  bertambah.  Harouthion  Zakaria  atau  Arathoon  Zakara  adalah  seorang  pedagang  yang  meninggal  dunia  di  Batavia  tahun  1801.[6]  Salah  seorang  tokoh  ialah  Gavork  atau  George  Manuk  (1767  New  Julfa–1827  Batavia),  seorang  pedagang  yang  tak  pernah  menikah  dan  meninggal dunia sebagai seorang milyuner. Dia adalah seorang yang baik, murah  hati  dan—menurut  salah  satu  sejarah  orang  Armenia  di  Hindia  Belanda   (Jordan:   1937)—seorang   “patriot   tulen”,   artinya:   nasionalis   Armenia!  Ketika  dia  meninggal  dunia,  banyak  harta  diwariskan  kepada  Armenian  Philanthropic  Academy  di  Kolkata  (Calcutta),  kepada  sekolah  Armenia di Chennai (Madras), dan kepada gereja di Echmiadzin. Sebagian lain dari warisannya digunakan adik-adik perempuannya, Mariam Arathoon[7] dan Takouhi[8], untuk membangun suatu gereja di Batavia. Menurut sumber-sumber,  Mariam  Arathoon  membayar  hampir  90%  dari  ongkos-ongkos  komunitas  Armenia  di  Hindia-Belanda.  Tidak  mengherankan,  bahwa  di  atas  suatu  makam  bermonumen  di  dalam  Gereja  Armenia  di  Batavia,  dia  sangat  dipuji  sebagai  seorang  wanita  yang  memiliki  Christian  and  moral  virtues,  dan  yang  bersifat  pious and charitable and afforded relief to the widow, the orphan, the affl icted, and the distressed.[9]  Mula-mula  gereja  itu merupakan suatu gedung kayu (1831). Gereja itu terbakar tahun 1841, dibangun lagi, dan akhirnya di tahun 1855 diganti gereja batu, Gereja Yahya Pembaptis yang suci (Surb Hovhannes) di Gang Scott (sekarang Jalan Budi Kemuliaan)  di  sudut  barat  daya  Medan  Merdeka  (dulu  Koningsplein).  Di  sebelah gereja ada sekolah Armenia.

Di samping Gavork Manuk, seorang lain yang menjadi terkenal ialah Manuk Vardananian (1800-1879), lahir di New Julfa (Persia), dalam suatu keluarga yang miskin namun sopan, menurut Jordan.[10] Pada umur delapan belas  tahun  dia  tiba  di  Batavia  sebagai  pegawai  kantor  Gavork  Manuk.  Tahun 1835 dia pindah ke Surabaya dan membeli pabrik gula di sana. Karena alasan kesehatan, pada tahun 1841 dia datang ke Eropa dan selama sepuluh tahun  belajar  bahasa  Armenia  liturgis  (grabar)  di  suatu  biara  Armenia  di  Venetia, Italia. Biara itu, milik Ordo Mekhitaris, di Pulau San Lazzaro degli Armeni,  mbangunan’.  Komunitas  Armenia  di  Madras  dan  Calcutta  juga  merupakan pusat emansipasi dan buku-buku dalam bahasa Armenia disebar sampai di Rusia dan kota-kota tertentu di wilayah Ottoman/Turki.

 

Jawa Tengah

Saya   sendiri   mulai   tertarik   pada   sejarah   Armenia   ketika—puluhan tahun yang lalu—saya menulis biografi  singkat dari Penginjil Pieter Jansz, utusan Injil Mennonite yang pertama di Pulau Jawa, mulai 1851. Dia memulai tugasnya sebagai guru di Keluarga Markar Soekias (1810-1862), yang memiliki tanah dan pabrik gula di Soembring (atau Cumbring)  dekat  Jepara.  Soekias  pun  terkenal  sebagai  “patriot”  tulen  yang memberi banyak sokongan kepada sekolah di tempat lahirnya, New Julfa.[11] Pada tahun 1837 dia membangun suatu kapel di Soembring dan kadang-kadang  imam  Armenia  dari  Batavia  berkunjung  ke  sana  untuk  membaptis  anak-anak  dari  keluarga-keluarga  Armenia  di  Semarang  dan   sekitarnya.   Dalam   buku   hariannya   ada   catatan   Jansz,   bahwa   Soekias mempunyai perhatian pada penginjilan di Pulau Jawa, dan suka mengirim beberapa pemuda ke penginjil W. Hoezoo di Semarang untuk dididik sebagai penginjil di antara kaum Armenia (Jansz, 1997: 41; 26 April 1852). Jansz hanya bekerja sama dengan Soekias sampai Agustus 1854; ternyata pandangan mereka cukup berbeda. Soekias disebut Jansz “seorang  Armenia  yang  bermaksud  duniawi”  dan  keduanya  adalah  oknum-oknum yang sedikit keras kepala! Namun, Soekias meneruskan pemberian bantuan kepada Ibrahim Toenggoel Woeloeng (Jansz, 1997: 124, 127).

Di Semarang pun (dan kemudian di Cirebon, Tegal, dan Banyumas) ada  beberapa  keluarga  Armenia.  Salah  seorang  di  antara  mereka  ialah  Joseph Amirkhan Johannes, yang antara 1820 dan 1826 memiliki monopoli pemerintah untuk menjual obat bius; dia menjadi kaya raya. Di tanahnya yang  luas  juga  dibuat  sebuah  pekuburan,  khusus  untuk  orang  Armenia.  Seluruh kuburan di “Bukit Johannes” itu sekarang sudah hilang.Pada dasawarsa pertama abad ke-20 pusat aktivitas kaum Armenia pindah dari Batavia dan Jawa Tengah ke daerah Surabaya; pelabuhan di sana  cocok  sebagai  tempat  untuk  memperluas  pedagangan  ke  Indonesia  Timur  (Makassar,  Manado,  Filipina).  Dan  perindustrian  gula  di  Jawa  Tengah makin kecil hasilnya. Artinya, pada permulaan abad ke-20 tinggal dua  pusat:  Batavia  dan  Surabaya.  Namun,  jumlah  mereka  di  Batavia  menurun  sampai  sekitar  40  jiwa,  padahal  jumlah  di  Surabaya  justru  naik  menjadi  350  jiwa.  Juga  Menado  dan  Makassar  bertumbuh,  karena  pendatang baru dari New Julfa (sekitar 75 orang).[12]

 

Organisasi

Orang Armenia terorganisir di tiga bidang. Pertama-tama di Batavia mereka  membutuhkan  suatu  majelis  gereja  untuk  membayar  gaji  imam-imam—yang  selalu  berasal  dari  New  Julfa—,  untuk  memelihara  gedung  gereja, dan mengadakan aktivitas-aktivitas gerejawi tertentu. Di samping itu sejak 1852 berdiri suatu Perserikatan Armenia (Armeensch Genootschap), yang aktif di bidang diakonia, baik di Jawa maupun di luar. Perserikatan itu memberi beasiswa untuk studi di Philantropic Academy di Kolkata (India) dan di Batavia sendiri, dan memelihara dana khusus untuk kebutuhan gereja induk  di  New  Julfa:  sumbangan  untuk  gereja,  biara,  sekolah,  percetakan,  dsb.  Di  samping  itu,  anak-anak  yatim  piatu  dan  janda-janda  miskin  dari  kalangan  Gereja  Armenia  di  Batavia  bisa  dibantu  lewat  perserikatan  itu.  Modal awalnya adalah 8.800 gulden.[13]

Dan  akhirnya  ada  sebuah  sekolah,  yang  sejak  1855  dibangun  di  sebelah  gedung  gereja.  Sekolah  itu  merupakan  sekolah  dasar  maupun  menengah dan disebut “Sekolah Mariam dan Thagooni”. Selain anak-anak Armenia, juga anak-anak Kristen lainnya bisa mengikuti pelajaran di sana. Katanya,  sekolah  menengah  itu  merupakan  sekolah  pertama  untuk  anak-anak Eropa di Asia Tenggara. Rektor pertama adalah guru bahasa Armenia klasik Khatchick Abraham Thomassian, yang berasal dari kota Bushir (atau Bushehr,  pelabuhan  di  Teluk  Persia)  dan  dididik  di  Armenian  College  di  Calcutta.[14] Sekolah dibubarkan pada tahun 1878 karena kekurangan siswa-siswi;  sejak  1860  untuk  orang-orang  Eropa  di  Batavia  didirikan  sekolah-sekolah  tersendiri,  yang  mengikuti  sistem  pendidikan  Belanda.  Namun  pengurus meneruskan pekerjaannya sebagai pengurus dana. Menurut anggaran dasar Gereja Armenia di Batavia, yang berbentuk perhimpunan  (vereniging),  semua  harta  miliknya  akan  jatuh  pada  gereja  di  New Julfa, seandainya perhimpunan gereja Batavia dibubarkan.[15] Pada tahun 1927 nama resminya diganti menjadi “Armenische Gemeente in Nederlandsch Indië”; pada waktu itu jemaat di Surabaya sudah jauh lebih penting daripada jemaat Batavia. Toh jemaat di Batavia tetap punya imam sendiri.

 

Beberapa Dasawarsa Pertama Dalam Abad Ke-20

Antara  1900  dan  1940  jumlah  orang  Armenia  di  Batavia  turun,  sampai  sekitar  40  jiwa.  Di  Semarang  dan  daerah-daerah  lain  di  Jawa  Tengah mereka hampir hilang. Di Bandung tinggal sekitar sepuluh. Namun demikian,  seluruh  komunitas  Armenia  di  Hindia-Belanda  bertambah,  antara  lain  karena  Persia  sendiri  mengalami  krisis  ekonomi,  sehingga  sejumlah  orang  baru  beremigrasi  ke  Hindia-Belanda.  Surabaya  menjadi  pusat dengan sekitar 350 orang. Di samping itu, ada juga kelompok kecil orang Armenia di Bali (Singaraja, Ampenan, Buleleng), di Makassar dan Menado  (sekitar  75  jiwa).  Menurut  satu  sumber,  orang  Armenia  di  Bali  a.l. menjadi pedagang obat bius (opium), yang diimpor oleh pemerintah sendiri, dijual kepada pedagang-pedagang Cina dan Armenia, dan secara ilegal dikirim ke pelabuhan-pelabuhan Jawa dengan kapal (Siem, 2012). Di  Surabaya  kaum  Armenia  memiliki  beberapa  perusahaan  dagang  dan  pabrik-pabrik gula dan tapioka. Salah satu nama yang terkenal waktu itu ialah  Edgar,  dengan  cabang-cabang  di  Surabaya,  Singapura,  Calcutta,  Manchester,  Osaka,  Bangkok—dan  New  Julfa!  Demikian  pula  keluarga  Abgar  dengan  misalnya  perusahaan  tapioka  di  lereng  Gunung  Kelud—dengan 57 km rel kereta api sendiri. Pendirinya George Ter Lazar Abgarian meninggal  dunia  pada  tahun  1925.  Satu  keluarga  terkenal  lainnya  ialah  L.M.  Sarkies  (Lukas  Martin  Ter  Sarkissian),  pendiri  dan  pemilik  Hotel  Oranje sejak 1910. Dalam perang kemerdekaan hotel itu menjadi terkenal karena  “insiden  Hotel  Yamato”  (namanya  pada  masa  Jepang)  pada  19  September 1945, ketika pemuda-pemuda Indonesia merusakkan bendera Belanda di menara hotel dan menggantinya dengan bendera merah-putih. Hotel itu kemudian diberi nama baru, LMS, dan sekarang menjadi Hotel Majapahit  yang  berbintang  lima!  Di  Singapura  orang  Armenia  juga menjadi pemilik-pemilik hotel (seperti hotel termasyur Raffles); demikian pula di Penang dan Malaysia.

Akhirnya, satu orang Armenia menjadi terkenal sebagai ahli potret: Ohannes (Onnes, Ohan) Kurkdjian (1851-1903), lahir di Kaukasus, Rusia, kemudian  di  Erevan  (di  mana  dia  mengabadikan  sisa-sisa  kebudayaan  Armenia melalui foto-foto stereografi s, 3D) , lalu di Vienna dan Singapura, dan sejak 1886 dia menetap di Surabaya. Antara lain dia terkenal karena—atas permohonan pemerintah Hindia-Belanda—dia membuat foto-foto dari letusan Gunung Kelud pada tahun 1901. Ternyata ada beberapa ahli portret Armenia di Hindia-Belanda.

Berkat tokoh-tokoh seperti itu, Surabaya menjadi pusat kebudayaan dan  sosial  untuk  komunitas  Armenia.  Pada  tahun  1922  didirikan  sebuah  klub  olahraga,  dengan  beberapa  jenis  olahraga,  seperti:  tenis,  lapangan  golf  internasional,  dan  sepak  bola.  Seorang  pemain  sepak  bola  terkenal  ialah  John  Edgar,  perintis  sepak  bola  di  Hindia-Belanda  (tahun  1895  dia  mendirikan klub pertama, Victoria, di Surabaya) yang juga bermain dalam tim  nasional  Hindia-Belanda.  Selain  itu,  didirikan  pula  suatu  perserikatan  wanita mulai 1925, yang aktif dalam bidang diakonia dan fi lantropi, baik di Armenia dan Persia maupun di Hindia-Belanda sendiri.[16]

Pada tahun 1927 didirikan gedung gereja untuk komunitas Armenia di  Surabaya,  dengan  bantuan  dana  dari  Perserikatan  Armenia  Nasional.  Namanya Gereja St. George. “The 16 marble foundation stones were sent from Jerusalem by blessed Thorgom Patrarch Gooshakian, and were laid by Archpriest Bardan Simon Vardanian.”[17] Gedung gereja itu, yang terletak di  Jalan  Patjar  15,  dibangun  oleh  arsitek-arsitek  Belanda  dengan  gaya  Armenia, dan diresmikan pada 11 November 1927. Menurut Soerabajasche Courant, imam Vardan S. Vardanian, yang datang dari Batavia, 
Pada  permulaan  menutup  tirai  (antara  altar  dan  umat);  kemudian  dia  membuka tirai itu lagi dan menghidupkan lilin-lilin di atas altar. Kemudian di atas meja altar ditempatkan Injil, salib, dan gambar Maria, Ibunda Allah. Akhirnya  prosesi  diakhiri  dengan  memberkati  keempat  mata  angin,  dan  pemberkatan segala hadirin oleh imam.[18]
Ketika gedung gereja dibangun, di sebelahnya juga didirikan sebuah bengkel teater dan musik (namanya “Edgar Hall”). Di sana segala macam perayaan  diselenggarakan,  seperti  pada  tahun  1935  perayaan  1.500  tahun  berdirinya abjad Armenia dan terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Armenia klasik.[19] Dan sebuah sekolah dibuka dengan tiga kelas, juga dibayar dengan bantuan  dana  Perserikatan  Armenia  se-Hindia-Belanda.  Jordan  C.  Ter  Jordanin,  yang  namanya  sudah  disebut  di  atas,  menjadi  guru.  Anak-anak  dididik dalam bidang bahasa Armenia, agama, sejarah Armenia, dan musik. Sekolah  bereksistensi  sampai—setelah  Perang  Dunia  II—semua  orang  Armenia emigrasi ke luar negeri.[20]

Di  Makassar  Seth  Paul  (Seth  Poghossian,  lahir  di  New  Julfa  1856  dan wafat di Batavia tahun 1921) menjadi terkenal sebagai pedagang yang pintar dan kaya; dia menjadi pemilik saham terbesar dari perusahan Michael Stephens & Co.21 Seperti orang Armenia lain, dia bersekolah di Armenian Philantropic Academy di Kolkata dan kemudian hari menjadi sponsor besar dari  sekolah  itu  (92.000  gulden!).  Keturunannya  mengambil  nama  “Seth  Paul” sebagai nama keluarga; salah satu cucu, Tilly Seth Paul (1910-1961) menjadi pendeta Mennonite di Negeri Belanda.

 

Jumlah Orang Armenia dan Posisinya Dalam Masyarakat

Sekitar 1865 ada 43 keluarga yang cukup kaya, ditambah sejumlah lain,  menurut  buku  Gaspar  Paulus.  Jordan—dalam  tulisannya—menyebut  angka  sekitar  500  orang  pada  tahun  1935.  Sumber-sumber  lain  memberi  jumlah yang jauh lebih besar. Menurut salah satu majalah berkala, Nieuw Soerabaja,  dalam  tahun  1934  ada  388  orang  Armenia  di  Surabaya  saja,  sehingga angka seluruhnya mestilah melebihi lima ratus.[22] Tentu ada juga yang pulang ke Persia karena gagal, lebih-lebih ketika orang Jawa sendiri menuntut ruang yang lebih besar dalam kehidupan masyarakat. Itu berarti pula  bahwa  sekitar  tahun  1935  rupanya  juga  ada  orang  Armenia  yang  miskin  di  Pulau  Jawa  yang  perlu  ditolong  oleh  keluarga-keluarga  yang  maju dan oleh usaha diakonia, yang dilaksanakan wanita-wanita Armenia di Surabaya. Dalam beberapa dasawarsa sebelum Perang Pasifi k cukup banyak pula  orang  Armenia  yang  punya  profesi  lain,  seperti:  dokter,  pegawai  di  onderneming,  sersan  di  KNIL,  guru,  pengacara,  hakim  dalam  Landraad, dsb. Hal-hal yang sama terjadi di India dan Singapura. Mereka yang punya pekerjaan  seperti  itu  tidak  lagi  bergantung  pada  keluarga  mereka  dan  makin  berintegrasi  dalam  masyarakat,  teristimewa  masyarakat  Belanda.  Orang Armenia disamakan dengan orang Belanda oleh pemerintah Hindia-Belanda  dan  cukup  banyak  di  antara  mereka  diberi  status  resmi  sebagai  warga negara Belanda.

Kehidupan GerejaSeperti dijelaskan di atas, pada tahun 1831 didirikan gereja kayu di Batavia/Jakarta,  kemudian  tahun  1855  diganti  dengan  gereja  batu—agak  mirip  dengan  gereja  di  Singapura—di  Gang  Scott  (sekarang  Jalan  Budi  Kemuliaan).
Pada umumnya para imam yang melayani di Jawa berasal dari Persia dan  biasanya  keluarganya  ditinggal  di  New  Julfa,  Persia!  Sering  mereka  melayani  tiga  atau  empat  tahun,  kadang-kadang  2  kali  tiga  tahun.  Jordan  memberi  daftar  nama  dari  27  imam  yang  hampir  semuanya  berasal  dari  New Julfa. Joseph menyebut 31 nama dari imam-imam di Batavia sampai 1959.  Surabaya  baru  mendapat  imam  tersendiri  di  tahun  1929,  Vardon  Simon Vardon.[23]

Kebaktian  diadakan  dalam  bahasa  Armenia.  Jemaat  di  Surabaya  mempunyai  paduan  suara  dan  juga  organ.  Yang  hadir  dalam  kebaktian  di  Surabaya  rata-rata  50  orang.  Mereka  jarang  sekali  mengabarkan  Injil  kepada  orang-orang  lain,  tetapi  cukup  banyak  di  antara  mereka  menikah  dengan isteri atau suami Belanda.[24]

Kadang-kadang  ada  uskup-uskup  Armenia  dari  luar  negeri  yang  berkunjung;   biasanya   setiap   10   tahun.   Bagi   mereka,   Hindia-Belanda   merupakan suatu diaspora kecil, yang tetap terikat pada pusat di Etsmiadzin dan  New  Julfa  (dan  India).  Uskup  pertama  yang  berkunjung  ialah  Uskup  Agung  Paulus  dari  Etsmiadzin,  pada  tahun  1839.  Salah  satu  alasan  untuk  kunjungan  seperti  itu  selalu  adalah  “mengumpulkan  dana  untuk  gereja  induk”. Hal itu sangat urgen setelah pembunuhan massal dalam tahun 1917 di  daerah  Turki.  Uskup  Thorgom  Gushakian  sangat  pandai  menceritakan  berita-berita   ngeri   tentang   pembantaian   dalam   suatu   kebaktian   di   Surabaya, Juli 1917. Akhirnya kaum Armenia di Jawa memberi sokongan 80.000  gulden  untuk  orang  Armenia  yang  terpaksa  mengungsi.  Sehabis  kebaktian  semuanya  menyanyi  “Tanah  air  kita  dalam  kesengsaraan”.  Yang  dimaksudkan  dengan  “Tanah  air”  di  sini  ialah  tentu  Armenia!  Dan  di  Bandung,  Uskup  menyatakan:  “Negara  kami  tidak  akan  hilang,  berkat  agamanya.” Yang menarik perhatian ialah bahwa soal pembantaian sendiri hampir  tak  disebut  dalam  berita-berita  dan  surat-surat  gereja  resmi  yang  datang dari New Julfa. Rupanya kaum Armenia di Persia tidak terlalu terikat pada nasib saudara-saudara seiman mereka di negeri Turki yang berada di bawah  Sultan  Ottoman.  Mereka  lebih  terarah  pada  Asia  Tenggara,  seperti  India, Singapura, dsb.

Pada   tahun   1928   Uskup   Agung   Persia   dan   India,   Mesrob   Ter   Mousesian,  mengunjungi  Surabaya  dan  menahbiskan  dua  diaken.  Yang  satu hanya melayani dua tahun, yang lain tinggal lama sekali dan melayani semua kebaktian dan liturgi dan memimpin paduan suara. Juga Guru Jordan, kemudian hari melayani sebagai diaken.

Tentang  kehidupan  gereja  tak  banyak  diketahui;  rupanya  semuanya  berjalan cukup tradisional. Para imam tentu melayani kebaktian, mengunjungi anggota jemaat, dan memimpin kebaktian pernikahan dan kematian. Dalam tahun  1935  imam  Ter  Vahan  Aghanian  menyusun  suatu  kalender  dinding  dengan data-data liturgis, hari-hari raya gerejawi maupun nasional (seperti hari ulang tahun Ratu Wilhelmina!), dan informasi edukatif seperti abjad Armenia (Jordan, 1937: 95). Ada beberapa foto dari jemaat Surabaya, di mana seorang uskup  kelihatan  di  tengah-tengah  keluarga  dan  anggota  lain,  misalnya  pada  kesempatan baptisan anak. Jelas, kewibawaan uskup dan hierarki kegerejaan sangat dipentingkan.

 

Orientasi Internasional

Salah  satu  karangan  tentang  kehidupan  orang  Armenia  diterbitkan  tahun  2012  dalam  sebuah  majalah  Belanda  untuk  pengumpul  atau  kolektor  perangko (fi latelie). Di dalam karangan itu ada juga gambar-gambar dari surat-surat dan kartu pos internasional. Ada misalnya, surat dari Persia ke Batavia, dari Singaraja ke Calcutta (lewat Colombo) atau dari Manila ke Batavia. Satu surat dikirim dari New Julfa, Persia, ke perusahaan Michael, Stephens en Co. di Makassar—lewat Beshir (Teluk Persia), Singapura, Weltevreden (Bogor), dan  Surabaya—seluruhnya  44  hari,  17  di  antaranya  di  Persia  saja!  Bahkan  satu  kartu  pos  dikirim  pada  tahun  1917  dari  Persia  lewat  Baku  (ibu  kota  Azarbaijan),  kemudian  lewat  Sint  Petersburg  (Petrograd);  di  sana  baru  saja  revolusi komunis meledak, sehingga kartu pos, lewat KA Transsiberia, harus dikirim ke Shanghai (Cina) dan dari sana ke Surabaya (Siem, 2012: 36-40). 

Semua itu merupakan bukti dari orientasi internasional kaum Armenia di Hindia-Belanda, dan tentu juga bukti dari jaringan perdagangan mereka. 

 

Masa Penjajahan Jepang

Menurut  hukum  Belanda,  orang-orang  Armenia  setingkat  dengan  orang-orang Belanda di Hindia-Belanda/Indonesia; cara hidup mereka ialah “bourgeois lifestyle” yang  konservatif  secara  politis  dan  tak  terbuka  untuk  perubahan-perubahan  di  masyarakat  dan  gerakan  nasionalisme  Indonesia.  Konsekuensinya ialah, banyak di antara mereka ditangkap selama penjajahan Jepang  dan  ditahan  dalam  kamp  tahanan.  Kaum  Armenia  dari  Makassar  dan Malang juga sangat menderita dalam kamp-kamp tahanan. Cuma orang Armenia di Surabaya yang tidak mengalami nasib pahit itu, karena di Surabaya Angkatan  Laut  Jepang  yang  berkuasa  had some consideration for human life.  Antara  80  sampai  100  orang  Armenia  meninggal  dunia  akibat  perang  Jepang  itu;  malah,  menurut  satu  sumber,  20%  orang  Armenia  di  Hindia-Belanda waktu itu meninggal secara tidak alami. Orang Cina dan orang Arab, golongan etnis lain dalam masyarakat Indonesia, tidak mengalami nasib pahit seperti itu, walaupun tentu saja, mereka juga menderita antara 1942 dan 1945. Mereka didukung oleh kelompok etnis yang jauh lebih kuat.

Dalam masa Jepang, gedung gereja di Jakarta dirampas oleh tentara Jepang.  Mula-mula  sebuah  rumah  milik  anggota  Armenia  di  Gang  Scott  digunakan  sebagai  gereja,  kemudian  salah  satu  rumah  lain  di  Menteng.  Syukurlah  banyak  perlengkapan  ibadah  yang  berharga  bisa  dikirim  ke  Surabaya untuk disimpan di sana.[25]

 

Akhir Sejarah Kristen Armenia di Indonesia

Ada beberapa sebab mengapa eksistensi orang Armenia berakhir di Indonesia.

Pertama,  seperti  juga  orang  lain,  mereka  mengalami  krisis  ekonomi  pada  tahun  1920-an,  lebih-lebih  setelah  1929.  Krisis  tersebut  diperkuat  karena  mereka  kurang  berinovasi  dan  karena  mereka  mengalami  saingan  hebat  dari  pihak  pedagang  Belanda  dan  Cina,  yang  sering  menggunakan  kooperasi dengan jaringan keluarga tradisional (Jordan, 1937: 121). Juga di Singapura beberapa rumah perdagangan Armenia terpaksa berhenti waktu itu. Krisis ekonomi mereka juga berarti bahwa mulai 1938 mereka tidak mampu lagi  membayar  seorang  imam  pun.  Apalagi,  jaringan  perdagangan  mereka  mengikat mereka dengan keluarga mereka di India, Singapura, Persia; tetapi tidak dengan orang-orang lain di Indonesia sendiri. 

Kemudian, mereka ternyata kurang mampu berintegrasi dan berakar ke  dalam  masyarakat  Indonesia.  Mereka  meneruskan  penggunaan  bahasa  Armenia dan bahasa Belanda; mereka menganggap “Armenia” (waktu itu belum merupakan suatu negara yang berdikari) sebagai “tanah air” mereka. Apalagi, mereka dilayani oleh imam-imam dari Persia dan menurut hukum gereja  mereka  tetap  berada  di  bawah  kewibawaan  katholikos  (patriarkh  yang tertinggi) di Echmiadzin dan keuskupan New Julfa. Salah satu tulisan modern menyatakan, bahwa pengaruh gereja induk di Armenia sendiri dan di Persia/Iran cukup besar, sehingga kebudayaan mereka lebih bersifat etnis-Armenia daripada Indonesia. Malah, harta dari Gereja Armenia di Indonesia menurut  tata  gereja  akan  diwarisi  gereja  di  New  Julfa,  dsb.  (Dekmejian,  1997). Pokoknya:
The  church  followed  the  immigrants  wherever  they  went,  and  church buildings functioned as the centers of Armenian cultural life. Consequently, the Armenian Church was called upon to transcend its spiritual mission to become the cultural steward of the diapora (Dekmejian, 1997: 440).
Karena  itu,  sama  seperti  kebanyakan  orang  Belanda,  pada  tahun  1950-an  hampir  semua  orang  Armenia,  kira-kira  600  orang,  memutuskan  untuk beremigrasi. Sejauh mereka punya kewarganegaraan Belanda, mula-mula banyak pindah ke negeri Belanda. Berkat hal itu, Gereja Armenia di Amsterdam,  yang  sudah  berdikari  sejak  1627,  tetapi  tertidur  sejak  1835,  dihidupkan kembali, dan kedatangan orang Armenia dari Turki dan negara-negara  Timur  Tengah  lainnya,  termasuk  Israel,  memperkuat  jemaat  itu.  Sekarang  ada  sekitar  3.000  orang  Armenia  di  negeri  Belanda.  Kemudian  ada  juga  yang  beremigrasi  ke  Australia,  di  mana  ada  komunitas  Armenia  yang kuat dengan paling tidak 50.000 orang. 

Gereja Armenia. Gambar disisipkan oleh admin Historiana
 
Kebaktian  terakhir  di  Jakarta  dilaksanakan  pada  tanggal  25  Mei  1961,  dipimpin  Imam  Aramais  Mirzaian.  Gedung  gereja  terpaksa  dijual  kepada pemerintah Indonesia, yang ingin melebarkan jalan Gang Timboel. Dua  tahun  kemudian  Gereja  Yahya  Pembaptis  dibongkar.  Sekarang,  kira-kira  di  tempat  bekas  Gereja  Armenia  adalah  Bank  Indonesia,  di  sudut  Jalan  Muhammad  Husni  Thamrin  dan  Kebon  Sirih.  Sebagai  ganti  rugi,  pemerintah  Indonesia  membangun  gedung  gereja  untuk  umat  Armenia  di  lain  tempat  di  Jakarta,  tetapi  hal  itu  tidak  bisa  menghindarkan  lenyapnya  komunitas  Armenia.  Gedung  gereja  di  Surabaya  pada  tahun  1976  dijual  kepada  Gereja  Kristen  Abdiel  Gloria;  waktu  itu  semua  anggota  Armenia  sudah beremigrasi ke Australia. Perhimpunan orang Armenia di Indonesia secara  resmi  dibubarkan  dalam  tahun  1978.  Sisa  harta  gereja  diserahkan  kepada komunitas Armenia di Australia yang makin bertumbuh.

Website  resmi  bangsa  Armenia  mencatat  masih  ada  10  orang  Armenia di Indonesia pada saat ini, padahal di Iran: 100.000 (kebanyakan di  Teheran);  Libanon:  234.000;  Israel:  tinggal  2.000-3.000  saja  (1948:  16.000 di Jerusalem!); Jordania: 50.000; Turki: 2 juta; Armenia sendiri: 3 juta; Rusia: 2.250.000; Argentina: 130.000; dan Amerika Serikat: 1,4 juta. Jelas, mayoritas komunitas Armenia, yang seluruhnya 10 juta, tetap hidup dalam diaspora! Sama seperti kaum Yahudi, mereka adalah bangsa dengan suatu  negara  induk,  dan  sekaligus  suatu  gereja  diaspora.  Banyak  orang  Armenia tertekan di antara loyalitas ganda itu.[26] Gereja-gereja semacam itu punya  segi  lemah,  dan  kami  di  Eropa  melihat  itu  pada  golongan  diaspora  lainnya.  Biarpun  posisi  gereja-gereja  etnis  Indonesia  di  negeri  Belanda  cukup  berbeda  dari  posisi  Armenia  yang  digambarkan  tadi,  mereka  harus  waspada juga, supaya tidak masuk perangkap yang mirip.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arsip
  1. NA: Nationaal Archief Den Haag (Negeri Belanda), 2.21.281.43, Collectie A. Joseph.

Buku-buku dan Artikel-artikel
  1. Barbier,  Suzanna.  2007.  “In  Onderzoek”.  Nationaal  Archief  Magazine. 2007/2, hlm. 18-19. 
  2. Brakel,  Lode  P.  1975.  “Een  Joodse  bezoeker  aan  Batavia  in  de  zestiger  jaren van de vorige eeuw/A Jewish visitor at Batavia in the 1860s”.  Studia Rosenthaliana. Vol. IX, hlm. 63-89.
  3. Champagne,  Jessica  and  Aziz,  Teuku  Cut  Mahmud.  2003.  “The  Jews  of  Surabaya”. Latitudes Magazine. Januari 2003.
  4. Dekmejian,   R.   Hrair.   1997.   “The   Armenian   Diaspora”.   Richard   G.   Hovannisian  (ed.). The Armenian People from Ancient to Modern Times. Volume II, Foreign Dominian to Statehood: the Fifteenth Century to the Twentieth Century. Houndsmills/London: Macmillan Press, hlm. 413-443.
  5. Hoekema,  Alle  G.  2006.  “Armenians  in  Indonesia:  The  Story  of  a  Small  Diaspora  Community”.  Freek  L.  Bakker  dan  Jan  Sihar  Aritonang  (eds.). On the Edge of Many Worlds.  Zoetermeer:  Meinema,  hlm.  92-105 (Festschrift untuk Prof.dr. Karel A. Steenbrink).
  6. Jansz,  Pieter.  1997.  “Tot heil van Java’s arme bevolking”. Een keuze uit het Dagboek (1851-1860) van Pieter Jansz, doopsgezind zendeling in Jepara, Midden Java. Geannoteerd en van een inleiding voorzien door A.G. Hoekema. Hilversum: Verloren.
  7. Jordan Ter C. Jordanin. 1937. De  geschiedenis  van  de  Armenische  koloniein het Nederlands Oost-Indië vanaf het begin tot op onze dagen. Jerusalem  (aslinya  dalam  bahasa  Armenia;  yang  tersedia  ialah  terjemahan Belanda dalam bentuk tulisan tangan).
  8. Kessel,  Ineke  van.  2002.  “The  Black  Dutchman.  African  Soldiers  in  the  Netherlands East Indies”. I. van Kessel (ed.). Merchants, Missionaries, and Migrants. 300 Years of Dutch-Ghanaian Relations. Amsterdam: KIT Publishers, hlm. 143-149.
  9. Paulus, G. (Gaspar Poghosian). s.a. [1935]. Short History of the Armenian Community in Netherlands India, s.l.
  10. Seth, Mesrovb Jacob. 1937. Armenians in India: From the Earliest Times to  the  Present  Day.  New  Delhi/Bombay/Calcutta:  Oxford  &  IBH  Publishing Co. Photographic reprint Calcutta, 1983.
  11. Siem,  Han  T.  2012.  “De  Armeense  Minderheid  in  Nederlands-Indië.  Hun  correspondentie met Perzië”. Filatelie. Januari 2012, hlm. 36-40.
  12. Wright, H. 2003. Respected Citizens. The History of Armenians in Singapore and Malaysia. Middle Park, Victoria, Australia: Amassia Publishing.
Websites
  1. www.armeniadiaspora.com, diakses Agustus 2013.
  2. www.eamusic.dartmouth.edu/-larry/misc_writings/jews.../latitudes.html, diakses Agustus 2013.
  3. www.robcassuto.com/indijoden.html, diakses Agustus 2013.

Catatan Akhir

[1] Karena mereka sudah bukan budak lagi, mereka dipanggil mardijker (orang merdeka); sebagian besar mereka hidup di Batavia dan dekat Batavia (Tugu), dan di Maluku. Menurut sensus  penduduk  1699,  di  Batavia  (Jakarta)  ada  2.407  orang  Mardijker;  sebagian  besar  mengikuti Gereja Portugis yang Katolik. Dalam abad-abad berikut mereka berasimilasi.
[2] Mulai  1637  sampai  1872  West  Indische  Compagnie  (WIC)  dan  kemudian  Negeri  Belanda memiliki sejumlah benteng di Pantai Gold Coast di Afrika Barat, yang sekarang disebut Ghana. Pada tahun 1872 milik itu akhirnya diserahkan kepada Negeri Inggris.
[3] Lihat  a.l.  Brakel  (1975);  Champagne  (2003);  dan  beberapa  website  seperti  www.robcassuto.com/indijoden.html.
[4] Terjemahan  tersebut,  dalam  bentuk  tulisan  tangan  di  sebuah  buku  tulis,  berada  dalam Nationaal Archief (NA), Den Haag, 21.281.43, Coll. 606 A. Joseph, inv.nr. 4; dan sebagai fotokopi juga di Perpustakaan KITLV, Leiden. Naskah asli, dalam bahasa Armenia, diterbitkan  tahun  1937  di  Jerusalem:  St.  James  Press.  Sayangnya,  karena  salah  satu  perselisihan  pendapat,  buku  tersebut  tidak  pernah  dijual  atau  didistribusikan  di  Hindia-Belanda sendiri, meskipun sejumlah eksemplar disimpan cukup lama di sana.
[5] Lihat  Barbier  (2007).  Koleksi  Armèn  Joseph  disimpan  sebagai  Collectie  606  A.  Joseph, Archief  2.21.281.43.
[6] NA, Coll. Joseph, Inv.nr. 1, hlm. 88.
[7] Mariam Manuk, lahir di New Julfa sekitar 1777, menikah dengan Jacob Arathoon dan meninggal dunia di Batavia tahun 1864. NA, Coll. Joseph, Inv.nr. 1, hlm. 50.
[8] Thagoeni  atau  Takouni  Manuk  lahir  di  New  Julfa  ±  1774  dan  meninggal  dunia  di  Batavia, 1854.
[9] NA  Coll.  Joseph,  Inv.nr.  8;  ditambah  sebuah  foto  dari  makam  yang  cukup  mewah  dan  bagus;  sayangnya  semua  itu  terpaksa  dibongkar  pada  tahun  1961.  Menurut  sumber  yang  sama,  dia  pernah  dilukis  oleh  pelukis  Raden  Saleh;  lukisan  itu  rupanya  berada  di  museum di Katedral Isfahan/New Julfa.
[10] Namanya juga dieja Manouk Hordananian.
[11] Di samping Markar Soekias, beberapa anggota keluarga Soekias lainnya datang dari New Julfa ke Jawa Tengah, dan pada akhir abad ke-19 masih ada puluhan orang keturunan mereka  di  daerah  Muria  dan  Semarang.  Waktu  dia  masih  muda  Markar  Soekias  sendiri  menjadi sukarelawan dalam schutterij (perhimpunan penembak) di Semarang, yang pada tahun  1825  menentang  tentara  Pangeran  Diponegoro.  Soekias  mendapat  sebuah  medali  sebagai  tanda  penghargaan  dari  pemerintah  kota.  NA  Coll.  Joseph,  Inv.nr.  2  (fotokopi  laporan oleh L.F.M. Busselaar).
[12]  NA Coll. Joseph, Inv.nr. 2, hlm. 8.
[13]  NA Coll. Joseph, Inv.nr. 2, seksi 1.
[14]  Ibid.
[15]  Anggaran  dasar  itu  tersimpan  di  dalam  Coll.  Joseph,  Inv.nr.  2,  seksi  II;  cetakan  pertama  dalam  bahasa  Armenia  klasik  (Calcutta,  1853);  kemudian  dicetak  lagi  di  New  Julfa, 1898. Versi bahasa Belanda, Armenia, dan Inggris dicetak di biara di Venetia pada tahun 1911.
[16]  NA Coll. Joseph, Inv.nr. 8, hlm. 9.
[17]  Imam Vardanian adalah imam di Batavia.
[18]  Demikianlah kutipan dalam buku sejarah Jordan (1937: 95).
[19]  NA Coll. Joseph, Inv.nr. 2, hlm. 10.
[20] NA Coll. Joseph, Inv.nr. 2, hlm. 8.
[21]  NA Coll. Joseph, Inv.nr. 1, hlm. 68.
[23]  NA Coll. Joseph, Inv.nr. 2, seksi IV
[24]   Markar  Soekias  di  Soembring  dekat  Jepara,  misalnya,  menikah  dengan  seorang  wanita Belanda, Elisabeth Wilhelmina Cramer, dan Seth Paul menikah dengan Tieltje de Jong. NA Coll. Joseph, Inv.nr. 1, hlm. 82 dan 68.
[25]  NA Coll. Joseph, Inv.nr. 2, seksi III, suatu laporan yang dibuat setelah kedudukan Jepang.
[26]   Hal  yang  sama  dialami  banyak  penganut  agama  Islam  dari  negara-negara  Timor  Tengah yang menetap di Eropa.

Sponsor